Tapa

terapi pasir panasHARI Minggu kemarin Pak Joyoboyo saya panggil ke rumah. Dengan gesit dan gembira dia pun melangkah masuk ke halaman, dielu-elukan oleh Beni Prakosa dan adiknya, Ade Septian, yang sekarang sudah satu tahun dan mulai belajar jalan di-tétah bapaknya. Sudah amat lama beliau tidak saya singgahkan, karena di samping saya terlalu sering ke luar kota, juga akhir-akhir ini rada bosên ikan ayam.

Pasal dia saya panggil Minggu pagi ini karena ibu saya di Pogung sedang kena serbu menantu dan kawan-kawannya sehingga saya anggap baik juga kalau saya bisa sedikit membantu logistik ibu saya. Maklum logistik pensiunan. Lha, buat Beni kedatangan Pak Joyo tentunya itu obat kangen yang menyenangkan karena sudah sekian lama tidak menikmati sate usus Klaten.

Kulo nuwun, Pak Ageng. Bapak itu jiaaan têgêl-nya mbotên kintên-kintên, lho !”

Saya sudah memperhitungkan salam keluhan yang bernada khas Joyoboyo itu.

“Lho, têgêl bagaimana ?”

“Ha, ênggih to. Sudah sejak tahun Dal Bapak me-njothak saya. Nggak pernah panggil-panggil saya lagi !”

“Ya, begitu saja kok têgêl to, Pak. Yang penting hubungan batin itu tetap ada, toh ?”

“Hubungan priyagung sama wong cilik niku tidak cukup hubungan batin to, Pak Ageng. Hubungan itu mesti agak materil juga.”

“Nåpå ? Apa, Pak Joyo ?”

Matêril. Matril.”

Wééh … materiil to, maksudnya ?”

Ha, ênggih to, Pak. Materiil itu jan-jan-nya rak ya arto, uang to, Pak ?”

“Eeee … tahunya kok ya cuma itu.”

Lha, arto jé, Pak. Buat kami wong cilik ‘kan ya penting sekali.”

“Ya sudah. Kali ini dak beli yang banyak. Dhådhå mênthok lima, tépong lima. Lha, sate ususnya dua saja buat bedhes Beni itu.”

Saya tidak perlu berlama-lama menunggu. Seperti biasa, sambil mengobrol, Pak Joyoboyo sudah mengatur konfigurasi perang Garudå Nglayang dengan dhådhå mênthok, tépong dan paha-paha ayamnya. Dan Beni Prakosa dengan sebat sudah menyambar sate usus jatahnya.

Sehabis itu seperti biasa saya lèyèh-lèyèh di tikar sembari membuka-buka koran edisi Minggu dan sekali-sekali memalingkan muka ke layar teve. Dan seperti biasa pula kalau berjumpa begitu terjadilah dialog filsafat tinggi antara Pak Joyoboyo dengan Mr. Rigen. Saya pun lantas setengah memasang telinga.

Wééh … Mas Rigen, sudah lama ya kita tidak jagongan. Majikan sampeyan men-jothak saya begitu lama, sih.”

“Ya mbotên to, kalau men-jothak. Wong Pak Ageng niku jan-jané trêsno kok sama sampéyan. Sekarang ini ada kabar nåpå yang hangat, Mas Joyo ? Sampéyan yang keliling ke antero negeri menjunjung ténong ayam panggang, mestinya tahu kabar yang hangat.”

“Kabar hangat ? Ya cuma perkara orang tåpå pêndhêm itu lho, Mas. Wong jaman sudah seperti sekarang kok ya masih ada yang tåpå pêndhêm, lho ?”

Woo, … lha kalau itu saya ya sudah baca di koran. Ning apa ya kabar itu jadi sumrambah ke mana-mana, Mas ?”

Woo, … lha iya. Di bis, di kol, di warung orang ramé membicarakan, jéé !”
“Terus, yang diherani itu apanya, Mas ? Pêndhêm-nya, niatnya atau apanya ?”

“Ya semuanya, Mas. Orang-orang itu tertarik karena tidak umum lagi to, tåpå yang seperti itu. Orang-orang itu kagum karena orang berani nekat dan me-mêndhêm-kan dirinya ke dalam tanah. Padahal mereka itu ‘kan ya sudah tåpå to, Mas Rigen ?”

Tåpå pripun ? Apa mereka berani me-mêndhêm-kan diri mereka ?”

“Lhoo, … ya tidak mêndhêm diri begitu. Ning semua wong cilik yang hidup susah itu ya sudah tåpå to, Mas Rigen.”

Mr. Rigen diam sebentar. Mungkin kena tembakan falsafat Pak Joyoboyo itu lantas terdiam. Mungkin juga ditambahkan dengan manggut-manggut apa.

“Iya, ya. Ning tåpå terus-terusan itu hasilnya apa, Mas Joyoboyo ?”

“Ya, untung-untungan. Ada yang kabul kajaté, terkabul apa yang diinginkan. Ning ya banyak yang beginiii saja. Seperti saya ini tåpå abadi namanya.”

Mr. Rigen terdiam lagi. Mungkin filsafat Pak Joyoboyo kali ini terdengar sinis betul. Bahkan tidak memberi peluang untuk berharap-harap.

“Wah, kayaknya kalau tåpå-nya wong cilik itu sedikit ya kabul kajaté. Lha, wong lahir procot sudah disuruh prihatin, tåpå to kita ini. Lha, sampèk tuwå begini kok ya nggak ada maju-majunya.”
Mpun, mpun, Mas Rigen. Jangan sedih-sedih. Wong itu nasib kok disedihi. Yang tåpå pêndhêm itu jiaan orang aneh betul. Kalau seperti kita ini tåpå ning sekali-sekali beli SDSB siapa tahu dapat narik. Lha, … jebol nasib kéré kita. Sudah ah, … saya mau jalan lagi. Ayamnya masih pating ngglundhung dalam ténong.”

Lantas tidak lama kemudian, sesudah terdengar pintu samping berderit ditutup, Pak Joyoboyo berkoar-koar,

“Pènggèng èyèm, … pènggèng èyèm … !“

Di kamar, seperti biasa sehabis mendengar dialog filsafat kerakyatan begitu, saya tercenung sebentar. Kok begitu ya, mereka memandang hidup mereka ? Kadang-kadang pasrah dengan penuh optimism dan kegairahan. Kali ini pasrah tetapi dengan sentuhan sinisme, tidak terlalu optimis dan tidak terlalu bergairah.

Saya pun lantas ingat sahabat yang saya kagumi, Prof. Dr.Lemahamba dsb, dst, dll-nya itu. Satu kali dia juga pernah mendiskusikan soal prihatin dan tåpå dengan saya.

You know something, Gen ?”

What, … what … ada apa, Mas ?”

“Begini-begini kita juga prihatin bahkan tåpa, lho.”

“Wah, … élok. Lha, what do you mean exactly by that, to, Mas Prof. Lemahamba ?”

Elhoo, … you don’t know, toh ?! Kita ini manusia kerja keras. Itulah tåpå kita yang menghasilkan rezeki kita.”

Lha, itu you. Lha saya, kerja keras kok ya begini-begini saja ?”

Lha, you kurang keras kerjanya.”

Elho, … kurang keras bagaimana ? Saya blêbar-blêbêr jual hawa di mana-mana itu apa ?”

“Lhoo, … bukan keras macam itu. Itu kerja kerasnya kuli atau paling kerja kerasnya Mr. Rigen-mu itu. Yang saya maksud tåpå itu kerja keras pakai otak kreatif dan lihai. Itu tåpå modern, Geng.”

“Waahh, … kalau begitu menteri-menteri, baik sipil atau bukan, itu tåpå semua. Gêntur lagi !”

“Persis, Gen. Persis. Now you are talking ! Yak ! Mereka itulah pertapa-pertapa ulung kita. Kalau saya, tåpå saya tåpå ngèli, tåpå menghanyutkan menurut arus sungai. Ikutilah kalau mau sukses dan slamêt, ngèli … ngèli … ngèli …..”

Ngèli, ngèli, ngèli … ! Eh, kok saya malah terbayang Kang Mas Prasodjo Legowo atau Legowo Prasodjo …..

Yogyakarta, 19 September 1989

*) gambar dari republika.co.id

Nasi Bungkus Kontekstual

nasi-padangAPAKAH ukuran perut Anda dalam menerima makanan ? Ukuran biologis, fisiologis, psikologis atau ternyata ideologis ? Dulu saya mengira itu urusan jasmaniah belaka. Perut laki-laki besar karena tadhah-nya juga banyak, makannya juga lebih dokoh. Lha, bagi wanita, karena badannya rata-rata juga lebih kecil dan ramping dibandingkan laki-laki, tadhah-nya juga lebih kecil, makannya juga lebih sedikit ber-kêcêmik-kêcêmik.

Eh, ternyata tidak, lho ! Sesudah saya sering melanglang kepulauan kita, ternyata banyaknya orang makan itu (pinjam istilahnya sahabat saya Arif Budiman) kontekstual adanya.

Di Sumatra dan Sulawesi Utara misalnya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan dokoh-dokoh, lahap, belaka dalam menyantap dhaharan mereka. Tidak ada itu istilah cimak-cimik dalam makan. Semua rahap, lahap, penuh gusto dalam urusan makan-memakan itu. Tidak seperti di Jawa. Yang laki-laki pun makan ya secukupnya saja, apalagi yang perempuan. Cimak-cimik, sedikit-sedikit. Mencuil lauk-pauk, apalagi daging dan ikan (bagi Mr. Rigen semua itu namanya ‘ikan’) cuma sak suwir-sak suwir bagaikan mencubit lengan kekasihnya. Dan bila muluk, nasinya bukan sekepal-sekepal, tetapi bagaikan menjimpit beras dari tampah. Dan nasi yang tidak menggunung itu di piring itu juga tidak habis dimakan. Wah, jaan, orang Jawa itu !

Ternyata semua itu bukan masalah besar atau kecil ukuran perut. Ternyata itu urusan ideologi budaya Jawa.

nDuuk, kalau makan itu jangan banyak-banyak. Saru, malu-maluin. Cukup sedikit saja. Kalau makan banyak nanti tidak payu rabi, lho. Tidak ada yang mau ngawini kamu.”

Dan,

nDuuk, kalau makan itu tundukkan kepalamu, jangan nengok ke mana-mana. Tidak usah tergesa-gesa. Dan meskipun lauknya enak dan miråså, jangan terus tèlap-tèlêp, dokoh, sak piring dikuras habis. Alon, nDuk, alon. Saru kalau putri makan tèlap-tèlêp. Nanti …..”

Begitulah para leluhur wicaksånå orang Jawa memberikan indoktrinasi etiket makan kepada putri-putrinya. Wahh, élok. Kok ada, lho, indoktrinasi etiket makan seperti itu. Sesudah saya pikir-pikir, ternyata itulah ideologi budaya Jawa jaman dulu. Yaitu ideologi masyarakat feodal aristokrasi. Itulah, saya kira, ideologi halus versus kasar. Yang halus yang dekat-dekat dengan wong cilik sana. Yang halus kalau makan cimak-cimik, alon-alon. Yang kasar kalau makan was-was, lahap, dokoh. Tetapi itu jika dilakukan oleh pihak laki-laki, tidak apa-apa. Laki-laki boleh apa saja dalam masyarakat begitu.

Hatta, orang-orang Minang para perantau yang perkasa itu, turun dari ranah mereka menyerbu ke antero kepulauan kita. Dengan tumpukan piring di tangan kanan dan kiri, mereka buka rumah-rumah makan. Orang Betawi, orang Sunda, orang Jawa, orang Bali, orang Makasar, orang Ambon, orang Irian Jaya, bahkan konon katanya orang rembulan juga, harus belajar melahap rendang, sate Padang, dendeng balado, daging asem pêdèh dan entah apa lagi. Dan ajaib, semua orang itu kok ya jadi senang makanan yang buat ukuran orang Jawa kelewat pêdhês seperti jamu. Dan ajaibnya lagi, para urbanis-urbanis van Java itu di Betawi jadi kader-kader yang prigêl, trampil, di rumah-rumah makan Padang. Bahkan lidah mereka yang tebal dan volume suara yang ulêm bin mêdhok dengan speed sepeda motor merk Norton itu, eh, kok ya bisa lho lari sambil bawa tumpukan piring sembari teriak-teriak dalam bahasa Minang.

“Nasi ciek. Seganya siji, malih …”

Alkisah, baru-baru ini saya jual kecap ceramah di Rumbai dan Duri, di kerajaan Caltex, Propinsi Riau. Mereka menyambut saya dengan makan siang. Makan siang itu dihidangkan di guest house yang dingin ber-AC, berarsitektur West Coast, USA itu, eh … lhadalah, masing-masing kita mendapat nasi bungkus sak pêthuthuk, setinggi gunung anakan. Begitu dahsyat bin kolosal ! Waktu dibuka, srêêttt, eh … lhadalah lagi. Rendangnya gêdhê sak èpèk-èpèk tangan, daging kerbau lagi. Seratnya besar-besar dan sangat potensial untuk jadi slilit yang kolosal pula. Waktu mulai dilahap, eh … lhadalah lagi. Ternyata rasanya memang mak nyuss, enak betul ! Meskipun harus hoh-hah, hoh-hah, kepedasan.

Waktu selesai ceramah dan esoknya pulang, saya bertanya kira-kira apa yang bagus untuk dibawa pulang, untuk oleh-oleh. Dengan serempak para insinyur-insinyur muda dari Jawa itu menjawab,

“Nasi bungkus, Pak.”

Dan saya pun pulang dibawain nasi bungkus yang kolosal itu. Waktu sampai di rumah Cipinang Indah, para kerabat keluarga saya sedang mengelilingi meja makan, siap untuk makan siang.

Stop, stop dulu ! Jangan makan dulu. Ini ada oleh-oleh untuk makan siang dari Pakanbaru.”

Semua yang di sekeliling meja makan langsung menghentikan suara mereka. Dengan penuh ketegangan mereka melihat bungkusan-bungkusan yang masih hangat itu saya letakkan dengan penuh seremoni di piring-piring.

Jabang bayi ! Itu bom atau roket ?!”

Husyy ! Ini nasi bungkus Minang Pakanbaru yang paling dahsyat seantero dunia. Ayo, coba !”

Karena sang patriarch memerintahkan untuk makan makanan yang keluar dari bungkusan kolosal itu, mereka pun patuh membuka bungkusan itu. Mata mereka terbelalak melihat daging rendang yang tergeletak dan ikan ayam yang nangkring di atas nasi yang padat itu.

Jabang bayi ! Itu sadel apa rendang ?!”

Husyy ! Ini rendang kerbau. Enaknya ngaudubillah syaiton. Ayo, makan !”

Dan perintah kedua sang patriarch diikuti lagi. Mereka mulai makan. Mata brayat saya kelihatan pating pêndêlik, melotot-melotot, tetapi tetap saja makan terus. Dan eh, angubillah syaiton, habis lho, habis !? Padahal anggota brayat saya itu semuanya putri-putri Mantili dengan pendidikan putri-putri keraton. Eh, kok ya habis lho, bungkusan sak pêthuthuk itu ?!

Wah, memang budaya Minang itu budaya yang hebat ! Ideologi halus dari budaya Jawa takluk melawan nasi bungkus Minang Pakanbaru.

Waktu pulang di Yogya dan ada rapat staf di kantor, saya ingin mengulang sukses dahsyat dari nasi bungkus kolosal itu. Makan nasi bungkus Minang semua ! Pakai rendang, pakai ikan ayam. Dan waktu kita semua looking forward untuk mendapat nasi bungkus kolosal seperti cerita saya tentang nasi Minang Pakanbaru itu, eh … kita jadi kecewa. Nasi bungkus Minang itu kecil-kecil seperti nasi bungkus Gudeg Malioboro. Dan rendangnya pun tidak selebar èpèk-èpèk tangan atau sadel kuda, tetapi cuma sebesar krèwèng wingkå. Dan ayamnya pun hanya nangkring, eh … sebesar kutuk, anak ayam yang suka berkotek itu. Wéé … lha, ternyata tidak semua tempat nasi bungkus Minang kolosal dan bisa menaklukkan budaya halus orang Jawa.

Di sini, di Yogya ini, budaya halus Jawa kayaknya kok masih menang. Makan kita ya cimak-cimik, tidak lahap. Habis, nasi bungkus Minang atau Padang dibikin konstekstual, sih …

Yogyakarta, 12 September 1989.

*) gambar dari iqbalparabi.com

Di Rumah Kami, Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip, Namun Sulit Dilaksanakan, Soalnya …

NO DEMOCACY.SEBAGAI seorang yang sudah terlanjur kena apa yang disebut “racun pendidikan Barat”, tentu saja demokrasi dan keterbukaan adalah prinsip yang sudah menjadi ganyangan dan minuman saya sehari-hari. Setiap kali saya membaca di Koran ada pedagang informal diubêr-ubêr, tanah-tanah petani digusur, majalah atau Koran dibungkam atau ditutup, sedihlah hati saya. Kok ya tega-teganya mereka yang lulus P4 dan sudah ndrêmimil hafal jurus-jurus demokrasi Pancasila itu melakukan hal-hal seperti itu. Apakah kekuasaan itu begitu nikmat dan menyilaukan sehingga sanggup menutup jurus-jurus P4 yang sudah mereka hafalkan dan kuasai itu ?

Di rumah saya di Cipinang Indah, Jakarta, saya dorong tumbuhnya oposisi untuk menjaga agar jurus-jurus P4 (tempo hari saya lulus no.1 sak DIY, lho) yang sudah saya kuasai plus ‘racun-racun’ dari John Stuart Mill, Milton, Voltaire, Jefferson dan entah siapa lagi, tidak tertutup kabut kekuasaan yang sering kali memang rådå absolut di tangan saya. Oposisi itu tentu saja datang dari si Gendut yang sangat gigih mempertahankan hak jatah uang saku dan makan luar sekali sebulan.

Dan oposisi tunggal itu sering kali juga digabung dengan oposisi dari kubu-kubu si mBak dan Bu Ageng yang dengan ketat mengontrol hak budget rumah tangga kami serta extra kurikuler “activity” saya.

Sebagai seorang demokrat sejati, tentulah oposisi itu saya pupuk dengan gembira. Bahkan kalau sampai agak lama mereka adêm-ayêm saja, saya dorong-dorong untuk mengkritik, mengontrol dan menghantam saya. Ayo, oposisi, opisisi. Ayo, kritik, kritik. Ayo, hantam saja, hantam saja. Wong demokrasi, kok. Ayo, … mumpung punya bapak demokrat sejati bin konsekuen.

Sampai pada suatu hari,

“Eh, … Kap. Saudara Bokap.”

Saya yang baru setengah memejamkan mata, istirahat dan lèyèh-lèyèh di dipan mêngêluk gêgêr yang capek karena baru datang dari Yogya, rådå terkejut dipanggil Bokap oleh si Gendut.

“Ada apa, nDut ?

“Ada apa ?! Ini sudah tanggal berapa ?”

“Tanggal ? Tanggal delapan. Emangnya kenapa ?”

“Kok masih tanya kenapa, sih ? Katanya orang itu harus tahu kewajiban.”

“Wah, kewajiban ? Aku ada kewajiban apa sama kamu, nDut ? Capek-capek dituntut kewajiban. Sana, ah. Bapak mau tiduran dulu.”

Be, tanggal delapan, nih. Tanggal delapan, Be !

Heissyyyyhh … tanggal delapan ya tanggal delapan. Tapi nanti !”

Si Gendut kok jadi rådå mêngkêrêt juga mendengar suara saya yang penuh wibawa kêsêl itu. Saya pun lantas melanjutkan tiduran saya dan Gendut pun mundur teratur.

Pukul tujuh malam saya dibangunkan oleh Gendut. Kali ini saya lihat Gendut sudah rapi jali. Bahkan rada menor berbau wangi. Untuk ke sekian kalinya saya diingatkan bahwa anak wuragil saya itu sekarang sudah benar-benar dewasa. Sudah young lady yang benar-benar young lady. Setiap kali diingatkan begitu hati ini mak pang, jadi rådê anglês juga. Tetapi meski begitu suara ini kok keluarnya suara penguasa.

“Mau ke mana, elu ?

“Nah, itu. Kalau tadi saya diberi kesempatan cerita, sekarang ‘kan Bokap tahu aku mau ke mana !”

“Iyaa. Mau ke mana ?”

“Jalan. Ada birthday party, Be. Tanggal delapan, nih. Tanggal delapan.”

“Lho, kok itu lagi ?”

Lha, iya dong ! Bokap kalau diingêtin kewajiban mesti begitu, deh.”

“Wah, Non. Aku kalau diingat-ingatkan kewajiban biasanya malah jadi kagak ingêt. Apa sih ?”

“Tanggal delapan itu, Ayahanda, adalah tanggal gajian saya.”

“Oh … tanggal gajian. Lantas ?”

“Ya, bagi dong dokunya, cêpêtan ! Ini keburu disampêrin têmên-têmên, lho.”

Eh, bagi. Enak saja anak sekarang bilang bagi. Seperti uang yang capek-capek kita cari itu sudah masuk haknya untuk ikut memiliki. Bagi dong, katanya.

“Bilang dulu baik-baik. Baru nanti Bapak pertimbangkan.”

“Eh, kok kayak baru sekarang saya terima gaji dari Bokap. Baiklah minta baik-baik, nih. Be, bagi dong gaji saya bulan ini.”

Elho, kok masih bilang bagi ? Memangnya kau ikut susah-susah cari duit Bapak, Neng ?”

“Enggak. Tapi apa salahnya sih, minta pembagian dari Bapaknya ?”

“Salah. Kau tahu kau tidak ikut capek cari duit Bapak. Dus, kau tidak punya hak untuk menuntut pembagian.”

Elho … ? Lha, tiap bulan yang Bapak kasih itu apa kalau bukan pembagian ?”

“Itu pemberian dari Bapakmu, Non. Pem-be-ri-an. Jadi terserah dari Bapak, toh ?”

“Jadi Bapak nggak mau kasih, nih ?”

“Mau dong. Tapi separo dulu. Yang separo kapan-kapan.”

Saya paro jatahnya bulan ini. Saya sendiri tidak tahu mengapa saya jadi kêpingin godain dia malam itu. Gendut menerima uang itu dengan muka masam.

“Bapak kok sekarang jadi fasis begini ?”

“Hah ? Fasis ? Maksudmu apa ?”

“Nggak tahu ! Pokoknya Bapak sekarang jadi sok kuasa. Mentang-mentang Gendut nggak punya kekuasaan apa-apa, Bapak enak saja tentukan maunya.”

Gendut pun lantas lari menemui teman-temannya yang sudah tidak sabaran menunggu di mobil.

Bu Ageng, yang rupanya terus mengikuti percakapan kami dari kamar tidur, kemudian datang.

“Bapak itu kebangetan, sih. Masak begitu saja tidak dikasih.”

“Aah … sekali-sekali dia perlu juga diberi pelajaran.”

“Pelajaran ? Pelajaran apa ?”

“Ya, pelajaran supaya tahu bagaimana susahnya orang tua cari duit.”

“Paakk, Pak. Anak-anakmu itu sudah tahu soal itu. Kok sekarang mau didramatisir. Apa sih, untungnya ?”

Saya pun terdiam sebentar. Iya, ya. Apa sih, untungnya ? Tetapi, eh …, kok ibunya tiba-tiba jadi bergabung beroposisi terhadap saya ? Solidaritas kaum lemah ? Fasis, katanya. Edyann ! Mau mendidik malah dikatakan fasis ? Esok harinya, separo uang bulanan Gendut saya lunasi.

Beberapa hari kemudian saya pulang ke Yogya. Di Yogya, Beni Prakosa seperti biasa menyambut saya.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Katanya …”

“Apa katanya ?”

“Katanya, katanya, … kalau Beni sudah klas nol besar, dibelikan mobil-mobilan yang besaaarr. Mana mobilnya, Pak Ageng ? Saya sudah nol besar, nih.”

“Aahh … kapan-kapan. Pak Ageng masih capek.”

“Horeee … Pak Ageng tukang bohong ! Pak Ageng tukang bohong !”

Heissyyy ! Diam kau, bedhes cilik ! Sana, sama Bapakmu, sana !”

Mr. Rigen, tahu kalau saya masih capek, buru-buru menggelandang anaknya masuk. Saya menggeletak di kamar tidur yang teduh itu. Menerawang langit-langit di atas. Ingat Gendut dan Beni Prakosa. Dua rakyat saya yang tergantung dengan kekuasaan saya. Kekuasaan yang maunya demokratis itu.

Saya menguap. Oahheeemmmm. Saya molèt. Demokrasi tergantung juga pada mood penguasanya, dong. Kalau penguasa lagi sir, lagi senang, ya demokrasi bisa jalan. Kalau sedang tidak sir, ….. oahheemmmm. Saya pun tertidur pulas.

Yogyakarta, 5 September 1989

*) gambar dari adnan-zaki.blogspot.com

Tentang Keluarga Bahagia

keluarga-bahagiaDALAM seminar di Banjarmasin saya harus berbicara tentang konsep keluarga bahagia dalam kebudayaan kita. Saya begitu saja menyetujui permintaan panitia tanpa berpikir lebih panjang apakah saya mengerti benar makna keluarga bahagia itu. Apalagi konsep tentang itu dalam kebudayaan kita. Dan apakah keluarga saya sendiri bahagia ?

Saya pun lantas teringat percakapan Mr. Rigen dengan Pak Joyoboyo tempo hari tentang kebahagiaan mereka. Sembari menertawakan diri mereka sendiri, mereka berkesimpulan bahwa masalah begitu adalah masalah orang-orang gêdhé. Buat mereka wong-wong cilik, keluarga bahagia itu tidak pernah dipertanyakan. Wong bahagia kok dipertanyakan, kesimpulan mereka. Wong bisa makan cukup saja sudah sênêng, kok masih kobêr tanya tentang kebahagiaan.

Sebelum berangkat ke Banjarmasin, saya cek sekali lagi dengan direktur kitchen cabinet saya itu.

“Gen, apa kamu sama Nansiyem, Beni dan singa laut itu bahagia ?”

Pripun, Pak ? Bahagia ?”

“Iya, bahagia.”

“Bahagia ?”

“Iya, bahagia. Monyong !

“He … he … he … Bahagia. Wong bahagia kok ditanyakan to, Pak ?”

Lha, saya ingin tahu saja. Kelihatannya kalian sekeluarga itu kok bolehnya rukun bin seronok begitu hidupnya. Mestinya ya bahagia to uripmu itu.”

“Ya, jelas sênêng to, Pak. Hidup disanding anak-bojo.”

“Jadi, kalau tidak disanding anak-bojo itu tidak bahagia ya, Gen ? Tidak senang ya, Gen ?”

“Lho … lho … lho … Pak. Saya itu tidak nyindir Bapak. Saya itu hanya cerita tentang diri saya sendiri, bukan Bapak. Kalau Bapak sama Ibu dan putrå-wayah ya semestinya sênêng-sênêng saja meski tidak kumpul. Lha, wong Bapak sama Ibu itu serba cukup. Mestinya ya sênêng. Lha, kalau saya yang serba mèpèt ini tidak kumpul anak-bojo jênèh ngênês.”

Yo, wis. Lha, kalau resepmu untuk senang itu apa, Gen ?”

“Resep ? Wong urip kok pakai resep. Kok kados penyakit saja. Ya, kalau buat saya hidup senang itu, ya kumpul anak-bojo itu, Pak. Ah … Bapak kii. Wong begitu kok ditanyakan, lho ?”

“Lho, ini penting, Gen.”

Yak, penting ya penting. Ning kalau perkara hidup itu ya dilakoni saja. Tidak usah ditanyakan resepnya.”

Saya manggut-manggut saja. Menghadapi ‘filsuf’ alam ndéso sedahsyat Mr. Rigen, mau apa kita selain berdecak kagum ? Dan nyatanya, sore-sore kalau saya lihat mereka duduk berjejer di lincak yang sudah hampir reyot, menikmati semilirnya angin sore dan menunggu matahari yang hampir terbenam, eh, kok ya kelihatan hangat dan senang begitu.

Pada malam harinya saya diundang Prof. dsb-nya, dsb-nya, Lemahamba dst, dst, dst. Beliau merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh tujuh.

“Datanglah,” katanya.

Ning sederhana saja kok, kali ini. Hanya mengundang teman-teman dekat dan sedikit sanak keluarga,” katanya lagi.

Eh, ternyata yang dinamakan sederhana itu, di halaman depan rumah beliau ada terop dan kursi berderet. Dan waktu tamu-tamu pada datang, ada kira-kira lima puluh orang berdatangan. Sederhana. Kemudian waktu suguhan datang mbanyu mili, mbanyu mbludak malahan. Sederhana. Kemudian, waktu kuwéh tart sebesar meja dengan lima puluh tujuh buah lilin didorong ke ruang tengah diiringi nyanyian happy birthday to you, para tamu berkerumun mendekati meja untuk mendapatkan potongan kuwéh tart. Ibu Lemahamba memotong kuwéh itu dan diberikannya kepada sang suami. Sang suami menerima sambil mendapat ciuman mak séngok dari sang istri. Semuanya lantas bertepuk tangan. Saya, dari jarak agak jauh, bisa melihat semua itu dengan sangat jelas. Air muka suami-istri Lemahamba tampak berseri-seri. Rumah dan ruang dalam yang begitu mewah seperti set serial Dynasty di teve.

Saya kemudian membayangkan tanah-tanah miliknya. Lêmah yang åmbå-åmbå. Ah, … mestinya mereka keluarga bahagia juga, to. Wong begitu mbludak rezekinya. Tidak mungkin tidak bahagia. Ah, perkara beliau mendapat tanahnya yang åmbå itu dengan mencatut bersama pak lurah pada waktu survey penelitian, ah ….

Di dalam jip reyot, dalam perjalanan pulang, saya lantas ingat juga Dr. Legowo Prasodjo atau Prasodjo Legowo yang jenius dan super sederhana itu. Orang yang sudah kondang kalokå di seluruh dunia, rumahnya kecil sederhana. Kendaraannya Honda bebek. Makannya jangan asêm plus ikan asin dan sambal terasi. Eh, … kok kelihatannya ya ayêm-têntrêm, tidak blingsatan, tidak ngåyå. Mestinya mereka juga sênêng hidupnya. Wong saya tidak pernah mendengar mereka mengeluh. Juga tidak pernah menggerutu sama keadaan, apalagi ngrasani jelek teman-temannya. Ah, … mestinya mereka bahagia juga.

Sampai di rumah saya dapati Mr. Rigen anak-beranak ketiduran di tikar depan teve sehabis menonton film akhir pecan. Mereka kelihatan nglêpus tidur bersama, kaki-kaki mereka saling menimpa. Ilêr Beni Prakosa men-dlèwèr kira-kira lima belas senti. Kelihatannya adêm-ayêm juga. Ah, … mestinya mereka bahagia juga. Mungkin betul juga kata Mr. Rigen, hidup itu dilakoni saja …..

Yogyakarta, 22 Agustus 1989

*) gambar dari fm.gontor.co.id

Tentang Jangan Asem

Sayur asemYANG sudah agak lama sekali tidak datang mampir ke rumah adalah Mas Doktor Prasodjo Legowo bersama mbakyu. Kangen juga saya. Maka hari Minggu kemarin saya minta Mr. Rigen menyopiri jip butut saya ke selatan, ke rumah doktor cemerlang idola saya itu.

Karena saya seorang bachelor, saya tidak merasa berkewajiban untuk membawa oleh-oleh buat mereka. Salah-salah malah menjadi bulan-bulanan, ejekan mereka. Mereka, meskipun orang-orang yang maha sederhana dan bukan bangsanya snob alias suka sok, cita rasanya sangatlah caggih bila memang mereka perlukan. Kalau situasi dan kondisi menghendaki Mas dan mBakyu Prasodjo bisa saja tampil bagaikan Ronald Reagan dan Nancy Reagan waktu waktu menerima tamu-tamu pada resepsi kepresidenan di White House.

Seperti pada waktu Mas Prasodjo menerima award berupa medali di salah satu universitas di luar negeri itu. Wah, Mas Prasodjo memakai tuxedo after six, pantalon dan jas hitam putih, kelihatan sangatlah ngganthêng dan anggunnya seperti Gregory Peck pada waktu masih muda dulu. Lha, mBakyu juga tidak kurang anggun. Memakai kebaya brokat biru tua dengan kain batik serta selendang yang serasi sekali. Tentu saja saya hanya melihat semua itu di album foto mereka. Waktu saya nyatakan kekaguman saya, tanpa malu-malu dan polos sekali Mas Prasodjo mengatakan bahwa tuxedo itu cuma tuxedo sewaan yang gampang sekali disewa di sembarang tempat di luar negeri.

Ah, Mas Prasodjo yang tetap prasojo. Kok lain betul dengan tokoh lain yang juga saya kagumi, Prof. Dr. dsb-nya, dsb-nya Lemahamba dst, dst, … itu ! Di kamar pakaiannya, konon menurut cerita beliau sendiri, ada empat macam tuxedo tergantung; hitam, putih, merah dan biru. Wah, pikir saya, kapan saja beliau memakai tuxedo-tuxedo itu ?

Dan perkara membuat pesta, juga kalau memang situasi dan kondisi menghendaki, Mas dan mBakyu Prasodjo bisa canggih juga. Waktu pesta perkawinan anak mereka itu, misalnya, mereka sulap pendopo Hotel Ambarukmo sebagai pendopo yang anggun dengan sajian makanan yang tidak kurang canggihnya. Pesta itu tidak mewah, namun orang sampai berhari-hari berdecak kagum ngrasani cita rasa mereka yang ngetop itu.

Waktu jip butut saya masuk halaman saya lihat mereka sedang asyik di kebun. Mas Prasodjo kelihatan sedang asyik membenahi pagar, mBakyu sedang asyik ramban, memetik-metik sayuran dan terong. Mas Prasodjo memakai celana pendek kembang-kembang (mungkin oleh-oleh orang yang baru datang dari Kuta), sedang di bagian atas meng-gligå alias ber-oté-oté alias (lagi) tanpa baju. Keringatnya ber-dlèwèran. Tetapi harus saya akui, meskipun usianya sudah termasuk laruik sanjo, larut senja, Mas Prasodjo masih kelihatan gagah juga. mBakyu juga hanya berpakaian daster yang sudah lusuh. Rambutnya yang memutih di pinggirnya itu kelihatan tidak merusak mukanya yang manis. Harus diakui mBakyu masih kelihatan charming.

Wééé … lha, Bu ! Ada propésok dari utara mengejawantah. Pantêsan clèrèt gombèl, clèrèt tahun dan entah clèrèt apalagi berkeliaran sepanjang pagi.”

mBok kalau milih perlambang itu yang hebat begitu kenapa, sih ? Ini segala macam clèrèt disebut. Aku kangen, Mas. Sudah lama tidak ketemu.”

Kami masuk dan saya dipersilakan duduk di teras. Biar isis kena sapuan semilir angin, kata mereka. Waktu mereka keluar lagi dari kamar, mereka sudah kelihatan mandi, ganti baju yang bersih namun tetap sederhana. mBakyu membuka percakapan dengan undangan yang klasik.

“Makan di sini, ya ? Aku baru habis ramban terong, kacang panjang dan sedikit dedaunan. Nanti dak masakkan sayur asêm, dak bakarin pêté, dak sambêlin yang pêdhês dengan trasi Juwono, dak gorengin ikan mujair. Mau nggak ?”

“Wahh … sedaapp. Aku sudah ngilêr ini, mBakyu.”

Halaahh, rupamu Geeng, Geng ! Wong doyananmu nasi goreng Masih Sepuluh atau soto Pak Soleh, kok bilang sayur asêm mBakyumu sedap. Munafik ah, kamu !”

“Lho, sumpah, Mas ! Sayur asêm di sini itu top, deh. Beberapa kali aku makan sayur asêm mBakyu, rasanya nggak pernah nggak sedap. Sedap melulu !”

“Nah, sekarang kamu ngênyèk mBakyumu, to ! Kamu mung mau bilang kalau mBakyumu itu cuma bisa sedia menu sayur asêm melulu, to ?! Hayoo … ngaku !”

Kami pun tertawa berderai. Dan seperti biasa, makan siang dengan mereka berjalan seru dan lahapnya. Dessert alias cuci mulut berupa kopi tubruk Sidikalang kiriman temannya dari Medan dengan nyamikan mata-kêbo yang bergelimang arèh santên beberapa millimeter. Sedaaappp …!

Waktu sore kami pulang, di dalam jip, Mr. Rigen yang sejak tadi diam saja, mulai nyeletuk,

“Waktu Bapak tadi memuji-muji jangan asêm-nya Bu Prasodjo itu paling enak di dunia, apa menurut Bapak enak betul atau hanya basa-basi saja to, Pak ?”

Hussyy ! Ya enak betul, to. Kamu ‘kan juga ikut merasakan tadi. Wong keluarga Prasodjo itu tidak pernah memperlakukan pembantu lain betul dari majikannya.”

Mr. Rigen diam sebentar. Kemudian seperti meng-grêndêng, bergumam dengan dirinya sendiri,

Wong ya jangan asêm biasa saja gitu, lho. Kok paling enak sak ndonyå ?

“Eh, … apa Gen. Apa ?! Jangan asêm-nya bagaimana, Gen ?!”

“Heh … heh … heh… mBotên kok, Pak. Eheh … heh …heh …”

Dhapurmu ! Ayo bilang terus terang. Jangan asêm-nya Bu Prasodjo bagaimana ?!”

Ha … ênggih niku. Wong jangan asêm biasa saja lho, Pak. Sama saja ‘kan dengan jangan asêm kita ?”

“Jadi menurutmu sama dengan masakanmu, gitu ?!”

“Heh … heh … ha, ênggih.

Wooo … gundhulmu amoh !

Kami berdua diam. Jip itu sudah mulai masuk bagian utara kota. Sebentar lagi akan sampai di rumah. Saya perintahkan Mr. Rigen untuk mampir beli geplak dan yangko buat oleh-oleh Beni Prakosa.

Waktu kami masuk, Beni Prakosa sudah menunggu di teras bersama ibu dan adiknya yang dipangku. Beni melonjak-lonjak kegirangan. Geplak dan yangko itu di-krêmus dengan nikmatnya. Kayaknya kuwéh ndéso itu seperti kuwéh yang turun dari langit. Mr. Rigen melihat gembira wajah anaknya tersenyum.

“Pak Ageng, sekarang saya tahu kenapa jangan asêm Bu Prasodjo itu enak.”

“Kenapa, coba ?!”

Jangan asêm itu terasa enak buat Bapak karena yang masak Bu Prasodjo, nyonya doktor yang sudah kondang kawêntar sak ndonyå itu.”

“Hubungannya itu apa ?”

“Hubungannya ? Ya itu, Pak. Kalau jangan asêm-nya Rigen ‘kan hanya jangan asêm-nya bocah Pracimantoro. Kalau jangan asêm-nya Bu Prasodjo rak …..”

Wis, wis, wis. Sana ke belakang sama anak binimu sana. Kamu itu namanya minder inlander …”

Waktu saya rebahkan tubuh di sofa, lèyèh-lèyèh mau ngaso sebentar, saya masih ingat kesimpulan Mr. Rigen tentang sayur asêm-nya. Jangan-jangan dia benar. Jangan-jangan, … jangan asêm …..

Yogyakarta, 15 Agustus 1989

#) jangan (Jawa) = sayur masak pelengkap nasi

*) gambar dari en.wikipedia.org

Prestasi, Kroket dan Tiwikrama

kroket n risolesGARA-GARA tugas mondar-mandir, ngalor-ngidul, ngétan bali ngulon, terus bali ngalor-ngétan, terus bali bali ngidul-ngulon, sampai habis delapan penjuru angin saya jelajah sampai bosah-baséh, saya rasanya sudah lama sekali tidak bercanda sama dua ingon-ingon saya si Beni Prakosa, the incredible bêdhès dan si singa laut, the impossible Septian. Tahu-tahu begitu saja pada satu sore sang bêdhès nyêlonong mèpèt kursi saya. Saya tahu pasti ada targetnya. Di depan saya ada kroket dan risoles bikinan Sanitas, Semarang yang sêgêdhé-gêdhé granat.

“Kamu mau ini, to ?”

“Enggak.”

Dan dia masih terus meng-gubêl, mengitari kursi di depan saya.

“Kamu kêpingin yang lonjong-lonjong kayak granat itu, to ?”

“Eng-gak !”

Dan glibêtan-nya sêmangkin sêsêr.

“Kalau nggak mau ya sudah, out sana ! O-yu-ti, out !

Sang bêdhês lari ngiprit, tetapi saya tahu juga bahwa pasti sesampai di ambang pintu yang memisahkan dapur dan ruang dalam dia akan berhenti. Kepalanya di-tongol-kan.

“Pak Ageng, Pak Ageng !”

“Apa !”

“Saya sudah naik kelas nol besar, lho !”

“Aah, Pak Ageng sudah tahu. Kabar basi !”

Ning Pak Ageng rak belum tahu.”

Eh, tahu-tahu mak srêt anak itu sudah sampai di kursi saya lagi. Mulutnya di-pèpèt-kan ke telinga saya.

Dak beri tahu, ning yang lonjong-lonjong itu apa, sih ? Kuwéh, ya ?”

Saya pun ganti membisiki dia,

“Bu-kaan. Ra-cuunn !”

Kami pun tertawa terbahak bersama.

“Pak Ageng, mbok saya mintak sedikit saja. Kayaknya kok enak.”

“Memang enak. Ning prestasimu apa ? Enak saja mintak-mintak !”

“Saya ‘kan sudah naik kelas nol besar.”

Lha, kalau itu Pak Ageng sudah lama tahu. Kok kamu kayak priyagung-priyagung pusat saja, sih. Mengulang-ulang matur sama babé-nya kalau punya prestasi. Itu ‘kan kita semua sudah tahu semua. Yang baru dong, Ben. Ada prestasi yang baru nggak, yang sêgêr begitu, lho ?”

Waktu selesai bicara begitu, saya melongok ke belakang, ehh … di lincak sudah pada duduk Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan si singa laut Septian. Matanya tholo-tholo, ilêr-nya ngêcès, dlèwèran membasahi dadanya. Para pendukung Beni Prakosa ini kelihatan tegang mengikuti dialog kami. Kayak mengikuti lomba cerdas cermat antara SD Samas lawan SD Kadisobo saja. Dan betul saja, Mr. Rigen tidak sabar lagi melihat anaknya masih bengong. Ah, saya masih belum tahu, tapi dia sekolah di TK Indonesia Hebat itu. Sekolah calon jenius yang komplet itu.

“Ayo, . Ayo matur, matur. Ngomong sama Pak Ageng !”

Engko sik to, Pak. Tunggu dulu to, Pak. Aku ini lagi mikir.”

Jarinya diletakkan di bathuk-nya.

“Aku lagi mikir betul lho, Pak Ageng.”

“Ohh … dhapurmu ! Mikir, mikir. Apanya yang kamu pikir, Lé ?

“Itu lho, yang lonjong-lonjong coklat di meja itu, apa namanya ?”

“Oooo … itu to, yang kamu pikir. Dak kira kamu itu mikir prestasi. Tahunya sama saja dengan Bapaknya. Yang dipikir cuma makanan saja !”

Mr. Rigen meringis, Mrs. Nansiyem senyum-senyum tersipu.

Lha, wong namanya rakyat kecil lho, Pak. Kalau bukan makan apalagi yang dipikir to, Paakkk ?!”

Wis, ciloko tênan iki ! Dari dulu kok ya nggak maju-maju. Orang tidak makan roti alone. Orang itu ya mikir hiburan, ya mikir ekspansi ekonomi, ya ekspor non-migas, ya deregulasi, ya Pancasila, ya macam-macam gitu. Supaya kaya hidupnya.”

Mr. Rigen matanya kêtap-kêtip. Beni Prakosa masih mêndolo merenungi kroket dan risoles yang belum juga pindah ke tangannya.

“Lho, Pak. Yang makan roti itu siapa, lho ? Wong anak beranak makannya ya cuma nasi terus lho, Pak. Kok Bapak bilang roti êlun. Niku roti apa to, Pak. Roti kok bikin kaya ?”

Wéhh … sudah ! Sak rumah kok gêblêk semua. Apa enaknya dak istirahatkan dulu ke Praci kalian itu !”

Lalu Beni Prakosa meng-gêlibêt lagi.

“Pak Ageng, kelas nol besar itu angèl bangêt, lho ! Angèl bangêt. Sukar bangêt.”

Mosok ?

Eee … betul, Pak Ageng. Sekarang mana kuweh yang lonjong-lonjong itu !”
Elhoo … !

Ternyata bêdhès èlèk itu tahu juga makna prestasi. Ya lumayanlah. Maka sebagai pendidik yang konsekuen, saya pun memberi Beni satu kroket yang sêgêdhé granat. Dengan bangga kroket itu diperlihatkannya kepada bapak dan ibunya. Dan saya lihat dari kålåmênjing-nya, Mr. Rigen kêpingin juga. Tapi apa prestasinya ?

“Bapak mau kuwéh ‘kan ? Tidak sekolah kok mau kuwéh. Sekolah dulu, Pak.”
Huss … bocah cilik kurang ajar sama orangtua !”

Kami semua kaget mendengar bentakan Mr. Rigen sedahsyat itu. Ada apa dia ?

Lé, dak beri tahu, ya ! Kowé itu baru kelas nol besar. Ojo kêmênthus kowé ! Kalau kamu sudah kayak Pak Profésok Lemahamba, pintêr dan lêmahnya åmbå-åmbå, boleh kamu berlagak. Sekarang baru sak prêcil, pintêr-nya juga baru sak prêcil, sudah berani ngênyèk wongtuwå, ya !”

Wah, gawat ini, pikir saya. Mr. Rigen lagi tiwikråmå.

“Ayo, sini kroketnya ! Dibagi buat kita semua !”

Dan sekali renggut, kroket Sanitas itu sudah berpindah ke tangan Mr. Rigen. Edyan tenan ! Mr. Rigen jagoan Pracimantoro itu tiwikråmå tênan.

Yogyakarta, 8 Agustus 1989

*) gambar dari food.detik.com

Bima, Oh, Bima (Biru Malam)

ka bimaMALAM itu saya harus naik kereta api Bima dari Cirebon ke Yogya. Dengan gagah saya menolak tawaran kawan untuk pulang saja ke Jakarta naik mobilnya yang mewah ber-AC dan pulang ke Yogya keesokan harinya dengan pesawat Garuda, yang cuma makan waktu kurang lebih lima puluh menit. Dengan Bima, perjalanan ke Yogya akan ditempuh dalam waktu enam jam. Itu pun kalau tidak terlambat, kata kawan saya itu. Sekali lagi dengan gagah ditambah dengan senyuman penuh kepastian, saya tolak bujukan kawan saya itu. Dalam hati saya ngunandikå,

“Ah, … dia tidak tahu bagaimana nikmat dan romantisnya naik kereta api Bima itu.”

Dahulu, pada waktu saya sinêngkakaké ing ngaluhur, diorbitkan ke atas menjadi priyagung yang disebut direktur jenderal, boleh dikata saya puas naik Bima. Lha, bagaimana tidak ?! Garuda sedang sakit-sakitan dan melarat-melaratnya. Pesawat hanya Corvair dan Dakota. Keberangkatannya pun tidak menentu. Padahal saya harus banyak meninjau daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lha, kalau tergantung Garuda ‘kan cilåkå ! Maka Bima adalah pilihan satu-satunya.

Ketika itu gerbong-gerbong Bima masih baru kinyis-kinyis, bikinan Jerman Timur. Bisa disulap menjadi kompartemen tidur yang nyaman sekali. Untuk kelas utama bahkan ada bak tempat cuci muka lengkap dengan handuk putih bersih, sabun dan air hangat. Lagu-lagu yang diputar pun juga pas. Ketika meninggalkan Jakarta, lagunya ‘Jali-Jali’. Menjelang masuk Surabaya, lagunya ‘Surabaya’, yang dilantunkan oleh Dara Puspita. Menggugah dan menyuruh penumpang untuk bersiap-siap. Dan suara announcer, penyiar, wanita yang merdu dan canggih penguasaan bahasa Indonesia dan Inggrisnya, sewaktu-waktu akan terdengar memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan. Setiap berhenti di satu kota tujuan, pintu kompartemen pun akan diketok dan pramugari atau pramugara dengan sopannya memberi tahu kita bahwa kota tujuan kita sudah dekat. Pada waktu tengah malam begitu kadang-kadang saya terbangun, gorden jendela saya buka, pohon-pohon dan rumah-rumah kelihatan berlari dalam keremangan malam. Suara lokomotif di rel yang terawat baik itu mendesau merdu.

Saat-saat begitu benar-benar terasa suasana adem, tenteram, aman dan memberi makna yang romantis kepada nama kereta api yang biru malam itu. Ah, … dengan nostalgia seperti itulah saya bersiap-siap menaiki Bima dari Cirebon ke Yogya.

Waktu suara jès-jès-jès disel Bima itu terlihat memasuki stasiun Cirebon, eh, hati ini berdegup, lho. Kayak menunggu kedatangan pacar yang sudah lama tidak ketemu malam itu. Saya segera berlari mencari kompartemen saya. ‘Biru Malam, Biru Malam ! Ini aku datang, bukakan kompartemenmu. Aku siap mendobrakmu, mengoyakmu, menidurimu, membuka gordenmu, menatap bintang-bintangmu, mendengar desau diselmu, suara pramugarimu … dear passengers… Semua, semua milikmu yang mengagumkan itu.’ Lho, pintunya yang mana, sih ? Lho, pramugari dan pramugara yang siap berdiri di tangga menunjukkan kompartemen kita di mana, sih ?

Sesudah lora-lari ke sana ke mari, mencoba mencari pintu yang terbuka, akhirnya saya temukan juga satu pintu yang agak terbuka. Dengan susah payah saya masuk ke gerbong tempat duduk yang umpêl-umpêlan diduduki segala macam orang. Sebagian malah sudah bersiap-siap tidur dengan menggelar koran di lantai.

Wah, hampir tidak percaya saya ! Masak iya ini Bima-ku yang indah dan romantis itu ? Jangan-jangan saya keliru sêpur trutuk yang di setiap stasiun berhenti setengah hingga satu jam itu. Melihat gelagatnya kok mèmpêr betul dengan sêpur begitu. Orang jualan pun sudah berlompatan masuk dan dengan semangat kompetisi yang dahsyat. Kacang-kacang, dodol-dodol, nasi bungkus-nasi bungkus dan entah apa lagi.

Akhirnya saya temukan gerbong dan kursi tempat duduk saya yang ternyata berada di sudut dekat pintu dan WC. Waktu akhirnya Bima itu berlari, hilang sudah harapanku yang sudah saya setel sesuai dengan nostalgiaku. WC itu, pintunya terbuka terus dan baunya pesing bin pesing. Pintu yang ada di bordes, masya Allah, sêparo sudah jebol dan diganti, ditambal dengan potongan bambu. Mungkin insinyur yang mengawasi perbaikan pintu dan gerbong kereta api itu punya hobi membuat kandang ayam.

Tidak ada malam yang biru atau biru yang malam. Bahkan rasanya bintang-bintang, cuwilan bulan, pepohonan dan rumah-rumah pun ikut solider dengan pintu bordes yang berwajah kandang ayam itu. Tidak tampak apa pun. Maka, malam itu dengan AC yang tidak jalan, keringat yang berliter-liter, baju yang basah kèplèh, saya mencoba tidur. Tentu saja tidak bisa.

Untunglah (kapan sih, orang Indonesia tidak untung ?) Bima masuk stasiun Tugu hampir tepat waktu. Saya lihat Mr. Rigen dengan mata yang sudah sipit tetapi merah, menunggu di pintu keluar stasiun. Begitu menghirup segarnya udara subuh atau hampir subuh di Yogya, saya langsung merasa kêpingin sarapan subuh dengan nasi gudeg.

“Mr. Rigen, kita langsung ke gudeg Bu Mul dan wédang jahé Bu Amat dulu !”

“Lho, ini jam setengah tiga pagi, Pak. Mau dhahar sarapan ?”

“Ha, iya. Lapêr dan kêmropok, jéé !

Kêmropok pripun ? Wong naik sêpur Bima yang dahsyat kok kêmropok ?

“Sudahlah. Nanti kalau kita sudah di gudeg Bu Mul dak critani.”

Dan kemudian sembari makan gudeg Bu Mul yang sesungguhnya rådå sangit tetapi pada malam itu terasa nikmat sekali, saya melapor kepada dirjen saya yang bernama Mr. Rigen. Saya melaporkan tentang bagaimana saya kêtulå-tulå, terlunta-lunta, disia-sia oleh kereta api Bima. Sehabis cerita, saya tatap muka Mr. Rigen yang sedang asyik me-ngêlamuti paha ayamnya. Saya tunggu dengan sabar sampai sisa-sisa daging di pinggiran balung itu habis ludes.

Dan Mr. Rigen tampaknya sadar betul kalau boss-nya sesungguhnya sedang mendambakan komentarnya. Sesudah selesai makan dia minta kobokan. Dicucinya jari jemarinya yang belepot daging dan santên. Kemudian di-sruput-nya teh jahenya. Baru kemudian mulai ngomong dengan ngglêgês. Wah, cilåkå. Kalau tokoh Pracimantoro sudah menyusun bibirnya dengan glêgêsan begitu, pertanda gawat, nih.

Ngètên lho, Pak. Begini lho, Pak. Bapak itu sering membingungkan saya.”

“Lho, membingungkan bagaimana ?”

“Kadang-kadang jaan saya terheran-heran betul. Wong Bapak itu menurut saya tidak pernah kekurangan paringan rahmat Gusti Allah, lho. Lha, kadang-kadang kok masih belum mensyukuri itu semua. Lha, wong baru diêngkuk-êngkuk dan diciprati bau pesing kereta api Bima begitu saja kok bolehnya dukå dan sambat ngaru-årå kayak sudah mau dibuang ke Nusakambangan.”

Hussy, dhapurmu, Geenn, Gen ! Lha, menurut kamu, apa hak kita rakyat Indonesia tidak disepelekan sama PJKA. Karcis itu kita bayar, Gen. Dijanjikan pakai AC. Dan dulu Bima itu pernah bagus sekali melayani rakyat. Lha, sekarang kok merosot ora karu-karuan itu terus piyé ?!

“Lho, ning yang namanya rakyat itu ‘kan ya sênêng saja to naik sêpur itu ? Buktinya rakyat itu masih sênêng naik sêpur begitu kok, Pak.”

Wéé … lha, Gen. Kowe itu mau saya critani tentang hak kamu yang dikentuti kok malah nrimo, lho ?”

Ha, ênggih nrimo to, Pak. Sudah bagus ada kereta api buat kita semua yang masih jalan. Coba kalau Bima itu tidak jalan, terus Bapak mau pulang dari Cirebon naik apa, hayoo ?”

Saya tidak berani meneruskan percakapan lagi. Mr. Rigen sudah mengejawantahkan dirinya jadi rakyat Mataram sejati. Terus mau diajak demokrasi dan keterbukaan yang bagaimana kalau dia sudah begitu ?
Eh, … omong-omong tentang keterbukaan, ada empat syaratnya. Satu …..

Yogyakarta, 1 Agustus 1989

*) gambar dari kaskus.co.id

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 352 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: