Nikmatnya Kekuasaan

ngadep ayam gorengPada waktu Minggu pagi kemarin saya pulang dari jalan-jalan pagi, saya lihat Pak Joyoboyo sudah hadir dan sedang berada di tengah percakapan gayêng dengan Mr. Rigen.

Lha, kalau begitu saya bisa kehilangan langganan tênan, Mas Rigen.”

Yak, ya belum to Mas Joyo. Wong Bapak itu saudara dan teman-temannya banyak. Di samping mereka suka mampir dan disuguhi pènggèng èyèm sampéyan, Bapak itu rak suka  bawa oleh-oleh buat keluarganya yang ada di Jakarta.”

Ning ya mêksa berkurang banyak belinya, to, Pak Ageng?”

Yak, nggih mbotên to, Mas Joyo. Masih beli, kok. Masih beli. Sementara saya dak nêmpil sate usus dua tusuk buat menghibur Tholo-Tholo.”

Waktu itu saya sudah beberapa waktu berdiri di dekat mereka, mendengar percakapan mereka. Saking asyiknya mereka mengobrol, tidak tahu kalau sudah cukup lama saya nguping percakapan mereka.

“Wah, kalau priyayi seperti Pak Ageng sampéyan itu kena penyakit gula, ya tidak apa-apa, ya Mas Rigen?”

“Tidak apa-apa bagaimana? Sakit gula ya sakit gula. Tidak peduli priyayi atau gembel seperti kita!”

“Maksud saya, sakitnya itu tidak seberapa terasa seperti kita ini.”

Pripun?

Ha, ênggih, to. Orang gêdhé itu sakit apa saja bisa bayar obat-obatan yang mahal itu. Kalau terpaksa di rumah sakit, ya kuat bayar juga. Sedikitnya kantor juga ikut membayar. Lha, kalau kita? Kalau sampéyan mungkin masih disumbang Pak Ageng. Lha, kalau saya?”

Saya pun ikut nimbrung.

Ning, Mas Joyo. Buat saya sakit gula itu jan ngrêkåså tênan, lho. Wong hampir tidak boleh makan apa-apa, jé! Jadi, meskipun saya itu sampéyan anggêp priyayi, tapi kalau sakit begini ya menderita betul, Mas Joyo.”

“Yang jelas Bapak terus men-jothak saya, tidak pernah memanggil saya lagi. Sampai pagi ini saya tidak dipanggil Mas Rigen, saya nekat masuk. Eh, … lumayan laku dua tusuk sate usus. Pelaris, pelaris!”

Saya lihat Mas Joyo mengibas-ngibaskan uang kumuh yang diberikan Mr. Rigen. Bolehnya mengibas-ngibaskan itu sedikit over acting. Oh, rakyatku, rakyatku. Macam-macam caramu menarik simpati pemimpin. Kekecewaanmu bisa menjual dua tusuk sate usus sudah menguras bakat aktingmu. Terus kalau kekecewaan itu lebih besar lagi, pengurasan bakat-bakat apa lagi yang mesti kau kerahkan?

Saya lihat dhådhå mênthok, tépong, paha ayam, sate usus dan sate ati rêmpêlo itu digelar tidak lagi menurut gelar perang Baratayudha seperti biasanya. Tidak ada gêlaran Dirådå Mêtå, Garudhå Nglayang atau Supit Udang. Yang saya lihat waktu gêlaran perang modern. Paha-paha itu disusun agak mendongak atau men-jêngat ke atas bagaikan rudal-rudal Scud Irak yang siap dilepas kea rah Israel dan Arab Saudi. Lha, dhådhå mênthok dan tépong-nya dipacak baris, bergunduk-gunduk seperti tank-tank di gurun. Wah, élok!

Pripun, Pak Ageng? Tidak mau beli dhådhå mênthok dan paha-paha ini?”

Waktu mengatakan begitu tangannya sambil menjalankan tank dhådhå mênthok dan Scud paha-paha ayam itu.

Pripun, têtêp mbotên dipundhuti?

Mr. Rigen dan saya tertawa terbahak-bahak. Begitu juga Beni dan Tholo-Tholo.

“Pak, Pak, dhådhå mênthok-nya bisa terbang. Pahanya ditembakkan, Pak Joyo!”

“Ooh … ditembakkan gundhulmu, Lé! Orang belum laku apa-apa. Kamu bocah prêcil mau ikut-ikutn ngécé, ya! Bilang sama bapakmu, suruh beli sate ususnya lagi!”

Saya jadi kasihan juga akhirnya. Saya putuskan untuk membeli juga.

“Naah … rak begitu to, Paak, Pak. Bantu wong cilik. Nyumbang rakyat kecil.”

Saya lihat dengan sekali sebat dan dengan ketrampilan seorang pro sejati, dia taruh dhådhå mênthok, tépong, paha dan beberapa sate usus di piring.

“Lho, lho, lho … kok terus banyak sekali begitu, Mas Joyo? Gèk terus yang mau makan itu siapa?”

Lha, biasanya juga segini banyak, lho, Pak.”

Lha, itu rak pada jaman normal, waktu gula saya belum merajalela angkrêm di tubuh saya. Saya itu tidak boleh makan banyak-banyak pènggèng èyèm sampéyan, Mas Joyo!”

Lha, saya grujug air atau bagaimana? Biar hilang santên dan gulanya?”

Saya pun terpaksa tertawa lagi. Yang namanya wong cilik! Begitu dituruti sedikit kemauannya terus mau memaksa, lho. Apakah memang betul kata Machiavelli, bahwa rakyat itu jangan dikasih hati dan mesti diperintah dengan tangan besi? Tapi apakah Machiavelli pernah berhadapan dengan rakat Jawa yang berjualan pènggèng èyèm, seperti Pak Joyoboyo ini? Apakah ada jaminan dia akan terus tega menindas dengan tangan besi kepada rakyat kecil yang se-jatmikå Pak Joyoboyo ini? Yang begitu kreatif membangun strategi penjualan èyèm pènggèng-nya dengan gêlaran Perang Teluk? Belum tentu Machiavelli akan tetap tegar …

Akhirnya transaksi pènggèng èyèm itu pun saya tutup. Pènggèng èyèm saya bayar. Dan tidak lama kemudian sudah terdengar suara menjaja dari Pak Joyoboyo yang khas itu.

Pènggèng èyèm, … pènggèng èyèm, … pènggèng èyèm!

Suaranya sangatlah melodiusnya.

Saya pindah duduk di kursi meja makan. Memandang piring yang berisi ayam-ayam yang bergelimpangan itu. Air liur saya mulai menetes, mencium aroma santên dan gula ayam panggang Klaten itu. Alangkah trenyuhnya hati saya. Saya, pada usia yang sebentar lagi enam puluh itu, sudah harus berpisah dengan ayam panggang. Alangkah absurdnya teater ini.

Sementara itu, Beni dan Tholo-Tholo juga pada meng-glibêt di dekat saya, duduk di kursi juga. Bergantian melihat ayam panggang dan muka saya.

Héissyy … kamu ‘kan sudah makan sate usus, to?

“Cuma satu, Pak Ageng.”

“Atu, Geung.”

Héissyy … cukup, to? Lagi prihatin. Pergi main sana!”

Kedua bêdhès itu belum beranjak dari tempat duduk mereka. Meneruskan memandang muka memelas saya dan ayam panggang. Malah kemudian Mr. Rigen ikut-ikutan duduk di kursi samping anak-anaknya. Mr. Rigen memandang saya.

Héissyy … ini yang tua ikut-ikutan juga! Pergi nyapu-nyapu sana!”

“He … he … he … Bapak itu, lho. Mau menolong Mas Joyo, ning malah menyiksa diri sendiri.”

Yo, bèn!

Ha, ênggih. Ning terus bagaimana ini?”

“Apanya?”

Ha, niku. Yang pating pêthuthuk di piring itu. Terus mau Bapak apakan?”

“Ya, terserah saya, to, mau saya apakan. Wong ayam-ayamku sendiri!”

“Ayo, Lé! Kita main di halaman saja.”

Mr. Rigen dan anak-anaknya pun pergi berjalan keluar dengan pelan. Saya masih terus merenungi ayam-ayam itu. Saya ngunandikå, “apakah seperti ini nikmatnya kekuasaan itu?” Tidak peduli absurd atau tidak logikanya, tetapi terus saja dinikmati lezatnya roso kuåså itu. Itukah yang dinamakan dengan kompleks ‘pokoké kuåså’?

Yogyakarta, 4 Juni 1991

*) gambar dari uenaksehat.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: