Prestasi, Kroket dan Tiwikrama

kroket n risolesGARA-GARA tugas mondar-mandir, ngalor-ngidul, ngétan bali ngulon, terus bali ngalor-ngétan, terus bali bali ngidul-ngulon, sampai habis delapan penjuru angin saya jelajah sampai bosah-baséh, saya rasanya sudah lama sekali tidak bercanda sama dua ingon-ingon saya si Beni Prakosa, the incredible bêdhès dan si singa laut, the impossible Septian. Tahu-tahu begitu saja pada satu sore sang bêdhès nyêlonong mèpèt kursi saya. Saya tahu pasti ada targetnya. Di depan saya ada kroket dan risoles bikinan Sanitas, Semarang yang sêgêdhé-gêdhé granat.

“Kamu mau ini, to ?”

“Enggak.”

Dan dia masih terus meng-gubêl, mengitari kursi di depan saya.

“Kamu kêpingin yang lonjong-lonjong kayak granat itu, to ?”

“Eng-gak !”

Dan glibêtan-nya sêmangkin sêsêr.

“Kalau nggak mau ya sudah, out sana ! O-yu-ti, out !

Sang bêdhês lari ngiprit, tetapi saya tahu juga bahwa pasti sesampai di ambang pintu yang memisahkan dapur dan ruang dalam dia akan berhenti. Kepalanya di-tongol-kan.

“Pak Ageng, Pak Ageng !”

“Apa !”

“Saya sudah naik kelas nol besar, lho !”

“Aah, Pak Ageng sudah tahu. Kabar basi !”

Ning Pak Ageng rak belum tahu.”

Eh, tahu-tahu mak srêt anak itu sudah sampai di kursi saya lagi. Mulutnya di-pèpèt-kan ke telinga saya.

Dak beri tahu, ning yang lonjong-lonjong itu apa, sih ? Kuwéh, ya ?”

Saya pun ganti membisiki dia,

“Bu-kaan. Ra-cuunn !”

Kami pun tertawa terbahak bersama.

“Pak Ageng, mbok saya mintak sedikit saja. Kayaknya kok enak.”

“Memang enak. Ning prestasimu apa ? Enak saja mintak-mintak !”

“Saya ‘kan sudah naik kelas nol besar.”

Lha, kalau itu Pak Ageng sudah lama tahu. Kok kamu kayak priyagung-priyagung pusat saja, sih. Mengulang-ulang matur sama babé-nya kalau punya prestasi. Itu ‘kan kita semua sudah tahu semua. Yang baru dong, Ben. Ada prestasi yang baru nggak, yang sêgêr begitu, lho ?”

Waktu selesai bicara begitu, saya melongok ke belakang, ehh … di lincak sudah pada duduk Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan si singa laut Septian. Matanya tholo-tholo, ilêr-nya ngêcès, dlèwèran membasahi dadanya. Para pendukung Beni Prakosa ini kelihatan tegang mengikuti dialog kami. Kayak mengikuti lomba cerdas cermat antara SD Samas lawan SD Kadisobo saja. Dan betul saja, Mr. Rigen tidak sabar lagi melihat anaknya masih bengong. Ah, saya masih belum tahu, tapi dia sekolah di TK Indonesia Hebat itu. Sekolah calon jenius yang komplet itu.

“Ayo, . Ayo matur, matur. Ngomong sama Pak Ageng !”

Engko sik to, Pak. Tunggu dulu to, Pak. Aku ini lagi mikir.”

Jarinya diletakkan di bathuk-nya.

“Aku lagi mikir betul lho, Pak Ageng.”

“Ohh … dhapurmu ! Mikir, mikir. Apanya yang kamu pikir, Lé ?

“Itu lho, yang lonjong-lonjong coklat di meja itu, apa namanya ?”

“Oooo … itu to, yang kamu pikir. Dak kira kamu itu mikir prestasi. Tahunya sama saja dengan Bapaknya. Yang dipikir cuma makanan saja !”

Mr. Rigen meringis, Mrs. Nansiyem senyum-senyum tersipu.

Lha, wong namanya rakyat kecil lho, Pak. Kalau bukan makan apalagi yang dipikir to, Paakkk ?!”

Wis, ciloko tênan iki ! Dari dulu kok ya nggak maju-maju. Orang tidak makan roti alone. Orang itu ya mikir hiburan, ya mikir ekspansi ekonomi, ya ekspor non-migas, ya deregulasi, ya Pancasila, ya macam-macam gitu. Supaya kaya hidupnya.”

Mr. Rigen matanya kêtap-kêtip. Beni Prakosa masih mêndolo merenungi kroket dan risoles yang belum juga pindah ke tangannya.

“Lho, Pak. Yang makan roti itu siapa, lho ? Wong anak beranak makannya ya cuma nasi terus lho, Pak. Kok Bapak bilang roti êlun. Niku roti apa to, Pak. Roti kok bikin kaya ?”

Wéhh … sudah ! Sak rumah kok gêblêk semua. Apa enaknya dak istirahatkan dulu ke Praci kalian itu !”

Lalu Beni Prakosa meng-gêlibêt lagi.

“Pak Ageng, kelas nol besar itu angèl bangêt, lho ! Angèl bangêt. Sukar bangêt.”

Mosok ?

Eee … betul, Pak Ageng. Sekarang mana kuweh yang lonjong-lonjong itu !”
Elhoo … !

Ternyata bêdhès èlèk itu tahu juga makna prestasi. Ya lumayanlah. Maka sebagai pendidik yang konsekuen, saya pun memberi Beni satu kroket yang sêgêdhé granat. Dengan bangga kroket itu diperlihatkannya kepada bapak dan ibunya. Dan saya lihat dari kålåmênjing-nya, Mr. Rigen kêpingin juga. Tapi apa prestasinya ?

“Bapak mau kuwéh ‘kan ? Tidak sekolah kok mau kuwéh. Sekolah dulu, Pak.”
Huss … bocah cilik kurang ajar sama orangtua !”

Kami semua kaget mendengar bentakan Mr. Rigen sedahsyat itu. Ada apa dia ?

Lé, dak beri tahu, ya ! Kowé itu baru kelas nol besar. Ojo kêmênthus kowé ! Kalau kamu sudah kayak Pak Profésok Lemahamba, pintêr dan lêmahnya åmbå-åmbå, boleh kamu berlagak. Sekarang baru sak prêcil, pintêr-nya juga baru sak prêcil, sudah berani ngênyèk wongtuwå, ya !”

Wah, gawat ini, pikir saya. Mr. Rigen lagi tiwikråmå.

“Ayo, sini kroketnya ! Dibagi buat kita semua !”

Dan sekali renggut, kroket Sanitas itu sudah berpindah ke tangan Mr. Rigen. Edyan tenan ! Mr. Rigen jagoan Pracimantoro itu tiwikråmå tênan.

Yogyakarta, 8 Agustus 1989

*) gambar dari food.detik.com

Bima, Oh, Bima (Biru Malam)

ka bimaMALAM itu saya harus naik kereta api Bima dari Cirebon ke Yogya. Dengan gagah saya menolak tawaran kawan untuk pulang saja ke Jakarta naik mobilnya yang mewah ber-AC dan pulang ke Yogya keesokan harinya dengan pesawat Garuda, yang cuma makan waktu kurang lebih lima puluh menit. Dengan Bima, perjalanan ke Yogya akan ditempuh dalam waktu enam jam. Itu pun kalau tidak terlambat, kata kawan saya itu. Sekali lagi dengan gagah ditambah dengan senyuman penuh kepastian, saya tolak bujukan kawan saya itu. Dalam hati saya ngunandikå,

“Ah, … dia tidak tahu bagaimana nikmat dan romantisnya naik kereta api Bima itu.”

Dahulu, pada waktu saya sinêngkakaké ing ngaluhur, diorbitkan ke atas menjadi priyagung yang disebut direktur jenderal, boleh dikata saya puas naik Bima. Lha, bagaimana tidak ?! Garuda sedang sakit-sakitan dan melarat-melaratnya. Pesawat hanya Corvair dan Dakota. Keberangkatannya pun tidak menentu. Padahal saya harus banyak meninjau daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lha, kalau tergantung Garuda ‘kan cilåkå ! Maka Bima adalah pilihan satu-satunya.

Ketika itu gerbong-gerbong Bima masih baru kinyis-kinyis, bikinan Jerman Timur. Bisa disulap menjadi kompartemen tidur yang nyaman sekali. Untuk kelas utama bahkan ada bak tempat cuci muka lengkap dengan handuk putih bersih, sabun dan air hangat. Lagu-lagu yang diputar pun juga pas. Ketika meninggalkan Jakarta, lagunya ‘Jali-Jali’. Menjelang masuk Surabaya, lagunya ‘Surabaya’, yang dilantunkan oleh Dara Puspita. Menggugah dan menyuruh penumpang untuk bersiap-siap. Dan suara announcer, penyiar, wanita yang merdu dan canggih penguasaan bahasa Indonesia dan Inggrisnya, sewaktu-waktu akan terdengar memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan. Setiap berhenti di satu kota tujuan, pintu kompartemen pun akan diketok dan pramugari atau pramugara dengan sopannya memberi tahu kita bahwa kota tujuan kita sudah dekat. Pada waktu tengah malam begitu kadang-kadang saya terbangun, gorden jendela saya buka, pohon-pohon dan rumah-rumah kelihatan berlari dalam keremangan malam. Suara lokomotif di rel yang terawat baik itu mendesau merdu.

Saat-saat begitu benar-benar terasa suasana adem, tenteram, aman dan memberi makna yang romantis kepada nama kereta api yang biru malam itu. Ah, … dengan nostalgia seperti itulah saya bersiap-siap menaiki Bima dari Cirebon ke Yogya.

Waktu suara jès-jès-jès disel Bima itu terlihat memasuki stasiun Cirebon, eh, hati ini berdegup, lho. Kayak menunggu kedatangan pacar yang sudah lama tidak ketemu malam itu. Saya segera berlari mencari kompartemen saya. ‘Biru Malam, Biru Malam ! Ini aku datang, bukakan kompartemenmu. Aku siap mendobrakmu, mengoyakmu, menidurimu, membuka gordenmu, menatap bintang-bintangmu, mendengar desau diselmu, suara pramugarimu … dear passengers… Semua, semua milikmu yang mengagumkan itu.’ Lho, pintunya yang mana, sih ? Lho, pramugari dan pramugara yang siap berdiri di tangga menunjukkan kompartemen kita di mana, sih ?

Sesudah lora-lari ke sana ke mari, mencoba mencari pintu yang terbuka, akhirnya saya temukan juga satu pintu yang agak terbuka. Dengan susah payah saya masuk ke gerbong tempat duduk yang umpêl-umpêlan diduduki segala macam orang. Sebagian malah sudah bersiap-siap tidur dengan menggelar koran di lantai.

Wah, hampir tidak percaya saya ! Masak iya ini Bima-ku yang indah dan romantis itu ? Jangan-jangan saya keliru sêpur trutuk yang di setiap stasiun berhenti setengah hingga satu jam itu. Melihat gelagatnya kok mèmpêr betul dengan sêpur begitu. Orang jualan pun sudah berlompatan masuk dan dengan semangat kompetisi yang dahsyat. Kacang-kacang, dodol-dodol, nasi bungkus-nasi bungkus dan entah apa lagi.

Akhirnya saya temukan gerbong dan kursi tempat duduk saya yang ternyata berada di sudut dekat pintu dan WC. Waktu akhirnya Bima itu berlari, hilang sudah harapanku yang sudah saya setel sesuai dengan nostalgiaku. WC itu, pintunya terbuka terus dan baunya pesing bin pesing. Pintu yang ada di bordes, masya Allah, sêparo sudah jebol dan diganti, ditambal dengan potongan bambu. Mungkin insinyur yang mengawasi perbaikan pintu dan gerbong kereta api itu punya hobi membuat kandang ayam.

Tidak ada malam yang biru atau biru yang malam. Bahkan rasanya bintang-bintang, cuwilan bulan, pepohonan dan rumah-rumah pun ikut solider dengan pintu bordes yang berwajah kandang ayam itu. Tidak tampak apa pun. Maka, malam itu dengan AC yang tidak jalan, keringat yang berliter-liter, baju yang basah kèplèh, saya mencoba tidur. Tentu saja tidak bisa.

Untunglah (kapan sih, orang Indonesia tidak untung ?) Bima masuk stasiun Tugu hampir tepat waktu. Saya lihat Mr. Rigen dengan mata yang sudah sipit tetapi merah, menunggu di pintu keluar stasiun. Begitu menghirup segarnya udara subuh atau hampir subuh di Yogya, saya langsung merasa kêpingin sarapan subuh dengan nasi gudeg.

“Mr. Rigen, kita langsung ke gudeg Bu Mul dan wédang jahé Bu Amat dulu !”

“Lho, ini jam setengah tiga pagi, Pak. Mau dhahar sarapan ?”

“Ha, iya. Lapêr dan kêmropok, jéé !

Kêmropok pripun ? Wong naik sêpur Bima yang dahsyat kok kêmropok ?

“Sudahlah. Nanti kalau kita sudah di gudeg Bu Mul dak critani.”

Dan kemudian sembari makan gudeg Bu Mul yang sesungguhnya rådå sangit tetapi pada malam itu terasa nikmat sekali, saya melapor kepada dirjen saya yang bernama Mr. Rigen. Saya melaporkan tentang bagaimana saya kêtulå-tulå, terlunta-lunta, disia-sia oleh kereta api Bima. Sehabis cerita, saya tatap muka Mr. Rigen yang sedang asyik me-ngêlamuti paha ayamnya. Saya tunggu dengan sabar sampai sisa-sisa daging di pinggiran balung itu habis ludes.

Dan Mr. Rigen tampaknya sadar betul kalau boss-nya sesungguhnya sedang mendambakan komentarnya. Sesudah selesai makan dia minta kobokan. Dicucinya jari jemarinya yang belepot daging dan santên. Kemudian di-sruput-nya teh jahenya. Baru kemudian mulai ngomong dengan ngglêgês. Wah, cilåkå. Kalau tokoh Pracimantoro sudah menyusun bibirnya dengan glêgêsan begitu, pertanda gawat, nih.

Ngètên lho, Pak. Begini lho, Pak. Bapak itu sering membingungkan saya.”

“Lho, membingungkan bagaimana ?”

“Kadang-kadang jaan saya terheran-heran betul. Wong Bapak itu menurut saya tidak pernah kekurangan paringan rahmat Gusti Allah, lho. Lha, kadang-kadang kok masih belum mensyukuri itu semua. Lha, wong baru diêngkuk-êngkuk dan diciprati bau pesing kereta api Bima begitu saja kok bolehnya dukå dan sambat ngaru-årå kayak sudah mau dibuang ke Nusakambangan.”

Hussy, dhapurmu, Geenn, Gen ! Lha, menurut kamu, apa hak kita rakyat Indonesia tidak disepelekan sama PJKA. Karcis itu kita bayar, Gen. Dijanjikan pakai AC. Dan dulu Bima itu pernah bagus sekali melayani rakyat. Lha, sekarang kok merosot ora karu-karuan itu terus piyé ?!

“Lho, ning yang namanya rakyat itu ‘kan ya sênêng saja to naik sêpur itu ? Buktinya rakyat itu masih sênêng naik sêpur begitu kok, Pak.”

Wéé … lha, Gen. Kowe itu mau saya critani tentang hak kamu yang dikentuti kok malah nrimo, lho ?”

Ha, ênggih nrimo to, Pak. Sudah bagus ada kereta api buat kita semua yang masih jalan. Coba kalau Bima itu tidak jalan, terus Bapak mau pulang dari Cirebon naik apa, hayoo ?”

Saya tidak berani meneruskan percakapan lagi. Mr. Rigen sudah mengejawantahkan dirinya jadi rakyat Mataram sejati. Terus mau diajak demokrasi dan keterbukaan yang bagaimana kalau dia sudah begitu ?
Eh, … omong-omong tentang keterbukaan, ada empat syaratnya. Satu …..

Yogyakarta, 1 Agustus 1989

*) gambar dari kaskus.co.id

Linggardjati

gedung linggarjatiKARENA urusan saya di Cirebon bisa selesai hanya dalam waktu dua jam saja, saya diajak oleh tuan rumah untuk bertamasya ke Linggardjati. Saya menerima ajakan itu dengan senang hati. Kereta api Bima ke Surabaya lewat Yogya baru akan datang pukul setengah delapan malam. Jadi masih ada tujuh jam untuk mengisi waktu dan Linggardjati memang tempat historis yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi.

Kami sengaja lewat jalan memutar gunung Cerme, lewat Majalengka dan Kuningan. Jalan berkelok-kelok, naik dan turun, sawah-sawah, kebun-kebun dan desa-desa yang agaknya tidak sepadat desa-desa Jawa Tengah. Tetapi semua panorama yang indah dan mendebarkan hati itu hanya sebentar saja tergores bagaikan kartu bergambar.

Kemudian pemandangan mengabur dan berganti ke Yogya pada tahun-tahun revolusi. Pada waktu itu saya baru duduk di kelas satu SMA, kira-kira baru berumur 14-15 tahun. Suasana Yogya sebagai ibukota revolusi selalu hangat, revolusioner, emosional dan selalu siap untuk bergerak menuju perkembangan yang entah bagaimana jadinya. Setidaknya itulah persepsi saya tentang suasana waktu itu.

Kami di sekolah boleh dikatakan hanya lima puluh persen belajar. Selebihnya kami pakai untuk bermacam-macam aktivitas. Berangkat ke front, pulang dari front, mencatut beras, barang lux dari garis perbatasan. Di sekolah, di antara pelajaran, kami berdebat tentang revolusi, tentang nasib republik.

Pada waktu perundingan antara republik dan Belanda di Linggardjati itu, saya ingat, kami sekelas berdebat dengan sengitnya tentang peristiwa itu. Kelas kami terbelah dalam dua kubu. Kubu yang bersimpati dengan Persatoean Perdjoeangan dan kubu yang bersimpati dengan Sayap Kiri. Kalau dilihat dari sudut pandangan sekarang, komposisi dua kubu itu jadi sangat aneh. Persatoean Perdjoeangan terdiri dari kelompok oposisi yang mencakup unsur-unsur Masjoemi (Islam), PNI (Nasionalis) dan Moerba (Marxis Trotskyist). Sedang Sayap Kiri adalah kelompok pendukung pemerintah yang mencakup unsur-unsur Partai Sosialis, Partai Buruh dan PKI (yang semuanya adalah partai Marxis).

Pada waktu itu Partai Sosialis belum pecah dan PKI belum diambil alih oleh Muso. Pada pokoknya kelompok Persatoean Perdjoeangan cenderung tidak mau berunding dan berkompromi dengan Belanda. Sedangkan Sayap Kiri yang dipimpin Partai Sosialis memilih jalan berdiplomasi dan berperang. Maka Persatoean Perdjoeangan menolak Linggardjati dan Sayap Kiri yang memerintah tentu saja merestui Linggardjati. Begitulah kami, murid-murid SMA yang baru berumur antara 14-16 tahun, sudah “berpolitik tinggi” ikut ngotot-ngototan tentang Linggardjati. Saya ingat memilih setuju dengan Linggardjati.

“Kamu goblok setuju dengan Linggardjati. Kita dikibuli Belanda dengan mau menerima Sumatra, Jawa dan Madura saja sebagai wilayah republik. Seharusnya kita tolak itu dan terus berperang saja dengan Belanda !”

“Kamu yang goblok bin bénto. Kita perlu adêm-pause, istirahat untuk ambil nafas dalam perjuangan. Lawan kita itu Belanda dan Inggris, lho. Kalau tidak diselang-seling dengan rundingan, kita bisa digebuk terus. Sambil berunding, berdamai sebentar, kita himpun kekuatan dari sana-sini.”

“Ahh, kalian tidak tahu teori revolusi. Revolusi itu tidak tahu ngaso. Harus gebuk terus sampai lawan bertekuk lutut !”

Ayakk, kok bolehnya seru ngomongnya. Gêbak-gêbuk, gêbak-gêbuk. Kalau tahu-tahu kita mrèthèli semua karena senjata kita yang sedikit itu habis dan belum sempat bikin teman dari luar negeri bagaimana, hayoo ?”

“Nah, itu tandanya orang tidak percaya kepada kekuatan sendiri. Ayoo … gebuk terus, Bung !”

Ahh, tahun-tahun yang begitu menegangkan, bergelora, emosional, tetapi juga romantis dan manis. Ke mana saja “lawan-lawan” saya itu sekarang ? Yang kiri, yang kanan, yang tengah, yang pinggir, yang ekstrem, yang lunak. Ahh … anak-anak kucing yang dikarbit revolusi menjadi macan-macan yang galak.

Tahu-tahu mobil kami sudah sampai di depan gedung tempat perundingan di Linggardjati. Tempat itu terletak di bukit, sejuk, indah tetapi lengang. Hanya seorang penjaga yang sudah berambut putih menyambut dan memandu kami. Saksi hidup yang tinggal sedikit, yang masih ingat peristiwa itu dengan baik.

“Di sini pan Muuk, Skemerhoren dan Belanda lainnya tidur. Lha, yang kamar itu Bung Sahrir, Mester Rum. Pak Santo, Amir Saripudin, Ali Budi tempat lain.”

Lha, Bung Karno dan Bung Hatta ? Di mana beliau-beliau itu tidur ?”

“Ohh, di Cirebon, di Kabupaten. Waktu itu Cirebon masih republik, Pak.”

“Lha, yang di kamar itu ?”

“Oh, itu buat bule Inggris jangkung yang bernama Lored Kileren. Wah, saya ingat ikut kerepotan cari tempat tidur yang cocok buat dia.”

Kami berkeliling di antara ruangan-ruangan itu. Delegasi kita yang begitu muda-muda, dan alangkah kecilnya yang bernama Soetan Sjahrir, perdana menteri republik yang konon cemerlang itu. Dan alangkah nglomprot-nya, kumelnya, baju-baju mereka dibandingkan dengan lawan-lawan mereka yang berbaju necis berdasi.

Sjahrir berjas dan berdasi hanya pada waktu pembukaan dan penutupan. Selebihnya sak énak wudêl mereka sendiri pakaiannya. Hanya Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai presiden dan wakil presiden, yang kelihatan berpakaian lengkap dan necis. Bung Karno, dalam potret-potret itu, bahkan kelihatan keren banget. Pakai tuxedo, celana panjang hitam, jas putih, dasi kupu putih dan itu dipakai di satu vila, di satu desa, di atas bukit terpencil. Edan tênan presiden kita itu. Dan ngganthêng-nya juga tidak ketulungan.

Ruangan serta perabotan untuk perundingan itu alangkah sempit dan sederhananya. Sekali lagi kami berkeliling mengamati foto-foto peristiwa itu. Bung Kecil, Adnan Kapau Gani dengan topi koboi lebar, Amir Sjarifudin dengan kaos putih saja (dan dalam dua tahun saja sesudah itu ikut PKI Muso, berontak di Madiun) dan prajurit-prajurit kita yang waktu itu masih bernama Tentara Keamanan Rakjat dengan celana yang kedodoran, peci miring, karaben kuno, dengan gagah mengawal perundingan itu. Ahh, … para bapak pendiri republik kita yang kanan, yang kiri, yang tengah, yang ekstrem, yang moderat, yang pinggir, tetapi juga penuh pengabdian itu.

Dalam perjalanan pulang, saya sekali lagi terbayang kelas di SMA, di Jalan Pakem, Yogya itu. Hiruk-pikuk mereka, ngotot mereka, celana-celana mereka yang berwarna tidak kongkret karena sudah luntur wèntêran-nya. Dan juga sesudah itu hiruk-pikuk anak saya, si Gendut, yang beberapa waktu lalu ramai berdebat di rumah Cipinang, dengan teman-teman mereka se-fakultas. Generasi muda yang berumur antara 20-21 tahun. Mereka saling ngotot berdebat tentang tragedi Waduk Kedungombo, untuk kemudian melompat tentang sepatu Nike, kaos Esprit yang sudah buka toko di Ratu Plasa, reuni SMA mereka yang akan diadakan di mana tahun ini dan akhirnya mengeluh mengapa pada hari sial itu bakso dan es buah langganan si Gendut tidak kunjung lewat …

Revolusi (memang) sudah selesai, kata Bung Hatta.

Yogyakarta, 25 Juli 1989

*) gambar dari museumindonesia.com

To Bali with Nya – Nya – Nya …

Lukisan Tarian BaliAIRBUS yang besar itu penuh penumpang. Nyaris semuanya turis Itali. Bisingnya bukan main. Bahasa spageti yang melodius itu serasa belum cukup seru mereka kemukakan. Maka tangan-tangan mereka pun ikut ambil bagian, menggaris bawahi suara-suara yang berlompatan keluar dari mulut mereka.

Sepuluh atau mungkin lima belas tahun yang lalu (wah, sudah begitu lamakah ?) saya juga pernah berada dalam satu pesawat Garuda dengan turis-turis Itali antara Roma dan Singapura. Juga bising begitu. Tangannya juga berlomba-lomba meraih ke atas bagaikan penari kecak (apa sejak zaman Romawi kuno mereka sudah begitu ?).

Ternyata ada sedikit perbedaan dalam pengalaman dengan mereka antara dulu dan sekarang. Dulu setiap pramugari mengucapkan lewat mike,

“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya …..”

Mereka bersorak, tertawa terpingkal-pingkal, sembari menirukan “nyonya-nyonya” dengan “nya-nya-nya, nya-nya-nya”. Mungkin bagi telinga mereka, suara “nya-nya-nya” itu begitu lucunya.

Tapi, sekarang suara “nyonya-nyonya” itu agaknya sudah tidak kedengaran aneh lagi bagi mereka. Buktinya ada beberapa kali pramugari kita menyebut kata tersebut, namun tidak seorang pun dari para turis Itali itu yang menirukan dan menertawakannya. Menggubris pun tidak ! Dengan asyiknya mengobrol dan mengobrol sembari tangan mereka ber-sliwêran ke kiri dan kanan.

Untuk mengenang peristiwa yang sudah lama sekali berlalu itu, saya berniat membalaskan dendam para pramugari Garuda yang dulu pernah mereka tertawakan dengan “nya-nya-nya, nya-nya-nya”. Saya mengucapkan,

Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji,”

setiap saya melihat tangan mereka ber-sliwêran ke atas, kiri dan kanan. Tentu saja mereka tidak mendengar permainan kecak saya. Saya balaskan dendam penghinaan kepada pramugari dan bangsa saya di dalam hati saja. Mau keras-keras saya lampiaskan, terbayang muka Pak Susilo Sudarman yang merah simpatik itu mewejang kita tentang pentingnya Sapta Pesona.

Ke Bali lagi. Kali ini berangkat dari Jakarta langsung ke Den Pasar tanpa harus singgah dulu di Yogya. Sekali lagi, saya terlunta-lunta dari satu seminar ke seminar yang lain. Untuk mencegah ke-anyêl-an saya mendengar bisingnya suara para turis yang sangat menjengkelkan, tetapi juga sangat kita butuhkan (kantongnya) itu, saya buka percakapan dengan turis yang duduk di samping saya.

“Kalian turis-turis ini kerja apa ya, di negeri kalian ?”

Sang turis yang nggantêng bagai Marcello Mastroiani itu agak terkejut juga mendengar ada pribumi berani-beraninya bertanya mengganggu kegembiraan mereka berdua. Tetapi kemudian dia menjawab dengan senyuman yang lebar. Mungkin itu tanda pertama dari kehangatan mediteranean yang tersohor itu.

“Kami pegawai-pegawai kantoran. And you ?

“Ah, … saya guru universitas lokal saja di Jawa.”

“Ah, … profesor, ya ? Kamu suka melancong juga seperti kami ?”

“Ya. Tapi cuma bisa dekat-dekat sini saja.”

“Oh, ya ? Ke mana misalnya ?”

Wah, cilaka ini ! Kok jadinya dia yang mengambil alih inisiatif menginterogasi. Saya jadi ingat ajaran kawan saya seorang perwira intel yang baru saja pensiun itu. Kalau kamu keserobot inisiatif ganti diinterogasi, kau harus cepat gertak.

“Ke Bantool, Sleman, Gunoong Quidoll dan beberapa tempat lainnya.”

Wah, cilaka lagi ini ! Ini teknik menggertak atau dagelan kepepet ?

“Wah, kota-kota mana itu ? Kok kami tidak lihat di peta ? Dan pemandu rombongan perjalanan kami kok nggak cerita apa-apa tentang kota-kota itu ! Pasti bagus ya, tempat-tempat itu ?

Si, si, si, signor. Prego, signor. Kapan-kapan you must come there, si !

“Apakah di kota-kota itu banyak cewek yang cantik-cantik seperti konon di Bali ?”

“Oh, si, si, si. Wanita di situ bella-figura semua deh … “

Saya tidak berani meneruskan ngomong sok Itali dengan mengobral si, si, si lagi, meskipun itu bisa dimasukkan dalam salah satu Sapta Pesona itu. Bukan apa-apa, soalnya flu saya itu lho ! Hidung saya sudah mau mèlèr, sêntlap-sêntlup. Kalau mau terus sok Itali dengan si,si,si, saya sendiri memang kudu sisi (buang ingus). Toh, kemudian saya teruskan bertanya.

“Kalian itu buang-buang duit untuk pergi jauh begini dari Roma yang begitu cantik dan hebat. Yang kalian mau cari itu apa, sih ?”

Ah, saya tahu itu pertanyaan klise pariwisata. Tetapi biar saja. Jawaban pasti klise juga. Ning Pak Joop Ave dan Pak Susilo Sudarman rak senang mendengarnya.

“Lha, Roma yang menurut kamu cantik dan hebat itu tiap pagi dan sore pada hari kerja sudah saya injak-injak sampai bosan. Kalau dua tahun begitu terus, bisa krêg (!), ambrol dong, kepala saya. Makanya saya kudu menabung dan menabung selama dua tahun supaya bisa lari dari Roma. Terus, apa yang saya cari di Bali ? Ya tidak tahu ! Menurut brosur wisata, hebat. Menurut film, dahsyat dan menggiurkan. Pokoknya yang penting lain, to ?”

Saya mengangguk-angguk. Biangané ! Trèmbèlané ! Wong mênus klèrêk kantoran saja kok dua tahun sekali bisa melancong keliling jagad, lho. Begitu kayakah negara-negara barat itu ?

Pramugari memberi tahu bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di Ngurah Rai. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya … Para turis itu sêmangkin riuh melihat ke jendela. Tangannya ber-sliwêran lagi. Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji !

Waktu taksi saya lewat Kuta, saya terkejut. Tampangnya sudah sêmangkin mirip dengan suburbia di mana saja. Toko-toko yang gumêbyar, supermarket, Kentucky Chicken, Burger King, Pizza Hut plus free Coke dan poster yang memberi tahu bahwa sebentar lagi akan ada kontes rock-dancing. Wah, semoga signor Marcello Mastroiani-ku tadi masih melihat yang berbeda dari Roma di Bali.

Nya-nya-nya, nya-nya-nya. Cak-cak-cak-ji, cak-cak-cak-ji. Sapta Pesona …

Yogyakarta, 18 Juli 1989

*) gambar dari blog-senirupa.tumblr.com

Sang Singa Laut

bayi merangkakTAHU-TAHU Ade Septian, adiknya Beni Prakosa, sudah bisa mbrangkang, merangkak. Berlainan dengan kakaknya yang tidak bisa merangkak tapi me-ngésot, Ade mengembangkan teknik pem-brangkang-an sendiri. Adapun teknik tersebut adalah teknik berjalan seperti singa laut, yaitu dengan bertumpu pada kedua tangannya dan mendorongkan tubuhnya ke depan. Suara kwèk-kwèk dari mulut singa laut serta suara kepak siripnya diganti oleh Ade dengan racauan mulutnya dan suara ngêcès dari ilêr-nya.

Perkembangan dari singa laut kecil itu telah membuat konfigurasi perimbangan kekuatan dalam konstelasi politik rumah saya bergeser secara radikal. Beni Prakosa, yang semula jadi pusat perhatian jagad, sekarang didongkel oleh sang singa laut. Tiba-tiba saja semua orang serumah lebih banyak memperhatikan sang singa laut. Tiba-tiba saja sang singa laut tampak lebih menarik dan lebih lucu dari kakaknya.

Tentu saja hal ini membuat Beni Prakosa tidak berkenan di hati. Status serta privelese yang dinikmati selama ini menjadi porak-poranda. Hatinya mendendam akan tetapi tidak kuasa untuk berbuat apa saja untuk melawan adiknya. Ada sepasang kekuasaan yang jauh lebih dahsyat dari dia. Mereka itu, tentu saja, Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem yang untuk urusan beginian tidak bisa ditawar lagi. Beni Prakosa lantas mengalihkan perhatiannya kepada saya. Setiap kali dia melihat saya duduk sendirian, di ruang tamu atau di ruang kerja sekali pun, dia akan mendekati saya. Kemudian membuka dialog, mulai dari yang paling simpêl hingga yang paling rumit. Misalnya,

“Pak Ageng, Pak Ageng, … langit itu dibuat dari apa, sih ?”

“Lho, ‘kan Pak Ageng sudah berkali-kali bilang tidak tahu !”

“Iya, itu ‘kan dulu. Tapi, sekarang Pak Ageng ‘kan sudah jadi propésok, mosok masih belum tahu juga ?”

“Ya, masih belum tahu juga, Lé. Ha, mbok Propésok Lemahamba yang sudah botak dan termasyur itu juga belum tentu bisa, .”

Beni Prakosa diam sebentar. Kemudian meneruskan lagi.

“Kenapa begitu, Pak Ageng ? Susah ya, mengerti langit ?”

“Iya, susah.”

“Karena langit yang buat Gusti Allah, ya ?”

“Iya !”

Beni Prakosa diam lagi.

“Pisang goreng itu dibuat dari pisang terus digoreng ya, Pak Ageng ?”

“Iya, betul. Dapat seratus kamu !”

“Kok saya tahu, Pak Ageng ?”

“Tentu saja kamu tahu, wong yang nggoreng ibumu begitu, lho.”

“Kalau yang membuat manusia, kita gampang tahu ya, Pak Ageng ?”

Ha, iya.”

“Lha, kalau yang buat adik Septian itu siapa to, Pak Ageng ?”

Wahh, … anak ini mulai gawat pertanyaannya. Ahh, mosok bêdhès cilik yang baru sak upil garing begitu mulai méncos pikirannya ?

“Lha, kalau menurut kamu siapa, Lé ?

“Ya Gusti Allah to, Pak Ageng.”

“Betul. Dapat seratus lagi !”

Lha, kok sekarang saya tahu, Pak Ageng ?”

“Tahu apa ?”

“Tahu dari apa adik Septian dibuat.”

“Dari apa, coba ?”

“Dari ilêr yang ngêcès, dari mata yang tholo-tholo dan dari suara yang hèwèh-hèwèh-hèwèh.”

“Kamu kok jahat sama adikmu, . Adikmu itu ‘kan cakep, pintar dan tidak cengeng.”

Huaahh … Pak Ageng ! Pak Ageng, adik itu tholo-tholo kacang ijo, hèwèh-hèwèh mulutnya blèwèh, ècès-ècès ilêr ngêcès. Adik èlèk, èlèk, èlèk … !

Sekarang Beni kena batunya betul. Mukanya jadi seketika asêm, matanya merah tanda marah dan mau nangis. Langsung saja dia pergi mengundurkan diri. Di belakang, saya dengar Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem menimang-nimang anak bungsunya itu.

“Bocah bagus, bocah bagus. Cepat besar, cepat pintar. Bocah bagus … “

Wah gawat. Situasi revolusioner memang sedang membara agaknya. Baru saja di depan sang Beni Prakosa harus mendengar pujian untuk pendongkelnya itu, sekarang di belakang suara pujaan menggema dengan jelasnya.

Dan benar saja. Sebentar kemudian saya lihat Beni Prakosa lari keluar sambil menangis sejadi-jadinya. Huaa … huaa … huaaaa ! Saya lihat Beni lari kencang berputar-putar tanpa pola di halaman depan. Kemudian, mak srêêtt, dia lari keluar, ke jalan dimana bus-bus kota dan mobil-mobil bersliweran.

“Mr. Rigen, Mr. Rigeenn !”

Yes, ênggih, Pak Ageng !”

“Itu lho, anakmu lari ke jalan. Kencang sekali !”

Dan Mrs. Nansiyem pun ikut berteriak panik.

“Lho, Lé … Léé … ! Paak, cepat kejar anakmu, Pak !”

Dan mak jênggirat, mak brêbêt, Mr. Rigen dengan gesit mengejar anaknya ke jalan. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Dan yang saling kejar itu belum juga kelihatan pulang. Mrs. Nansiyem sudah mulai mêmbik-mêmbik, matanya memerah dan hujan pun kelihatan akan segera turun dari matanya yang besar-besar itu.

Setengah jam kemudian, datanglah Mr. Rigen dan Beni Prakosa tertawa-tawa. Sang anak digendong bapaknya di belakang sembari klamut-klamut, menjilat-jilat es tung-tung. Hujan pun tak jadi runtuh dari mata Mrs. Nansiyem.

“Kok tadi kamu ngamuk terus lari, kenapa, ?”

Beni Prakosa tidak menjawab. Mungkin karena masih asyik menghabiskan jilatan es-nya.

Héé, … ditanya ibumu kok tidak menjawab. Ayo bilang !”

Beni masih belum menjawab. Baru setelah jilatan penghabisan dilakukan, tangannya yang masih basah bin plikêt itu diusap-usap di bajunya, dia menjawab,

“Seluruh isi rumah ini jelek semua. Nakal semua.”

Dan dia pun lari lagi. Kami semua memandanginya. Kali ini kami tidak khawatir lagi. Dia lari dengan hati puas.

Tetapi, tiba-tiba dari belakang terdengar suara hèwèh-hèwèh-hèwèh. Sang singa laut kecil merangkak dengan gayanya yang khas. Hèwèh-hèwèh-hèwèh. Saya tersenyum ngunandikå. Eh, … kok nggak bocah, nggak orang tua, kok berlaku juga pameo politik itu.

Kekuasaan itu cemburu. Power is jealous ….

Yogyakarta, 11 Juli 1989

*) gambar dari pixabay.com

Intermeso Kebudayaan

debus bantenDALAM suatu seminar baru-baru ini, sehabis saya cerita tentang budaya korupsi, seorang akuntan senior dari sebuah perusahaan terkenal mengeluh karena selama sekolah dari sekolah dasar hingga universitas belum pernah ketemu yang disebut kebudayaan itu.

“Masak iya, Pak. Betul Bapak belum pernah diajar kebudayaan di sekolah ?”

“Sungguh mati, Pak. Belum pernah ! Kalau sudah ‘kan saya tahu binatang apa kebudayaan itu !”

Lha, … kalau sejarah, bahasa daerah, bahasa Indonesia, kesusasteraan, apa itu ?”

Haaa … kalau itu sedikit-sedikit ya dapat, Pak. Diponegoro kalah karena dikibuli Belanda di Magelang. Pendeknya semua pemimpin kita kalah karena dikibulin Belanda melulu. Coba kalau tidak dikibulin, belum tentu Belanda bisa menang dari kita. Kesusasteraan ? Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Chairil Anwar. Yaa … lumayanlah, Pak. Sedikit-sedikit tahu jugalah. Tapi kebudayaan ?”

Lha, … ya itu semua, Pak, yang disebut kebudayaan … “

Dialog itu berhenti hanya sampai di situ. Saya tidak tahu kelanjutannya dengan pak akuntan yang serius itu. Apakah dengan dialog tersebut, beliau lantas banyak baca buku sejarah atau buku sastra, saya tidak tahu.

Dugaan saya, sejak itu beliau sangat serius pula memperlakukan kebudayaan dalam memeriksa keuangan perusahaannya. Habis, saya sudah terlanjur ngêdobos dengan meyakinkan bahwa korupsi itu erat sekali dengan kebudayaan. Ahh … jangan-jangan beliau malah jadi lunak terhadap para maling di perusahaannya. Bisa-bisa beliau akan dengan berlinang air mata mengampuni korupsi potensial itu. Mungkin beliau malah akan berkata,

Yahh … saya mengerti sekarang. Anda korupsi karena kebudayaan bukan karena mau maling. Anda diampuni …”

Wah … cilåkå kalau begitu !

Begitulah. Hari Sabtu kemarin, saya mendapat tugas negara yang bermutu internasional. Saya harus mengantar para peserta seminar SPAFA, proyek bersama antar menteri kebudayaan se- ASEAN, untuk berwisata ke Banten lama.

Para peserta sudah berharap-harap cemas untuk melihat Banten, yang dalam buku sejarah mereka dulu kadang disebut juga Bantam (mungkin istilah adu tinju ‘kelas bantam’ diambil juga dari kata Banten itu). Dan ketika akhirnya para turis budayawan itu turun dari bus, langsung saja sinar matahari Banten yang terik itu menyengat tubuh mereka.

Panas Banten ternyata jauh lebih menusuk dari Jakarta. Dan pemandangan itu persis seperti yang sering kita lihat di buku-buku pelajaran sejarah dulu. Masjid dengan arsitektur gaya Demak yang bercampur dengan unsur-unsur lain. Menara, makam para sultan di halaman masjid. Dan orang masih terus berdatangan untuk berziarah ke makam-makam itu. Ngalap berkah dan sebagainya itu.

Kemudian di sebelah selatan itu alun-alun dan di belakangnya reruntuk tembok-tembok panjang. Istana yang juga benteng Surosowan. Keraton yang dilindungi oleh tembok benteng gaya Eropa. Seperti Intramuros di Manila dan mungkin juga intramuros-intramuros di tempat-tempat lain yang pernah dijamah oleh tangan-tangan Belanda, Portugis atau Spanyol pada abad ke-16 atau 17.

Tetapi tampang keraton dari raja-raja Banten itu sendiri bagaimana ? Tidak ada satu pun sisa yang tampak. Semua reruntuk, reruntuk, reruntuk. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana hebat, megah dan mewah keraton itu mengingat akan kekuasaan dan kekayaan Banten sebelum dihancurkan oleh Belanda. Kerajaan itu adalah kerajaan yang kaya, yang menguasai perdagangan merica di kawasan barat Pulau Jawa, selatan Sumatra, pesisir timur dan barat Sumatra waktu Portugis menguasai Malaka. Dan para pedagang Gujarati dan Timur Tengah sudah lebih dulu berhubungan dengan Banten yang Islam. Kita bisa bayangkan grandeur itu. Tetapi terjemahan grandeur dalam ukiran tiang-tiang kayu keraton ? Tidak bisa lagi.

Di museum Banten kita bisa melihat gambar-gambar penguasa Banten zaman itu. Wah, … kok pada tidak memakai baju, kok gligå saja ? Meskipun di bawah ada kain panjang yang tampaknya mewah juga. Tetapi, waktu saya merasakan panasnya matahari Banten, mungkin betul juga mereka (pada zaman itu) merasa tidak perlu pakai baju. Sumuk ‘kan ? Tetapi angin Banten pada waktu itu ? Apa tidak sejahat angin Banten kontemporer ? Sekarang di mana-mana kita pakai baju. Di samping sêtil, takut masuk angin, toh ?

Dan masih ada satu reruntuk lagi yaitu istana atau keraton Kaibon atau ‘tempat ibu’, karena itulah istana ibunda Sultan. Reruntuk itu masih lumayan. Masih ada gerbang candi bentar seperti di Jawa Timur. Tetapi, selebihnya ya reruntuk lagi. Sia-sia saya mencoba membayangkan kecantikan keraton itu. Yang mestinya punya arsitek yang ya rada feminin. Yang mestinya ibunda itu ya pantesnya ayu juga. Ahh …

Mengapa reruntuk-reruntuk peninggalan kebesaran kebudayaan kita masih terus saja tidak cukup terurus ? Tidak cukup dana dan anggaran yang tersedia ? Mungkin karena kita sekarang berpikir perut dulu, warêg dhisik wêtêngé. Nanti kalau sudah cukup uang untuk mengenyangkan perut, naahh ….. gampang, gampang. Yang disebut kebudayaan, kesenian itu nanti akan beres sendiri. Beres sendiri ? Ayakk … !

Lha, sebaliknya dulu Bung Karno berpikir lain. Ekonomi itu tidak usah ndhakik-ndhakik, rumit-rumit, sok canggih-canggih. Seadanya saja dulu. Yang penting bisa bikin toko Sarinah dulu, Hotel Indonesia dulu, stadion temu gelang dulu. Kita harus bangga dulu jadi orang Indonesia. Karena itu perlu bikin proyek mercu suar di mana-mana. Kalau kita sudah bangga, sudah terkikis mental inlander kita, naahh ….. gampang, gampang. Yang disebut perut kenyang, baju cukup, rumah bagus itu akan datang sendiri. Datang sendiri ? Ayakk … !

Sebelum pulang kami disuguhi seni debus. Yaitu seni mèjik, magic, yang sêrêm-sêrêm. Parang yang tajam disabet-sabetkan ke tangan. Tidak apa-apa. Besi berujung lancip dan tajam ditusukkan ke perut. Tidak apa-apa. Benang gulungan kecil dimasukkan lobang hidung kemudian ditarik jadi panjang sekali. Tidak apa-apa. Tidak mimisan. Kemudian mulut dimasuki gulungan koran yang dibakar, ditelan. Eh, … dari mulutnya kemudian mucul beruntun tujuh kali kelelawar hitam. Wah, saudara Dracula, sebaiknya Anda minggir saja. Kelelawar-kelelawar itu, menurut pemimpinnya, pagi-pagi sudah dimasukkan ke dalam perut pendekar yang malang itu. Semalaman dia harus puasa untuk bisa pamer seni mengeluarkan kelelawar itu.

Salah seorang pemimpin lokal Banten dengan seriusnya menerangkan kepada saya,

“Pak, itu bukan ilmu hitam, mèjik atau apa, lho.”

Elho, … lha, terus apa, dong ?”

“Itu ilmu putih. Itu seni dari Gusti Allah, Pak …”

Saya hanya manggut-manggut. Dalam hati saya ngunandikå,

“Gusti Allah yang begitu sibuk mencipta yang besar-besar dan berskala semesta kok ya masih diajak main sulapan, lho. Wong Banten, wong Banten.”

Di dalam bis pulang, waktu lewat keraton Kaibon sekali lagi saya ingat Beni Prakosa yang tempo hari diarak gurunya ke bentang Vredenburgh. Waktu saya tanya kesan-kesannya, matanya berkilat-kilat, melapor,

“Tadi kita jajan bakso sama es tung-tung, Pak Ageng. Enaakk … !”

Yogyakarta, 27 Juni 1989

*) gambar dari metafisik.net

Bakpao Di Tangan Kiri, Sate Usus Di Tangan Kanan

rakus makanSUDAH beberapa hari Beni Prakosa ada di rumah. Sekolahnya libur karena kenaikan kelas. Sekarang bêdhès cilik itu tahu-tahu sudah naik ke kelas nol besar. Catatan guru di buku rapornya, ‘belajarlah lebih baik lagi dan jangan suka sembrono’. Saya tidak tahu maksud dengan ‘sêmbrono’ itu.

“Maksudnya dengan ‘sêmbrono’ ini apa to, Gen?”

“Wah, mbotên ngêrtos, Pak.”

“Lho, kok tidak tahu. Apa kamu tidak tanya sama gurunya?”

“Gurunya juga nggak jelas kasih keterangan. Mungkin karena tholé itu kalau di kelas suka jalan-jalan, lihat temannya nulis.”

Mosok cuma begitu saja sudah dibilang ‘sêmbrono’ to, Gen?”

Lha, saya tidak tahu juga, Pak. Kalo menurut saya tidak apa-apa to, Pak, jalan-jalan di kelas. Wong masih bocah saja, lho. Rak ênggih to, Pak?”

“Menurut saya juga tidak, wong baru duduk di kelas nol kecil. Kelas nol kecil ya untuk belajar dolanan. Lha, … kalau nanti sudah kelas nol besar baru sedikit-sedikit dilatih duduk tertib. Mana anakmu itu?”

Beni Prakosa sedang di belakang nguyêl-uyêl adiknya yang baru belajar merangkak. Adiknya lama-lama bosan diuyêl-uyêl begitu, Beni makin senang. Semangkin menjadi dia bolehnya meng-uyêl-uyêl adiknya. Ibunya yang sedang sibuk kerja di dapur karuan saja jadi tambah sewot.

Huayo, Beni ! Kalo nggak mengganggu adiknya kok nggak puas, lho ! Kalo adikmu jerit-jerit begini, kamu bisa nggéndong, apa ?! Kurang kerjaan kamu, ya ?! Disuruh bantu ibu malah ngaco ! Ayo, sini kamu !”

Rupanya Beni langsung mendapat hadiah cubitan dari ibunya. Buktinya sekarang Beni juga menangis jerit-jerit. Melihat kakaknya menangis, sang adik makin menjadi-jadi nangisnya. Di belakang sekarang ada konser musik kamar yang meriah. Mrs. Nansiyem yang menjadi maestro konduktor jadi kebingungan mengayunkan baton-nya. Konser itu jadi konser yang kacau.

“Dasar anak dhêmit semua kamu, ya ! Begini ini lho, Pak, kalo libur. Ribuuttt saja di rumah. Kenapa sih sekolah itu pake libur-libur segala ? Bikin repot orang tua saja !”

“Lho, kok liburnya yang disalahkan ? Wong anaknya itu memang badung, kok !”

Lha, iya. Sudah badung tidak sekolah. Makin badung saja di rumah.”

Wis … wis, Lé. Diam. Sana, kamu dipanggil Pak Ageng !”

Beni Prakosa pun masuk ruang depan. Meng-ucêk-ucêk matanya yang habis menangis.

“Eh, … sudah besar kok menangis, Lé ? Kamu nakal sama ibumu, ya ?”

“Tidak, Pak Ageng. Ibu yang nakal. Beni dicubit.”

“Ya … kamu dicubit karena kamu nakal.”

“Beni cuma main sayang-sayangan sama adik kok dicubit.”

“Tapi, adikmu apa senang kamu ajak main ? Wong terus nangis gitu, kok.”

“Pak Ageng, minta bakpao.”

“Ooo … rupamu ! Masih kecil kok sudah pinter mengalihkan perhatian. Ini taktik dari bapakmu atau dari ibumu ?”

“Bakpao, Pak Ageng. Sudah lama nggak beli.”

“Nggak ! Bakpaonya nggak enak !”

Beni diam. Tetapi masih terus berdiri di dekat saya. Matanya mulai menjelajahi meja, kalau-kalau masih ada kue atau apa. Ternyata meja kosong.

“Pak Ageng.”

“Apa ?”

“Kalau tidak bakpao, beli sate usus Pakde Joyo ya, Pak Ageng ?”

Wee … lha, kok malah naik tuntutanmu, Lé ?

“Sate usus Pakde Joyo, Pak Ageng. Sate usus.”

“Apa kamu sudah mandi ?”

“Belum.”

Wong belum mandi kok sudah nuntut macam-macam. Mandi dulu. Nanti dipertimbangkan.”

“Libur, Pak Ageng.”

“Terus ? Kalau libur tidak mandi ?!”

Beni Prakosa menjulurkan lidahnya. Sambil lari ke belakang berteriak,

“Pak Ageng pelit ! Pak Ageng pelit !”

Saya meneruskan membaca koran. Beni Prakosa kembali. Tampaknya sudah mandi. Rambutnya masih kelihatan basah. Sisirannya awut-awutan.

“Sudah mandi, Pak Ageng.”

“Memangnya kenapa kalau sudah mandi ?”

“Bakpao atau sate usus, Pak Ageng ?”

“Tunggu dulu. Lapor dulu. Kamu kalau di kelas suka jalan-jalan, ya ?”

“Iya. Tapi diajak teman.”

“Lho, kok kamu mau. Terus kalau jalan-jalan ngapain saja ?”

“Ya, nggak apa-apa, Pak Ageng. Bakpao atau sate usus, Pak Ageng ? Beni sudah mandi.”

Eitt … tunggu dulu. Kamu kalo jalan-jalan di kelas suka ngganggu temanmu yang perempuan, ya ?”

“Nggak, Pak Ageng. Cuma ikut-ikutan nulis saja, kok.”

Lha, iya. Itu mengganggu namanya. Kalau sudah kelas nol besar tidak boleh jalan-jalan di kelas lagi, ya ! Mesti duduk tegak-tegak di kursi, mendengarkan bu guru.”

“Kok nggak boleh jalan-jalan ? Kenapa, Pak Ageng ?”

“Coba tanya bapakmu dulu, kenapa nggak boleh jalan-jalan di kelas.”

“Kenapa kok nggak boleh, Pak ?”

“Ya nggak boleh ! Itu sudah peraturan. Kudu diturut, Lé !

“Peraturan itu apa ? Bakpao atau sate usus, Pak Ageng ?!”

Saya kagum dengan determinasi bêdhès cilik satu ini. Bakpao atau sate usus. Bakpao atau sate usus.

“Ehh, Beni. Jalan-jalan di kelas itu nggak boleh karena bikin ribut di kelas.”

“Nggak ribut kok, Pak Ageng. Teman-teman malah ngajak ngobrol itu. Bakpao atau sate usus, Pak Ageng. Bakpao atau … “

Waktu itu memang penjaja bakpao pas kebetulan lewat. Kok ndilalah Pak Joyo juga pas kebetulan lewat.

“Nah, itu Pak Ageng. Dua-duanya datang. Panggil semuanya ya, Pak Ageng.”

“Ya, panggil. Panggil, Le.”

Saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba memutuskan untuk menuruti kemauan bêdhès cilik èlèk itu. Mungkin karena diam-diam saya menghargai determinasinya ? Atau karena saya tidak tahan digrêgik, diteror begitu terus ? Atau karena saya memang bodoh saja ?

Beni Prakosa berjalan dengan gagah melewati saya, bapak dan ibunya. Bakpao di tangan kiri, sate usus di tangan kanan. Saya tidak tahu mana yang madu, mana yang racun kalau sudah begitu.

Saya ngunandikå di dalam hati. Alangkah hebat Tuhan Sang Maha Seniman itu. Dia menciptakan makhluk yang kita sebut anak-anak. Dari apa sesungguhnya mereka dibikin ? Toh tidak hanya balung, sumsum, jerohan dan sebagainya itu ? Anak-anak itu ingin jalan-jalan di kelas. Ya jalan-jalan saja ! Ingin Bakpao dan sate usus ! Apa betul anak-anak itu serakah bin nggeragas hanya karena sekali tepuk ingin mendapatkan bakpao dan sate usus ? Atau itu hanyalah bakat terpendam untuk inisiatif, eksploratif dan if-if lainya yang mesti kita baca sejak dini dengan pintar dan peka ?

Yogyakarta, 20 Juni 1989

*) gambar dari monster-bego.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 348 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: