beranda

Latest Post

Cleret Tahun

angin lesusHARI Selasa minggu yang lalu, waktu baru pulang dari Jakarta, saya dikejutkan oleh pemandangan di kompleks perumahan saya. Pohon-pohon pada tumbang, bahkan banyak pula yang terbongkar sampai ke akar-akarnya, tiang-tiang telpon pada bengkok dan jalan-jalan pada kelihatan bosah-basèh tidak karuan oleh ranting, dedaunan dan dahan-dahan. Elho … ada apa gerangan ? Jangan-jangan rumah saya …

mBotên, mbotên nåpå-nåpå, Pak Ageng. Semuanya slamêt. Juga nggak ada pohon-pohon kita yang rebah. Hanya pohon alpukat di belakang saja yang jadi agak condong ke selatan sekarang.”

Sokur … sokur, alhamdulillah, Mister. Cuma, kok jadi ada goro-goro ini bagaimana ?”

Woo … lha itu karena datangnya clèrèt tahun. Makk buussss …. dalam waktu kurang dari satu jam semua, pepohonan itu, diangkat terus makk bruuuggg, pada ambruk semua !”

Lha … clèrèt tahun itu apa to, Gen ?”

Êlhoo … Bapak ini nggak tahu clèrèt tahun, to ? Clèrèt tahun itu angin lésus yang mutêr-mutêr. Datangnya sekali setahun.”

Ayakk, angin kok ada yang langganan sekali setahun, Mister.”

Ha, ênggih mbotên ngêrtos. Yang jelas angin itu ada kok, Pak.”

Lha, saya ‘kan cuma ngunandikå, Gen. Eee … kok ada angin langganan. Kayak koran saja !”

“Bapak kii sukanya ndagêl. Ini angin serius lho, Pak. Ngalamat !

“Serius ? Ayakk, angin kok serius. Kayak menteri saja. Ngalamat ? Ayakk, kok kayak aliran kepercayaan saja.”

Lha, rak ndagêl lagi to, Bapak kii ! Angin clèrèt tahun itu bukan angin sembarangan lho, Pak !”

“Oo … iya. Kalau itu saya percaya. Buktinya bisa mengambrukkan pohon-pohon.”

Lha, tapi bolehnya ngambrukkan itu pilih-pilih lho, Pak.”

“Pilih-pilih piyé ? Yang dipilih itu yang bagaimana ?”

Êlhoo … Bapak kii gimana, to ?! Wong dalêm-nya sendiri slamêt nggak apa-apa begini, lho. Itu ‘kan tandanya rumah ini sak anteronya sudah kêpilih untuk nggak diapa-apakan sama clèrèt tahun to, Pak !”

Wéh … iya ya. Élok tênan. Lantas ?”

Lha … itu karena ada sebabnya, Pak.”

“Apa itu ?”

“Pertama nggih, rumah ini ‘kan sudah dilindungi sama dua pohon Sri Mahkota yang buahnya merah-merah itu. Apalagi cuma clèrèt gombèl, eh, clèrèt tahun. Wong rudal aja yang dikirim ke sini pasti balik kok, Pak. Lha … yang kedua, kita serumah ini ‘kan gêntur laku tåpå-nya, Pak. Ha … clèrèt tahun itu juga tahu, Pak. Karena itu kita ya kêpilih nggak disabet clèrèt tahun.”

Oalahhh, … Gen, Gen. Kamu itu bolehnya madêg dukun itu kapan ? Kok ada pohon bisa nampik rudal. Terus kita gêntur tåpå-nya. Wong kamu itu kalau makan tadahmu sak gunung anakan begitu, lho. Terus kalau itu tåpå, yang nggak tåpå bagaimana ? Heehhh … !?”

“Wah, … Bapak ini gimana, to. Nuwun sèwu, lho, Pak. Bapak kii sekarang kok agak mengalami kemunduran dalam membaca sasmitå-nya alam.”

“Maksudmu ?”

“Begini lho, Pak. Tåpå itu bukan hanya mengurangi makan dan minum. Kerja keras tanpa pamrih itu kekuatan batinnya hebat lho, Pak.”

“Tunggu dulu, Gen. Betul apa kamu itu kerja keras tanpa pamrih ?”

Êlhoo … ha ênggih, Pak. Apa to pamrih saya hidup di ngalam ndonyå ini ?”

“Ya, sudah. Kalau memang menurut kamu, kamu itu tidak punya pamrih. Asal yang bilang itu kamu sendiri. Wong cuma kamu sendiri kok yang bisa menentukan itu. Iya apa iya, Mister.”

“Wah, tunggu dulu, Pak. Ngendikå Bapak, nuwun sèwu, kok agak sêngak bin nylêkit, lho. Maksud panjênêngan itu apa ? Nyindir atau apa ?”

Saya tidak menjawabnya, cuma tersenyum saja. Sesungguhnya saya juga tidak berapa tahu maksud saya berkata begitu itu apa. Mungkin sudah terseret Mr. Rigen yang pada hari itu pernyataannya kok kedengarannya rådå jêro-jêro alias dalam-dalam seperti sumur Blawong. Pokoknya kalimat jêro yang harus tidak me-mudhêng-kan itu. Seperti musik jazz yang baru ajaran. Pokoknya ruwet, lagunya yang asli hilang tidak bisa dideteksi lagi. Makin ruwet makin seni. Tet … tet … tuwet, jreng … jreeng … jreengg.

Tiba-tiba dumarojok tanpå larapan, jlêk, Prof Dr. Lemahamba, M.Sc, M.Ed, dsb, dsb-nya, tahu-tahu sudah di kamar depan.

“Ohh, Geng. You missed a lot. You were not here, to ?”

“Elho … kehilangan apa, Prof ?”

The tycoon or clèrèt tahun as you call itu here.”

“Maksud Prof, typhoon, to ?”

Yes, yes … Typhoon, tycoon, it’s just the same you know.”

Lha, di rumah Pak Propésor, ada berapa wit-witan sing ambruk ?”

Saya kaget bukan kepalang, Mr. Rigen kok terus mak tlusur ikut nyelonong omongan high level in English itu, lho.

Hemmm … wit-witan ambruk, Mr. Rigen ? None. Not a single one.”

Haa ênggih, pintên, berapa sing ambruk, Pak Propésor ?”

Ora ånå, Gen. Semua pepohonan di rumah saya tidak ada yang ambruk.”

“Pak Propésor pasti kagungan Sri Mahkota, to ? Itu lho, Prop, wit grumbul yang bisa nolak rudal …”

What is this nut talking about, Geng ? Aku ora mudhêng, Geng. Wis yo, aku kêsusu mau ke Pak Lurah Catur Wangsa. Katanya ada tanah murah, lima ribu meter persegi … “

Cerr … zrumm … BMW-nya distarter terus berlari dengan mulusnya. Saya lihat Mr. Rigen bengong, tetapi, kemudian tersenyum manthuk-manthuk.

Yogyakarta, 31 Januari 1989

*) gambar dari amdgroup.wordpress.com

Arsip

Statistik

  • 18,630 hits sejak 12 Mei 2012

Pengunjung

Free counters!

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk menerima pemberitahuan tentang tulisan baru.

My Random Rambling

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan, yay!!!

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: