Koran Itu Dulu Seperti Air Bengawan Solo

Koran Api RakyatDI RUMAH kami, Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem bahkan juga Beni Prakosa tidak kekurangan bacaan media masa. Lha wong jadi staf kitchen cabinet dari rumah tangga seorang intelektual sejati, je ! Pagi-pagi buta sembari membuka jendela dan pintu, Mr. Rigen sudah akan dapat menyambar Kedaulatan Rakyat yang disorongkan di bawah pintu. Siang hari sembari masak; Kompas, Gatotkaca, Kirana, Minggu Pagi dan Bola adalah ganyangan keluarga Rigen anak-beranak. Di sela-sela koran-koran tersebut di atas ada Tempo dan Editor, kadang-kadang juga Matra dan Femina. Bagi Mr. Rigen, berita-berita crime, olah raga dan sudah tentu tarikan lotre TSSB adalah berita-berita yang tidak kunjung berhenti mengasyikannya.

Bagi Mrs. Nansiyem, gambar-gambar bintang pilem dan adpertensi yang menampilkan nyonya-nyonya Londo yang blengeh-blengeh serta alat-alat kecantikan, yang seperti sudah bisa dicium baunya dari majalah dan koran itu adalah informasi maha penting yang sanggup menerobos dunianya di jagat Jatisrono.

Dan bagi Beni Prakosa, sang jenius cilik yang sekarang sudah menjadi bintang kelas TK Indonesia Hebat, apa makna media masa modern baginya ? Mobil-mobil yang bagus, keren dan mewah, gambar-gambar kue yang enak-enak dan ah, … gambar-gambar Pak Ageng yang baginya mungkin seorang pemimpin dunia uber alles. Barangkali karena alasan yang terakhir ini saya selalu saja tidak kunjung berhasil menanam disiplin baja kepada anak ini untuk selalu rapi dan necis memperlakukan koran dan majalah yang habis dibacanya. Begitu koran dan majalah itu kena jamah sang jenius cilik, media masa itu sudah pada terlipat-lipat, sedikit kumal dan kadang-kadang juga langsung berantakan.

“Apa kamu tahu, Mister, kalau tidak selamanya koran dana majalah bisa dilihat gambarnya dengan bagusnya dan cetha wala-wala seperti sekarang ?”

“Ah, mosok to, Pak ? Koran dan majalah kok tidak bisa muat gambar cetha itu terus gek pripun ?

“Lho, nyatanya begitu kok, Gen. Pada jaman revolusi, kamu belum lahir, koran dan majalah itu semi, setengah buram kondisinya.”

Elho, pripun itu ? Koran kok setangah burem ? Apa pating dlemok, tintanya dleweran semua begitu, Pak ?”

“Ha, iya. Wong kertasnya saja kertas merang. Warnanya semi coklat, semi kuning. Kalau dicetak ya tintanya agak terlalu keras teresap ke dalam kertas yang kadang-kadang masih katutan gabah. Kau bayangkan, Gen, bagaimana sulitnya membaca koran jaman revolusi itu. Sering kayak membaca teka-teki.”

Lha, terus gambar-gambarnya pripun ?

“Ya lebih teka-teki lagi, Mister. Yang paling gampang ya nebak gambar Bung Karno dan Pak Dirman. Meskipun banyak pemimpin kita waktu itu pada pakai peci, tapi buat nebak bayang-bayang buram Pak Karno dan Pak Dirman itu tidak susah, Gen.”

“Koran Kedaulatan Rakyat wakti itu apa ya sudah ada to, Pak ? Dan apa ya burem juga ?”

“Ya sudah ada, Gen. Dan tentu burem juga tanpa kecuali. Wong koran kiblik kok, Gen.”

Kiblik itu apa ?”

Kiblik itu artinya, republik. Republik Indonesia.”

Mr. Rigen manggut-manggut mendengarkan cerita saya tentang koran kiblik waktu itu. Mungkin baginya menarik juga mendengarkan dan membayangkan koran-koran dan majalah yang berwajah kumal di ibukota republik kita. Wong koran kok huruf dan gambarnya susah ditebak.

Lha, terus kabar yang dimuat itu apa saja, Pak ?”

Woo, ya macam-macam, Gen. Berita-berita pertempuran di front. Berita politik, culik-culikan, perebutan kekuasaan.”

Weh … weh … weh … elok dan serem. Mosok begitu menyeramkan to keadaan waktu itu, Pak ?”

“Lho, kamu sendiri kan didongengi bapakmu sendiri to bagaimana jaman clash desamu ditrajang Londo, tentara dan pengungsi.”

Ha, inggih. Malah kita jadi mlarat semua. Ning saya tidak membayangkan kalau keadaan Yogya sebelum diserbu Londo itu sudah serem dan gawat begitu lho, Pak.”

Saya tersenyum. Ingat hidup di Yogya pada jaman pra serbuan tanggal 19 Desember 1949. Suasana romantika revolusi seperti itu tidak akan dapat terulang lagi di kota kita, di mana saja di republik ini. Meskipun di rumah, waktu itu, ada beberapa koran kiblik, tetapi salah satu kegemaran saya sepulang sekolah mampir dulu di depan kantor Kedaulatan Rakyat, yang waktu itu ada di jalan Tugu Kidul, yang sekarang disebut Jalan P. Mangkubumi. Saya akan berdiri suk-sukan, berdesak-desakan dengan para pembaca lain, membaca berita-berita yang mesti ditebak-tebak huruf dan gambarnya itu.

Meskipun saya sudah membaca banyak berita di rumah karena ayah saya bekerja di Kementerian Pertahanan, saya selalu senang mendengar gotek-nya, celotehnya, rakyat yang tidak mampu berlangganan koran dan hanya bisa membaca yang ditempel di papan depan kantor Kedaulatan Rakyat itu. Kita, saya dan para pembaca itu, akan geram, sedih dan kadang-kadang mengacungkan tinju, bila membaca berita pasukan kita semakin harus mundur. Atau kalau dalam perundingan selalu saja harus memberi konsesi-konsesi kepada delegasi Belanda. Hati kita kadang-kadang kecut sekali membayangkan wilayah republik kita kok jadi semangkin ciut.

Tetapi, di tengah keprihatinan dan kekecutan hati itu, toh koran-koran itu selalu sanggup juga memberi berita segar dan membesarkan hati. Gambar-gambar pemimpin kita, meskipun buram, selalu merupakan inspirasi segar. Sumber optimisme kita. Tetapi, waktu serbuan itu tiba dan koran Kedaulatan Rakyat ikut dibungkam, kami berhenti dolan ke depan kantor koran itu. Koran Suluh Indonesia dari pemerintah federal tidak pernah kita gubris. Kita terima untuk dipotong-potong sebagai lintingan rokok atau bungkus jualan. Beritanya kita anggap bohong semua.

Lha, selain kabar-kabar perang apa tidak ada kabar adpertensi nyonyah-nyonyah ayu, rokok putih mewah, mobil-mobil … ?”

“Nyonya ayu siapa ? Nyonya-nyonya kiblik, meskipun ya ayu-ayu, ning ayunya wong prihatin dan mlarat. Tidak ada adpertensi dodolan waktu itu, Gen. Lha, yang mau diadpertensi itu apa lho, Gen ? Wong ya dodolan rombengan baju-baju kita sendiri. Mobil mewah ? Walah … mobil itu nyaris tidak ada, Gen. Rokok itu Cuma rokok White House yang wanginya bisa dicium berkilo-kilo meter dari sini. Pokoke, Gen, koran waktu itu berjuang, … berjuang, … berjuang … “

Beni Prakosa, yang waktu kami berdiskusi tentang koran Kedaulatan Rakyat waktu itu duduk di tikar, mengaco, mengacak-acak majalah dan koran, tiba-tiba melihat gambar model adpertensi perempuan ayu di salah satu adpertensi,

“Bapak kalo dikasih nyonyah ayu ini ya gelem.”

“Mana, … mana, Le ?” tanya saya.

Beni memperlihatkan gambar seorang model nyonya ayu nglendhot di pintu mobil Roll Royce.

“Huss … huss … huss … jangan kuran ajar ya kamu, Le !” terdengar dari ambang pintu dapur Mrs. Nansiyem membentak anaknya.

Saya tidak lagi mendengar percakapan mereka selanjutnya. Saya terbayang lagi koran Kedaulatan Rakyat tahun 1946, yang warnya kecoklatan seperti air bengawan Solo.

Yogyakarta, 27 September 1988

*) gambar dari goedangdjadoel.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: