Mr. Rigen dan Pengemis

pengemis jadi2-an (pulsk.com)Siang hari di musim panas  begini memang hangudubillah syaiton rasanya. Panas, prampang, tapi keringat tidak keluar. Lha, wong puasa. Air tubuh kita pada menguap keluar sampai membikin tubuh kita jadi kering-kerontang, bagaikan dendeng sapi. Bagi tubuh-tubuh yang gendut seperti saya, tubuh itu jadi nampak seperti dendeng gajih, keras ning juga lintrêk-lintrêk.

Jam sesiang itu juga merupakan jam yang sangat kritis. Bagaimana tidak, saat itu adalah tinggal tiga jam dari waktu berbuka puasa. Tinggal tiga jam. Tapi, tiga jam yang panjangnya melebihi sepuluh jam. Alangkah lamanya jarak waktu itu terasa. Untuk ke sekian kali terbukti bahwa yang namanya waktu itu hanya karangan orang yang kurang kerjaan. Yang disebut waktu itu diiris-iris sak énak wudêlé dhéwé dalam menit dan detik. Itu masuk akal kalau kita dalam kondisi normal. Tapi, kalau tidak, seperti saat puasa begini, bukankah jadi tidak berarti irisan-irisan waktu itu? Waktu itu jadi meleleh, ndêlèwèr miturut mood-nya orang, seperti salah satu lukisan Salvador Dali, maestro lukisan surealistik itu.

Yah, realsitik atau surealistik jam-jam menuju buka puasa itu harus dijalani juga. Mosok kita lantas mandhêg hambêgêgêg terus tidak buka? Yak, jênèh enak sang waktu akan me-ngênyèk kita.

Begitulah, saya menggeletak di ruang tengah untuk sekadar bisa menangkap semilirnya angin. Tiba-tiba, …

Sanèsé mawon, Pak. Ke tempat lain saja ya, Pak.”

Elho, … sanèsé mawon, lainnya? Wong dijujug, didatangi langsung, kok sampéyan mêrintah saya untuk sanèsé mawon itu, bagaimana? Saya ini njujug, menjujug langsung ke sini, Mas!”

Elho … !!! Priyé to iki? Sampéyan itu bagaimana to, Pak? Wong ngemis kok marah?”

Elho … sudah ada berapa wong ngemis bisa marah? Mau saya marah lebih besar lagi apa, Mas?”

Saya kemudian mendengar Mr. Rigen berteriak memanggil Beni Prakosa.

“Beniii, cepat bawakan nasi sama tahu-tempe tadi pagi ke sini!”

“Wah, Mas. Jangan nasi. Apalagi kalau nasi itu nasi pagi tadi. Bikin lêmês. Tur perut saya tidak kulinå makan nasi adhêm dari pagi tadi. Uang saja, Mas. Uang itu lebih ringkês. Anak sampéyan juga tidak perlu repot cari daun pisang untuk mbungkus. Uang mawon, Mas.”

Dengan suara meng-gêrundêl, Mr. Rigen memberikan uang.

Monggo uangnya, Raden Mas!”

“Lho, … cuma lima puluh perak? Buat beli apa ini?”

“Nggak mau? Sini, kembalikan!”

Purun, purun. Mau dan trims, nggih.”

Wééh … tahu trims, to?”

Ha, ênggih. Apalagi kalau ditambah nasi yang dibawa anak sampéyan niku.”

“Oohh … wong ngemis nekat iki! Ya sudah, ini nasinya. Katanya tadi nggak biasa makan nasi adhêm. Bikin lêmês. Kok sekarang mau?”

Ha, ênggih. Lha, wong sudah dibawakan anak sampéyan begitu, lho. Kasihan.”

“Ya sudah! Pun, sampéyan têng sanèsé mrikå! Ke tempat lain sana !”

Sanèsé? Lainnya?. Mas, dak beri tahu ya. Sanèsé, yang lain itu, ya sudah semua dak datangi. Sampun, nggih.”

Srêk, srêk, srêk. Langkah pengemis itu terdengar rileks tapi mantap dari ruang tengah, tempat saya tiduran. Mr. Rigen dengan diiringi bêdhès yang sekarang sudah kelihatan seperti bangkokan itu, masuk ruang tengah.

“Wah …jiaann, wong ngemis jaman sekarang!”

Saya tertawa.

“Ada apa to, Gen. Wong orang ngemis saja, lho.”

Elho … Bapak tidak pirså, sih. Saya dan Beni yang di-lumah-lumah-kan.”

“Iya lho, Pak Ageng. Bapak tadi sampai jatuh ke-lumah-lumah. Telentang di lêmah.”

“Husyy … ! Diam kowé! Dak lumahké beneran, enak kamu. Sana ke belakang minta unjukan teh sama jênang mutiårå sama mbokmu, buat Pak Ageng!”

Beni langsung lari ngiprit ke belakang.

“Kamu itu kok bolehnya sewot itu kenapa, Gen?”

Ha, ênggih niku, to. Wong ngemis jaman sekarang akalé makin banyak. Mau duit sama nasi saja aksiné kayak yak-yako.”

“He…he…he…. Ning rak lucu to, Gen? Lagi pula kreatif.”

Wéé … lha, Bapak memihak kaum pengemis yang seperti itu?”

“Bukan memihak. Hanya kagum.”

Elho … kagum? Gèk sing dikagumi itu apanya to, Pak? Wong ngemis dengan cara begitu saja, lho.”

“Geen, Gen. Wong kamu itu bocah ndèso Pracimantoro, yo tidak ngerti.”

Ha, ênggih. Terus bagaimana?”

“Ini ‘kan cerita peradaban. Ini ‘kan cerita civilization, Gen.”

Gèk, sing sipilis niku sintên?

“Oohh …. dak krawu pakai parut mukamu, baru tahu kamu!”

“Ampuun, Pak. Muka sudah pas-pasan begini kok mau di-krawu. Alangkah semrawut dan gurihnya muka saya nanti, Pak.”

Saya terpaksa tertawa mendengar tangkisan direktur kitchen cabinet yang kênthir ini.

“Begini lho, Gen. Saya kagum kepada pengemis itu karena gaya dan rasa humornya itu. Orang ngemis untuk lima puluh atau seratus rupiah plus nasi bungkus dengan gaya seperti itu, rak élok to, Gen. Kamu rak ketawa to, menghadapi dia?”

“Mau ketawa ning lebih anyêl, Pak.”

“He … he … he …. Itu tandanya dia berhasil dengan gaya dagêlan-nya.”

Kami berdua masih terus membicarakan pengemis jenius itu sampai waktu buka. Mr. Rigen tetap bersikeras tidak mau mengakui kejeniusan pengemis itu. Sambil menggerutu dia ke belakang, membawa piring dan cangkir yang telah kosong.

“Bapak ini, lho, wong ngemis ugal-ugalan begitu kok jenius?”

Heh, wong Mr. Rigen. Anak Pracimantoro plus jebolan SD desa saja. Mèmpêr, tidak mengerti kalau ini juga pertanda satu peradaban. Dikira gampang apa, mengembangkan kêmblubutan yang dibungkus dengan teknik micårå yang kontroversial itu? Dibutuhkan satu kebudayaan canggih untuk mendukung itu. Intinya meneror, menghardik, ning dibungkus dengan dagêlan. Edan tênan!

Tiba-tiba saya ingat dengan kaset-kaset pujaan saya, almarhum Basiyo. Lha, pengemis itu ‘kan duplikat dari Basiyo itu! Ingat ‘Basiyo Tukang Becak’? Lha, … ‘kan plêk jêblès dengan gaya sang pengemis tadi, to? Kalau begitu dia seorang plagiator, perampok hak cipta Basiyo? Ah, … tidak juga. Basiyo, pengemis itu dan beratus ribu manungså di Ngayogyakarta ini adalah penyangga satu kultur, satu peradaban yang dahsyat kehalusannya. Dahsyat ning halus. Mau nodong ning pakai tata karma. Apa tidak elok?

Tiba-tiba dari luar saya dengar Mr. Rigen membentak-bentak.

Pun, pun. Sudah, sudah! Sanèsé mawon, lainnya saja! Awas nèk sampéyan mau membujuk dan ngglêmbuk. Dak gêbuk tênan sampéyan! Ayoo …..”

Enggih, ênggih.”

Wong ngemis. Surup-surup, hari sudah mau malam kok masih mau ngemis … ?!”

Saya melongok dari balik gordijn, menggelengkan kepala. Mr. Rigen van Pracimantoro ternyata bisa galak betul ….

Yogyakarta, 26 Maret 1991

*) gambar dari pulsk.com

Iklan

One comment

  1. kisah nyatah
    ini minta maaf terlebih dahulu,mau berbagi sering pengalaman,dulu awalnya aku cuma pedagang biasa,and selalu berusaha ingin sukses,tapi di pertengahan usaha bangkrut dan banyak hutan di mana mana tapi aku tak mau putus asa cari jalan keluar,syukur aku temukan nomor 085217519919 ki songo di webnya dia http://www.paranormal-kisongo.blogspot.com berkat petunjuk dan arahan beliau aku berhasil bangkit lagi,biarpun aku berhubungan beliau degan jarak jauh aku yakin dan percaya bahwa ini orang yang bisa membantu aku,awal ragu tapi aku beranikan diri telpon beliau degar bicara dan arahan nya,aku yakin ini orang bisa membantu,terima kasih kisongo.wassalam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: