Pasca Pengukuhan

topi toga (onoaja.blogspot.com)SEORANG kawan lama, bule, datang ke rumah kemarin sore. Sesudah bersopan-sopan menanyakan keadaan kami selama ini, istri bagaimana, anak bagaimana, kesehatan bagaimana, cucu berapa dan lain sebagainya, kawan tadi langsung menodongkan permintaan untuk memberinya naskah pidato pengukuhan saya.

“Saya datang, lho, pada pengukuhanmu.”

“Kok saya tidak lihat kamu. Kamu ‘kan tidak ikut kasih selamat pada saya, to ?”

“Tidak. Soalnya saya datang nyêlonong duduk di belakang waktu kamu sudah mulai berpidato.”

“Apakah itu alasan yang sah untuk tidak menyalami saya sesudah itu ?”

“Lebih dari cukup. Soalnya aku jengkel, nggondok betul sama bangsamu ini. Seharusnya tidak, wong saya sudah kenal bangsamu lamaa sekali. Tapi kali ini, toh, saya tidak bisa menahan kejengkelan saya.”

“Tunggu dulu, dong. Kau sekarang ngomong sudah seperti orang Jawa saja. Mutêr-mutêr. Wong saya tanya, kenapa kamu tidak kasih selamat saya. Kok yang kamu ceritakan, kamu duduk nyêlonong di belakang karena datang terlambat. Kamu mau menjawab pertanyaanku atau tidak, sih ?”

Dia tertawa lagi.

Lha, ya itu. I am just about to tell you the reason. Tapi, aku ‘kan harus cerita latar belakangnya dulu.”

“Nahh … itu yang saya bilang seperti orang Jawa. Mutêr-mutêr. Aku bangga, akhirnya ada juga orang bule yang bisa ketularan orang Jawa.”

“Mau dengar cerita saya, tidak ?”

“Mau, … mau.”

“Di bagian belakang ruang senat itu aku dapat tempat duduk yang sebenarnya enak juga. Aku sudah siap pasang kuping untuk mendengarkan apa yang akan kamu ocehkan. Eh, … mike-nya mlêmpêm, suaramu groyok. Dan di atas semua itu, orang-orang yang ada di kiri kanan saya pada asyik ngobrol sendiri. Tidak tentang pidatomu yang tidak bermutu itu, tapi tentang segala macam soal di dunia. Itu yang bikin saya jengkel. Belum sampai habis kau pidato, aku sudah pergi. Itu sebabnya aku tidak kasih selamat kamu. Mana pidato itu. Aku harus segara pergi !”

Aku segera ambilkan naskah pidato itu. Cara dia minta dan cara memberi kesan kêsusu menunjukkan kalau dia sudah kembali jadi bule. Dia pun segera pamit sesudah mendapatkan naskah pidatoku. Dia datang seperti angin puting beliung saja. Mak wuussssh ….. !!! Terus ngilang lagi.

Saya tercenung ingat gêrundêlan dia tentang khalayak yang pada mengobrol sendiri selagi saya pidato. Wah, …. Kalau dia benar, cilaka ini ! Saya sudah ngêdên, mak uêkq-uêkq untuk berpidato yang pretensinya ilmiah bangêt, jé ! Lha, kok orang pada pating grênêng ngobrol sendiri. Lha … terus tepuk tangan yang panjang itu tadi, nepuki apa ? Saya jadi panik. Saya jadi mindêr bangêt. Ciloko tênan !

Baru menggerutu begitu, mak ngiing, bel pintu rumah dipencet orang. Eh, … Prof. Lemahamba datang nongol.

“Halo, Prof. baru. Masih pegel linu ? Gosok parêm, dong !”

Saya gurawalan menyambut beliau. Beliaulah professor yang sesungguhnya. Titel akademiknya saja dua setengah kilometer panjangnya, omongannya selalu berbobot ilmu, mantêp, micårå, canggih. Penjelasannya selalu meyakinkan kejelasannya. Maka saya pun tidak menyia-nyiakan kedatangannya.

“Prof, baru saja ada kawan bule datang yang terus membikin saya mindêr bangêt.”

Elho, … why should a bule made you minder ? Kamu di-ênyèk apa ?”

Lha, bagaimana tidak mindêr, Prof. Katanya hadirin yang tidak mendengarkan pidato saya, malah pada ngobrol sendiri. Lha, ‘kan jadi panik saya.”

“Kenapa panik ?”

Lha, kalau menurut Prof. Lemahamba, pernyataan kawan bule itu betul, tidak ?”

“Lho, ya betul, dong. Masa itu berita baru buat kamu ?”

Saya jadi shock berat. Saya terdiam, thêngêr-thêngêr.

Oalahhh, Geeng, Geng. Katanya kamu itu, budayawan, sosiolog dan entah apa lagi. Kok tidak bisa menangkap fenomena yang jelas wålå-wålå dari sukumu, heh ?”

“Maksud Prof, apa ?”

“Lho, kamu kira peristiwa pengukuhan itu apa ? Itu ‘kan tidak ada bedanya dengan kamu bikin wayangan, to ? Orang-orang yang kau undang itu datang untuk suatu peristiwa sosial, social event, untuk ramé-ramé lihat wayangan. Tentu saja mereka mendengarkan pidatomu sembari ngobrol tentang ini dan itu. Tentang nyonya Diah, tentang Afghanistan, tentang Presiden Bush, tentang anak istri mereka, tentang apa saja. Tapi, apa kamu kira mereka tidak bisa menangkap pidatomu ? Oohh … bisa, bisa. Mereka tangkap semua apa yang kamu omongkan.”

“Ah, masa, Prof ?”

“Lho, buktinya mereka juga tertawa sedikit waktu kamu mencoba ndhagêl. Bertepuk tangan sehabis kamu pidato. Kalau mereka tidak mengerti pidatomu, masak mereka begitu ? Itu ‘kan sama saja dengan kalau kamu nonton wayang, to ? Sambil ngantuk-ngantuk, sambil jajan rujak, sambil bercanda, tapi kamu ‘kan tahu ceritanya, to ?”

“Ah, sampeyan itu hanya mau menyenangkan hati saya saja, Prof.”

“Lho, tidak ! Saya hanya mau bilang itu gejala biasa meski itu terjadi di ruang senat. Itu bahkan memperkuat yang kamu omongkan dalam pidatomu. Terus kamu mau apa ? Wong kultur bangsamu memang begitu, kok ! Malah yang mau mendengarkan betul-betul itu, yang tidak mau diganggu kiri dan kanannya itu yang sudah londo. Sudahlah. Just relax, take it easy. You’re allright. Wis yo ?

Mak wuuushhhh …. !! Angin puting beliung berhembus lagi. Aku tercenung lagi. Masih memikirkan dua tamu saya tadi. Ah, … sudahlah. Saya jadi lapar.

“Mr. Rigen ….. Mr. Rigen ….!!!

Yogyakarta, 23 Mei 1989

*) gambar dari onoaja.blogspot.com

Tentang Ketergantungan

prt (phesolo.wordpress.com)HARI Minggu kemarin, Pak Joyoboyo yang sudah beabad-abad tidak menongolkan diri, tiba-tiba begitu saja berdiri di ambang pintu ruang tamu sambil berteriak,

Pènggèng Èyèm !

Saya dan Mr. Rigen yang sedang duduk bermalas-malasan, tentu saja terkejut,

“Wah, bolehnya bantas seperti mercon long.”

Lha, jênèh Bapak nyatru, njothak, memboikot saya lama sekali.”

“Iya, lho, Pak Joyo. Nggih ngapuranè mawon, Pak Joyo. Mumpung masih dalam hari-hari lebaran, dimaafkan saja, yah ?”

“Oh, nggih. Sami-sami. Tapi, terus dipundhuti to, ayam panggangnya ?”

“Ya, iya. Gen, mana piring-piringnya ?!”

Waktu Mr. Rigen kembali membawa piring, Beni Prakosa ternyata belum lupa dengan kebiasaannya ikut juga masuk dengan membawa piring kecil.

“Lho, untuk apa piring kecil itu, Dhès ? Memangnya kamu ikut diundang ?”

Beni Prakosa pun, seperti biasa penuh dengan rasa percaya diri,

“Lho, kalo Pak Joyoboyo datang, Beni ‘kan dapat jatah sate usus dua to, Pak Ageng. Ini piringnya !”

Dengan tegas pula piring kecil itu disodorkan kepada Pak Joyoboyo,

Niki piringnya, Pak Joyo. Dua sate usus yang gêdhé-gêdhé !

Saya tersenyum dengan rasa anyêl akan keprcayaan dirinya.

Dhapurmu, Lé ! Kamu kira kamu itu siapa to, Lé, Lé !

Beni Prakosa Cuma meringis, tidak tahu apa maksud pertanyaan Bapaknya yang abstrak bin metaforik itu. Mungkin dalam hatinya, Beni hanya mengatakan,

“Pokoknya ‘kan dapat sate usus … !”

Mr. Rigen yang sudah agak lama tidak bertemu dengan rekan sesama filsuf itu mulai membuka dialog.

Wéhhh, Pak, ke mana saja selama ini ?”

Ayakkk … sampéyan itu. Wong saya sering lewat sini teriak-teriak ‘pènggèng èyèm’, sampéyan nggak mau keluar.”

Mr. Rigen tertawa ngakak.

Lha, wong saya itu ‘kan tergantung bos to, Pak Joyo. Kalo bos kasih komando panggil pènggèng èyèm, saya ‘kan pasti akan panggil. Kalo bos sedang pulang ke Jakarta, ya saya mau apa to, Pak Joyo ?”

Pak Joyoboyo manggut-manggut.

“Iya, ya. Kita wong cilik itu hidupnya tergantung sama bos.”

Saya terkejut mendengar pernyataan itu. Begitu tergantungkah mereka sama boss ? Rasa-rasanya Mr. Rigen itu saya beri kebebasan penuh jadi dirjen kitchen cabinet saya. Mau apa saja dia bisa. Tetapi pernyataan Pak Joyo yang semi filosofis itu kok begitu pasrahnya.

“Masa iya, to, Pak Joyo. Sampèyan tergantung betul sama bos, to ? Mosok, to ? Kan sampèyan jualan begini tidak terlalu tergantung sama bos ?”

Ayakkk, Bapak kii, mau ngayêm-ayêmi ati-nya wong cilik. Tidak tergantung pripun, to, Pak Ageng ?”

Wooo … kalau melihat tergantung begitu, ya semua orang tergantung sama bos, begitu. Saya pun tergantung sama bos, Prof. Lemahamba tergantung sama bos, Doktor Legowo Prasodjo tergantung sama bos.”

Lha, memang begitu, Pak Ageng, maksud saya. Cuma bos yang satu tidak sama dengan bos yang lain. Tergantung yang satu tidak sama dengan tergantung yang lain.”

Saya tercenung sebentar. Orang ini boleh juga artikulasinya. Micårå. Pak Joyoboyo meneruskan pidatonya.

“Tergantungnya Pak Ageng, Prof. Lemahamba dan Doktor Legowo itu ‘kan lain dengan tergantungnya saya dan Mas Rigen, Pak. Kalo kami wong cilik ini benar-benar tergantung, tung, tung, tênan, Pak !”

Saya tertawa, ingat bagaimana saya sering kali jengkel betul dan rasa tergantung saya dengan tempat saya bekerja. Tetapi, bagi mereka, wong cilik itu, ketergantungan saya dan rekan-rekan saya itu dianggap ketergantungan nisbi atau bahkan semu.

Woo … Pak Joyo. Saya itu ya tergantung seperti sampèyan. Ning memang saya sering kali masih bisa bolos atau ngibuli kantor saya.”

Lha, rak betul, to ! Kalau kami wong cilik itu sering kali mbolos, terus pripun ? Saya langsung dipecat nyonyahé juragan. Mas Rigen langsung Bapak pecat. Rak ênggih, to ?!”

Loh, kalau Mr. Rigen itu lain lho, Pak Joyo. Dia itu dirjen yang sak bebas-bebasnya. Mau apa saja, dia bisa. Saya malah yang sesungguhnya diperintah dia.”

Sekarang giliran Mr. Rigen yang tertawa ngakak.

Saèstu nåpå, Pak Ageng ? Kalau saya mbolos kerja terus sak brayat dolan ke Praci boleh apa ? Jênèh kalang kabut ekonominya rumah ini !”

Lha, ya itu yang saya sebut dengan tidak tergantung. Kowé menguasai ekonomi rumah ini.”

Lha, ning saya tetap tergantung sama Bapak, kok. Yang punya kuasa itu Bapak. Kami wong cilik itu tahunya hanya harus bertanggung jawab dengan pekerjaan. Tidak kuasa apa-apa. Yang kuasa itu bapak-bapak yang pegang dana itu, to ?!”

Wah ! Saya jadi takjub mendengar dan melihat kedua orang itu. Mereka itu filsuf Marxis atau apa ? Yang mereka omongkan itu ‘kan soal penghisapan kelas yang pegang duit ! Jangan-jangan …..

Hari sêmangkin siang. Saya pun sêmangkin lapar kepingin sarapan.

“Geen, sarapannya diatur. Saya kêpingin sarapan sama panggang ayam. Dhådhå mênthok-nya, ya ?”

“Jangan, Pak. Dhådhå mênthok-nya buat nanti siang saja. Saya sudah terlanjur bikin nasi goreng. Bapak sarapan sama nasi goreng saja !”

Saya kaget. Êlho …. !

Yogyakarta, 16 Mei 1989

*) gambar dari phesolo.wordpress.com

Keranjang Lebaran

parcel-lebaranBEBERAPA relasi mass media telah sangat bermurah hati mengirimkan keranjang-keranjang lebaran. Buat seorang pegawai negeri yang pendapatannya melulu dari gaji sebagai pegawai, tentulah hadiah ekstra begitu saya terima dengan rasa syukur. Eh, … kok masih banyak juga orang yang baik hati di dunia ini, lho !

Tetapi jangan dikira kalau keranjang yang begitu indah, berwarna-warni berisi segala macam kaleng makanan dan botol minuman akan selalu dapat Anda asosiasikan dengan rasa senang melulu. Saya pernah menyaksikan bagaimana keranjang lebaran yang begitu menyenangkan itu pernah membuat seseorang menjadi agak miring kalau tidak miring sekali.

Orang tersebut pernah mempunyai reputasi yang sangat harum dalam revolusi. Penyandang bintang gerilya dan entah bintang-bintang apa lagi. Lama sekali kami tidak pernah bertemu karena masing-masing mengikuti cakra mênggilingan-nya sendiri-sendiri. Eh, … tahu-tahu waktu saya pindah ke Jakarta, kami bersebelahan rumah di satu kompleks perumahan. Tentu saja kami sekeluarga senang. Lha wong ketemu konco lama, lho ! Orangnya masih gêdhê pidhêksa, cuma usia tentu saja dengan kurang ajarnya me-mrèthèli beberapa onderdil tubuhnya.

Ternyata beliau sekarang menjadi salah satu big shot, orang gede, di salah satu departemen. Kalau istilahnya sekarang, eselon pertama. Lha, … kan gede betul itu namanya. Karena saya kenal betul reputasinya serta kemudian slênting-slênting juga kecemerlangan studi dan karirnya, kami sekeluarga menganggap wajar-wajar saja kalau sekarang beliau menduduki jenjang yang begitu tinggi. Kadang-kadang kami sering main juga ke rumahnya yang lumayan juga mewahnya, paling tidak menurut ukuran saya. Dan ukuran itu simple saja, kok. Rumah yang dipenuhi dengan barang-barang elektronik canggih dan segala gadget mutakhir sudah cukup bagi saya untuk mengecap rumah itu mewah. Wong saya tidak pernah memiliki yang begitu-begitu.

Pada waktu Lebaran, saya sebagai kawan lama yang lebih muda, tentu saja kami sekeluarga yang datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi, mohon maaf lahir dan batin. Dan itu selalu menyenangkan. Hidangan yang digelar di meja selalu yang sedap-sedap saja. Juru masaknya khusus didatangkan dari Yogya dan Solo. Masakannya khas Jawa Tengah yang nyuusss itu. Gudeg manggar, nasi liwet gaya Baki, gudeg Yogya gaya kering dan gaya basah, sosis Solo, timlo jamur kuping, waahhh … pokoknya siippp tênan ! Tentang kue dan minuman jangan tanya lagi. Spekuk, spekuk, spekuk, black forest, black forest, black forest. Coca-Cola, Fanta , Sprite berkrat-krat. Setrup Marjan, Sarang Sari dan entah apa lagi.

Tetapi, yang juga amat mengesankan adalah hiasan waktu lebaran di ruang tamu mereka. Ruang tamu itu dipenuhi oleh keranjang-keranjang. Semuanya besar dan meyakinkan, baik dari sudut kuantitas dan kualitas. Dari kartu-kartu yang tertempel di keranjang-keranjang tersebut kita bisa melihat bahwa pengirimnya kebanyakan adalah CV ini dan itu, PT ini dan itu, PN ini dan itu.

Waktu itu anak-anak kami masih bersekolah di SD dan SMP. Mereka akan (malu-maluin bênêr) mengamat-amati deretan keranjang itu dan saling berdebat keranjang mana yang paling hebat. Kami benar-benar malu kalau mereka sudah mulai begitu. Tetapi, tuan dan nyonya rumah rupanya malah senang.

“Ayo, ayo, pilih saja mana yang paling kalian sukai. Boleh bawa pulang.”

Mula-mula kami terkejut malu dengan tawaran yang begitu generous.

“Ah, … apa-apaan, Mas. Mosok keranjang kiriman orang kok disuruh mbrêkat.”

Elho … ! Lha, keranjang-keranjang ini apa dan siapa kalau tidak untuk menyenangkan teman, tetangga dan sanak saudara. Mosok kami akan bisa menghabiskan ini semua. Ambil, nDuk. Ambil, cah ayu.”

Dan dasar si Gendut. Tanpa wigah-wigih dia menunjuk pada salah satu keranjang yang paling besar dan mengesankan. Wah, … malunya kami.

“Nah, … begitu, nDuk, pintêr. Ini ada spekuk-nya yang istimewa, lho. Bawa, nDuk, bawa … “

Dan di rumah, waktu kami buka memang tidak mengecewakan keranjang itu. Isinya bermacam-macam dan semuanya serba mak nyusss ! Rasa malu kami sekejap hilang berganti dengan rasa syukur sudah mendapat tambahan rejeki.

Tetapi, menjelang Lebaran tahun berikutnya, tiba-tiba kami mendengar bahwa teman dan tetangga baik kami itu diberhentikan dengan hormat dari jabatannya. Beliau dipercepat masa pensiunnya. Tentu saja kami terkejut. Gèk apa masalahnya ? Mosok mandar terima keranjang-keranjang Lebaran begitu saja dipecat ? Mosok mandar ngono waé …. Ah, dipecat atau tidak, beliau tetap teman baik dan lebih tua dari kami. Dus, kami tetap sowan waktu Lebaran. Wah, … kami sungguh terkejut bukan main. Ruang tamu itu hanya diisi oleh beberapa keranjang Lebaran saja. Itu pun tidak berapa besar. Anak-anak kami bahkan tidak berani berdiri dekat-dekat keranjang tersebut. Kami tetap diterima dengan ramah. Tetapi, saya lihat ada akspresi wajah yang agak lain pada tuan rumah. Matanya sekarang kok banyak berkedip-kedip nervous.

“Coba lihat, Dik, bangsamu itu !”

“Kenapa dengan bangsa kita, Mas ?”

“Ya itu ! Kalau mau tahu jerohannya mental bangsamu itu, lihat saja keranjang-keranjang Lebaran itu !”

Saya melihat kepada keranjang-keranjang itu.

“Ya, ada apa dengan keranjang-keranjang itu, Mas ?”

“Lho, … katanya sosiolog. Kok nggak bisa baca sasmitå, gejala ?!”

“Wah, … kalau gejala keranjang, Mas …. “

“Ya, justru gejala keranjang itu, Dik. Coba, dulu-dulu waktu saya masih kagêm, terpakai oleh departemen, rata-rata 75-77 keranjang memenuhi ruangan ini. Sekarang hitung saja. Tidak lebih dari 7 huah. Itu pun yang kecil-kecil saja !”

Wah, mulai gawat ini. Saya dan Bu Ageng berpandang-pandangan. Anak-anak kami mêngkêrêt di belakang kami dan nyonya rumah pun jadi ikutan nervous.

“Itulah mental bangsamu, Dik ! Itu ! Kalau sedang butuh nyrêpipih, merangkak-rangkak, mau ngelap sepatu kita. Keranjang Lebaran, wooo …. dipakai bal-balan. Begitu saya tidak kagêm lagi, dipecat, mak thêl, … buang muka semua ! Coba, Dik, itu mental apa ?!”

Kami semua terdiam tidak berani menanggapi apa-apa. Mata tuan rumah masih berkedip-kedip, pêndirangan, nyalang ke mana-mana. Tetapi, kemudian melembut setelah memandangi anak-anak kami.

“Tapi, nDuk, kalian masih boleh pilih keranjang mana yang mau dibawa. Ayooo … yang mana ? Yang merah, yang putih atau yang ijo ? Ambil, nDuk. Ambil, cah ayu. Keranjang Oom masih akan datang banyak sekali. Ayo, nDuk … ambil !”

Kami merasa sangat kikuk, rikuh dan entah apa lagi. Dipaksanya kami menerima satu keranjang dengan ancaman kalau kami tidak mau bawa, maka putus hubungan kami. Di rumah, kami masih mendengar sayup-sayup teriakan beliau, spekuk, spekuuk, spekuuuk …

Lebaran tahun berikutnya, kami tidak perlu datang lagi ke rumah mereka. Beberapa bulan sebelumnya, mereka bêdhol jangkar, pindah mudik ke kota kelahiran mereka. Di Magetan atau mana begitu …

Yogyakarta, 9 Mei 1989.

*) gambar dari parcelonline.com

Laporan Perjalanan dari Tokyo

gunung-fujiyamaANEH betul ! Waktu menjelang berangkat ke Tokyo, kerongkongan saya memberi sinyal. Awas ! Saudara flu akan datang lagi ! Sinyal itu berupa gatal-gatal terasa di tenggorokan, bersin-bersin dan hidung terasa tersumbat. Wah sialan ! Baru seminggu merasa bebas dari gangguan flu dan sinus, kok sekarang mau datang lagi. Maka, segala persiapan untuk mencegah kedatangan dua saudara spesialis pengganggu tenggorokan dan hidung itu saya lakukan. Benadryl, Vicks gosok, Refagan, vitamin C dan minyak tawon, saya siapkan.

Waktu pesawat JAL lepas landas, di ketinggian yang sekian puluh ribu kaki itu, nah … rak betul ‘kan, batuk mulai datang dengan nada suara G minor. Huukk … huukk … huukk … ! Kung … kung … kung … ! Cêngking … cêngking … cêngking … ! Pramugari Jepang yang gemulai tapi trêngginas itu langsung mendekati saya.

What can we do to make you comfortable, Sir ? Do you have your medicine with you ?

Saking gugupnya saya diladeni pramugari yang seperti putri porselin tapi trêngginas itu saya hanya bisa menjawab,

Yes … yes … yes, Jêng. I have my vicks and tawon oil …

Semalaman saya tidak bisa tidur diganggu batuk dan kerongkongan yang mulai terasa sakit betul. Saya membayangkan bagaimana ini nanti kalau sudah sampai di Tokyo. Musim semi, musim tetumbuhan dan bunga bersembulan keluar. Tetapi, juga angin mengembus dengan arah yang berbalik-balik, cuaca yang tidak dapat ditebak. Hari ini panas, hari berikutnya dingin mendekati titik nol.

Saya ingat, pada zaman mahasiswa di luar negeri dulu, musim semi adalah juga musim berseminya batuk, bersin dan umbêl. Wah, piyé iki ! Padahal pamitnya dengan para bos dan rekan sekantor berangkat ke Tokyo untuk menghadiri seminar dengan target gawat. Yaitu, mendidik Jepang agar jangan kebangetan bolehnya berkembang jadi kapitalis yang sêmangkin kaya, dan sêmangkin kaya terus. Bagi-bagi dong rezekinya yang terus saja nomplok itu. Ikut tanggung jawab dong menjaga keselarasan Asia, menjaga lingkungan kita, memelihara peninggalan peradaban kita, mendorong perkembangan kita, memberi harapan buat generasi muda Asia, dan sebagainya.

Pokoknya pamit saya kepada yang di atas itu, saya dan kawan-kawan lain mau ndukani, memarahi mereka. Sudah waktunya kita Negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur beramai-ramai dukå, agak murka kepada mereka. Lha, wong sugih kok diambil sendiri, lho ! Tetapi, dengan kondisi tubuh yang ringsek begini, mau keluar suara ndukani yang bagaimana ? Suara saya beberapa nada di bawah suara Louis Armstrong dan beberapa nada di atas kodok bangkong.

Akhirnya, pesawat B 747 JAL itu mendarat di pagi buta di lapangan udara Narita. Lho, lha kok waktu saya keluar dari pesawat dan mulai keluar dari bandara, musim semi yang saya bayangkan akan penuh dengan angin léysus ternyata malah musim semi yang cantik sekali. Cuaca bersih seperti langit itu difilter. Baunya harum segar. Dan, lho (dalam bahasa Inggris lo !) yang namanya pilek, batuk, kerongkongan yang sêngkring-sêngkring kok, lap, ilang ! Hidung jadi bolong-plong. Kepala ringan. Pokoknya saya sehat kembali dengan begitu saja.

Di dalam bus menuju kota, saya memandangi jendela. Mosi-mosi Tokyo-san. Kita ketemu lagi. Hallo, concrete jungle. Pencakar langit, ohayo gosaimasu, ohayo gosaimasu. Selamat pagi, selamat pagi. Haik ! Pokoknya begitu meluap kegembiraan hati saya menyambut musim semi yang tidak jadi jelek itu.

Waktu seminar dimulai di Gotemba, desa kecil di kaki gunung Fuji yang puncaknya masih disaput salju, persis di postcard itu, saya semangkin gembira. Solanya dari balik jendela kita bisa melihat puncak gunung Fuji dan sisa-sisa bunga Sakura yama alias bunga Sakura gunung yang sejak beberapa minggu telah bersembulan. Warna bunga yang jambon kepucatan itu dengan latar belakang gunung Fuji, wah … khas Jepang betul.

Dalam seminar memang betul seperti direncanakan. Kita, wakil Negara-negara kéré dan setengah kéré, beramai-ramai mengkritik bahkan mendekati ngrocok sang Jepang yang kaya raya itu. Absurd juga. Yang mengundang untuk datang, Jepang. Yang membiayai semuanya, Jepang. Yang minta dikritik, Jepang. Dan celakanya, dengan senang hati kita mengeroyok mengkritik Jepang. Para pakar dan intelektual Jepang itu dengan air muka tanpa ekspresi mendengarkan serangan-serangan dari RRC, Vietnam, Taiwan, Hongkong dan Negara-negara Asean. Muka mereka membayangkan keseriusan dan keagungan. Tetapi, kadang-kadang sudut bibir mereka méncong sedikit. Sedikit dan sebentar saja. Buat saya itu sudah cukup. Itu, muka itu mau berkata,

“Apa to, Lé, LéWong kita jadi kaya itu karena kita kerja, kerja dan kerja tanpa istirahat sejak kami kalah perang kok. Kok kalian bolehnya sewot ngiri !

Tetapi, orang Asia Tenggara bukan Asia Tenggara kalau tidak dapat merumuskan suatu himbauan yang simpatik buat Jepang. Soedjatmoko, sang pinanditå wicaksånå dari Indonesia itu, merangkum serangan-serangan nylêkit dari kita semua. Jepang pada waktu itu nyaris satu-satunya Negara Asia yang sangat kaya, yang dengan bantuan kita mesti ikut bertanggung jawab menumbuhkan kembali peradaban Asia yang besar dan modern. Dan muka-muka samurai mirip Toshiro Mifune itu mulai kendur dari ketegangan dan keseriusan yang mengerikan. Mereka tersenyum, bukan lagi méncos-méncos bibirnya. Kita semua mesti sama-sama mencoba membangun idiom budaya Asia modern.

Waktu akhirnya kami pulang dan pesawat mendarat di Singapura, di lapangan udara Changi, saya mulai bersin-bersin lagi. Hidung saya tersumbat lagi. Wah … ini selamat datang pertama dari satu Negara dunia ketiga yang menurut ukuran mana saja masuk modern. Kalau sudah di Yogya ? Dan benar saja. Di lapangan udara Adisucipto dan akhirnya di rumah di mBulaksumur. Wah … bersin, bersin, bersin. Selamat pagi udara negaraku. Huukk … huukk … huukk … ! Kung … kung … kung … ! Cêngking … cêngking … cêngking … !
Beni Prakosa menyambut saya di ambang pintu,

“Pak Ageng, Pak Ageng. Di Jepang ketemu Oshin nggak …. ?”

Yogyakarta, 2 Mei 1989

*) gambar dari anneahira.com

Mr. Rigen dan Sadisme

pukul-pantat-anak (antosalafy.wordpress.com)SORE-SORE di waktu senggangnya Mr. Rigen suka membaca koran-koran atau majalah yang biasanya bertebaran di meja ruang makan. Sambil menata kembali koran dan majalah yang berantakan itu, dia akan membaca berita penting yang terjadi waktu itu.

Sore itu, saya dapati Mr. Rigen duduk tercenung sambil memegang koran Kompas dan Kedaulatan Rakyat.

“Ada kabar apa lagi, Mister ? Kok kamu kelihatan murung ?”

“Wah, saya ini semakin judhêg mikir bangsa saya ini, Pak ?”

“Lho, bangsamu ? Bangsaku juga, to ?”

Enggih … ênggih. Bangsa kita !”

“Ada apa dengan bangsa kita ? Wong sudah baik-baik ber-Pancasila begitu, lho ?”

Lha, justru ber-Pancasila itu, kok masih tega berbuat yang sadis-sadis begini.”

“Sadis itu kalau menurut kamu yang bagaimana, Gen ?”

“Sadis itu, ya yang kêjêm-kêjêm itu, Pak.”

“Misalnya ?”

Lha, ya ini yang di koran ini contoh yang paling jelas. Orang kok bisa-bisanya, tega-teganya, memotong-motong tubuh sesama manusia, lho ?!”

Saya lantas tahu yang dimaksud Mr. Rigen. Yaitu kabar tentang ditemukannya mayat perempuan yang sudah terpoton-potong. Memang mengerikan berita itu. Celakanya bukan baru pertama kali itu terjadi. Beberapa tahun yang lalu juga pernah terjadi pemotongan yang mirip seperti itu. Dipotong-potong, kemudian dipak dalam kardus. Dan sampai sekarang belum ketahuan baik pembunuh maupun identitas korbannya.

“Mungkin itu bukan manungså ya, Pak ? Tapi, bangsanya setan yang doyan makan orang.”

Hallahh … ya uwong, Gen. Kalau ada yang tidak pantês buat orang, kok lantas yang disalahkan setan. Kasihan setannya ‘kan, Gen.”

“Habis kebangetan betul, Pak. Macan di gunung-gunung gundul desa saya saja masih lebih sopan, Pak. Mayat orang, bukan orang hidup, yang digondol dan terus dimakan di guanya. Dan makannya itu sampai bersih, tinggal tulang-tulangnya. Dan korbannya itu mesti ketahuan. Wong bolehnya nggondhol itu dari kuburan. Jadi, pasti ketahuan siapa orangnya yang digondol itu. Ini malah kayaknya mau pamer kebengisan. Hiiihhh … mêngkorok githok saya !”

“Tapi, apa sadisme itu hanya potong-memotong manusia ? Iya to, Gen ? Sadis itu cuma kalau membunuh orang secara kejam.”

Mr. Rigen diam. Mungkin masih ingat harimau-harimau di pegunungan gundul desanya, yang menurutnya masih jauh lebih harimauwi daripada sang pembunuh misterius yang tidak manusiawi.

“Wah iya lho, Pak. Kalo dipikir-pikir membunuh dengan kejem itu tidak usah harus harafiyah mak dor atau mak jus terus klêkêg-klêkêg begitu ya, Pak ?”

“Misalnya ?”

Lha itu, kalo Pak Lurah sama Pak Carik memotongi pembayaran tanah yang terpaksa mesti dijual karena kena gusur pembangunan ? Itu ‘kan juga sadis to, Pak ? Dan yang tega menggorok gaji dan rapelan guru-guru desa itu kurang sadis apa, Pak ? Juga calo-calo transmigran yang belum tentu berangkat ? Itu rak sak kêjêm-kêjêm-nya, sak têgêl-têgêl-nya manungså to, Pak ?”

“Wah … kalau begitu daftarnya bias panjang banget, Mister.”

Ha, ênggih. Lha mbok Bapak neruskan daftar itu. Kalo saya tadi ambil contoh kêjêm-nya, sadisnya orang pangkat kelas bawahan di desa sana, mestinya Pak Ageng bisa nyambung sadisnya yang priyagung-priyagung.”

Saya jadi kaget. Kok tiba-tiba Mr. Rigen menuntut begitu, lho ? Tiba-tiba kok saya diminta ikut tunjuk hidung !

Lha, Bapak kok terus diam to ? Kalo wong cilik minta priyagung tunjuk hidungnya sendiri mesti terus begitu, lho. Monggo to, Pak. mBok jangan rikuh pakéwuh sama saya.”

Dhapurmu ! Yo wis. Karena ini Negara demokrasi Pancasila, ya priyagung kayak saya mesti tidak boleh malu-malu tunjuk hidungnya sendiri. Untuk adilnya ya, Gen ?”

Ha, ênggih begitu, Pak.”

Tetapi, entah mengapa kok saya tiba-tiba jadi bengong sendiri. Lidah ini rasanya kok jadi kelu. Mengapa ? Apakah itu yang disebut solidaritas kelas ? Gerakan tutup mulut untuk melindungi sesama priyagung. Karena priyagung yang satu pasti, lewat satu dan lain jalan, pernah menikmati hasil curian priyagung lain ? Saya masih terus diam memikirkan situasi yang jadi kikuk begitu.

Dospundi, Pak ? Mosok tidak ada, priyagung yang sadis suka motong-motong seperti maling-maling kecil-kecilan di desa, Pak ?”

Huss ! Diam kowé ! Aku ini lagi mikir ! Sing sabar to, Gen !”

Saya bentak begitu, Mr. Rigen jadi mak klakêp, diam. Tetapi, dia masih duduk nglésot di tikar dekat meja cêki bundar. Mukanya meski kelihatan takut, tetapi masih juga menunggu. Wah, pandangan yang begitu dari wong cilik, takut tapi menunggu, sungguh menggelisahkan saya. Dan saya pun masih saja diam seribu bahasa. Diam terus saja diam. Lidah saya masih kelu.

Tiba-tiba, dari arah belakang saya dengar suara hingar-bingar di sela tangis Beni Prakosa. Mr. Rigen mendengar itu langsung mak brabat, lari ke belakang. Naluri macan pegunungan Pracimantoro langsung mencium hal-hal yang tidak beres pada induk dan anaknya, rupanya masih menular pada Mr. Rigen.

Tetapi, belum sampai lima menit Mr. Rigen sudah kembali menghadap saya.

“Wah, kêtiwasan, Pak.”

“Ada apa ? Ada apa ? Belum-belum kok kêtiwasan. Yang kêtiwasan itu apa ?”

“Anu, Pak. Anu … anu, Pak.”

“Anu, anu … anu apa ? Ngomong yang jelas !”

Nyuwun dukå, Pak. Tholé Beni Prakosa ternyata punya bakat sadis luar biasa. Wah, malu kami, Pak. Malu ! Kecil-kecil kok sudah sadis begitu. Gèk yang ditiru itu siapa ?!”

“Sadis bagaimana ? Kamu kok terus ngaco begitu, Gen ?”

Ha, ênggih, Pak. Bagaimana bêdhès itu tidak kêjêm dan têgêl sama Pak Ageng. Empal daging yang tinggal dua potong untuk makan malam Bapak, sudah dia habiskan. Karuan saja ibunya sewot. Ngamuk. Anaknya dihajar. Nyuwun dukå, Pak. Nyuwun dukå !

Saya jadi terdiam lagi. Malah jadi rikuh sama keluarga Mr. Rigen. Ini ada kasus daging empal yang dicuri anaknya, mereka bolehnya minta ampun tidak kira-kira. Dan berani, tidak kira-kira juga, menyebut anaknya sadis, kêjêm dan têgêl.

Ha, ênggih to, Pak. Tholé itu kalo sudah begitu ‘kan tega namanya. Sadis.”

Hallahhh … kamu itu. Begitu saja kok kêjêm dan sadis. Wong empal saja lho, Gen. Lagian anakmu ‘kan masih kecil. Belum nJowo. Sudah sana ke belakang, rêriungan sama anak bojo-mu sana !”

Dalam jip, di perjalanan ke rumah makan Masih Sepuluh untuk makan malam, saya masih tidak habis pikir mengapa saya jadi kelu menyebut sadisme para priyagung. Sedangkan Mr. Rigen, wakil wong cilik itu, dengan polosnya tunjuk hidung anaknya sendiri sebagai anak yang sadis dan kêjêm. Astaghfirullah hal adziim, sudah begitu bisukah kami kaum priyayi ?

Yogyakarta, 18 April 1989

*) gambar dari antosalafy.wordpress.com

Mr. Rigen Dituduh Komunis

logo komunisSEHABIS melihat Menteri Ginanjar menjelaskan soal kenaikan tarif listrik di teve, saya langsung merasa lapar. Padahal sudah berhari-hari, gara-gara angin yang tidak kunjung reda, nafsu makan saya berantakan. Ajaib juga. Wong saya kok bisa kehilangan nafsu makan ?! Tetapi, entah karena penjelasan Pak Ginanjar yang ngganthêng itu, perut saya langsung kluruk, keroncongan, mengingatkan kepada saya bahwa malam itu agak terlambat saya makan malam. Saya pun lantas segera memberi komando kepada para anggota kitchen cabinet untuk bergerak menyiapkan makan malam.

Makan malam itu terdiri dari menu klasik Mr. & Mrs. Rigen mantan chef restoran gaya Perancis Chez Praci. Oseng-oseng kangkung yang sudah agak nyonyot karena sudah dipanasi beberapa belas kali, tempe bacêm yang sudah sêmangkin menipis. Habis, tanggal tua ! Setidaknya buat saya, sekarang kok makin terasa saja setiap hari itu tanggal tua, lho !

“Sudah, Mister ? Cuma ini saja ?”

Mr. Rigen melihat saya, meringis campur keheranan.

“Kok Bapak aneh pertanyaannya ? Setiap hari ‘kan ya begini-begini saja dhahar-nya. Malah menurut Bapak menu kerakyatan yang sehat.”

Eee … siapa tahu kamu masih punya kejutan-kejutan. Roast beef yang digrujug jus sampai mak nyus. Lha ini, oseng-oseng kangkung tidak mak nyus, tapi mak plényok.”

Ayakk … Bapak. Wong tadi siang dhahar-nya ya sama begini, saya lihat lahap sekali begitu, kok. Sekarang kok terus ngambek dan ngritik, lho. Ada apa to, Pak ?”

Saya tidak menjawab. Saya mulai saja dengan mengunyah oseng-oseng kangkung itu, yang meskipun sudah agak nyonyot, harus diakui masih cukup pedas menggigit. Mr. Rigen berkat pengalamannya di Chez Praci di pojokan pasar Pracimantoro, harus diakui memang seorang master dalam dunia masakan la nyonyot de nyonyot itu. Ah … mau diapakan lagi ? Wong punyanya juga hanya mereka anak-beranak. Ya diterima sajalah. C’est la vie, to ?

Tempe bacêm itu mulai saya gigit. Eh … masih sedap manis juga, meskipun minyaknya malam itu sudah semangkin merasuk juga. Saya lihat Beni Prakosa glibat-glibêt, ber-sliwêran di dekat meja makan. Bapaknya marah dan mulai membentaknya.

“Beni, ot ! A-ot ! Kalau Pak Ageng lagi dhahar ‘kan tidak boleh glibat-glibêt, to ?”

“Aku cuma mau tanya Pak Ageng, oseng-osengnya pêdhês apa tidak, kok.”

Saya segera menjawab, kira-kira tahu arah pertanyaan itu.

Pêdhês, Lé. Pêdhês. Kenapa ? Kamu masih mau, ya ?”

Beni mengangguk sambil mengatakan bahwa jatah yang diberikan ibunya terlalu sedikit. Dasar anak Praci ! Meski baru empat tahun sudah suka makanan pedas.

Selesai makan malam saya lanjutkan dengan nonton teve. Mr. Rigen duduk nglésot di dekat saya. Berkali-kali saya ingatkan bahwa duduk nglésot di bawah saya, selalu membuat saya risi dan merangsang naluri feodal saya. Mr. Rigen selalu menjawab bahwa buat dia itu enaknya duduk nglésot di bawah. Tidak ada masalah peodal, katanya. Meski duduk di atas sama-sama bos tapi kalau tidak enak bagaimana, katanya. Kalau memang jiwanya abdi dalêm, meski duduk di atas ya tetap nyêkukruk seperti munyuk kena sumpitan, katanya. Wong duduk mat-matan kok dihubung-hubungkan dengan peodal segala macam, gerutunya.

Saya pun hanya bisa manggut-manggut mengagumi prinsipnya yang jelas itu.

“Pak Ginanjar itu masih muda ya, Pak ?”

Lha iya. Jelas kelihatan dari wajah beliau begitu, kok.”

Ngganthêng ya, Pak ?”

Lha, iya ngganthêng. Wong kamu liha sendiri begitu, lho.”

“Orangnya pintêr, cemerlang ya, Pak ?”

Lha, iya. Itu jelas dari cara beliau ngomong to, Gen. Thas, thês, thas, thês. Lagi pula sekolah beliau itu dhuwur bangêt. Di Jepang, lho ! Kenapa sih, kok tiba-tiba kamu tanya tentang beliau, Gen ?”

Mr. Rigen diam sebentar.

“Anu, Pak. Saya itu kok belum srêg saja tentang kenaikan tarif listrik yang dua puluh lima persen itu, Pak.”

“Belum srêg bagaimana ? Wong Pak Ginanjar sudah menjelaskan semua begitu, kok.”

Lha, ênggih sudah jelas. Ning mbok yao dari dulu-dulu itu rakyat dijelaskan to, Pak. Dari sedikit begitu lho, Pak. Wong cilik ‘kan ya sênêng kalau merasa diajak rêmbugan. Wong tidak wurung kita-kita ini ya cuma manut lho, Pak. Karena itu saya tanya yang macêm-macêm itu tadi, Pak. Kalau pemerintah itu pintêr …. “

Hus … hus … huss. Kamu mulai prêkik ini, ya ? Kok kamu tiba-tiba jadi pintêr ngomong soal wong cilik, Gen ?”

Lha, saya ini ‘kan ya wong cilik to, Pak. Jadi ya gampang merasa.”

“Wah, … kamu mulai berbahaya ini, Mister. Saya mulai curiga sama kamu ini. Tunggu dulu ! Pracimantoro. Nah, iya, Pracimantoro.”

“Lho, ada apa dengan Pracimantoro, Pak ?”

“Saya ingat Bapak Sêpuh dulu sering turné, inspeksi ke daerah selatan itu. Termasuk Pracimantoro. Nah, saya ingat sekarang. Bapak Sêpuh, daerahmu itu termasuk basis PKI. Jangan-jangan kamu sekeluarga itu sudah kegarap PKI. Kalau orang ngomongnya sudah perkara wong cilik, itu indikasinya.”

Oalaahh, Paakk. PKI pripun ? Wong PKI tidak pernah menang lho, di sana. Zaman PKI Madiun dulu, menurut Bapak saya, kampung saya ikut ngubêr-ubêr sisa-sisa mereka yang lewat di sana kok, Pak ! Bapak kok terus dengan gampangnya mem-PKI-kan saya, lho ? Kulo mbotên trimo, Pak !”

Saya kaget mendengar suara Mr. Rigen mulai gemetar mau nangis. Wah … mungkin saya sudah kelewat emosi orde baru saya.

Yo wis, yo wis. Kalau ya nggak apa-apa, Gen. Sori, ya ?”

Saya minta maaf.

“Sana kamu masuk kamarmu. Kêlon sama keluargamu sana !”

Mr. Rigen, meskipun masih kelihatan agak bersungut-sungut, kelihatan agak cerah juga. Di ruang itu saya duduk sendirian. Teve terus berpidato dan berpidato. Saya hanya dengar suara-suara tanpa menangkap maknanya. Saya masih tercenung ingat dialog saya dengan Mr. Rigen. Elok, Mr. Rigen tidak trimo karena merasa tidak diajak rêmbugan sama Pak Ginanjar. Elok tênan !

“Geennn …. Mister Rigeennn … !”

Enggih, yes … eh, dalêm, Pak Ageng.”

Napasnya tersengal-sengal karena lari dari kamar belakang.

“Ada apa, Pak ?”

“Nggak apa-apa, Gen. Nggak ada apa-apa. Saya cuma mau bilang sama kamu, merdeka, merdeka, merdeka … !”

Dari belakang saya dengar Beni Prakosa teriak,

“Merdeka. Merdeka, Pak Ageng !”

Mr. Rigen tampak bengong.

“Sudah sana kembali ke kamarmu. Kêlon sama anak istrimu sana … “

Yogyakarta, 11 April 1989

*) gambar dari pkstallo.blogspot.com

Oh, Listrik Itu …

lampu teplokWAKTU sore-sore saya baru pulang dari berkunjung ke rumah kawan, saya terkejut melihat rumah saya dari kejauhan kelihatan gelap seperti kuburan. Habis bagaimana, bulan yang separo purnama itu justru membuat rumah saya tampak menyeramkan. Rumah saya yang indah itu tampak seperti cungkup kuburan orang kaya.

Waktu saya sêmangkin mendekat sêmangkin sêrêm lagi. Di pagar terpancang oncor-oncor minyak tanah yang berkelip-kelip. Kalau itu terpancang di halaman rumah Tuan Paul Wolfowitz, dubes Amerika Serikat yang sudah habis masa baktinya itu, lain soalnya. Oncor-oncor itu akan kelihatan semarak, berkedip-kedip bagaikan kerlingan gadis-gadis jelita. Oncor-oncor yang dipasang di pagar halaman mereka itu menandakan bahwa malam itu ada pesta dansa yang meriah. Gelak tawa akan terdengar berderai, musik berirama disco akan terdengar hangat merangsang, suara gelas berdenting-denting. Botol-botol sampanye berjos-jos dibuka, busanya tampak mengkilap kena cahaya oncor-oncor itu.

Tetapi, rumah saya pada sore menjelang malam itu ? Sunyi senyap. Tintrim. Adhêm. Suara jangkrik mengerik. Angin mengembus bau bunga kamboja dari kuburan Cina di depan. Kelelawar mengepak sayapnya melintas malam, silhuetnya tampak sekilas kena cahaya bulan. Wéé … lha, ini setting lakon apa ? Drakula akan tumurun di kawasan kampus ?

Di garasi, meski jip sudah berhenti dan persneling sudah prei, gas saya injak keras-keras. Ngung … ngung … nguuungg ! Ngung … nguung … nguuungg ! Pintu saya buka lantas saya banting, mak jêdhèr ! Dengan langkah yang saya gagah-gagahkan, saya masuk rumah. Ciloko ! Teras gelap. Ruang depan hanya disinari lampu sênthir satu. Di meja makan seperti akan ada satu malam candle light dinner, bernyala dua lilin merah sisa pesta ulang tahun kawan bule yang tempo hari mau pulang ke negerinya. Ah …. apakah Mr. Rigen mau menyiapkan satu malam candle light dinner buat saya sendirian ? Yakk, tidak lucu ! Itu namanya dinner untuk seorang Mister Lonely Heart alias Bujang Lapuk Kesepian. Kamar tidur saya juga hanya diterangi satu lampu sênthir. Kamar mandi gelap. Tetapi, kamar kerja saya, lho … lampu listrik 100 watt kêncar-kêncar memencarkan cahayanya. Saya berteriak,

“Geenn, Mr. Rii – geeenn !”

Yes, ênggih, yaa !”

“Ini permainan apa yang sedang kamu persiapkan, heh ?”

Mr. Rigen diam sebentar. Matanya memandang saya, menaksir : mosok tidak tahu yang sedang disiapkan ?

“Ayo jawab. Kok rumah kamu sulap jadi rumah hantu. Nanti kalau dhêmit, gêndruwo cino-cino dari ngêbong depan itu mengira di sini ada resepsi baru tahu kamu !”

Walaah, Paak. Wong begini kok dianggap rumah hantu. Ini rak malah kelihatan asri, seperti rumahnya Tuwan Blek waktu malam perpisahan itu to, Pak ?”

“Lho, lha siapa yang mau perpisahan di rumah ini ? Kamu apa ? Kamu mau pulang ke Praci terus kumat kebarat-baratanmu, mentang-mentang sudah pernah disayang Tuan Blek, Tuan Seng atau Tuan Tio begitu apa ?”

Mr. Rigen tertawa nyêkikik.

mBotên, mbotên, Pak ! Tidak ada rencana pesta atau perpisahan. Saya ini prihatin mikir Bapak.”

Wéé, … lha, terima kasih Mister, sudah mau prihatin. Ning terus yang diprihatini itu apa ? Wong saya ya begini-begini saja, lho. Kesehatan ya stasioner, tidak maju tidak mundur. Atau mungkin maju kena, mundur kena juga. Kekayaan ? Yaa … masih tetap seperti kata almarhum Basiyo dulu. Madhêp ngalor sugih, madhêp ngidul sugih, madhêp ngétan sugih, madhêp ngulon sugih. Terus apa lho, yang kamu prihatinkan ?”

Mr. Rigen memandang saya keheran-heranan.

“Bapak itu bagaimana, to ? Listrik, listrik, Pak ! Listrik itu rak mau naik dua puluh lima persen. Terus bagaimana nanti coba ?”

Woo … itu, to ? Lha wong masih sebulan lagi saja lho, Gen.”

Lha, ya itu, Pak. Mulai sekarang latihan. Latihan ngirit, Pak.”

Ngirit, ya ngirit, Gen. Ning rumah mbok jangan kêsusu kamu sulap jadi markas drakula begini. Saya sendiri jadi mrinding.”

Mr. Rigen nyêkikik lagi.

“Saya itu nggak habis pikir sama pemerintah itu, Pak. Menaikkan gaji Bapak hanya berapa persen, lho. Lha, kok listrik dinaikkan dua puluh lima persen. Belum lainnya nanti. Apa mungkin sudah naik semua, Pak ?”

Lha … ya sudah ada yang naik, ada yang belum. Waktu belanja tempo hari, kamu ‘kan sempat gêro-gêro sama istrimu ?”

Lha, terus bagaimana, Pak, kalau semua naik terus begini ? Apa ya para priyagung itu juga kena to, Pak ?”

“Oh … jelas Gen, jelas. Negeri ini negeri yang percaya sama keadilan, Gen.”

Ayakk. Saèstu to, Pak ? Buktinya Prof. Lemahamba itu ayêm-ayêm saja. Listrik di rumahnya kêncar-kêncar terus. Pompa airnya terus nyedot air buat nyêmproti halaman rumahnya yang indah mulus itu.”

“Lhoo … itu tidak membuktikan kalau Prof. Lemahamba itu tidak terkena kenaikan listrik, Gen. Prof. itu kaya, Gen. Jadi, mbok dinaikan berapa persen, ya ayêm-ayêm saja, Gen.”

Mr. Rigen diam. Wajahnya tampak berpikir keras.

“Saya itu heran. Bapak, Prof. Lemahamba, Pak Doktor Prasodjo Legowo itu rak semua guru to, Pak. Lha … kok gajinya lain-lain. Di sekolah desa Pracimantoro sana, pak mantri guru sama guru-guru yang lain itu kelihatan sama mlaratnya itu, Pak. Di sini kok lain, lho. Sama-sama guru mobilnya saja lain. Yang satu mèrkèdès, yang satu jip kantor, yang satunya lagi Honda bebek. Nggak mudhêng saya, Pak.”

Karena tidak mungkin saya menjelaskan kepada Mr. Rigen tentang teori pendapatan yang muluk-muluk, saya hanya menjawab pendek saja.

“Aku juga ora mudhêng kok, Gen.”

Tiba-tiba saya kok lantas ingat Yogya di zaman revolusi dulu. Semua rumah tangga tanpa kecuali redup, remang-remang, mengirit listrik. Di jalanan orang tetap pating sliwêr naik sepeda memakai upêt, bukan bérko listrik. Restoran, toko, lampunya ya byar-pêt, berkedip-kedip. Tetapi, kok seingat saya semua adhêm ayêm, tenang, gembira saja. Mereka malah menyanyi,

“… kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia, kita tetap … “

Dan Malioboro itu kelihatan asri, romantis, tidak murung, penuh optimisme. Mengapa ? Apakah karena semua ikhlas sama-sama memikul penderitaan. Malu dan rikuh kalau jor-joran kekayaan ?

Yogyakarta, 4 April 1989

*) gambar dari kartikarahmawati.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 337 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: