Di Rumah Kami, Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip, Namun Sulit Dilaksanakan, Soalnya …

NO DEMOCACY.SEBAGAI seorang yang sudah terlanjur kena apa yang disebut “racun pendidikan Barat”, tentu saja demokrasi dan keterbukaan adalah prinsip yang sudah menjadi ganyangan dan minuman saya sehari-hari. Setiap kali saya membaca di Koran ada pedagang informal diubêr-ubêr, tanah-tanah petani digusur, majalah atau Koran dibungkam atau ditutup, sedihlah hati saya. Kok ya tega-teganya mereka yang lulus P4 dan sudah ndrêmimil hafal jurus-jurus demokrasi Pancasila itu melakukan hal-hal seperti itu. Apakah kekuasaan itu begitu nikmat dan menyilaukan sehingga sanggup menutup jurus-jurus P4 yang sudah mereka hafalkan dan kuasai itu ?

Di rumah saya di Cipinang Indah, Jakarta, saya dorong tumbuhnya oposisi untuk menjaga agar jurus-jurus P4 (tempo hari saya lulus no.1 sak DIY, lho) yang sudah saya kuasai plus ‘racun-racun’ dari John Stuart Mill, Milton, Voltaire, Jefferson dan entah siapa lagi, tidak tertutup kabut kekuasaan yang sering kali memang rådå absolut di tangan saya. Oposisi itu tentu saja datang dari si Gendut yang sangat gigih mempertahankan hak jatah uang saku dan makan luar sekali sebulan.

Dan oposisi tunggal itu sering kali juga digabung dengan oposisi dari kubu-kubu si mBak dan Bu Ageng yang dengan ketat mengontrol hak budget rumah tangga kami serta extra kurikuler “activity” saya.

Sebagai seorang demokrat sejati, tentulah oposisi itu saya pupuk dengan gembira. Bahkan kalau sampai agak lama mereka adêm-ayêm saja, saya dorong-dorong untuk mengkritik, mengontrol dan menghantam saya. Ayo, oposisi, opisisi. Ayo, kritik, kritik. Ayo, hantam saja, hantam saja. Wong demokrasi, kok. Ayo, … mumpung punya bapak demokrat sejati bin konsekuen.

Sampai pada suatu hari,

“Eh, … Kap. Saudara Bokap.”

Saya yang baru setengah memejamkan mata, istirahat dan lèyèh-lèyèh di dipan mêngêluk gêgêr yang capek karena baru datang dari Yogya, rådå terkejut dipanggil Bokap oleh si Gendut.

“Ada apa, nDut ?

“Ada apa ?! Ini sudah tanggal berapa ?”

“Tanggal ? Tanggal delapan. Emangnya kenapa ?”

“Kok masih tanya kenapa, sih ? Katanya orang itu harus tahu kewajiban.”

“Wah, kewajiban ? Aku ada kewajiban apa sama kamu, nDut ? Capek-capek dituntut kewajiban. Sana, ah. Bapak mau tiduran dulu.”

Be, tanggal delapan, nih. Tanggal delapan, Be !

Heissyyyyhh … tanggal delapan ya tanggal delapan. Tapi nanti !”

Si Gendut kok jadi rådå mêngkêrêt juga mendengar suara saya yang penuh wibawa kêsêl itu. Saya pun lantas melanjutkan tiduran saya dan Gendut pun mundur teratur.

Pukul tujuh malam saya dibangunkan oleh Gendut. Kali ini saya lihat Gendut sudah rapi jali. Bahkan rada menor berbau wangi. Untuk ke sekian kalinya saya diingatkan bahwa anak wuragil saya itu sekarang sudah benar-benar dewasa. Sudah young lady yang benar-benar young lady. Setiap kali diingatkan begitu hati ini mak pang, jadi rådê anglês juga. Tetapi meski begitu suara ini kok keluarnya suara penguasa.

“Mau ke mana, elu ?

“Nah, itu. Kalau tadi saya diberi kesempatan cerita, sekarang ‘kan Bokap tahu aku mau ke mana !”

“Iyaa. Mau ke mana ?”

“Jalan. Ada birthday party, Be. Tanggal delapan, nih. Tanggal delapan.”

“Lho, kok itu lagi ?”

Lha, iya dong ! Bokap kalau diingêtin kewajiban mesti begitu, deh.”

“Wah, Non. Aku kalau diingat-ingatkan kewajiban biasanya malah jadi kagak ingêt. Apa sih ?”

“Tanggal delapan itu, Ayahanda, adalah tanggal gajian saya.”

“Oh … tanggal gajian. Lantas ?”

“Ya, bagi dong dokunya, cêpêtan ! Ini keburu disampêrin têmên-têmên, lho.”

Eh, bagi. Enak saja anak sekarang bilang bagi. Seperti uang yang capek-capek kita cari itu sudah masuk haknya untuk ikut memiliki. Bagi dong, katanya.

“Bilang dulu baik-baik. Baru nanti Bapak pertimbangkan.”

“Eh, kok kayak baru sekarang saya terima gaji dari Bokap. Baiklah minta baik-baik, nih. Be, bagi dong gaji saya bulan ini.”

Elho, kok masih bilang bagi ? Memangnya kau ikut susah-susah cari duit Bapak, Neng ?”

“Enggak. Tapi apa salahnya sih, minta pembagian dari Bapaknya ?”

“Salah. Kau tahu kau tidak ikut capek cari duit Bapak. Dus, kau tidak punya hak untuk menuntut pembagian.”

Elho … ? Lha, tiap bulan yang Bapak kasih itu apa kalau bukan pembagian ?”

“Itu pemberian dari Bapakmu, Non. Pem-be-ri-an. Jadi terserah dari Bapak, toh ?”

“Jadi Bapak nggak mau kasih, nih ?”

“Mau dong. Tapi separo dulu. Yang separo kapan-kapan.”

Saya paro jatahnya bulan ini. Saya sendiri tidak tahu mengapa saya jadi kêpingin godain dia malam itu. Gendut menerima uang itu dengan muka masam.

“Bapak kok sekarang jadi fasis begini ?”

“Hah ? Fasis ? Maksudmu apa ?”

“Nggak tahu ! Pokoknya Bapak sekarang jadi sok kuasa. Mentang-mentang Gendut nggak punya kekuasaan apa-apa, Bapak enak saja tentukan maunya.”

Gendut pun lantas lari menemui teman-temannya yang sudah tidak sabaran menunggu di mobil.

Bu Ageng, yang rupanya terus mengikuti percakapan kami dari kamar tidur, kemudian datang.

“Bapak itu kebangetan, sih. Masak begitu saja tidak dikasih.”

“Aah … sekali-sekali dia perlu juga diberi pelajaran.”

“Pelajaran ? Pelajaran apa ?”

“Ya, pelajaran supaya tahu bagaimana susahnya orang tua cari duit.”

“Paakk, Pak. Anak-anakmu itu sudah tahu soal itu. Kok sekarang mau didramatisir. Apa sih, untungnya ?”

Saya pun terdiam sebentar. Iya, ya. Apa sih, untungnya ? Tetapi, eh …, kok ibunya tiba-tiba jadi bergabung beroposisi terhadap saya ? Solidaritas kaum lemah ? Fasis, katanya. Edyann ! Mau mendidik malah dikatakan fasis ? Esok harinya, separo uang bulanan Gendut saya lunasi.

Beberapa hari kemudian saya pulang ke Yogya. Di Yogya, Beni Prakosa seperti biasa menyambut saya.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Katanya …”

“Apa katanya ?”

“Katanya, katanya, … kalau Beni sudah klas nol besar, dibelikan mobil-mobilan yang besaaarr. Mana mobilnya, Pak Ageng ? Saya sudah nol besar, nih.”

“Aahh … kapan-kapan. Pak Ageng masih capek.”

“Horeee … Pak Ageng tukang bohong ! Pak Ageng tukang bohong !”

Heissyyy ! Diam kau, bedhes cilik ! Sana, sama Bapakmu, sana !”

Mr. Rigen, tahu kalau saya masih capek, buru-buru menggelandang anaknya masuk. Saya menggeletak di kamar tidur yang teduh itu. Menerawang langit-langit di atas. Ingat Gendut dan Beni Prakosa. Dua rakyat saya yang tergantung dengan kekuasaan saya. Kekuasaan yang maunya demokratis itu.

Saya menguap. Oahheeemmmm. Saya molèt. Demokrasi tergantung juga pada mood penguasanya, dong. Kalau penguasa lagi sir, lagi senang, ya demokrasi bisa jalan. Kalau sedang tidak sir, ….. oahheemmmm. Saya pun tertidur pulas.

Yogyakarta, 5 September 1989

*) gambar dari adnan-zaki.blogspot.com

Tentang Keluarga Bahagia

keluarga-bahagiaDALAM seminar di Banjarmasin saya harus berbicara tentang konsep keluarga bahagia dalam kebudayaan kita. Saya begitu saja menyetujui permintaan panitia tanpa berpikir lebih panjang apakah saya mengerti benar makna keluarga bahagia itu. Apalagi konsep tentang itu dalam kebudayaan kita. Dan apakah keluarga saya sendiri bahagia ?

Saya pun lantas teringat percakapan Mr. Rigen dengan Pak Joyoboyo tempo hari tentang kebahagiaan mereka. Sembari menertawakan diri mereka sendiri, mereka berkesimpulan bahwa masalah begitu adalah masalah orang-orang gêdhé. Buat mereka wong-wong cilik, keluarga bahagia itu tidak pernah dipertanyakan. Wong bahagia kok dipertanyakan, kesimpulan mereka. Wong bisa makan cukup saja sudah sênêng, kok masih kobêr tanya tentang kebahagiaan.

Sebelum berangkat ke Banjarmasin, saya cek sekali lagi dengan direktur kitchen cabinet saya itu.

“Gen, apa kamu sama Nansiyem, Beni dan singa laut itu bahagia ?”

Pripun, Pak ? Bahagia ?”

“Iya, bahagia.”

“Bahagia ?”

“Iya, bahagia. Monyong !

“He … he … he … Bahagia. Wong bahagia kok ditanyakan to, Pak ?”

Lha, saya ingin tahu saja. Kelihatannya kalian sekeluarga itu kok bolehnya rukun bin seronok begitu hidupnya. Mestinya ya bahagia to uripmu itu.”

“Ya, jelas sênêng to, Pak. Hidup disanding anak-bojo.”

“Jadi, kalau tidak disanding anak-bojo itu tidak bahagia ya, Gen ? Tidak senang ya, Gen ?”

“Lho … lho … lho … Pak. Saya itu tidak nyindir Bapak. Saya itu hanya cerita tentang diri saya sendiri, bukan Bapak. Kalau Bapak sama Ibu dan putrå-wayah ya semestinya sênêng-sênêng saja meski tidak kumpul. Lha, wong Bapak sama Ibu itu serba cukup. Mestinya ya sênêng. Lha, kalau saya yang serba mèpèt ini tidak kumpul anak-bojo jênèh ngênês.”

Yo, wis. Lha, kalau resepmu untuk senang itu apa, Gen ?”

“Resep ? Wong urip kok pakai resep. Kok kados penyakit saja. Ya, kalau buat saya hidup senang itu, ya kumpul anak-bojo itu, Pak. Ah … Bapak kii. Wong begitu kok ditanyakan, lho ?”

“Lho, ini penting, Gen.”

Yak, penting ya penting. Ning kalau perkara hidup itu ya dilakoni saja. Tidak usah ditanyakan resepnya.”

Saya manggut-manggut saja. Menghadapi ‘filsuf’ alam ndéso sedahsyat Mr. Rigen, mau apa kita selain berdecak kagum ? Dan nyatanya, sore-sore kalau saya lihat mereka duduk berjejer di lincak yang sudah hampir reyot, menikmati semilirnya angin sore dan menunggu matahari yang hampir terbenam, eh, kok ya kelihatan hangat dan senang begitu.

Pada malam harinya saya diundang Prof. dsb-nya, dsb-nya, Lemahamba dst, dst, dst. Beliau merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh tujuh.

“Datanglah,” katanya.

Ning sederhana saja kok, kali ini. Hanya mengundang teman-teman dekat dan sedikit sanak keluarga,” katanya lagi.

Eh, ternyata yang dinamakan sederhana itu, di halaman depan rumah beliau ada terop dan kursi berderet. Dan waktu tamu-tamu pada datang, ada kira-kira lima puluh orang berdatangan. Sederhana. Kemudian waktu suguhan datang mbanyu mili, mbanyu mbludak malahan. Sederhana. Kemudian, waktu kuwéh tart sebesar meja dengan lima puluh tujuh buah lilin didorong ke ruang tengah diiringi nyanyian happy birthday to you, para tamu berkerumun mendekati meja untuk mendapatkan potongan kuwéh tart. Ibu Lemahamba memotong kuwéh itu dan diberikannya kepada sang suami. Sang suami menerima sambil mendapat ciuman mak séngok dari sang istri. Semuanya lantas bertepuk tangan. Saya, dari jarak agak jauh, bisa melihat semua itu dengan sangat jelas. Air muka suami-istri Lemahamba tampak berseri-seri. Rumah dan ruang dalam yang begitu mewah seperti set serial Dynasty di teve.

Saya kemudian membayangkan tanah-tanah miliknya. Lêmah yang åmbå-åmbå. Ah, … mestinya mereka keluarga bahagia juga, to. Wong begitu mbludak rezekinya. Tidak mungkin tidak bahagia. Ah, perkara beliau mendapat tanahnya yang åmbå itu dengan mencatut bersama pak lurah pada waktu survey penelitian, ah ….

Di dalam jip reyot, dalam perjalanan pulang, saya lantas ingat juga Dr. Legowo Prasodjo atau Prasodjo Legowo yang jenius dan super sederhana itu. Orang yang sudah kondang kalokå di seluruh dunia, rumahnya kecil sederhana. Kendaraannya Honda bebek. Makannya jangan asêm plus ikan asin dan sambal terasi. Eh, … kok kelihatannya ya ayêm-têntrêm, tidak blingsatan, tidak ngåyå. Mestinya mereka juga sênêng hidupnya. Wong saya tidak pernah mendengar mereka mengeluh. Juga tidak pernah menggerutu sama keadaan, apalagi ngrasani jelek teman-temannya. Ah, … mestinya mereka bahagia juga.

Sampai di rumah saya dapati Mr. Rigen anak-beranak ketiduran di tikar depan teve sehabis menonton film akhir pecan. Mereka kelihatan nglêpus tidur bersama, kaki-kaki mereka saling menimpa. Ilêr Beni Prakosa men-dlèwèr kira-kira lima belas senti. Kelihatannya adêm-ayêm juga. Ah, … mestinya mereka bahagia juga. Mungkin betul juga kata Mr. Rigen, hidup itu dilakoni saja …..

Yogyakarta, 22 Agustus 1989

*) gambar dari fm.gontor.co.id

Tentang Jangan Asem

Sayur asemYANG sudah agak lama sekali tidak datang mampir ke rumah adalah Mas Doktor Prasodjo Legowo bersama mbakyu. Kangen juga saya. Maka hari Minggu kemarin saya minta Mr. Rigen menyopiri jip butut saya ke selatan, ke rumah doktor cemerlang idola saya itu.

Karena saya seorang bachelor, saya tidak merasa berkewajiban untuk membawa oleh-oleh buat mereka. Salah-salah malah menjadi bulan-bulanan, ejekan mereka. Mereka, meskipun orang-orang yang maha sederhana dan bukan bangsanya snob alias suka sok, cita rasanya sangatlah caggih bila memang mereka perlukan. Kalau situasi dan kondisi menghendaki Mas dan mBakyu Prasodjo bisa saja tampil bagaikan Ronald Reagan dan Nancy Reagan waktu waktu menerima tamu-tamu pada resepsi kepresidenan di White House.

Seperti pada waktu Mas Prasodjo menerima award berupa medali di salah satu universitas di luar negeri itu. Wah, Mas Prasodjo memakai tuxedo after six, pantalon dan jas hitam putih, kelihatan sangatlah ngganthêng dan anggunnya seperti Gregory Peck pada waktu masih muda dulu. Lha, mBakyu juga tidak kurang anggun. Memakai kebaya brokat biru tua dengan kain batik serta selendang yang serasi sekali. Tentu saja saya hanya melihat semua itu di album foto mereka. Waktu saya nyatakan kekaguman saya, tanpa malu-malu dan polos sekali Mas Prasodjo mengatakan bahwa tuxedo itu cuma tuxedo sewaan yang gampang sekali disewa di sembarang tempat di luar negeri.

Ah, Mas Prasodjo yang tetap prasojo. Kok lain betul dengan tokoh lain yang juga saya kagumi, Prof. Dr. dsb-nya, dsb-nya Lemahamba dst, dst, … itu ! Di kamar pakaiannya, konon menurut cerita beliau sendiri, ada empat macam tuxedo tergantung; hitam, putih, merah dan biru. Wah, pikir saya, kapan saja beliau memakai tuxedo-tuxedo itu ?

Dan perkara membuat pesta, juga kalau memang situasi dan kondisi menghendaki, Mas dan mBakyu Prasodjo bisa canggih juga. Waktu pesta perkawinan anak mereka itu, misalnya, mereka sulap pendopo Hotel Ambarukmo sebagai pendopo yang anggun dengan sajian makanan yang tidak kurang canggihnya. Pesta itu tidak mewah, namun orang sampai berhari-hari berdecak kagum ngrasani cita rasa mereka yang ngetop itu.

Waktu jip butut saya masuk halaman saya lihat mereka sedang asyik di kebun. Mas Prasodjo kelihatan sedang asyik membenahi pagar, mBakyu sedang asyik ramban, memetik-metik sayuran dan terong. Mas Prasodjo memakai celana pendek kembang-kembang (mungkin oleh-oleh orang yang baru datang dari Kuta), sedang di bagian atas meng-gligå alias ber-oté-oté alias (lagi) tanpa baju. Keringatnya ber-dlèwèran. Tetapi harus saya akui, meskipun usianya sudah termasuk laruik sanjo, larut senja, Mas Prasodjo masih kelihatan gagah juga. mBakyu juga hanya berpakaian daster yang sudah lusuh. Rambutnya yang memutih di pinggirnya itu kelihatan tidak merusak mukanya yang manis. Harus diakui mBakyu masih kelihatan charming.

Wééé … lha, Bu ! Ada propésok dari utara mengejawantah. Pantêsan clèrèt gombèl, clèrèt tahun dan entah clèrèt apalagi berkeliaran sepanjang pagi.”

mBok kalau milih perlambang itu yang hebat begitu kenapa, sih ? Ini segala macam clèrèt disebut. Aku kangen, Mas. Sudah lama tidak ketemu.”

Kami masuk dan saya dipersilakan duduk di teras. Biar isis kena sapuan semilir angin, kata mereka. Waktu mereka keluar lagi dari kamar, mereka sudah kelihatan mandi, ganti baju yang bersih namun tetap sederhana. mBakyu membuka percakapan dengan undangan yang klasik.

“Makan di sini, ya ? Aku baru habis ramban terong, kacang panjang dan sedikit dedaunan. Nanti dak masakkan sayur asêm, dak bakarin pêté, dak sambêlin yang pêdhês dengan trasi Juwono, dak gorengin ikan mujair. Mau nggak ?”

“Wahh … sedaapp. Aku sudah ngilêr ini, mBakyu.”

Halaahh, rupamu Geeng, Geng ! Wong doyananmu nasi goreng Masih Sepuluh atau soto Pak Soleh, kok bilang sayur asêm mBakyumu sedap. Munafik ah, kamu !”

“Lho, sumpah, Mas ! Sayur asêm di sini itu top, deh. Beberapa kali aku makan sayur asêm mBakyu, rasanya nggak pernah nggak sedap. Sedap melulu !”

“Nah, sekarang kamu ngênyèk mBakyumu, to ! Kamu mung mau bilang kalau mBakyumu itu cuma bisa sedia menu sayur asêm melulu, to ?! Hayoo … ngaku !”

Kami pun tertawa berderai. Dan seperti biasa, makan siang dengan mereka berjalan seru dan lahapnya. Dessert alias cuci mulut berupa kopi tubruk Sidikalang kiriman temannya dari Medan dengan nyamikan mata-kêbo yang bergelimang arèh santên beberapa millimeter. Sedaaappp …!

Waktu sore kami pulang, di dalam jip, Mr. Rigen yang sejak tadi diam saja, mulai nyeletuk,

“Waktu Bapak tadi memuji-muji jangan asêm-nya Bu Prasodjo itu paling enak di dunia, apa menurut Bapak enak betul atau hanya basa-basi saja to, Pak ?”

Hussyy ! Ya enak betul, to. Kamu ‘kan juga ikut merasakan tadi. Wong keluarga Prasodjo itu tidak pernah memperlakukan pembantu lain betul dari majikannya.”

Mr. Rigen diam sebentar. Kemudian seperti meng-grêndêng, bergumam dengan dirinya sendiri,

Wong ya jangan asêm biasa saja gitu, lho. Kok paling enak sak ndonyå ?

“Eh, … apa Gen. Apa ?! Jangan asêm-nya bagaimana, Gen ?!”

“Heh … heh … heh… mBotên kok, Pak. Eheh … heh …heh …”

Dhapurmu ! Ayo bilang terus terang. Jangan asêm-nya Bu Prasodjo bagaimana ?!”

Ha … ênggih niku. Wong jangan asêm biasa saja lho, Pak. Sama saja ‘kan dengan jangan asêm kita ?”

“Jadi menurutmu sama dengan masakanmu, gitu ?!”

“Heh … heh … ha, ênggih.

Wooo … gundhulmu amoh !

Kami berdua diam. Jip itu sudah mulai masuk bagian utara kota. Sebentar lagi akan sampai di rumah. Saya perintahkan Mr. Rigen untuk mampir beli geplak dan yangko buat oleh-oleh Beni Prakosa.

Waktu kami masuk, Beni Prakosa sudah menunggu di teras bersama ibu dan adiknya yang dipangku. Beni melonjak-lonjak kegirangan. Geplak dan yangko itu di-krêmus dengan nikmatnya. Kayaknya kuwéh ndéso itu seperti kuwéh yang turun dari langit. Mr. Rigen melihat gembira wajah anaknya tersenyum.

“Pak Ageng, sekarang saya tahu kenapa jangan asêm Bu Prasodjo itu enak.”

“Kenapa, coba ?!”

Jangan asêm itu terasa enak buat Bapak karena yang masak Bu Prasodjo, nyonya doktor yang sudah kondang kawêntar sak ndonyå itu.”

“Hubungannya itu apa ?”

“Hubungannya ? Ya itu, Pak. Kalau jangan asêm-nya Rigen ‘kan hanya jangan asêm-nya bocah Pracimantoro. Kalau jangan asêm-nya Bu Prasodjo rak …..”

Wis, wis, wis. Sana ke belakang sama anak binimu sana. Kamu itu namanya minder inlander …”

Waktu saya rebahkan tubuh di sofa, lèyèh-lèyèh mau ngaso sebentar, saya masih ingat kesimpulan Mr. Rigen tentang sayur asêm-nya. Jangan-jangan dia benar. Jangan-jangan, … jangan asêm …..

Yogyakarta, 15 Agustus 1989

#) jangan (Jawa) = sayur masak pelengkap nasi

*) gambar dari en.wikipedia.org

Prestasi, Kroket dan Tiwikrama

kroket n risolesGARA-GARA tugas mondar-mandir, ngalor-ngidul, ngétan bali ngulon, terus bali ngalor-ngétan, terus bali bali ngidul-ngulon, sampai habis delapan penjuru angin saya jelajah sampai bosah-baséh, saya rasanya sudah lama sekali tidak bercanda sama dua ingon-ingon saya si Beni Prakosa, the incredible bêdhès dan si singa laut, the impossible Septian. Tahu-tahu begitu saja pada satu sore sang bêdhès nyêlonong mèpèt kursi saya. Saya tahu pasti ada targetnya. Di depan saya ada kroket dan risoles bikinan Sanitas, Semarang yang sêgêdhé-gêdhé granat.

“Kamu mau ini, to ?”

“Enggak.”

Dan dia masih terus meng-gubêl, mengitari kursi di depan saya.

“Kamu kêpingin yang lonjong-lonjong kayak granat itu, to ?”

“Eng-gak !”

Dan glibêtan-nya sêmangkin sêsêr.

“Kalau nggak mau ya sudah, out sana ! O-yu-ti, out !

Sang bêdhês lari ngiprit, tetapi saya tahu juga bahwa pasti sesampai di ambang pintu yang memisahkan dapur dan ruang dalam dia akan berhenti. Kepalanya di-tongol-kan.

“Pak Ageng, Pak Ageng !”

“Apa !”

“Saya sudah naik kelas nol besar, lho !”

“Aah, Pak Ageng sudah tahu. Kabar basi !”

Ning Pak Ageng rak belum tahu.”

Eh, tahu-tahu mak srêt anak itu sudah sampai di kursi saya lagi. Mulutnya di-pèpèt-kan ke telinga saya.

Dak beri tahu, ning yang lonjong-lonjong itu apa, sih ? Kuwéh, ya ?”

Saya pun ganti membisiki dia,

“Bu-kaan. Ra-cuunn !”

Kami pun tertawa terbahak bersama.

“Pak Ageng, mbok saya mintak sedikit saja. Kayaknya kok enak.”

“Memang enak. Ning prestasimu apa ? Enak saja mintak-mintak !”

“Saya ‘kan sudah naik kelas nol besar.”

Lha, kalau itu Pak Ageng sudah lama tahu. Kok kamu kayak priyagung-priyagung pusat saja, sih. Mengulang-ulang matur sama babé-nya kalau punya prestasi. Itu ‘kan kita semua sudah tahu semua. Yang baru dong, Ben. Ada prestasi yang baru nggak, yang sêgêr begitu, lho ?”

Waktu selesai bicara begitu, saya melongok ke belakang, ehh … di lincak sudah pada duduk Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan si singa laut Septian. Matanya tholo-tholo, ilêr-nya ngêcès, dlèwèran membasahi dadanya. Para pendukung Beni Prakosa ini kelihatan tegang mengikuti dialog kami. Kayak mengikuti lomba cerdas cermat antara SD Samas lawan SD Kadisobo saja. Dan betul saja, Mr. Rigen tidak sabar lagi melihat anaknya masih bengong. Ah, saya masih belum tahu, tapi dia sekolah di TK Indonesia Hebat itu. Sekolah calon jenius yang komplet itu.

“Ayo, . Ayo matur, matur. Ngomong sama Pak Ageng !”

Engko sik to, Pak. Tunggu dulu to, Pak. Aku ini lagi mikir.”

Jarinya diletakkan di bathuk-nya.

“Aku lagi mikir betul lho, Pak Ageng.”

“Ohh … dhapurmu ! Mikir, mikir. Apanya yang kamu pikir, Lé ?

“Itu lho, yang lonjong-lonjong coklat di meja itu, apa namanya ?”

“Oooo … itu to, yang kamu pikir. Dak kira kamu itu mikir prestasi. Tahunya sama saja dengan Bapaknya. Yang dipikir cuma makanan saja !”

Mr. Rigen meringis, Mrs. Nansiyem senyum-senyum tersipu.

Lha, wong namanya rakyat kecil lho, Pak. Kalau bukan makan apalagi yang dipikir to, Paakkk ?!”

Wis, ciloko tênan iki ! Dari dulu kok ya nggak maju-maju. Orang tidak makan roti alone. Orang itu ya mikir hiburan, ya mikir ekspansi ekonomi, ya ekspor non-migas, ya deregulasi, ya Pancasila, ya macam-macam gitu. Supaya kaya hidupnya.”

Mr. Rigen matanya kêtap-kêtip. Beni Prakosa masih mêndolo merenungi kroket dan risoles yang belum juga pindah ke tangannya.

“Lho, Pak. Yang makan roti itu siapa, lho ? Wong anak beranak makannya ya cuma nasi terus lho, Pak. Kok Bapak bilang roti êlun. Niku roti apa to, Pak. Roti kok bikin kaya ?”

Wéhh … sudah ! Sak rumah kok gêblêk semua. Apa enaknya dak istirahatkan dulu ke Praci kalian itu !”

Lalu Beni Prakosa meng-gêlibêt lagi.

“Pak Ageng, kelas nol besar itu angèl bangêt, lho ! Angèl bangêt. Sukar bangêt.”

Mosok ?

Eee … betul, Pak Ageng. Sekarang mana kuweh yang lonjong-lonjong itu !”
Elhoo … !

Ternyata bêdhès èlèk itu tahu juga makna prestasi. Ya lumayanlah. Maka sebagai pendidik yang konsekuen, saya pun memberi Beni satu kroket yang sêgêdhé granat. Dengan bangga kroket itu diperlihatkannya kepada bapak dan ibunya. Dan saya lihat dari kålåmênjing-nya, Mr. Rigen kêpingin juga. Tapi apa prestasinya ?

“Bapak mau kuwéh ‘kan ? Tidak sekolah kok mau kuwéh. Sekolah dulu, Pak.”
Huss … bocah cilik kurang ajar sama orangtua !”

Kami semua kaget mendengar bentakan Mr. Rigen sedahsyat itu. Ada apa dia ?

Lé, dak beri tahu, ya ! Kowé itu baru kelas nol besar. Ojo kêmênthus kowé ! Kalau kamu sudah kayak Pak Profésok Lemahamba, pintêr dan lêmahnya åmbå-åmbå, boleh kamu berlagak. Sekarang baru sak prêcil, pintêr-nya juga baru sak prêcil, sudah berani ngênyèk wongtuwå, ya !”

Wah, gawat ini, pikir saya. Mr. Rigen lagi tiwikråmå.

“Ayo, sini kroketnya ! Dibagi buat kita semua !”

Dan sekali renggut, kroket Sanitas itu sudah berpindah ke tangan Mr. Rigen. Edyan tenan ! Mr. Rigen jagoan Pracimantoro itu tiwikråmå tênan.

Yogyakarta, 8 Agustus 1989

*) gambar dari food.detik.com

Bima, Oh, Bima (Biru Malam)

ka bimaMALAM itu saya harus naik kereta api Bima dari Cirebon ke Yogya. Dengan gagah saya menolak tawaran kawan untuk pulang saja ke Jakarta naik mobilnya yang mewah ber-AC dan pulang ke Yogya keesokan harinya dengan pesawat Garuda, yang cuma makan waktu kurang lebih lima puluh menit. Dengan Bima, perjalanan ke Yogya akan ditempuh dalam waktu enam jam. Itu pun kalau tidak terlambat, kata kawan saya itu. Sekali lagi dengan gagah ditambah dengan senyuman penuh kepastian, saya tolak bujukan kawan saya itu. Dalam hati saya ngunandikå,

“Ah, … dia tidak tahu bagaimana nikmat dan romantisnya naik kereta api Bima itu.”

Dahulu, pada waktu saya sinêngkakaké ing ngaluhur, diorbitkan ke atas menjadi priyagung yang disebut direktur jenderal, boleh dikata saya puas naik Bima. Lha, bagaimana tidak ?! Garuda sedang sakit-sakitan dan melarat-melaratnya. Pesawat hanya Corvair dan Dakota. Keberangkatannya pun tidak menentu. Padahal saya harus banyak meninjau daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lha, kalau tergantung Garuda ‘kan cilåkå ! Maka Bima adalah pilihan satu-satunya.

Ketika itu gerbong-gerbong Bima masih baru kinyis-kinyis, bikinan Jerman Timur. Bisa disulap menjadi kompartemen tidur yang nyaman sekali. Untuk kelas utama bahkan ada bak tempat cuci muka lengkap dengan handuk putih bersih, sabun dan air hangat. Lagu-lagu yang diputar pun juga pas. Ketika meninggalkan Jakarta, lagunya ‘Jali-Jali’. Menjelang masuk Surabaya, lagunya ‘Surabaya’, yang dilantunkan oleh Dara Puspita. Menggugah dan menyuruh penumpang untuk bersiap-siap. Dan suara announcer, penyiar, wanita yang merdu dan canggih penguasaan bahasa Indonesia dan Inggrisnya, sewaktu-waktu akan terdengar memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan. Setiap berhenti di satu kota tujuan, pintu kompartemen pun akan diketok dan pramugari atau pramugara dengan sopannya memberi tahu kita bahwa kota tujuan kita sudah dekat. Pada waktu tengah malam begitu kadang-kadang saya terbangun, gorden jendela saya buka, pohon-pohon dan rumah-rumah kelihatan berlari dalam keremangan malam. Suara lokomotif di rel yang terawat baik itu mendesau merdu.

Saat-saat begitu benar-benar terasa suasana adem, tenteram, aman dan memberi makna yang romantis kepada nama kereta api yang biru malam itu. Ah, … dengan nostalgia seperti itulah saya bersiap-siap menaiki Bima dari Cirebon ke Yogya.

Waktu suara jès-jès-jès disel Bima itu terlihat memasuki stasiun Cirebon, eh, hati ini berdegup, lho. Kayak menunggu kedatangan pacar yang sudah lama tidak ketemu malam itu. Saya segera berlari mencari kompartemen saya. ‘Biru Malam, Biru Malam ! Ini aku datang, bukakan kompartemenmu. Aku siap mendobrakmu, mengoyakmu, menidurimu, membuka gordenmu, menatap bintang-bintangmu, mendengar desau diselmu, suara pramugarimu … dear passengers… Semua, semua milikmu yang mengagumkan itu.’ Lho, pintunya yang mana, sih ? Lho, pramugari dan pramugara yang siap berdiri di tangga menunjukkan kompartemen kita di mana, sih ?

Sesudah lora-lari ke sana ke mari, mencoba mencari pintu yang terbuka, akhirnya saya temukan juga satu pintu yang agak terbuka. Dengan susah payah saya masuk ke gerbong tempat duduk yang umpêl-umpêlan diduduki segala macam orang. Sebagian malah sudah bersiap-siap tidur dengan menggelar koran di lantai.

Wah, hampir tidak percaya saya ! Masak iya ini Bima-ku yang indah dan romantis itu ? Jangan-jangan saya keliru sêpur trutuk yang di setiap stasiun berhenti setengah hingga satu jam itu. Melihat gelagatnya kok mèmpêr betul dengan sêpur begitu. Orang jualan pun sudah berlompatan masuk dan dengan semangat kompetisi yang dahsyat. Kacang-kacang, dodol-dodol, nasi bungkus-nasi bungkus dan entah apa lagi.

Akhirnya saya temukan gerbong dan kursi tempat duduk saya yang ternyata berada di sudut dekat pintu dan WC. Waktu akhirnya Bima itu berlari, hilang sudah harapanku yang sudah saya setel sesuai dengan nostalgiaku. WC itu, pintunya terbuka terus dan baunya pesing bin pesing. Pintu yang ada di bordes, masya Allah, sêparo sudah jebol dan diganti, ditambal dengan potongan bambu. Mungkin insinyur yang mengawasi perbaikan pintu dan gerbong kereta api itu punya hobi membuat kandang ayam.

Tidak ada malam yang biru atau biru yang malam. Bahkan rasanya bintang-bintang, cuwilan bulan, pepohonan dan rumah-rumah pun ikut solider dengan pintu bordes yang berwajah kandang ayam itu. Tidak tampak apa pun. Maka, malam itu dengan AC yang tidak jalan, keringat yang berliter-liter, baju yang basah kèplèh, saya mencoba tidur. Tentu saja tidak bisa.

Untunglah (kapan sih, orang Indonesia tidak untung ?) Bima masuk stasiun Tugu hampir tepat waktu. Saya lihat Mr. Rigen dengan mata yang sudah sipit tetapi merah, menunggu di pintu keluar stasiun. Begitu menghirup segarnya udara subuh atau hampir subuh di Yogya, saya langsung merasa kêpingin sarapan subuh dengan nasi gudeg.

“Mr. Rigen, kita langsung ke gudeg Bu Mul dan wédang jahé Bu Amat dulu !”

“Lho, ini jam setengah tiga pagi, Pak. Mau dhahar sarapan ?”

“Ha, iya. Lapêr dan kêmropok, jéé !

Kêmropok pripun ? Wong naik sêpur Bima yang dahsyat kok kêmropok ?

“Sudahlah. Nanti kalau kita sudah di gudeg Bu Mul dak critani.”

Dan kemudian sembari makan gudeg Bu Mul yang sesungguhnya rådå sangit tetapi pada malam itu terasa nikmat sekali, saya melapor kepada dirjen saya yang bernama Mr. Rigen. Saya melaporkan tentang bagaimana saya kêtulå-tulå, terlunta-lunta, disia-sia oleh kereta api Bima. Sehabis cerita, saya tatap muka Mr. Rigen yang sedang asyik me-ngêlamuti paha ayamnya. Saya tunggu dengan sabar sampai sisa-sisa daging di pinggiran balung itu habis ludes.

Dan Mr. Rigen tampaknya sadar betul kalau boss-nya sesungguhnya sedang mendambakan komentarnya. Sesudah selesai makan dia minta kobokan. Dicucinya jari jemarinya yang belepot daging dan santên. Kemudian di-sruput-nya teh jahenya. Baru kemudian mulai ngomong dengan ngglêgês. Wah, cilåkå. Kalau tokoh Pracimantoro sudah menyusun bibirnya dengan glêgêsan begitu, pertanda gawat, nih.

Ngètên lho, Pak. Begini lho, Pak. Bapak itu sering membingungkan saya.”

“Lho, membingungkan bagaimana ?”

“Kadang-kadang jaan saya terheran-heran betul. Wong Bapak itu menurut saya tidak pernah kekurangan paringan rahmat Gusti Allah, lho. Lha, kadang-kadang kok masih belum mensyukuri itu semua. Lha, wong baru diêngkuk-êngkuk dan diciprati bau pesing kereta api Bima begitu saja kok bolehnya dukå dan sambat ngaru-årå kayak sudah mau dibuang ke Nusakambangan.”

Hussy, dhapurmu, Geenn, Gen ! Lha, menurut kamu, apa hak kita rakyat Indonesia tidak disepelekan sama PJKA. Karcis itu kita bayar, Gen. Dijanjikan pakai AC. Dan dulu Bima itu pernah bagus sekali melayani rakyat. Lha, sekarang kok merosot ora karu-karuan itu terus piyé ?!

“Lho, ning yang namanya rakyat itu ‘kan ya sênêng saja to naik sêpur itu ? Buktinya rakyat itu masih sênêng naik sêpur begitu kok, Pak.”

Wéé … lha, Gen. Kowe itu mau saya critani tentang hak kamu yang dikentuti kok malah nrimo, lho ?”

Ha, ênggih nrimo to, Pak. Sudah bagus ada kereta api buat kita semua yang masih jalan. Coba kalau Bima itu tidak jalan, terus Bapak mau pulang dari Cirebon naik apa, hayoo ?”

Saya tidak berani meneruskan percakapan lagi. Mr. Rigen sudah mengejawantahkan dirinya jadi rakyat Mataram sejati. Terus mau diajak demokrasi dan keterbukaan yang bagaimana kalau dia sudah begitu ?
Eh, … omong-omong tentang keterbukaan, ada empat syaratnya. Satu …..

Yogyakarta, 1 Agustus 1989

*) gambar dari kaskus.co.id

Linggardjati

gedung linggarjatiKARENA urusan saya di Cirebon bisa selesai hanya dalam waktu dua jam saja, saya diajak oleh tuan rumah untuk bertamasya ke Linggardjati. Saya menerima ajakan itu dengan senang hati. Kereta api Bima ke Surabaya lewat Yogya baru akan datang pukul setengah delapan malam. Jadi masih ada tujuh jam untuk mengisi waktu dan Linggardjati memang tempat historis yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi.

Kami sengaja lewat jalan memutar gunung Cerme, lewat Majalengka dan Kuningan. Jalan berkelok-kelok, naik dan turun, sawah-sawah, kebun-kebun dan desa-desa yang agaknya tidak sepadat desa-desa Jawa Tengah. Tetapi semua panorama yang indah dan mendebarkan hati itu hanya sebentar saja tergores bagaikan kartu bergambar.

Kemudian pemandangan mengabur dan berganti ke Yogya pada tahun-tahun revolusi. Pada waktu itu saya baru duduk di kelas satu SMA, kira-kira baru berumur 14-15 tahun. Suasana Yogya sebagai ibukota revolusi selalu hangat, revolusioner, emosional dan selalu siap untuk bergerak menuju perkembangan yang entah bagaimana jadinya. Setidaknya itulah persepsi saya tentang suasana waktu itu.

Kami di sekolah boleh dikatakan hanya lima puluh persen belajar. Selebihnya kami pakai untuk bermacam-macam aktivitas. Berangkat ke front, pulang dari front, mencatut beras, barang lux dari garis perbatasan. Di sekolah, di antara pelajaran, kami berdebat tentang revolusi, tentang nasib republik.

Pada waktu perundingan antara republik dan Belanda di Linggardjati itu, saya ingat, kami sekelas berdebat dengan sengitnya tentang peristiwa itu. Kelas kami terbelah dalam dua kubu. Kubu yang bersimpati dengan Persatoean Perdjoeangan dan kubu yang bersimpati dengan Sayap Kiri. Kalau dilihat dari sudut pandangan sekarang, komposisi dua kubu itu jadi sangat aneh. Persatoean Perdjoeangan terdiri dari kelompok oposisi yang mencakup unsur-unsur Masjoemi (Islam), PNI (Nasionalis) dan Moerba (Marxis Trotskyist). Sedang Sayap Kiri adalah kelompok pendukung pemerintah yang mencakup unsur-unsur Partai Sosialis, Partai Buruh dan PKI (yang semuanya adalah partai Marxis).

Pada waktu itu Partai Sosialis belum pecah dan PKI belum diambil alih oleh Muso. Pada pokoknya kelompok Persatoean Perdjoeangan cenderung tidak mau berunding dan berkompromi dengan Belanda. Sedangkan Sayap Kiri yang dipimpin Partai Sosialis memilih jalan berdiplomasi dan berperang. Maka Persatoean Perdjoeangan menolak Linggardjati dan Sayap Kiri yang memerintah tentu saja merestui Linggardjati. Begitulah kami, murid-murid SMA yang baru berumur antara 14-16 tahun, sudah “berpolitik tinggi” ikut ngotot-ngototan tentang Linggardjati. Saya ingat memilih setuju dengan Linggardjati.

“Kamu goblok setuju dengan Linggardjati. Kita dikibuli Belanda dengan mau menerima Sumatra, Jawa dan Madura saja sebagai wilayah republik. Seharusnya kita tolak itu dan terus berperang saja dengan Belanda !”

“Kamu yang goblok bin bénto. Kita perlu adêm-pause, istirahat untuk ambil nafas dalam perjuangan. Lawan kita itu Belanda dan Inggris, lho. Kalau tidak diselang-seling dengan rundingan, kita bisa digebuk terus. Sambil berunding, berdamai sebentar, kita himpun kekuatan dari sana-sini.”

“Ahh, kalian tidak tahu teori revolusi. Revolusi itu tidak tahu ngaso. Harus gebuk terus sampai lawan bertekuk lutut !”

Ayakk, kok bolehnya seru ngomongnya. Gêbak-gêbuk, gêbak-gêbuk. Kalau tahu-tahu kita mrèthèli semua karena senjata kita yang sedikit itu habis dan belum sempat bikin teman dari luar negeri bagaimana, hayoo ?”

“Nah, itu tandanya orang tidak percaya kepada kekuatan sendiri. Ayoo … gebuk terus, Bung !”

Ahh, tahun-tahun yang begitu menegangkan, bergelora, emosional, tetapi juga romantis dan manis. Ke mana saja “lawan-lawan” saya itu sekarang ? Yang kiri, yang kanan, yang tengah, yang pinggir, yang ekstrem, yang lunak. Ahh … anak-anak kucing yang dikarbit revolusi menjadi macan-macan yang galak.

Tahu-tahu mobil kami sudah sampai di depan gedung tempat perundingan di Linggardjati. Tempat itu terletak di bukit, sejuk, indah tetapi lengang. Hanya seorang penjaga yang sudah berambut putih menyambut dan memandu kami. Saksi hidup yang tinggal sedikit, yang masih ingat peristiwa itu dengan baik.

“Di sini pan Muuk, Skemerhoren dan Belanda lainnya tidur. Lha, yang kamar itu Bung Sahrir, Mester Rum. Pak Santo, Amir Saripudin, Ali Budi tempat lain.”

Lha, Bung Karno dan Bung Hatta ? Di mana beliau-beliau itu tidur ?”

“Ohh, di Cirebon, di Kabupaten. Waktu itu Cirebon masih republik, Pak.”

“Lha, yang di kamar itu ?”

“Oh, itu buat bule Inggris jangkung yang bernama Lored Kileren. Wah, saya ingat ikut kerepotan cari tempat tidur yang cocok buat dia.”

Kami berkeliling di antara ruangan-ruangan itu. Delegasi kita yang begitu muda-muda, dan alangkah kecilnya yang bernama Soetan Sjahrir, perdana menteri republik yang konon cemerlang itu. Dan alangkah nglomprot-nya, kumelnya, baju-baju mereka dibandingkan dengan lawan-lawan mereka yang berbaju necis berdasi.

Sjahrir berjas dan berdasi hanya pada waktu pembukaan dan penutupan. Selebihnya sak énak wudêl mereka sendiri pakaiannya. Hanya Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai presiden dan wakil presiden, yang kelihatan berpakaian lengkap dan necis. Bung Karno, dalam potret-potret itu, bahkan kelihatan keren banget. Pakai tuxedo, celana panjang hitam, jas putih, dasi kupu putih dan itu dipakai di satu vila, di satu desa, di atas bukit terpencil. Edan tênan presiden kita itu. Dan ngganthêng-nya juga tidak ketulungan.

Ruangan serta perabotan untuk perundingan itu alangkah sempit dan sederhananya. Sekali lagi kami berkeliling mengamati foto-foto peristiwa itu. Bung Kecil, Adnan Kapau Gani dengan topi koboi lebar, Amir Sjarifudin dengan kaos putih saja (dan dalam dua tahun saja sesudah itu ikut PKI Muso, berontak di Madiun) dan prajurit-prajurit kita yang waktu itu masih bernama Tentara Keamanan Rakjat dengan celana yang kedodoran, peci miring, karaben kuno, dengan gagah mengawal perundingan itu. Ahh, … para bapak pendiri republik kita yang kanan, yang kiri, yang tengah, yang ekstrem, yang moderat, yang pinggir, tetapi juga penuh pengabdian itu.

Dalam perjalanan pulang, saya sekali lagi terbayang kelas di SMA, di Jalan Pakem, Yogya itu. Hiruk-pikuk mereka, ngotot mereka, celana-celana mereka yang berwarna tidak kongkret karena sudah luntur wèntêran-nya. Dan juga sesudah itu hiruk-pikuk anak saya, si Gendut, yang beberapa waktu lalu ramai berdebat di rumah Cipinang, dengan teman-teman mereka se-fakultas. Generasi muda yang berumur antara 20-21 tahun. Mereka saling ngotot berdebat tentang tragedi Waduk Kedungombo, untuk kemudian melompat tentang sepatu Nike, kaos Esprit yang sudah buka toko di Ratu Plasa, reuni SMA mereka yang akan diadakan di mana tahun ini dan akhirnya mengeluh mengapa pada hari sial itu bakso dan es buah langganan si Gendut tidak kunjung lewat …

Revolusi (memang) sudah selesai, kata Bung Hatta.

Yogyakarta, 25 Juli 1989

*) gambar dari museumindonesia.com

To Bali with Nya – Nya – Nya …

Lukisan Tarian BaliAIRBUS yang besar itu penuh penumpang. Nyaris semuanya turis Itali. Bisingnya bukan main. Bahasa spageti yang melodius itu serasa belum cukup seru mereka kemukakan. Maka tangan-tangan mereka pun ikut ambil bagian, menggaris bawahi suara-suara yang berlompatan keluar dari mulut mereka.

Sepuluh atau mungkin lima belas tahun yang lalu (wah, sudah begitu lamakah ?) saya juga pernah berada dalam satu pesawat Garuda dengan turis-turis Itali antara Roma dan Singapura. Juga bising begitu. Tangannya juga berlomba-lomba meraih ke atas bagaikan penari kecak (apa sejak zaman Romawi kuno mereka sudah begitu ?).

Ternyata ada sedikit perbedaan dalam pengalaman dengan mereka antara dulu dan sekarang. Dulu setiap pramugari mengucapkan lewat mike,

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya …..”

Mereka bersorak, tertawa terpingkal-pingkal, sembari menirukan “nyonya-nyonya” dengan “nya-nya-nya, nya-nya-nya”. Mungkin bagi telinga mereka, suara “nya-nya-nya” itu begitu lucunya.

Tapi, sekarang suara “nyonya-nyonya” itu agaknya sudah tidak kedengaran aneh lagi bagi mereka. Buktinya ada beberapa kali pramugari kita menyebut kata tersebut, namun tidak seorang pun dari para turis Itali itu yang menirukan dan menertawakannya. Menggubris pun tidak ! Dengan asyiknya mengobrol dan mengobrol sembari tangan mereka ber-sliwêran ke kiri dan kanan.

Untuk mengenang peristiwa yang sudah lama sekali berlalu itu, saya berniat membalaskan dendam para pramugari Garuda yang dulu pernah mereka tertawakan dengan “nya-nya-nya, nya-nya-nya”. Saya mengucapkan,

Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji,”

setiap saya melihat tangan mereka ber-sliwêran ke atas, kiri dan kanan. Tentu saja mereka tidak mendengar permainan kecak saya. Saya balaskan dendam penghinaan kepada pramugari dan bangsa saya di dalam hati saja. Mau keras-keras saya lampiaskan, terbayang muka Pak Susilo Sudarman yang merah simpatik itu mewejang kita tentang pentingnya Sapta Pesona.

Ke Bali lagi. Kali ini berangkat dari Jakarta langsung ke Den Pasar tanpa harus singgah dulu di Yogya. Sekali lagi, saya terlunta-lunta dari satu seminar ke seminar yang lain. Untuk mencegah ke-anyêl-an saya mendengar bisingnya suara para turis yang sangat menjengkelkan, tetapi juga sangat kita butuhkan (kantongnya) itu, saya buka percakapan dengan turis yang duduk di samping saya.

“Kalian turis-turis ini kerja apa ya, di negeri kalian ?”

Sang turis yang nggantêng bagai Marcello Mastroiani itu agak terkejut juga mendengar ada pribumi berani-beraninya bertanya mengganggu kegembiraan mereka berdua. Tetapi kemudian dia menjawab dengan senyuman yang lebar. Mungkin itu tanda pertama dari kehangatan mediteranean yang tersohor itu.

“Kami pegawai-pegawai kantoran. And you ?

“Ah, … saya guru universitas lokal saja di Jawa.”

“Ah, … profesor, ya ? Kamu suka melancong juga seperti kami ?”

“Ya. Tapi cuma bisa dekat-dekat sini saja.”

“Oh, ya ? Ke mana misalnya ?”

Wah, cilaka ini ! Kok jadinya dia yang mengambil alih inisiatif menginterogasi. Saya jadi ingat ajaran kawan saya seorang perwira intel yang baru saja pensiun itu. Kalau kamu keserobot inisiatif ganti diinterogasi, kau harus cepat gertak.

“Ke Bantool, Sleman, Gunoong Quidoll dan beberapa tempat lainnya.”

Wah, cilaka lagi ini ! Ini teknik menggertak atau dagelan kepepet ?

“Wah, kota-kota mana itu ? Kok kami tidak lihat di peta ? Dan pemandu rombongan perjalanan kami kok nggak cerita apa-apa tentang kota-kota itu ! Pasti bagus ya, tempat-tempat itu ?

Si, si, si, signor. Prego, signor. Kapan-kapan you must come there, si !

“Apakah di kota-kota itu banyak cewek yang cantik-cantik seperti konon di Bali ?”

“Oh, si, si, si. Wanita di situ bella-figura semua deh … “

Saya tidak berani meneruskan ngomong sok Itali dengan mengobral si, si, si lagi, meskipun itu bisa dimasukkan dalam salah satu Sapta Pesona itu. Bukan apa-apa, soalnya flu saya itu lho ! Hidung saya sudah mau mèlèr, sêntlap-sêntlup. Kalau mau terus sok Itali dengan si,si,si, saya sendiri memang kudu sisi (buang ingus). Toh, kemudian saya teruskan bertanya.

“Kalian itu buang-buang duit untuk pergi jauh begini dari Roma yang begitu cantik dan hebat. Yang kalian mau cari itu apa, sih ?”

Ah, saya tahu itu pertanyaan klise pariwisata. Tetapi biar saja. Jawaban pasti klise juga. Ning Pak Joop Ave dan Pak Susilo Sudarman rak senang mendengarnya.

“Lha, Roma yang menurut kamu cantik dan hebat itu tiap pagi dan sore pada hari kerja sudah saya injak-injak sampai bosan. Kalau dua tahun begitu terus, bisa krêg (!), ambrol dong, kepala saya. Makanya saya kudu menabung dan menabung selama dua tahun supaya bisa lari dari Roma. Terus, apa yang saya cari di Bali ? Ya tidak tahu ! Menurut brosur wisata, hebat. Menurut film, dahsyat dan menggiurkan. Pokoknya yang penting lain, to ?”

Saya mengangguk-angguk. Biangané ! Trèmbèlané ! Wong mênus klèrêk kantoran saja kok dua tahun sekali bisa melancong keliling jagad, lho. Begitu kayakah negara-negara barat itu ?

Pramugari memberi tahu bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di Ngurah Rai. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya … Para turis itu sêmangkin riuh melihat ke jendela. Tangannya ber-sliwêran lagi. Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji !

Waktu taksi saya lewat Kuta, saya terkejut. Tampangnya sudah sêmangkin mirip dengan suburbia di mana saja. Toko-toko yang gumêbyar, supermarket, Kentucky Chicken, Burger King, Pizza Hut plus free Coke dan poster yang memberi tahu bahwa sebentar lagi akan ada kontes rock-dancing. Wah, semoga signor Marcello Mastroiani-ku tadi masih melihat yang berbeda dari Roma di Bali.

Nya-nya-nya, nya-nya-nya. Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji. Sapta Pesona …

Yogyakarta, 18 Juli 1989

*) gambar dari blog-senirupa.tumblr.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 349 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: