beranda

Latest Post

Bergunjing Tentang Penobatan & Resepsi Pernikahan

Penobatan-Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-XBEBERAPA hari sesudah minggu yang sibuk, riuh-rendah dan penuh dengan kecemerlangan peristiwa, sahabat-sahabat dekat saya yang Anda juga kenal dengan baik yaitu Prof. Dr. Lemahamba, dsb, dsbnya serta kangmas Dr. Prasodjo Legowo atau Legowo Prasodjo (tergantung dari kêpénaknya memanggilnya saja), bertemu lagi di rumah saya. Kali ini mereka tidak membawa istri-istri mereka, yang akan berfungsi sebagai buffer atau bumper (tergantung dari sudut bagaimana kêpénaknya membayangkan fungsi mereka) bila suami-suami mereka ngotot berkonfrontasi. Akan tetapi, kali ada unsur lain yang hadir, yaitu Bu Ageng. Yang sudah barang tentu tidak mungkin berfungsi buffer atau bumper buat siapa saja.

Konfrontasi legendaris antara dua super pakar itu sudah sering saya laporkan kepada istri saya, namun baru kali ini ia berkesempatan menyaksikan kehadiran kedua super intelektual tersebut. Bagaikan menunggu hari H dari adu jotos antara Mike Tyson melawan Frank Bruno, tiba-tiba saja hari itu mereka berdua mak tlosor sudah mengejutkan kami yang sedang berangin-angin di lincak kami yang sudah hampir reyot.

“Wah, … kok bolehnya njanur gunung, tumben betul paduka dua raksasa berkenan dumarojog tanpa sarapan di depan kami pada hari yang tanggung bulan ini. Turun Bu, turun. Caos bêkti kepada para tamu agung kita.”

Bu Ageng turun dari lincak, bengong melihat kedatangan kedua superman tersebut. Yang satu datang dengan Baby Benz, yang satu lagi dengan Honda bebek èjlèk-ènong, èjlèk-ègung. Yang seorang lilis mengkilap, yang seorang tampak redup mendekati kekumalan.

“Wah, ini, akhirnya kita bisa ketemu dengan Bu Ageng. Yang sering datang ke mari, Jeng. Jangan mau disembunyikan di Jakarta terus !”

Bu Ageng hanya tersenyum saja mendengar sapa keramahan dari Prof. Lemahamba. Mungkin dia tidak terlalu menghiraukan sapaan itu. Mungkin dia belum selesai mengendus-ngendus parfum apa kiranya yang dipakai oleh profesor kita itu.

“Wah, Jeng, kalau tahu Anda ada di sini, saya ajak mBakyunya. Pasti seru dan seronok pertemuan kita ini.”

Sekali lagi Bu Ageng hanya bida tersenyum-senyum. Mungkin kali ini dia tidak berani mengendus-endus bau parfum doktor kita yang prasojo dan lêgowo itu. Lha wong parfum alam alias keringat, . Terlalu riskan untuk diendus.

Dan sebentar kemudian percakapan kami sudah bergeser ke pergunjingan tentang peristiwa yang baru lalu. Ternyata mereka berdua juga sama dengan kami, mendapat undangan untuk hadir pada upacara penobatan (tanpa istri) dan resepsi perkawinan para pangeran (dengan istri). Sama dengan istri saya yang tak habis-habisnya meng-gêrundêl karena hanya dapat undangan pada resepsi perkawinan, demikian juga dengan madam-madam mereka.

Tiba-tiba, Prof. Lemahamba melempar kartu serangan yang pertama,

“Menurut saya upacara penobatan dan resepsi perkawinan kemarin itu kurang wah. Kurang grêngsêng, kurang gumêbyar, kurang … “

Lhah … baru beberapa menit beliau duduk kok ya sudah pasang gelar urang mau mencapit, terutama, Dr. Prasodjo Legowo, lho. Dan, kalau Anda bisa melihat wajah Prof. Lemahamba waktu itu, wah, mirip patih Medayin tokoh wayang têngul itu. Mas Prasodjo Legowo segera menyambutnya dengan pasang gelar dirådå métå. Matanya mênthêlêng seperti Bima.

“Kurang wah ? Kurang grêngsêng ? Kurang gumêbyar ? Maksud Anda bagaimana ?”

“Maksud saya just like that. Kurang, kurang, kurang. Kurang majestic. Saya membayangkan akan jauh lebih dari itu. Gumêbyar seperti istana Versailles begitu. Agung seperti penobatan Napoleon Bonaparte.”

“Versailles gundhulmu ! Napoleon Bonaparte dêngkulmu ! Saya tahu Anda sudah pernah lihat istana Versailles. Tapi, penobatan Napoleon ? Paling-paling Anda hanya lihat gambarnya saja, to ?!”

Prof. Lemahamba tertawa ngakak, terkekeh-kekeh, senang melihat pancingannya berhasil memarahkan lawannya. Saya sudah mulai menangkap tanda-tandanya. Saya segera menyeret istri saya ke belakang menemui Mr. Rigen. Dengan suara merendah saya beri tahu mereka.

“Sssttt, suhu sudah mulai naik. Kau segera pimpin Mrs. Nansiyem untuk akselerasi gerakan dapur. Bikin apa saja. Pokoknya cepat siapkan klêthikan kèk, atau makanan untuk menurunkan suhu konfrontasi. Dan you Mr. Rigen …. “

“Tongseng dan sate Samirono tiga porsi. Terus bakmi goreng Moro Seneng … “

Sekarang ganti Bu Ageng yang tertawa ngakak.

“Wah … lha ini, kok kitchen cabinet-mu dalam sekejap sudah kau ubah jadi mesin perang, lho. Dan mr. Rigen ini, kok bolehnya cak-cêk.”

Kami kembali ke ruang tamu. Mereka masih otot-ototan.

“ … kok kayak kamu hadir saja di penobatan Napoleon. Lha, wong keraton Jawa kok kamu samakan dengan keraton bule Perancis. Ya, lain dong, maknanya. Justru tidak wah, tidak gêngsêng, tidak gumêbyar itu letak keagungannya. Tidak berlebih-lebihan, tidak berbunga-bunga, tidak néka-néka !

“Elho … ini ada mathematician cemerlang seantero dunia internasional kok bolehnya sewot, lho, mendengar kritikan saya ! What’s bothering you ?”

Ora ono åpå-åpå, Dimas. Aku hanya mau mendudukan pandanganmu yang agak mblèsèt itu. Kamu itu membandingkan dua konsep keagungan yang lain sama sekali. Ya tentu saja mblèsèt.”

All right, all right. Sekarang begini saja. Saya, dan saya kira you juga, pernah menyaksikan pesta perkawinan yang jauh lebih mewah dan royal di Jakarta, to ? Bagaimana itu coba. Mosok raja kita kok trimo kalah dengan mereka itu ?”

Oalahh, … Mbaa, Mba ! Kok kamu itu keliru lagi membandingkannya. Mungkin pesta-pesta di Jakarta itu lebih mewah, mahal dan penuh gêbyar. Tapi, ya itu saja, kan ? Mereka mungkin mau mengerahkan putri domas 30 pasang, pelaminan yang dahsyat dengan background rana Jepara yang rumit ukirannya dan panjangnya sampai 15 meter. Tapi, ya tetep ndèsit, Mba ! Wong target mereka itu cuma mau membelalakan mata orang. Bangga toh mereka kalau bisa memacetkan lalu lintas di bunderan HI atau pojokan Wana Bakti atau depan Kartini. Tapi, ya sekedar itu, Mba ! Nah … kalau yang di keraton kemarin itu ‘kan tidak butuh target-targetan, kecuali berjalan mulus dan agung. Dan, itu sudah tercapai, toh ? Mosok kamu tidak mrinding menyaksikan semua itu, Mba ?”

“Wah … sebentar lagi pasti aku akan mendengar seorang ahli matematika cemerlang bisa melihat bayangan Nyai Roro Kidul. Iya, kamu lihat ratu itu ?”

Hessyy … kamu itu …. “

Tiba-tiba dari belakang terdengar suara istri saya.

Gentleman, dinner is served …”

Damai pun segera turun di bumi. Di depan tongseng, sate dan bakmi goreng, kedua super pakar itu dengan lahapnya menikmati makanan yang dihidangkan. Super pakar van Java keturunan petani itu …

Yogyakarta, 14 Maret 1989

*) gambar dari kerajaannusantara.com

Arsip Tulisan

Statistik Blog

  • 25,312 hit sejak 27 April 2012

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 336 pengikut lainnya.

My Random Rambling

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 336 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: