Beni Prakosa, yang pada tahun ini akan berumur tujuh tahun, sesumbar kepada orang tuanya bahwa dia akan puasa penuh. “Saya rak sudah besar to Pak, Bu. Sudah harus bisa puasa sampai sore.” “Wah, hebat, Lé. Sejak kapan kamu punya tekad begitu?” “Di sekolah kami suka ejek-ejekan, Pak.” “Ejek-ejekan bagaimana?” “Beni masih kapir, Beni masih kapir. […]

Beri peringkat:

Dalam usianya yang 54 tahun serta cucu yang berjumlah 7 orang, dia masih tampil segar dan semarak. Dengan penuh percaya diri dia melangkah mantap menuju panggung. Wireless di tangan ditentengnya dengan ringan, senyumnya yang ceria dan genit dilemparnya kepada hadirin. Kemudian waktu kakinya mulai menyentuh panggung, seketika wireless itu didekatkan ke mulutnya, tubuhnya dibalikkannya ke […]

Beri peringkat:

Seperti telah dikabarkan dalam tulisan sebelumnya, Mr. Rigen memaklumkan perang dhådhå mênthok kepada Pak Joyoboyo. Mereka menyambut Perang Teluk atau Operasi Badai Gurun itu dengan satu pertaruhan. Mr. Rigen pegang Saddam, Pak Joyoboyo pegang Bush. Adapun taruhannya dhådhå mênthok dalam ténong Pak Joyoboyo. Yang kalah mesti memborong dhådhå mênthok sak ténong itu. Maka pada hari […]

Beri peringkat:

Sebelum berangkat ke lapangan terbang, saya memerintahkan Mr. Rigen singgah dulu di Nyonya Suharti untuk menyambar beberapa ekor ayam goreng beserta ati rêmpêlo dua porsi. Sesudah dapat, di dalam jip Mr. Rigen meng-grêndêng, “Mbak Gendut itu, lho. Wong di Jakarta sudah ada beberapa Nyonya Suharti, belum lagi têdhak-turun-nya Mbok Berek dan lain-lain, kok ya masih […]

Beri peringkat:

Sore-sore pada waktu saya sedang rêriungan di lincak depan rumah dengan Beni Prakosa dan Tholo-Tholo, mask srêt, masuk sebuah mobil BMW. Kami gragapan melihat mobil yang nyaris tanpa suara itu dengan ngêlênyêr-nya masuk. Teknologi mutakhir mobil-mobil dunia rupanya ingin mengembangkan suatu mobil yang nir-suara, yang pada satu ketika akan mengubah lalu lintas jalan raya menjadi […]

Beri peringkat:

Di rumah saya, Perang Teluk dinikmati juga oleh Mr. Rigen dan Beni Prakosa. Berita dan  ulasan di tivi maupun berita di koran-koran dan majalah, semua dilahapnya habis. Begitu tivi menyiarkan berita dunia, mak prung, akan dilepasnya semua yang ada di tangan dan segala tugas yang sedang dia kerjakan. Terus, mak brêbêt, dia pun dengan diikuti […]

Beri peringkat:

Pagi pertama saya berada kembali di Yogya, Mr. Rigen menyediakan di meja, makan jajan pasar lengkap. Klêpon, thiwul, gatot, kêtan bubuk, gêthuk baik merah maupun putih. Dan di atas itu semua, kêpyuran kelapa yang sangat generous. Kopi tubruk hitam dan air putih dingin. “Wah, kok bolehnya kamu unjuk gigi alias show of force, Mister.” Mr. […]

Beri peringkat:

Pada suatu sore, waktu saya nglaras sembari sekali-sekali me-nyêruput teh bikinan Mrs. Nansiyem yang bukan nasgitêl (panas-lêgi-kênthêl), tetapi itnaswèr alias pahit-panas-cuwèr, Mr. Rigen datang membawa koran Kedaulatan Rakyat. “Jadi, Prof. Koesnadi itu saèstu, jadi sèlèh kêprabon, tidak menjabat rektor lagi nggih, Pak ?” “Kamu itu tahu dari mana ?” “Lha, ini dari koran. Waktu beliau […]

Beri peringkat:

Sore itu Prof. Dr. Lemahamba, etc, etc, … datang ke rumah. Di tangannya ada sebuah bungkusan. “Mana Mr. Rigen ?” tanyanya kepada saya yang khusus menyambut beliau di teras. “Lho, kok yang ditanya Mr. Rigen ? Yang punya rumah hambêgêgêg di sini lho, Prof !“ “Aah, … kamu tidak penting, Geng. Rakyat dulu, baru pemimpin.” […]

Beri peringkat:

Mr. RIGEN, seperti sering saya laporkan di kolom ini, adalah seorang pengamat sosial yang baik. Kalau dulu dia mendapat kesempatan pendidikan yang baik serta hoki secukupnya, saya berani bertaruh dia akan bisa menjadi seorang ilmuwan sosial yang cemerlang. Atau kalau dia tidak tertarik dengan olah ilmu konvensional itu dan senang melatih keterampilan menulis atau mendapat […]

Beri peringkat:

ngaji di Nottingham

tulisan ala kadarnya untuk kenang-kenangan hidup

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 371 pengikut lainnya