Ngalap Berkah Di Malam Suro

Bagi Mr. Rigen, yang kelahiran Pracimantoro itu, pastilah tidak ada kota yang melebihi Solo perkara keindahan, keelokan serta keorisinalan ide-idenya. Tentu juga bagi istrinya, Ms. Nansiyem yang kelahiran Jatisrana. Jalan protokolnya sejak dari Purwosari hingga Jl. Slamet Riyadi, lebar bukan main. Satu arah lagi. Yogya tidak punya jalan seperti itu, kata Mr. Rigen bangga. Makanan dan kehidupan malam ? Oh … Yogya bukan apa-apa dibandingkan dengan Solo, suami-istri Rigen itu terus nyerocos.

Lha, bagaimana. Kehidupan malam Malioboro itu kan baru saja, Pak.”

Yakk, ya tidak to kalau baru saja. Dari dulu ya sudah ada.”

Ning kalah lama dengan Solo, Pak. Wong orang Solo itu suka kehidupan malam karena suka tirakat, kok, Pak.”

Weh, elok. Betul apa, Gen ?”

“Eh, lha inggih. Orang Solo itu suka jalan malam untuk nglakoni. Sambil jalan nenuwun kepada Sing Kuwaos. Jalan membisu, merenung ka-elokan-nya urip. Lha, kalo sudah capek jalan-jalan begitu berhenti. Minum dulu, nyruput wedang. Makan nasi liwet Baki.”

Kemudian sebagai layaknya orang Solo pada umumnya, Mr. Rigen dengan disela dukungan mantap dari istrinya akan bercerita secara mendetil tentang riwayat kehidupan malam di Solo beserta tempat-tempat jajanannya.

Sega liwet Malioboro itu kan tiruan Solo. Itu pun tiruan yang jelek. Tidak gurih, tanpa areh yang putih mumpluk di taruh di atas sambel goreng jipang. Sing asli itu ya sega liwet Baki itu, Pak. Lha, kalo tindak Solo mau mencicipi itu di Keprabon. Yang kondang itu mBok Lemu. Makannya harus dari daun dipincuk. Atau Bapak mau dhahar sate kambing gaya Solo ?”

“Eh, kok kayak kamu belum tahu saja, Gen. Aku ini kan bludreg, mana bisa makan sate kambing.”

“Wah, sayang Pak. Sate kambing Solo itu elok-elok, lho. Ada sate buntel Tambaksegaran. Ada sate warung Nyus dari Pak Man. Wah, pokoknya Solo itu …. “

Pokonya bagi Mr. Rigen & family, Solo itu uber alles, di atas segalanya. Mungkin kebanggaan itu tidak terlalu berlebihan. Perdana Menteri Kruschev dari Uni Sovyet pun pernah sangat terkesan melihat kehidupan malam Solo. Komentarnya di Jakarta sepulang dari Solo, “Wah, orang Solo memang hebat. Kalau bekerja tidak kenal lelah hingga jauh malam …. “

Pada waktu malam Suro datang saya kena terbujuk oleh Mr.Rigen dan kawan-kawan lain. Merayakan malam Suro itu ya mesti di Solo, kata mereka. Melihat arak-arakan pusoko Mangkunegaran dan Kasunanan. Ikut mengarak kebo bule Kiai Slamet. Melihat lautan manusia. Nyruput wedang dongo dan mincuk, makan di pincuk, sega liwet di Keprabon. Dan kalau masih belum puas, wayang orang Sriwedari malam Suro itu mau pentas semalam suntuk. Opo ora elok ? Begitulah, dengan jip saya yang antik itu berangkatlah kami ke Solo. Sejak dari Tegalondo, yang masih kira-kira dua puluh lima kilometer dari Solo, kami sudah melihat iring-iringan manusia berjalan menuju kota. Mr.Rigen yang duduk di belakang setir bertindak sebagai guide turis internasional yang profesional. Tangannya menunjuk ke kiri dan kanan. Persis seperti guide luar negeri yang sebentar-sebentar bilang, “to your left, to your right, you will see … “ Dan kepala kita akan thingak-thinguk ke kiri dan kanan bagaikan kunyuk Gembira Loka.

“Orang-orang yang beriringan itu, bapak-bapak, adalah orang-orang desa sekitar Tegalondo sini. Mereka jauh-jauh berjalan ke kota mau ngalap berkah.”

Lha, ngalap berkah dari siapa, Gen ?”

“Ya … dari Kiai Slamet si kebo bule, dari pusoko-pusoko kraton, dari Gusti Allah. Malam ini malam suci. Kudu jalan terus, tidak boleh ngantuk, nanti hilang berkahnya.”

“Tidak boleh berhenti jajan wedang dan nasi liwet ?

“Oh, ya boleh. Tapi kalo sudah keliling kraton.”

Di Keprabon, waktu kami lesehan di tempat mBok Lemu menggelar nasi liwet-nya yang tersohor itu, suasana malam Suro itu sudah tampil dengan hidupnya. Di antara kami sekelompok turis bule menglesot, mencoba mencicipi nasi liwet. Manthuk-manthuk menyatakan nikmatnya sega liwet mBok Lemu. Mungkin takut dikatakan tidak punya roso canggih oleh kawan bulenya yang lain yang sudah lebih in dengan dunia Solo. Semua deretan warung di jalan Keprabon itu penuh dijejali orang jajan. Lautan manusia berjalan memenuhi jalan rupanya baru pulang dari mengikuti prosesi pusoko keraton Mangkunegaran. Sambil menunggu Kiai Slamet dan pusoko keraton keluar dari keraton, orang berjalan hilir mudik di sepanjang jalan Slamet Riyadi. Prosesi itu baru akan dimulai pada pukul dua belas malam, saat masuknya tahun baru Suro. Sementara itu mereka yang datang dari segenap penjuru Surakarta akan menunggu dengan sabar. Menarik juga. Menunggu datangnya sesuatu yang dianggap keramat dengan berjalan hilir mudik dan jajan duduk lesehan mat-matan.

Pusoko keraton yang dikeluarkan itu apa saja, Gen ?”

“Wah, … saya tidak tahu betul, Pak. Yang jelas pusoko !”

“Lho, kamu itu pernah lihat malam Suro begini apa belum sih ?”

“Ya, sudah Pak. Cuma tidak pernah lihat jelas pusoko itu. Lha wong, orang berjubel, suk-sukan, begitu lho, Pak. Lagi pula tidak penting.”

“Lho, tidak penting ?” Saya kaget bukan main mendengar pernyataan Mr. Rigen.

“Iya tidak penting. Tidak bisa lihat kebo bule Kiai Slamet juga tidak penting. Kalo bisa lihat ya syukur, kalo tidak ya tidak apa-apa. Wong yang penting itu bukan lihatnya itu, kok, Pak.”

Lha apanya dong, yang penting. Sudah jauh-jauh datang. Untel-untelan lagi. Tidak penting lihat pusoko dan Kiai Slamet !”

Lha inggih, yang penting itu hadir kita di sini ini. Di tengah-tengah ombyaking rakyat, kawulo Surokarto.”

Di Sriwedari, kami menonton wayang orang yang malam itu memainkan Banjaran Srikandi, riwayat lengkap Srikandi. Jam sudah menunjukkan menjelang pukul empat subuh. Sarworini, primadona veteran yang sudah berumur 62 tahun itu, ikut bermain lagi bersama rekan-rekan sesepuh yang lain. Luar biasa ! Dengan penuh gusto, energi dan seni akting yang cemerlang, Sarworini memukau penonton waktu memainkan episode “Srikandi Edan”. Begitu juga para sesepuh yang lain. Sepertinya pada malam itu mereka mendapat suntikan kekuatan remaja yang baru. Ah … tentu saja ! Malam itu malam Suro. Mereka yang sudah exit panggung pun mesti hadir malam itu. Hadir itulah yang penting. Maka bagi kami pun  yang tidak sempat lagi melihat prosesi Kiai Slamet dan pusoko kraton, karena terpaku lagi di dalam gedung wayang orang Sriwedari, tidak menyesal karena tidak hadir di dekat alun-alun. Kami sudah hadir bersama Sarworini, Listiorini, Darsi, Rusman dan Surono di dalam gedung wayang orang itu. Mungkin kami sudah ikut ngalap berkah juga dengan hadir semalam suntuk mengikuti riwayat Srikandi.

Tetapi, waktu akhirnya saya duduk di dalam pesawat yang akan membawa saya dari lapangan terbang Solo ke Jakarta dan merasa mengantuk sekali, saya tidak terlalu pasti lagi apakah berkah itu sudah turun di pangkuanku.

Di dalam gedung, saya masih ingat saya pernah jatuh lelap untuk beberapa kali.

 Yogyakarta, 1 September 1987

*) gambar dr : anisrahmantika.blogspot.com

Iklan

One comment

  1. YUSLIANI HASRA · · Balas

    Saya IBU YUSLIANI HASRA posisi sekarang di malaysia bekerja sebagai pembantu gaji tidak seberapa setiap gajian selalu mengirimkan orang tua sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang sempat saya putus asah dan secara kebetulan saya buka internet ada seseorng berkomentar tentang OM AGUS OM AGUS katanya perna di bantu melalui jalan togel saya coba2 menghubungi karna di malaysia ada pemasangan togel jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun saya minta angka sama OM AGUS angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100% terima kasih banyak OM AGUS kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang dan rencana mau pulang ke indo untuk buka usaha bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas jangan putus asah HUBUNGI OM AGUS DI NO: 085~397~766~615 tak ada salahnya anda coba karna angka ritual OM tidak perna meleset saya jamin OM AGUS adalah orang bisa dipercaya.yg penting anda yakin dan percaya dan jgn samakan dgn peramal yg lainnya seperti ki ronggeng,mba sugem ki nugroho mba jombrang dll.saya sdh berkali2 menghubungi peramal yg lainnya seperti aki2 dan mba2.tapi cuma mengecewakan saya dan menipu saya.tapi kali ini saya sudah betul2 percaya bahwa peramal asli itu memang betul memang ada yaitu OM AGUS.insya allah OM AGUS tdk mengecewakan anda.terima kasih yg punya ROOM

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: