Pengantar GM


Sebuah tulisan pendek, ditulis tiap minggu untuk sebuah koran lokal, dengan gaya yang akrab kepada pembaca dan dengan cara seperti seenaknya, untuk menyatakan soal-soal sehari-hari yang tampaknya remeh-temeh – apa yang sebenarnya hendak dikatakan oleh Umar Kayam, sastrawan terkemuka, guru besar yang biasa menganalisis perbagai soal, dalam kolom-kolomnya yang sangat digemari di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta ini?

Satu hal jelas : Umar Kayam tidak berpura-pura “populer”. Ia tidak mengambil pose seorang pintar yang merendah-rendahkan secara palsu seperti juru penerang yang punya siasat agar bisa dijabgkau orang banyak. Setiap tulisan dalam Mangan Ora Mangan Kumpul ini adalah cerminan suatu pendekatan ramah yang otentik, tanpa siasat ini dan itu. Umar Kayam tidak mengambil jarak (lebih tinggi atau lebih rendah) dari pembacanya. Ia menganggap mereka suatu bagian yang intim, “orang dalam” dalam lingkungan dialognya. Ia, sebab itu, tak pernah menjelas-jelaskan. Ia tak pernah mengasumsikan bahwa Anda akan mengerti apa yang dikatakannya. Baginya, begitu Anda ambil selembar Kedaulatan Rakyat dan Anda baca kolomnya, otomatis Anda sudah satu “gelombang radio” yang sama dengan dia.

Maka tulisannya mencerminkan suatu keleluasaan, suatu kebebasan gaya yang jarang ditemukan di antara para penulis kolom di koran-koran harian. Sang penulis bahkan terasa menikmati proses penulisannya. Guraunya, loncatan-loncatan pikirannya, kombinasi kocak metaphor dan pilihan katanya, juga nada komentarnya yang seperti bergumam, semua begitu meluncur seenaknya. Semuanya menunjukkan bagaimana eratnyahubungan yang diciptakannya antara dia dan pembaca yang dibayangkannya akan mengikuti tulisannya.

Dengan cara lain bisa dikatakan : bila setiap pengarang kolom sedikit banyak membayangkan pembacanya sendiri waktu menulis, maka tampaknya Umar Kayam membayangkan para pembacanya di Kedaulatan Rakyat sebagai karibnya yang sering bertandang. Dalam hal ini, Mangan Ora Mangan Kumpul adalah contoh terbaik dari, untuk meminjam peristilahan yang hamper menjadi klise kini, penulisan “konstekstual”.

Siapa yang berada di luar konteks ini memang agak sukar masuk ke dalam dunia Pak Ageng, Mister Rigen, Nansiyem dan Beni, para tokoh utama sketsa-sketsa ini. Tapi siapa yang berada dalam konteks itu – seperti banyak pembaca Kedaulatan Rakyat yang dengan setia mengikuti kisah-kisah anekdotis Umar kayam ini – akan menemukan banyak hal. Humor, komentar sosial yang cocok atau, dalam omongan orang Yogya, mathuk. Kemahiran yang spontan untuk menempatkan satu kata atau kalimat dengan asosiasi kata atau kalimat yang mendadak lain (plesedan). Juga : pernyataan-pernyataan yang arif tentang suatu situasi.

Tapi apa konteks tulisan Umar Kayam ini sebenarnya? Yang mengagumkan saya ialah bahwa tidak ada sedikit pun tedensi untuk berlagak dalam sikapnya menulis, sementara yang tersirat dari dalamnya adalah sesuatu yang sangat penting : seraya mengambil resiko untuk “mengkhianati” sifat tanpa pretensi tulisan-tulisan ini, saya ingin mengatakan, bahwa Mangan Ora Mangan Kumpul akhirnya adalah rekaman, juga komentar, tentang masyarakat Jawa yang sedang dalam peralihan.

Melihat “metode” Umar Kayam, saya terkadang teringat Obrolan Pak Besut di RRI Yogyakarta dulu, yang sewaktu saya kecil saya lihat diikuti oleh banyak orang kampung dari radio tetangga yang dipancarkan keras-keras : pada Pak Besut ada beberapa tokoh (man Jamino, mBakyu Santinet) yang bertukar pikiran untuk mengomentari suatu persoalan sosial atau politik. Pada tulisan Umar Kayam ini kita juga bersua dengan sejumlah tokoh tetap.

Tapi yang membedakan Umar Kayam dengan Pak Besut ialah wawasannya, ketajaman persepsinya, kekayaan referensinya, yang memang hanya mungkin terdapat pada diri seorang yang punya latar belakang hidup seperti Umar Kayam : sastrawan, kritikus seni, pembahas masalah budaya, yang taka sing dengan banyak unsure kehidupan kini, dari soal makanan sampai dengan soal sosiologi, dari Waljinah sampai dengan Woody Allen. Ia bisa dengan enak menyebut bullion di antara soal gudeg dan prosesnya, ia bisa meloncat dari kata yen (mata uang Jepang) ke dalam suatu lagu sentimental Jawa yang enak itu, yang nadanya melamun sedih tentang impian yang tak sampai, bukan tentang uang tapi tentang kekasih : yen ing tawang ana lintang ….

Tapi persepsi yang tajam dan kaya Umar Kayam tampak benar dalam potret alter ego-nya, tokoh Ageng, priyayi yang terpelajar dan “modern” (lihat pergaulannya dengan anak-anaknya), tapi kikuk menghadapi sekitarnya yang sibuk dalam proses “the making of economic society”. Inilah zaman ketika uang kian menjadi penting, juga bagi dirinya sendiri yang masih suka menikmati gaya hidup yang santai dan “hedonistis” kecil-kecilan, sementara memegang uang – sebagaimana layaknya priyayi – bukanlah kemahirannya. Anda akan melihat bagaimana ia memecahkan, sering secara ad hoc, dilema antara hidup pas-pasan dan hidup dengan nyaman. Anda akan melihat, sementara itu , khasanah informasinya, pergaulannya dan renungan-renungannya.

Bila sketsa-sketsa ini akan dilihat sebagai suatu komentar sosial, Anda akan bisa juga melihatnya pada hubungan “dialektik” antara Pak Ageng dan Mister Rigen. Posisi Mister Rigen adalah orang nomor satu dalam kitchen cabinet Pak Ageng, yang ikut menyumbangkan pikiran untuk keputusan-keputusan penting, tapi tentu saja tak selamanya dipakai – yang menyebabkan kata kitchen cabinet ini sekaligus sebuah parodi dan juga plesedan, karena Mister Rigen pada dasarnya adalah apa yang kini disebut sebagai “pembantu”, dan dulu disebut orang Jawa sebagai “batur” yang tentu saja tinggal dan bekerja dekat dapur.

Bahwa Mister Rigen terkadang menasihati, memprotes, menegur Pak Ageng – sementara ia masih sekali dua kali menyebut boss-nya itu “ndara” – menunjukkan bagaimana sedang “kacau”-nya hubungan antara sang priyayi dan baturnya ini, tetapi juga “kekacauan” yang cukup wajar, karena kita juga menyaksikannya dalam hubungan antara Arjuna dan para punakawannya (atau, kalau mau lebih jauh lagi : antara Lear dan tokoh the Fool dalam lakon Shakespeare itu).

Saya tak tahu mengapa Umar Kayam memilih nama “Mister Rigen” untuk tokoh ini (dan istrinya, “Nansiyem”), tapi mungkin ini bagian dari main-mainnya untuk mengjungkir balikkan dunia kita yang mengenal Reagan sebagai presiden Amerika dan Nancy, the first lady”. Mungkin juga main-mainnya untuk menimbulkan asosiasi antara hubungan kekuasaan di rumah tangga Pak Ageng dan hubungan kekuasaan dalam dunia politik – yang biasanya juga punya kitchen cabinet, dan biasanya juga berpusat pada seorang pemimpin yang sesungguhnya hanya manusia biasa, yang kikuk, sering bingung, sering bossy, dan akhirnya memang tak terlampau hebat.

Tapi bagi saya, lebih penting dari sifatnya sebagai komentar sosial (ini sebenarnya cuma salah satu dari segi Mangan Ora Mangan Kumpul), tulisan-tulisan Kayam enak dinikmati karena ia, secara spontan dan konsisten, memberikan kearifan memandang hidup.

Mungkin ada yang akan mengatakan bahwa kearifan ini adalah kearifan khas Jawa, karena tulisan-tulisan ini penuh dengan “warna daerah”, tapisaya kira tidak seluruhnya harus demikian. S. Takdir Alisjahbana pernah mengatakan bahwa satu kata kunci untuk memahami kebudayaan Jawa adalah kata alus. Seorang teman saya yang sudah meninggal, Sudjoko Prasodjo, pernah mengatakan bahwa Takdir salah : kuncinya terletak dalam kalimat “ngono yo ngono, nanging aja ngono” – yang bila diterjemahkan bebas kira-kira berarti, “bersikap begitu boleh-boleh saja, tetapi jangan begitu, dong” – suatu himbauan agar kita jangan berlebihan, tapi bagaimana batas “berlebihan” itu dibiarkan kabur. Saya kira baik Takdir maupun Sudjoko Prasodjo benar, dan tulisan Umar Kayam ini pada dasarnya mencerminkan kedua-duanya. Namun intinya tak spesial Jawa, bahkan universal : intinya adalah moderation – suatu hal yang bisa kita dapatkan pada hadist Rasul ataupun filsuf Yunani, pada pemikiran Camus ataupun pada nasihat Wedhatama, agar kita tidak terlampau jauh melangkah, agar kita tidak kadohan panjangkah.

Sebab hidup, seperti yang tersirat dalan tulisan-tulisan Umar Kayam ini, tidak bisa dilihat secara ekstrem : banyak problem, tapi kita masih bisa selalu betah karena hidup tak pernah jadi proses yang soliter. Banyak kesulitan, tetapi tak pernah terasa nada getir dan pahit dari mulut Pak Ageng karena masih banyak orang yang menyenangkan di sekitar kita. Mangan Ora Mangan Kumpul adalah judul yang sangat bagus untuk kumpulan ini.

Goenawan Muhammad

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: