Saya Mengaku …

Sumpah-PemudaKOK kebetulan, lho, kemarin sore ada dua tamu yang terdampar di rumah saya. Yang satu adalah kakanda Dr. Legowo Prasodjo yang selalu jatmiko itu, dan yang seorang lagi adalah Pak Joyoboyo yang penjaja ayam panggang Klaten. Saya katakan “terdampar” karena mereka datang pada jam yang paling impossible buat orang bertamu, yaitu pada pukul 15.30. Waktu hari masih panas dan pada sebagian besar para priyayi di wilayah kami sedang enak ber-siesta alias tidur siang. Dan yang paling penting, pada waktu persediaan makan siang habis dan pada waktu orang sedang malas-malasnya membeli jajan makanan. Lantas, apa hubungan antara dua tamu “impossible” saya itu ? Begini !

“He, priyayi ! Bangun !”

Saya pun lantas gragapan bangun. Saya segera mengenali suara tokoh idola saya itu. Tokoh langka yang mungkin hanya satu di antara satu juta manusia.Tokoh yang tidak bingung melihat rekan-rekannya mulai mengganti mobil mereka menjadi BMW, Mercy Bulldog dan tanpa kêdêr terus menaiki Honda bebeknya dengan irama dangdut.

“Wah, Mas. Sampai gragapan lho, saya. Ada apa, ada apa, Mas ?”

“Oh, Allah … kamu itu bagaimana. Aku ini mengalami hari sial. Mana aku harus lembur di lab sampai jam segini. Eh, … rantang makan siang dari mBakyu-mu ketinggalan. Mana mau jajan, eh … mBakyu-mu lupa ngisi duit ke dalam dompetku yang sudah kosong. Mau minta traktir atau ngutang sama siapa ? Mosok sama pesuruh atau satpam ? Yang bênêr saja ! Dus …

Dus ?

Dus-mu itu ! Ya lapar, dong, aku ! Ayo … cepetan, Mr. Rigen-mu suruh menyiapkan makan siang, eh … sore, ding.”

Mati aku ! Orang yang tidak pernah menuntut dalam hidup ini sekarang dalam keadaan desperate, hilang akal, karena kelaparan. Dan mati aku, persediaan makan siangku habis lagi ! Nah, pada saat krisis itulah datang sang dewa penyelamat.

Pènggèng èyèm, pènggèng èyèm …. !

Wah, aneh betul ? Pak Joyoboyo datang pada jam segitu sore. Apa tidak keliru dia ?

“Wah, Pak Ageng. Kêtiwasan, … kêtiwasan ….

Saya lihat keringatnya dlèwèran, meleleh bah seantero leher.

“Tenang, … tenang, Mas Joyo. Kêtiwasan pripun ? Gen, ambilkan dulu minum banyu putih sobat kita ini !”

Pak Joyo segera membuka ténong-nya dan tampak jelaslah bahwa masih banyak dhådhå mênthok, tépong dan sate usus masih menumpuk dengan rapinya. Kalau Pak Joyoboyo gelap gulita pandangannya, saya malah jadi terang benderang. Saya menemukan jalan keluar buat makan siang Dr. Legowo Prasodjo yang terlambat dan sekaligus jalan keluar buat kemacetan jualan Pak Joyo.

“Geen, Mr. Rigen !”

Yess, inggih !

“Cepetan pindahkan glundhungan dhådhå mênthok dan tépong ini ke piring, lantas atur di meja. Di-tåtå dhahar-nya !”

Dengan sekali sebat Mr. Rigen melaksanakan perintah saya dengan efisien. Waktu saya duduk menemani Mas Prasodjo, dia tidak segera mulai makan. Saya agak heran mengingat sambat-nya yang sampai merintih. Kemudian dia angkat bicara.

“Ada yang kurang di sini, Geng.”

“Lho, apa yang kurang, Mas ?”

“Teman makan.”

Lha, saya ‘kan sudah duduk di sini to, Mas.”

“Tapi kamu sudah tidak kuat makan lagi, to ? Maksud saya teman yang ikut makan betulan sama saya di sini.”

Wah, cilåkå ini ! Lha, saya mesti cari teman makan itu di mana ? Saya lihat mata Mas Prasodjo yang legowo itu memandang Pak Joyo dengan ramah.

“Mas Joyo !”

Pak Joyo yang sedang ngukuti dagangannya terkejut dipanggil Dr. Legowo Prasodjo, nggak sari-sarinya

Nun, kulo, Pak Doktor.”

“Saya berani taruhan sama sampéyan. Sampéyan rak belum makan siang, to ?”

“Su – sudah, Pak Doktor.”

Mbèl ! Paling cuma wédang kopi dan nyamikan saja. Ya, to ?!”

Lha, iya, Pak Doktor. Wong hari ini hari prihatin. Tapi sebentar lagi saya jajan segå jangan di ujung jalan itu, wong sudah diborong sama Pak Ageng.”

“Daripada dipakai jalan ke sana, mbok makan di sini saja, nemani saya. Monggo, … monggo, Pak Joyo. Awas lho, Geng. Kalau kamu nggak mengijinkan ! Dak gibêng, kamu !”

Saya gêlagapan. Mungkin lebih dari terkejut daripada tidak setuju.

“Oh, … oh … oh … boleh, boleh saja. Monggo. Geen … piringnya satu lagi buat Mas Joyooo !”

Mr. Rigen datang dengan wajah terheran-heran. Begitu juga Beni Prakosa yang baru bangun tidur siang. Mengucek-ucek matanya.

Kagêm sintên, Pak ?”

“Buat Mas Joyo. Ayo, cepetan !”

Mr. Rigen dengan sedikit melongo menyiapkan piring dan sebagainya buat Mas Joyo yang dengan malu-malu duduk di depan Dr. Legowo Prasodjo.

Monggo, Mas Joyo. Dimulai makannya. Sing rahap, nggih !

Begitulah, Dr. Legowo Prasodjo mulai memberi aba-aba kepada partner late-late lunch-nya itu. Setiap kali Mas Joyo kurang agresif mencuil ayam, dengan ramah dan penuh gusto doktor kita merobek-robek dhådhå mênthok dan memindahkannya ke piring Mas Joyo.

Adegan lunch yang unik itu pun selesai. Pak Joyo, mungkin untuk menghindari kerepotan-kerepotan lain, segera mohon diri. Dan tidak lama kemudian, sesudah minum kopi dan bersendawa ‘hoèèkk’ yang agak melodius, Dr. Legowo Prasodjo pun minta diri pula. Ditepuk perutnya, kemudian juga bahuku.

“Terima kasih, ya. Good lunch !

Dan Honda bebek yang legendaris itu pun distarter beberapa kali, èjlèk-èjlèk-èjlèk dan howèr-howèr-howèr, mulai menjauh ke rumahnya di bagian selatan kota. Untuk ke sekian kali saya merasa diajari oleh Kangmas Legowo Prasodjo itu. Pasti adegan lunch itu bukan adegan untuk aksi-aksian dia yang sok merakyat. Kalau itu terjadi dengan Prof. Lemahamba mungkin aka nada perhitungan-perhitungan tertentu. Untuk jadi sekjen Golkar, misalnya. Tetapi, doktor nyentrik yang bernama Legowo Prasodjo itu nyentriknya, nyentrik yang wajar saja.

Mungkin dia hanya mau mengingatkan saya pada hari-hari kita ingat Sumpah Pemuda itu, kita masih terus solider sama rakyat kecil. Rakyat kecil yang sering kali terlambat, bahkan kelupaan, makan siang atau makan malam atau bahkan makan sepanjang hari.

Tetapi, ah … apa saya yang jadi bombastis bin keliwat sentimental, nih ? Rakyat kecil ? Siapa mereka ? Saya tidak tahu. Dalam perjalanan ke tempat tidur, untuk meneruskan tidur sore saya yang terputus itu. Di tempat tidur, waktu menerawang ke langit-langit, kok tidak kunjung muncul profil rakyat kecil itu. Sebaliknya muncul segepok, sederet wong ayu-ayu yang memegang gaun temanten dari kain satin halus, indah, sepanjang 200 meter …..

Saya mengaku berbangsa satu, saya mengaku bertanah air satu, saya mengaku berbahasa satu, saya mengaku, saya mengaku, saya menga …..

Yogyakarta, 31 Oktober 1989

*) gambar dari sidomi.com

Biskuit

biskuitHARI Minggu sore yang lalu, saya pergi memenuhi undangan Prof. DR. Lemahamba M.Sc., M.Ed., etc, etc, untuk dolan rêriungan di rumahnya.

Why don’t you come to tea this Sunday ?” kata Bu Lemahamba dengan aksen British yang dikental-kentalkan. Terutama pada waktu mengatakan “tea”. Lidahnya digulung begitu rupa sehingga kata itu jadi kedengaran elok sekali “ttiiia”. Padahal coba kalau beliau mengatakan itu dalam bahasa Indonesia Yogya.

Ha, mbok njênêngan itu rawuh ngunjuk teh hari Minggu ini di rumah kami !”

Lha, … ‘kan lain efeknya di telinga Yogya ini. Tapi, ya sudah ! Wong the vast soils itu senangnya main british-britishan, kok. Mau diapakan lagi. Tur, demokrasi Pancasila, GBHN dan UUD ’45 itu menjamin kebebasan berbicara ! Mosok ngomong coro Inggris saja tidak boleh. Jênèh keterlaluan tênan !

Begitulah, saya datang sore itu dengan jip legendaris saya. Glodak-glodak, glodak-glodak … !

“Nahh, rak begitu ! You should come sering-sering here. After all njênêngan itu rak koleganya kåncå jalêr !

“Waahh … matur nuwun, Buu.”

Dan kami pun lantas duduk di teras sambil melihat lawn, halaman rumput mereka yang bagaikan padang golf mini. Begitu halus mulus rerumputan hijau itu.

“Enakan di sini. Udaranya fresh dan bisa lihat orang wira-wiri di jalan.”

Memang waktu duduk terasa udara yang fresh itu. Dan, eh, … betul juga orang memang wira-wiri di jalan. Kemudian sang pembantu datang membawa tea alias teh yang dijanjikan itu beserta uba rampé-nya yang lengkap. Ada assorted biscuits Verkade made in Holland, ada Jacobs crackers made in England dan ada lagi assorted biscuits Danish dari Denemarken.

Monggo, monggo, Pak Ageng. Dipun kêdapi sêdåyå. Kalau cara Betawi, mari sampèkan, sampèkan …

Saya mengangguk-angguk, masih takjub melihat hidangan biskuit yang tergelar di hadapan saya itu. Begitu wah ! Juga tehnya, … nyuuuss ! Pas betulnya sêpêt-sêpêtnya. Tidak kelewatan sêpêt, tidak kelewatan cuwèr. Mungkin karena masih clingak-clinguk tidak segera menyambar biskuit yang tergelar itu, nyonya rumah yang ramah itu segera menegur saya lagi,

Monggo to, Pak. Monggo. Jangan malu-malu, ahh … ! Atau, oohh … khawatir to kalau biskuit ini mengandung racun. Ditanggung bebas racun, Pak. Free from poisonta sudah ! Biskuit kami semua origineel, original, orisinil. Semuanya impor langsung dari toko-toko luar negeri. Monggo, monggo !

Saya tersenyum melihat dan mendengar keramahan nyonya rumah itu. Begitu canggih, begitu articulate, begitu micårå. Saya merasa bersalah sering meledek kecenderungan gaya priyayi. Wong ya kalau didengar dan dipandang juga begitu, begitu bolehnya pas, ngês, begitu priyayi, lho ! Dan ketika saya mulai me-ngrêmus salah satu biskuit itu mak krêpyêk, memang enak betul ! Saya lihat Bu Lemahamba melihat saya dengan penuh perhatian, sedang professor kita ikut senyum-senyum.

“Bagaimana, Pak Ageng ? Lain to dengan biskuit-biskuit bikinan sini. Bahkan yang asemblingan sini juga tidak seenak ini.”

“Wah, memang sungguh mak nyuuss, Bu. Hebat !”

Kami pun lantas omong ngalor-ngidul sembari ber-krêpyêk-krêpyêk me-ngrêmus biskuit luar negeri itu.

“Wah, Bu, while kita makan biskuit enak ini, I feel guilty, lho.”

“Lho, guilty bagaimana to, Pak Ageng ?”

Ha, ênggih to, Bu. Kita enak-enakan di sini makan biskuit, anak-anak kampung makan biskuit local pada mati.”

Pasangan suami-istri itu berpandangan, kemudian manthuk-manthuk, mengangguk-angguk. Kemudian mereka pun meraih satu, dua biskuit dari kaleng Verkade dan Danish. Nyuuusss … krêpyêk, krêpyêk, krêpyêk, krêpyêk. Akhirnya Prof. DR. Lemahamba M.Sc, etc, etc, yang sejak tadi cuma senyum-senyum saja mulai mêdhar sabdå.

“Geng, don’t be naive sentimental. Jangan kebangetan to bolehmu sentimental. Kamu ngomong begitu itu ‘kan takut dikatakan tidak membela rakyat kecil, to ? Onzin ! Kamu, saya, sudah memberikan share, urusan kita kepada rakyat kecil duluuu waktu revolusi. Salah-salah kita ‘kan dulu ya bisa mati semua ‘kan ? Orang mati itu nasib, Geng. Untung-untungan ! Kita beruntung bisa survive, bisa hidup. Lha, rakyat kecil yang kau tangisi itu banyak juga yang beruntung lho, Geng. Berbahagia.”

“Beruntung bagaimana, bahagia bagaimana, Prof ?”

“Ya beruntung bisa survive, bisa hidup. Bahagia masih bisa cari makan.”

Tiba-tiba saya jadi pusing. Kena vertigo kecil-kecilan mendengar fatwa Prof. itu. Sesudah agak tenang kembali saya lantas bicara.

“Tapi hidupnya itu bagaimana ? Bahagia bisa cari makan yang bagaimana ? Mereka ‘kan tetap taruhan terus hidupnya ?”

“Apa kamu dan saya tidak taruhan hidup ini ?”

“Mungkin. Tapi ‘kan kemungkinan untuk menang taruhan masih besar kita. Apalagi Prof. Tapi orang-orang itu ?”

“Ya, itu yang disebut untung-untungan itu, Geng ! Mereka sering kalah, yak arena mereka tidak beruntung sekolahnya tidak tinggi, tidak bisa dapat kerja dengan gaji cukup, rumahnya reyot, kampungnya kumuh. Ya, itu perjuangan hidup, Geng. Kasihan ? Ohh, ya kasihan. Tapi kita bisa apa ? Coba kau bisa apa kalau begini ? Mau demonstrasi di jalan ? Berani kamu ? Pakai dong taktik, strategi dan kepala dingin.”

Dan sekali lagi tangan Prof. kita itu mak tlolér, meraih biskuit, kali ini milih Jacobs crackers. Mak krêmus, mak krêpyêk ! Nyuuusss …. Nyuuusss …. !

“Ayo, Geng. Help yourself, help yourself !

Enggih lho, Pak Ageng. Monggo, Pak. Monggo … !

Saya tidak mendengar ajakan mereka lagi. Perutku mulês. Dan aneh sekali, Verkade, Danish dan Jacobs itu tidak berbau harum lagi, tidak terasa nyuusss lagi. Saya pun lantas pamit dengan dalih sudah malam dan harus koreksi makalah para mahasiswa.

Di rumah saya temukan Mr. Rigen and family sedang rêriungan di ruang belakang, di markas mereka. Saya selalu senang melihat kalau sedang rêriungan begitu. Itu yang saya pahami sebagai kebahagiaan kecil. Tetapi saya lihat Beni Prakosa sedang ngambek, mrêngut.

“Bosan, Pak. Jêlèh, Buk. Tiap hari kok nyamikan sorenya télå rebus, pisang rebus. Kok sudah lamaaa sekali tidak pernah beli biskuit !”

“Lho, ‘kan sudah dibilang di koran sama Pak Ageng, kalau biskuit itu ada racunnya. Bu gurumu bilang begitu juga ‘kan ? Mau mati apa kamu makan biskuit ?!”

Mrs. Nansiyem segera pula menyambung,

“Jadi anak itu sing nrimå ya, . Terima apa yang diparingi Gusti Allah. Nanti kalau biskuitnya bebas racun, dak belikan sak blèk …

Saya mengelus dada dan grêgêtan karena terbayang Verkade, Jacobs dan Danish di rumah Prof. DR. Lamahamba etc, etc, itu. Lantas terloncat begitu saja dari mulutku,

Wis, … wis, … wis, … jangan khawatir. Besok dak belikan Verkade, Jacobs dan Danish …

“Lho, apa itu, Pak ? Apa itu, Pak Ageng ?”

Saya tidak menjawab. Sambil masuk kamar kerja mulutku ternyata masih komat-kamit, Verkade, Jacobs, Danish, Verkade, Jacobs, Danish …..

Yogyakarta, 24 Oktober 1989

*) gambar dari portalcamilan.com

Mr. Rigen dan Api PON

kirab api PONWAKTU api PON lewat Yogya, Mr. Rigen dan Beni Prakosa pergi menonton juga di pinggir jalan. Saya senang dengan partisipasi mereka dengan peristiwa nasional yang penting dan besar itu. Setidaknya itu menandakan adanya kesadaran mereka sebagai warga negara yang baik. Padahal saya tidak pernah menyuruh direktur kitchen cabinet saya itu untuk begitu-begitu. Mungkin dampak penataran P4 dari Prof. Lemahamba M.Sc., M.A., M.Ed. untuk para pembantu rumah di kompleks kami tempo hari sudah mulai kelihatan hasilnya yang positif. Bahwa pada Mr. Rigen sudah merasuk kesadarannya menjadi warga Negara dan ber-Pancasila …..

Waktu mereka pulang, saya lihat bapak dan anak itu kelihatan capek, keringatnya dlèwèran di leher mereka. Beni Prakosa kelihatan antusias sekali.

“Apik, , api PON-nya ?”

“Wuaahh, … bagus sekali, Pak Ageng. Obornya besar menyala terus. Dan yang lari itu gagah-gagah, Pak Ageng. Saya juga dibelikan es tung-tung dan krupuk chiki sama Bapak. Enaakkk. Sésuk lihat api PON lagi ya, Pak ? Terus beli es dan chiki lagi ?”

Hessyy …. sak énak-nya saja. Memangnya duit bapakmu kayak air di sumur apa ? Sana , mandi dan ganti baju !”

Saya agak heran melihat Mr. Rigen agak sêngak begitu kepada anaknya. Biasanya dia akan tertawa-tawa saja mendengar tuntutan anaknya yang seperti itu. Dan saya juga melihat mukanya kelihatan tidak seantusias anaknya sehabis melihat api PON itu. Sehabis mengatur anaknya di belakang, Mr. Rigen menemani saya di ruang duduk.

“Pak, uang satu miliar rupiah itu banyaknya seperti apa, Pak ?”

“Wah, kok tiba-tiba tanya uang sak miliar. Habis menang lotre apa kamu ?”

Enggih mbotên, Pak. Saya hanya kepingin tahu, gèk banyaknya seperti apa uang sebanyak itu.”

“Wah, … ya okèh bangêt, Gen. Sak pêthuthuk besaarr sekali. Lha, uang sak juta-juta, ‘kan ya banyak itu namanya. Ada apa to, Gen ? Kok bolehnya getol nanya ?”

Niku lho, Pak. Menurut berita di koran, ongkos membawa lari-lari api PON itu kok sampai sak miliar lebih. Wong cuma bawa lari api begitu saja, lho. Gèk yang bikin mahal itu apanya, Pak ?”

Wah, lha ini. Rakyat mulai bertanya, mungkin setengah menggugat.

“Begini lho, Gen. Semua itu pakai ongkos di jaman modern ini.”

“Ya, apa betul, Pak ?”

“Lho iya, Gen. Orang begitu banyak lari-lari, para priyagung diundang, kursi-kursi yang mesti disewa, tenda-tenda yang mesti dibangun, dan lain-lainnya itu. Semua mesti bayar.”

Wah, mbotên mudhêng kulå. Lari-lari kok dibayar itu apanya yang dibayar ?”

“Lho, ya kaosnya, sepatunya, kolornya … “

“Iya. Tapi apa ya sampai sak miliar to, Pak ? Wong cuman kathok kolor, kaos sporet, sepatu putih begitu saja, lho ?”

Husyy … ya tidak cuma itu, Gen. Buanyaakk sekali yang mesti diongkosi. Malah yang lari-lari itu mungkin tidak dibayar. Ning uba-rampé peristiwa itu rak ya mahal to, Gen.”

Kulå têtêp mbotên mudhêng, Pak. Sak miliar jéé … ”

Ning kamu rak sênêng to lihat ramai-ramai begitu ? Ombyaking uwong, raméné suårå, lihat para priyagung bagus-bagus, ayu-ayu, mobilnya serba mengkilap. Bangga to, kamu sebagai warga Indonesia ?”

Saya lihat Mr. Rigen diam saja. Mukanya kelihatan nglangut, menerawang ke atas.

“Wah, … kalau duit sak pêthuthuk itu buat bikin sumur-sumur air di Praci sana, gèk dapat berapa ratus atau ribu sumur ya, Pak ? Wong desa saya itu dari dulu kok tidak pernah kenal air … “

Saya tidak mendengarkan lebih lanjut ngunandikå yang menerawang itu. Saya takut akan ikut larut hanyut. Saya batalkan rencana untuk menjelaskan kepadanya tentang pentingnya suatu pecan olahraga yang kolosal buat seluruh negeri ini. Saya merasa akan sia-sia saja menjelaskan itu.

Yogyakarta, 17 Oktober 1989

*) gambar dari beritadaerah.co.id

Buk – Ginebuk

mepe kasurMESKIPUN Mr. Rigen sudah berpangkat dirjen dan kedudukannya setaraf dengan chef dari kitchen cabinet, sekali-sekali dia bisa bego juga. Barangkali ini bukan monopoli Mr. Rigen saja. Agaknya hampir semua pembantu rumah tangga yang berpengalaman dan sudah memiliki keterampilan bertaraf internasional seperti Mr. Rigen pun kadang-kadang masih membutuhkan kebegoan itu. Kayaknya kebegoan itu berfungsi sebagai tonik, sebagai jamu untuk mengatasi kejenuhan menjadi pembantu rumah tangga yang pintar dan cakap.

Konon, pakar ngélmu yang paling canggih pun membutuhkan kebegoan itu. Katanya untuk mencegahnya dari kesempurnaan. Elok tênan. Orang yang kecakapannya hanya rata-rata seperti saya saja, sehari-hari mesti bersusah payah membebaskan diri dari kepungan kebegoan, ini kok malah membutuhkan kebegoan sebagai tonik. Elok tênan dunia ini.

Demikianlah, pada suatu hari saya mendapatkan ada bau pênguk bin sêngak di kamar tidur saya, waktu baru pulang dari Jakarta. Wah, gawat nih ! Dak cora-cari di seantero kamar dan di segenap penjuru, biang kerok dari bau tersebut. Eh, tahunya malah merata di seluruh kamar. Waktu saya lihat, baju yang bergelantungan itu pada jamuran. Sepatu-sepatu di rak juga demikian, menyandang penyakit panu di sol dan di pinggir-pinggirnya. Wah, gawat nih. Kemudian saya sibak seprei tempat tidur saya. Jrèèèng ! Jamur ada dimana-mana, hampir menutupi seluruh permukaan kasur.

“Mr. Rigen, ….. Mr. Rigennn …. !!!”

Yes, inggih, dalêm !

“Sini ! Cepaatt .. !!”

Inggih, dalêêmm, yess .. !

“Sini. Sini cah bagus ! Sini, masuk kamar tidur saya !”

Dan telinganya pun saya cêngkiwing. Saya tarik masuk ke dalam kamar tidur. Bêdhès cilik Beni Prakosa melihat telinga bapaknya saya cêngkiwing malah tertawa-tawa, mengikuti kami dari belakang sambil me-nyêngkiwing telinganya sendiri.

“Coba longokkan kepala … !”

“Kepala, Pak ?”

“Iya, cah bagus, masukkan muståkå panjênêngan ke dalam kloset lemari pakaian. Sudaahh ?”

Sampun, Pak.”

“Apa yang kau lihat, Mister ?”

Lha, nåpå to, Pak ? Wong cuma pakaian yang bergelantungan.”

“Betul ! Dapat seratus ! Coba lihat baik-baik yang melekat di baju-baju itu. Ayo, lihat !”

Mr. Rigen melihat baju-baju itu dengan seksama. Kemudian meringis.

“Wah, jamur. Lha, kok ada jamur begini banyak, pating tlêmok.”

“Nah, sekarang sama anakmu periksa sepatu dan seprei !”

“Wah, kok ya jamuran semua, lho. Gèk ya kapan jamur-jamur itu tumbuh ya ? Kayaknya kemarin itu …”

Hessyyy … tidak usah kayaknya-kayaknya. Wong aku pergi ke Jakarta seminggu, lho ! Kalau kamu tiap hari membersihkan dengan baik, pasti tidak ada jamur itu. Ayo, keluarkan semua ! Digodok, dilap dan kasur itu dijemur, digebuki. Kalau tidak beres kerjamu, dak gebuk kamu !”

Tiba-tiba si bêdhès cilik Beni ikutan nyelonong ngomong,

“Horeee … Bapak mau digebuk Pak Ageng ! Bapak mau di …… !“

Hussy ! Diam kamu ! Bocah cilik ikut-ikutan ! Dak gebuk pisan kamu … !”

Beni Prakosa pun langsung diam dibentak bapaknya. Sebab bentakan bapaknya kali ini adalah bentakan orang yang sedang kepepet, karena merasa bersalah terhadap boss-nya. Mereka pun, Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dengan menggendong Septian, mengeluarkan sepatu-sepatu, kasur, bantal dan guling yang ada di kamar tidur saya. Kemudian dijemur di bawah terik matahari.

Coba, to ! Itu semua ‘kan kebegoan yang tidak perlu terjadi, to ? Wong itu semua sudah menjadi bagian dari pekerjaan rutin mereka. Dan mereka dapat mengerjakan semua itu dengan tingkat kepakaran yang tinggi dan canggih. Menggebuk kasur itu bukan sembarangan gebuk, lho ! Bukan asal bak-buk, bak-buk saja, lho ! Toh, kebegoan itu terjadi. Jadi mungkin saja ‘kan kalau mereka membutuhkan kebegoan itu.

Mereka, bapak-beranak bekerja dengan tekun dan penuh dedikasi. Suara bak-buk, bak-buk, terdengar dengan sangat ritmis sekali. Suara Mr. Rigen terdengar berwibawa, ngêboss-i. Kalau sudah begitu seluruh anggota staf kitchen cabinet itu akan tunduk setunduk-tunduknya (terima kasih Pak Sutan Takdir Alisjahbana).

Kemudian suara itu hilang. Ah, … pastilah mereka sudah selesai bekerja. Saya pun lantas keluar untuk menginspeksi hasil kerja mereka. Jamur di baju, sepatu dan bantal-bantal itu masih tersisa di sana-sini. Dan yang di kasur, masya Allah, kok masih tebal jamur-jamur itu. Lantas, buat apa bak-buk, bak-buk tadi ? Bukankah mereka ahli dan pakar gebuk ? Eh, … kok hasilnya segitu saja. Ah, … itu bukan lagi kebegoan yang dibutuhkan.

Bukan lagi satu necessary kebegoan ! Ini kebegoan yang berbatasan dengan sabotase ! Ah … sabotase ! Sa-bo-ta-se ! Berani-beraninya mereka melancarkan sabotase. Ini sudah makar namanya. Mau merongrong kewibawaan konstitusi rumah saya. Sabotase ! Maka saya pun buru-buru pergi ke belakang, ke kamar mereka. Astaga ! Saya lihat mereka sedang rêriungan sembari mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh. Trèmbèlané tênan !

Haraa … to ya ! Kerja belum beres sudah pada klékaran !

Mereka pun terkejut, byayakan berdiri. Mrs. Nansiyem buru-buru mencabut sedotan anaknya. Beni loncat-loncat dan Mr. Rigen meloncat berdiri, kemudian clila-clili ngapurancang di depan saya.

“Kamu itu apa-apaan ? Kerjamu kok jadi sak enak wudêl bodong itu, bagaimana ?!”

“Kami sudah kerja keras nggêbuki semua lho, Pak.”

Nggêbuki ! Nggêbuki ! Yang penting itu hasilnya, monyong ! mBok ya kalian seribu kali gebuk bak-buk bak-buk, kalau tanpa metoda, mana bisa hasilnya baik ? Yang saya heran itu, kalian ‘kan sudah ahli to, dalam gebuk-menggebuk ini ?”

Kamar itu jadi hening, tidak ada suara belalang ngalisik. Semua menundukkan kepala.

“Saya kok curiga kalian mau sabotase. Iya, ya ? Mau nyabot saya, ya ? Ini sudah di luar aturan permainan rumah ini. Kalau kalian memang mau begitu, apa boleh buat, Mister. Tidak peduli kamu dari kerajaan Praci. Sudah ikut saya lebih dari sepuluh tahun. Tidak peduli istrimu perempuan, anak-anakmu masih bocah, sorry maar zeg, kalian terpaksa harus, mesti, dak gebuk !”

Saya pun mengayun-ayunkan gêblèk kasur di tangan. Mereka pun dengan suara koor, suara satu, dua, tiga, empat, memohon ampun.

“Ampun, ampun, ampun, … Pak.”

Maka mereka pun meneruskan pekerjaan gebuk-menggebuk lagi. Suara bak-buk, bak-buk terdengar lagi. Kali ini sudah dengan penuh gusto. Tapi, eh, … apa yang saya dengar ?

Kowé kalo tidak nurut sama saya, dak gebuk tênan lho, Bu. Wong kerja kok acak-acakan !”

Kowé kalo nakal terus, dak gebuk tênan lho, Ben. Dari tadi kok ngganggu saja !”

Wéé … lha, kok kerja gebuk-menggebuk jadi hierarkis begini. Jadinya terus buk-ginebuk.

Yogyakarta, 26 September 1989

*) gambar dari news.detik.com

Tapa

terapi pasir panasHARI Minggu kemarin Pak Joyoboyo saya panggil ke rumah. Dengan gesit dan gembira dia pun melangkah masuk ke halaman, dielu-elukan oleh Beni Prakosa dan adiknya, Ade Septian, yang sekarang sudah satu tahun dan mulai belajar jalan di-tétah bapaknya. Sudah amat lama beliau tidak saya singgahkan, karena di samping saya terlalu sering ke luar kota, juga akhir-akhir ini rada bosên ikan ayam.

Pasal dia saya panggil Minggu pagi ini karena ibu saya di Pogung sedang kena serbu menantu dan kawan-kawannya sehingga saya anggap baik juga kalau saya bisa sedikit membantu logistik ibu saya. Maklum logistik pensiunan. Lha, buat Beni kedatangan Pak Joyo tentunya itu obat kangen yang menyenangkan karena sudah sekian lama tidak menikmati sate usus Klaten.

Kulo nuwun, Pak Ageng. Bapak itu jiaaan têgêl-nya mbotên kintên-kintên, lho !”

Saya sudah memperhitungkan salam keluhan yang bernada khas Joyoboyo itu.

“Lho, têgêl bagaimana ?”

“Ha, ênggih to. Sudah sejak tahun Dal Bapak me-njothak saya. Nggak pernah panggil-panggil saya lagi !”

“Ya, begitu saja kok têgêl to, Pak. Yang penting hubungan batin itu tetap ada, toh ?”

“Hubungan priyagung sama wong cilik niku tidak cukup hubungan batin to, Pak Ageng. Hubungan itu mesti agak materil juga.”

“Nåpå ? Apa, Pak Joyo ?”

Matêril. Matril.”

Wééh … materiil to, maksudnya ?”

Ha, ênggih to, Pak. Materiil itu jan-jan-nya rak ya arto, uang to, Pak ?”

“Eeee … tahunya kok ya cuma itu.”

Lha, arto jé, Pak. Buat kami wong cilik ‘kan ya penting sekali.”

“Ya sudah. Kali ini dak beli yang banyak. Dhådhå mênthok lima, tépong lima. Lha, sate ususnya dua saja buat bedhes Beni itu.”

Saya tidak perlu berlama-lama menunggu. Seperti biasa, sambil mengobrol, Pak Joyoboyo sudah mengatur konfigurasi perang Garudå Nglayang dengan dhådhå mênthok, tépong dan paha-paha ayamnya. Dan Beni Prakosa dengan sebat sudah menyambar sate usus jatahnya.

Sehabis itu seperti biasa saya lèyèh-lèyèh di tikar sembari membuka-buka koran edisi Minggu dan sekali-sekali memalingkan muka ke layar teve. Dan seperti biasa pula kalau berjumpa begitu terjadilah dialog filsafat tinggi antara Pak Joyoboyo dengan Mr. Rigen. Saya pun lantas setengah memasang telinga.

Wééh … Mas Rigen, sudah lama ya kita tidak jagongan. Majikan sampeyan men-jothak saya begitu lama, sih.”

“Ya mbotên to, kalau men-jothak. Wong Pak Ageng niku jan-jané trêsno kok sama sampéyan. Sekarang ini ada kabar nåpå yang hangat, Mas Joyo ? Sampéyan yang keliling ke antero negeri menjunjung ténong ayam panggang, mestinya tahu kabar yang hangat.”

“Kabar hangat ? Ya cuma perkara orang tåpå pêndhêm itu lho, Mas. Wong jaman sudah seperti sekarang kok ya masih ada yang tåpå pêndhêm, lho ?”

Woo, … lha kalau itu saya ya sudah baca di koran. Ning apa ya kabar itu jadi sumrambah ke mana-mana, Mas ?”

Woo, … lha iya. Di bis, di kol, di warung orang ramé membicarakan, jéé !”
“Terus, yang diherani itu apanya, Mas ? Pêndhêm-nya, niatnya atau apanya ?”

“Ya semuanya, Mas. Orang-orang itu tertarik karena tidak umum lagi to, tåpå yang seperti itu. Orang-orang itu kagum karena orang berani nekat dan me-mêndhêm-kan dirinya ke dalam tanah. Padahal mereka itu ‘kan ya sudah tåpå to, Mas Rigen ?”

Tåpå pripun ? Apa mereka berani me-mêndhêm-kan diri mereka ?”

“Lhoo, … ya tidak mêndhêm diri begitu. Ning semua wong cilik yang hidup susah itu ya sudah tåpå to, Mas Rigen.”

Mr. Rigen diam sebentar. Mungkin kena tembakan falsafat Pak Joyoboyo itu lantas terdiam. Mungkin juga ditambahkan dengan manggut-manggut apa.

“Iya, ya. Ning tåpå terus-terusan itu hasilnya apa, Mas Joyoboyo ?”

“Ya, untung-untungan. Ada yang kabul kajaté, terkabul apa yang diinginkan. Ning ya banyak yang beginiii saja. Seperti saya ini tåpå abadi namanya.”

Mr. Rigen terdiam lagi. Mungkin filsafat Pak Joyoboyo kali ini terdengar sinis betul. Bahkan tidak memberi peluang untuk berharap-harap.

“Wah, kayaknya kalau tåpå-nya wong cilik itu sedikit ya kabul kajaté. Lha, wong lahir procot sudah disuruh prihatin, tåpå to kita ini. Lha, sampèk tuwå begini kok ya nggak ada maju-majunya.”
Mpun, mpun, Mas Rigen. Jangan sedih-sedih. Wong itu nasib kok disedihi. Yang tåpå pêndhêm itu jiaan orang aneh betul. Kalau seperti kita ini tåpå ning sekali-sekali beli SDSB siapa tahu dapat narik. Lha, … jebol nasib kéré kita. Sudah ah, … saya mau jalan lagi. Ayamnya masih pating ngglundhung dalam ténong.”

Lantas tidak lama kemudian, sesudah terdengar pintu samping berderit ditutup, Pak Joyoboyo berkoar-koar,

“Pènggèng èyèm, … pènggèng èyèm … !“

Di kamar, seperti biasa sehabis mendengar dialog filsafat kerakyatan begitu, saya tercenung sebentar. Kok begitu ya, mereka memandang hidup mereka ? Kadang-kadang pasrah dengan penuh optimism dan kegairahan. Kali ini pasrah tetapi dengan sentuhan sinisme, tidak terlalu optimis dan tidak terlalu bergairah.

Saya pun lantas ingat sahabat yang saya kagumi, Prof. Dr.Lemahamba dsb, dst, dll-nya itu. Satu kali dia juga pernah mendiskusikan soal prihatin dan tåpå dengan saya.

You know something, Gen ?”

What, … what … ada apa, Mas ?”

“Begini-begini kita juga prihatin bahkan tåpa, lho.”

“Wah, … élok. Lha, what do you mean exactly by that, to, Mas Prof. Lemahamba ?”

Elhoo, … you don’t know, toh ?! Kita ini manusia kerja keras. Itulah tåpå kita yang menghasilkan rezeki kita.”

Lha, itu you. Lha saya, kerja keras kok ya begini-begini saja ?”

Lha, you kurang keras kerjanya.”

Elho, … kurang keras bagaimana ? Saya blêbar-blêbêr jual hawa di mana-mana itu apa ?”

“Lhoo, … bukan keras macam itu. Itu kerja kerasnya kuli atau paling kerja kerasnya Mr. Rigen-mu itu. Yang saya maksud tåpå itu kerja keras pakai otak kreatif dan lihai. Itu tåpå modern, Geng.”

“Waahh, … kalau begitu menteri-menteri, baik sipil atau bukan, itu tåpå semua. Gêntur lagi !”

“Persis, Gen. Persis. Now you are talking ! Yak ! Mereka itulah pertapa-pertapa ulung kita. Kalau saya, tåpå saya tåpå ngèli, tåpå menghanyutkan menurut arus sungai. Ikutilah kalau mau sukses dan slamêt, ngèli … ngèli … ngèli …..”

Ngèli, ngèli, ngèli … ! Eh, kok saya malah terbayang Kang Mas Prasodjo Legowo atau Legowo Prasodjo …..

Yogyakarta, 19 September 1989

*) gambar dari republika.co.id

Nasi Bungkus Kontekstual

nasi-padangAPAKAH ukuran perut Anda dalam menerima makanan ? Ukuran biologis, fisiologis, psikologis atau ternyata ideologis ? Dulu saya mengira itu urusan jasmaniah belaka. Perut laki-laki besar karena tadhah-nya juga banyak, makannya juga lebih dokoh. Lha, bagi wanita, karena badannya rata-rata juga lebih kecil dan ramping dibandingkan laki-laki, tadhah-nya juga lebih kecil, makannya juga lebih sedikit ber-kêcêmik-kêcêmik.

Eh, ternyata tidak, lho ! Sesudah saya sering melanglang kepulauan kita, ternyata banyaknya orang makan itu (pinjam istilahnya sahabat saya Arif Budiman) kontekstual adanya.

Di Sumatra dan Sulawesi Utara misalnya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan dokoh-dokoh, lahap, belaka dalam menyantap dhaharan mereka. Tidak ada itu istilah cimak-cimik dalam makan. Semua rahap, lahap, penuh gusto dalam urusan makan-memakan itu. Tidak seperti di Jawa. Yang laki-laki pun makan ya secukupnya saja, apalagi yang perempuan. Cimak-cimik, sedikit-sedikit. Mencuil lauk-pauk, apalagi daging dan ikan (bagi Mr. Rigen semua itu namanya ‘ikan’) cuma sak suwir-sak suwir bagaikan mencubit lengan kekasihnya. Dan bila muluk, nasinya bukan sekepal-sekepal, tetapi bagaikan menjimpit beras dari tampah. Dan nasi yang tidak menggunung itu di piring itu juga tidak habis dimakan. Wah, jaan, orang Jawa itu !

Ternyata semua itu bukan masalah besar atau kecil ukuran perut. Ternyata itu urusan ideologi budaya Jawa.

nDuuk, kalau makan itu jangan banyak-banyak. Saru, malu-maluin. Cukup sedikit saja. Kalau makan banyak nanti tidak payu rabi, lho. Tidak ada yang mau ngawini kamu.”

Dan,

nDuuk, kalau makan itu tundukkan kepalamu, jangan nengok ke mana-mana. Tidak usah tergesa-gesa. Dan meskipun lauknya enak dan miråså, jangan terus tèlap-tèlêp, dokoh, sak piring dikuras habis. Alon, nDuk, alon. Saru kalau putri makan tèlap-tèlêp. Nanti …..”

Begitulah para leluhur wicaksånå orang Jawa memberikan indoktrinasi etiket makan kepada putri-putrinya. Wahh, élok. Kok ada, lho, indoktrinasi etiket makan seperti itu. Sesudah saya pikir-pikir, ternyata itulah ideologi budaya Jawa jaman dulu. Yaitu ideologi masyarakat feodal aristokrasi. Itulah, saya kira, ideologi halus versus kasar. Yang halus yang dekat-dekat dengan wong cilik sana. Yang halus kalau makan cimak-cimik, alon-alon. Yang kasar kalau makan was-was, lahap, dokoh. Tetapi itu jika dilakukan oleh pihak laki-laki, tidak apa-apa. Laki-laki boleh apa saja dalam masyarakat begitu.

Hatta, orang-orang Minang para perantau yang perkasa itu, turun dari ranah mereka menyerbu ke antero kepulauan kita. Dengan tumpukan piring di tangan kanan dan kiri, mereka buka rumah-rumah makan. Orang Betawi, orang Sunda, orang Jawa, orang Bali, orang Makasar, orang Ambon, orang Irian Jaya, bahkan konon katanya orang rembulan juga, harus belajar melahap rendang, sate Padang, dendeng balado, daging asem pêdèh dan entah apa lagi. Dan ajaib, semua orang itu kok ya jadi senang makanan yang buat ukuran orang Jawa kelewat pêdhês seperti jamu. Dan ajaibnya lagi, para urbanis-urbanis van Java itu di Betawi jadi kader-kader yang prigêl, trampil, di rumah-rumah makan Padang. Bahkan lidah mereka yang tebal dan volume suara yang ulêm bin mêdhok dengan speed sepeda motor merk Norton itu, eh, kok ya bisa lho lari sambil bawa tumpukan piring sembari teriak-teriak dalam bahasa Minang.

“Nasi ciek. Seganya siji, malih …”

Alkisah, baru-baru ini saya jual kecap ceramah di Rumbai dan Duri, di kerajaan Caltex, Propinsi Riau. Mereka menyambut saya dengan makan siang. Makan siang itu dihidangkan di guest house yang dingin ber-AC, berarsitektur West Coast, USA itu, eh … lhadalah, masing-masing kita mendapat nasi bungkus sak pêthuthuk, setinggi gunung anakan. Begitu dahsyat bin kolosal ! Waktu dibuka, srêêttt, eh … lhadalah lagi. Rendangnya gêdhê sak èpèk-èpèk tangan, daging kerbau lagi. Seratnya besar-besar dan sangat potensial untuk jadi slilit yang kolosal pula. Waktu mulai dilahap, eh … lhadalah lagi. Ternyata rasanya memang mak nyuss, enak betul ! Meskipun harus hoh-hah, hoh-hah, kepedasan.

Waktu selesai ceramah dan esoknya pulang, saya bertanya kira-kira apa yang bagus untuk dibawa pulang, untuk oleh-oleh. Dengan serempak para insinyur-insinyur muda dari Jawa itu menjawab,

“Nasi bungkus, Pak.”

Dan saya pun pulang dibawain nasi bungkus yang kolosal itu. Waktu sampai di rumah Cipinang Indah, para kerabat keluarga saya sedang mengelilingi meja makan, siap untuk makan siang.

Stop, stop dulu ! Jangan makan dulu. Ini ada oleh-oleh untuk makan siang dari Pakanbaru.”

Semua yang di sekeliling meja makan langsung menghentikan suara mereka. Dengan penuh ketegangan mereka melihat bungkusan-bungkusan yang masih hangat itu saya letakkan dengan penuh seremoni di piring-piring.

Jabang bayi ! Itu bom atau roket ?!”

Husyy ! Ini nasi bungkus Minang Pakanbaru yang paling dahsyat seantero dunia. Ayo, coba !”

Karena sang patriarch memerintahkan untuk makan makanan yang keluar dari bungkusan kolosal itu, mereka pun patuh membuka bungkusan itu. Mata mereka terbelalak melihat daging rendang yang tergeletak dan ikan ayam yang nangkring di atas nasi yang padat itu.

Jabang bayi ! Itu sadel apa rendang ?!”

Husyy ! Ini rendang kerbau. Enaknya ngaudubillah syaiton. Ayo, makan !”

Dan perintah kedua sang patriarch diikuti lagi. Mereka mulai makan. Mata brayat saya kelihatan pating pêndêlik, melotot-melotot, tetapi tetap saja makan terus. Dan eh, angubillah syaiton, habis lho, habis !? Padahal anggota brayat saya itu semuanya putri-putri Mantili dengan pendidikan putri-putri keraton. Eh, kok ya habis lho, bungkusan sak pêthuthuk itu ?!

Wah, memang budaya Minang itu budaya yang hebat ! Ideologi halus dari budaya Jawa takluk melawan nasi bungkus Minang Pakanbaru.

Waktu pulang di Yogya dan ada rapat staf di kantor, saya ingin mengulang sukses dahsyat dari nasi bungkus kolosal itu. Makan nasi bungkus Minang semua ! Pakai rendang, pakai ikan ayam. Dan waktu kita semua looking forward untuk mendapat nasi bungkus kolosal seperti cerita saya tentang nasi Minang Pakanbaru itu, eh … kita jadi kecewa. Nasi bungkus Minang itu kecil-kecil seperti nasi bungkus Gudeg Malioboro. Dan rendangnya pun tidak selebar èpèk-èpèk tangan atau sadel kuda, tetapi cuma sebesar krèwèng wingkå. Dan ayamnya pun hanya nangkring, eh … sebesar kutuk, anak ayam yang suka berkotek itu. Wéé … lha, ternyata tidak semua tempat nasi bungkus Minang kolosal dan bisa menaklukkan budaya halus orang Jawa.

Di sini, di Yogya ini, budaya halus Jawa kayaknya kok masih menang. Makan kita ya cimak-cimik, tidak lahap. Habis, nasi bungkus Minang atau Padang dibikin konstekstual, sih …

Yogyakarta, 12 September 1989.

*) gambar dari iqbalparabi.com

Di Rumah Kami, Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip, Namun Sulit Dilaksanakan, Soalnya …

NO DEMOCACY.SEBAGAI seorang yang sudah terlanjur kena apa yang disebut “racun pendidikan Barat”, tentu saja demokrasi dan keterbukaan adalah prinsip yang sudah menjadi ganyangan dan minuman saya sehari-hari. Setiap kali saya membaca di Koran ada pedagang informal diubêr-ubêr, tanah-tanah petani digusur, majalah atau Koran dibungkam atau ditutup, sedihlah hati saya. Kok ya tega-teganya mereka yang lulus P4 dan sudah ndrêmimil hafal jurus-jurus demokrasi Pancasila itu melakukan hal-hal seperti itu. Apakah kekuasaan itu begitu nikmat dan menyilaukan sehingga sanggup menutup jurus-jurus P4 yang sudah mereka hafalkan dan kuasai itu ?

Di rumah saya di Cipinang Indah, Jakarta, saya dorong tumbuhnya oposisi untuk menjaga agar jurus-jurus P4 (tempo hari saya lulus no.1 sak DIY, lho) yang sudah saya kuasai plus ‘racun-racun’ dari John Stuart Mill, Milton, Voltaire, Jefferson dan entah siapa lagi, tidak tertutup kabut kekuasaan yang sering kali memang rådå absolut di tangan saya. Oposisi itu tentu saja datang dari si Gendut yang sangat gigih mempertahankan hak jatah uang saku dan makan luar sekali sebulan.

Dan oposisi tunggal itu sering kali juga digabung dengan oposisi dari kubu-kubu si mBak dan Bu Ageng yang dengan ketat mengontrol hak budget rumah tangga kami serta extra kurikuler “activity” saya.

Sebagai seorang demokrat sejati, tentulah oposisi itu saya pupuk dengan gembira. Bahkan kalau sampai agak lama mereka adêm-ayêm saja, saya dorong-dorong untuk mengkritik, mengontrol dan menghantam saya. Ayo, oposisi, opisisi. Ayo, kritik, kritik. Ayo, hantam saja, hantam saja. Wong demokrasi, kok. Ayo, … mumpung punya bapak demokrat sejati bin konsekuen.

Sampai pada suatu hari,

“Eh, … Kap. Saudara Bokap.”

Saya yang baru setengah memejamkan mata, istirahat dan lèyèh-lèyèh di dipan mêngêluk gêgêr yang capek karena baru datang dari Yogya, rådå terkejut dipanggil Bokap oleh si Gendut.

“Ada apa, nDut ?

“Ada apa ?! Ini sudah tanggal berapa ?”

“Tanggal ? Tanggal delapan. Emangnya kenapa ?”

“Kok masih tanya kenapa, sih ? Katanya orang itu harus tahu kewajiban.”

“Wah, kewajiban ? Aku ada kewajiban apa sama kamu, nDut ? Capek-capek dituntut kewajiban. Sana, ah. Bapak mau tiduran dulu.”

Be, tanggal delapan, nih. Tanggal delapan, Be !

Heissyyyyhh … tanggal delapan ya tanggal delapan. Tapi nanti !”

Si Gendut kok jadi rådå mêngkêrêt juga mendengar suara saya yang penuh wibawa kêsêl itu. Saya pun lantas melanjutkan tiduran saya dan Gendut pun mundur teratur.

Pukul tujuh malam saya dibangunkan oleh Gendut. Kali ini saya lihat Gendut sudah rapi jali. Bahkan rada menor berbau wangi. Untuk ke sekian kalinya saya diingatkan bahwa anak wuragil saya itu sekarang sudah benar-benar dewasa. Sudah young lady yang benar-benar young lady. Setiap kali diingatkan begitu hati ini mak pang, jadi rådê anglês juga. Tetapi meski begitu suara ini kok keluarnya suara penguasa.

“Mau ke mana, elu ?

“Nah, itu. Kalau tadi saya diberi kesempatan cerita, sekarang ‘kan Bokap tahu aku mau ke mana !”

“Iyaa. Mau ke mana ?”

“Jalan. Ada birthday party, Be. Tanggal delapan, nih. Tanggal delapan.”

“Lho, kok itu lagi ?”

Lha, iya dong ! Bokap kalau diingêtin kewajiban mesti begitu, deh.”

“Wah, Non. Aku kalau diingat-ingatkan kewajiban biasanya malah jadi kagak ingêt. Apa sih ?”

“Tanggal delapan itu, Ayahanda, adalah tanggal gajian saya.”

“Oh … tanggal gajian. Lantas ?”

“Ya, bagi dong dokunya, cêpêtan ! Ini keburu disampêrin têmên-têmên, lho.”

Eh, bagi. Enak saja anak sekarang bilang bagi. Seperti uang yang capek-capek kita cari itu sudah masuk haknya untuk ikut memiliki. Bagi dong, katanya.

“Bilang dulu baik-baik. Baru nanti Bapak pertimbangkan.”

“Eh, kok kayak baru sekarang saya terima gaji dari Bokap. Baiklah minta baik-baik, nih. Be, bagi dong gaji saya bulan ini.”

Elho, kok masih bilang bagi ? Memangnya kau ikut susah-susah cari duit Bapak, Neng ?”

“Enggak. Tapi apa salahnya sih, minta pembagian dari Bapaknya ?”

“Salah. Kau tahu kau tidak ikut capek cari duit Bapak. Dus, kau tidak punya hak untuk menuntut pembagian.”

Elho … ? Lha, tiap bulan yang Bapak kasih itu apa kalau bukan pembagian ?”

“Itu pemberian dari Bapakmu, Non. Pem-be-ri-an. Jadi terserah dari Bapak, toh ?”

“Jadi Bapak nggak mau kasih, nih ?”

“Mau dong. Tapi separo dulu. Yang separo kapan-kapan.”

Saya paro jatahnya bulan ini. Saya sendiri tidak tahu mengapa saya jadi kêpingin godain dia malam itu. Gendut menerima uang itu dengan muka masam.

“Bapak kok sekarang jadi fasis begini ?”

“Hah ? Fasis ? Maksudmu apa ?”

“Nggak tahu ! Pokoknya Bapak sekarang jadi sok kuasa. Mentang-mentang Gendut nggak punya kekuasaan apa-apa, Bapak enak saja tentukan maunya.”

Gendut pun lantas lari menemui teman-temannya yang sudah tidak sabaran menunggu di mobil.

Bu Ageng, yang rupanya terus mengikuti percakapan kami dari kamar tidur, kemudian datang.

“Bapak itu kebangetan, sih. Masak begitu saja tidak dikasih.”

“Aah … sekali-sekali dia perlu juga diberi pelajaran.”

“Pelajaran ? Pelajaran apa ?”

“Ya, pelajaran supaya tahu bagaimana susahnya orang tua cari duit.”

“Paakk, Pak. Anak-anakmu itu sudah tahu soal itu. Kok sekarang mau didramatisir. Apa sih, untungnya ?”

Saya pun terdiam sebentar. Iya, ya. Apa sih, untungnya ? Tetapi, eh …, kok ibunya tiba-tiba jadi bergabung beroposisi terhadap saya ? Solidaritas kaum lemah ? Fasis, katanya. Edyann ! Mau mendidik malah dikatakan fasis ? Esok harinya, separo uang bulanan Gendut saya lunasi.

Beberapa hari kemudian saya pulang ke Yogya. Di Yogya, Beni Prakosa seperti biasa menyambut saya.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Katanya …”

“Apa katanya ?”

“Katanya, katanya, … kalau Beni sudah klas nol besar, dibelikan mobil-mobilan yang besaaarr. Mana mobilnya, Pak Ageng ? Saya sudah nol besar, nih.”

“Aahh … kapan-kapan. Pak Ageng masih capek.”

“Horeee … Pak Ageng tukang bohong ! Pak Ageng tukang bohong !”

Heissyyy ! Diam kau, bedhes cilik ! Sana, sama Bapakmu, sana !”

Mr. Rigen, tahu kalau saya masih capek, buru-buru menggelandang anaknya masuk. Saya menggeletak di kamar tidur yang teduh itu. Menerawang langit-langit di atas. Ingat Gendut dan Beni Prakosa. Dua rakyat saya yang tergantung dengan kekuasaan saya. Kekuasaan yang maunya demokratis itu.

Saya menguap. Oahheeemmmm. Saya molèt. Demokrasi tergantung juga pada mood penguasanya, dong. Kalau penguasa lagi sir, lagi senang, ya demokrasi bisa jalan. Kalau sedang tidak sir, ….. oahheemmmm. Saya pun tertidur pulas.

Yogyakarta, 5 September 1989

*) gambar dari adnan-zaki.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 356 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: