Kencana Wingka

(sumber : http://anaksmart.wordpress.com)Membayangkan anak kita buruk rupa, tidak cantik atau tidak ganteng, apalagi goblok dan tidak terampil adalah hal yang tidak mungkin. Kalau toh anak kita itu tidak seberapa cantik atau ganteng, tidak seberapa pinter dan cekatan kita sudah akan siap dengan penjelasan. Anak kita itu betul tidak terlalu cantik, tetapi kalau ditatap lama-lama kok kelihatan sedep. Anak kita itu memang tidak ganteng, tetapi entahlah kok kayaknya dia itu ada sesuatu yang menarik. Mungkin itu yang disebut sexy barangkali. Anak kita itu rapornya ya cuma pas-pasan, rata-rata enam saja, tetapi nanti kalau kerja di masyarakat dia akan sukses memimpin masyarakat. Wong dia selalu aktif di OSIS dan jadi maskot drumband ‘tu. Anak kita itu ….. dan selalu saja akan ada penjelasan tambahan dari kita. Wong anak, je ! Sejelek-jelek anak, wong anak, je ! Orang Jawa, suku bangsa yang selalu siap dengan segala peribahasa dan umpamaan untuk melindungi kekurangannya, menciptakan istilah “kencana wingka”. Kencana adalah emas, wingka adalah pecahan genteng. Bagi kita dia tetap kelihatan kemilau bagaikan emas. Opo ora hebat ?!

Begitulah pada musim NEM dan Sipemnaru ini. Wingka-wingka itu semakin tampak kemilau bagai emas 24 karat. Wong anak, je ! Pada waktu mereka begadang mencicil belajar sampai pagi, kita akan sebentar-sebentar melongok ke kamarnya, atau kalau mereka tidak punya kamar sendiri, menatap dari kejauhan. Hati mongkok. Anakku belajar tenan, lho ! Hati terharu. Anakku prihatin tenan, lho ! Dan para orang tua yang alim dan saleh pada lebih rajin lagi bersembahyang. Dan para orang tua yang berolah kebatinan tan kendat mengucapkan “rahayu”, mungkin akan topo ngrowot, hanya makan ubi-ubian. Semuanya demi suksesnya wingka-wingka kita. Tetapi, pada waktu anak-anak kita datang melapor dengan muka berkabut, kita tahu ada sesuatu yang tidak benar.

“NEM saya ancur-ancuran, Pak, Bu.”

“Ahh, mosok ? Keliru kali ?”

Hati deg-degan, tetapi masih belum percaya membayangkan kencana kita hancur berantakan bagai sebuah wingka. Waktu angka-angka NEM itu, dengan jelasnya mblungker-mblungker di depan kita, tahulah kita bahwa NEM-nya hancur beneran. Hati orang tua angles, tetapi darah mulai mendidih. Bagaimana bisa. Angka-angka di rapor ‘kan lumayan bagus, kok, NEM-nya ancur-ancuran. Gurunya pasti tidak beres, nih. Guru sekolah lain yang memeriksa ujian pasti tidak fair. Guru-guru itu pasti mau minta sogok. Waktu akhirnya hati sudah tenang, darah sudah mendingin, kita juga melihat bahwa mungkin pertanyaan-pertanyaan itu memang terlalu sukar buat anak-anak kita.

“Tidak apa, Le, nDuk ! Ayo cancut taliwanda. Tiwikrama ! Kita bikin revenge nanti waktu ujian Sipenmaru. Mosok …… “

Dan wingka-wingka itu kelihatan seperti kencana lagi. Sipenmaru pun lewat. Anak-anak datang lagi dengan muka berkabut. Wah, jangan-jangan revenge mereka seperti revenge-nya PSSI terhadap kesebelasan Jepang. Keok lagi.

“Sipenmarunya ancur-ancuran, Pak, Bu. Matematika dan Fisika hangudubillah setan sulitnya ..”

“Ahh, mosok ? Keliru kali ?”

Hati para orang tua angles lagi. Darah mendidih lagi. Penanaman modal selama dua belas tahun begitu saja harus menguap bagai embun di pagi hari ? Tidak ! Wong anak, je !

“Tidak apa, Le, nDuk ! Ayo cancut taliwanda. Tiwikrama ! Masuk universitas swasta ! “

Waduhh, universitas swasta ? Segera angka-angka jutaan menari-nari di depan kita. Bagaimana akan mampu kita membayar semua itu ? Kita suruh kerja saja anak-anak kita itu ? Jadi apa ? Pelayan toko, kenek kol, satpam, jongos restoran, pengintil turis, asisten bong supit, jual ronde dan bakso … Uwahh, ternyata banyak juga, lho, lapangan kerja menganga di pasaran.

Tidak apa, Le, nDuk, tidak boleh masuk universitas negeri. Wong itu nanti kabarnya cuma buat anak-anak cemerlang dan cemerling, kok. Kau tidak, kan ? Baiklah dicoba masuk universitas swasta. Don’t worry yang jut-jut itu ! Kepala akan kita jadikan kaki, kaki akan kita jadikan kepala. Gulung koming, mati-matian cari duit seperti buto Sriwedari. Dan kalau yang jut-jut itu tidak nyampe, yang sabar ya Le, ya nDuk. Atau sementara kerja jadi pelayan toko, kenek kol, satpam, pengintil turis, asisten bong supit

Wahai, wingka-wingka yang tercinta, bagi kami kalian tetap kencana yang terus berkilau !

Catatan Admin :

NEM             : Nilai Ebtanas Murni

Sipenmaru : Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru

Yogyakarta, 30 Juni 1987

Iklan

One comment

  1. […] Gendut, kencana wingka saya, tertawa berderai mendengar perdebatan saya dengan ibunya. Mungkin bagi telinganya kedengaran […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: