Beni Prakosa Puasa Nutug

tunggu buka (lecastle.net)Beni Prakosa, yang pada tahun ini akan berumur tujuh tahun, sesumbar kepada orang tuanya bahwa dia akan puasa penuh.

“Saya rak sudah besar to Pak, Bu. Sudah harus bisa puasa sampai sore.”

“Wah, hebat, Lé. Sejak kapan kamu punya tekad begitu?”

“Di sekolah kami suka ejek-ejekan, Pak.”

“Ejek-ejekan bagaimana?”

“Beni masih kapir, Beni masih kapir. Puasanya cuma sampai jam dua belas siang.”

Saya, yang sedang duduk membaca koran menunggu berbuka, tersenyum mendengar laporan Beni kepada orang tuanya itu. Anak-anak! Dari dulu sampai sekarang kok masih sama saja sadisnya.

Dulu waktu saya kecil di Solo, ejek-ejekan itu kurang lebih sama. Saya yang termasuk anak yang ‘lunak’, pada waktu duduk di kelas satu diijinkan oleh orang tua saya untuk puasa sak kuatnya. Kalau cuma kuat sampai jam sepuluh, ya boleh. Kalau kuat sampai jam dua belas, lebih baik lagi. Celakanya orang tua saya masih memberi sangu boterham alias roti mentega dan kêpyuran irisan gula jawa atau selei. Untuk jaga-jaga kalau pada jam sepuluh itu saya sudah betul-betul tidak kuat lagi. Tentu saja dengan sangu seperti itu, jam sepuluh saya sudah tidak kuat lagi. Juga beberapa teman yang lain.

Maka teman-teman yang rupanya lebih mendapat tempaan disiplin yang kuat, mulailah bersorak mengejek kami sebagai “anak-anak priyayi kapir” atau “priyayi abangan” (Waktu itu Clifford Geertz yang menulis tentang santri, abangan dan priyayi tentu masih anak-anak seperti saya juga, nun di Amerika Serikat sana. Kalau waktu itu dia melewatkan masa anak-anaknya bersama kami, apakah dia akan sanggup menulis bukunya itu di hari tuanya?). Biasanya kami lantas berkelahi yang segera saja dilerai oleh guru kami.

Wis, wis … ojo podho kêrêngan! Kalian semua adalah anak Islam yang baik. Semua sudah berani puasa.”

Kami lantas diperintahkan untuk saling salaman. Meskipun sesudah itu, di jalanan, kami meneruskan ejek-ejekan kami. Kami berkelahi lagi, lantas salaman lagi, lantas berkelahi lagi. Di hari tua, kami kadang-kadang masih bertemu di satu dan lain kesempatan. Dan selalu tertawa cêkakakan bila kami saling mengenang kekurang ajaran kami waktu kecil.

Sekarang di depan saya adalah Beni Prakosa yang tahu-tahu sudah akan berumur tujuh tahun. Kedudukan sebagai anak dirjen kitchen cabinet saya, tentu tidak sama dengan kedudukan saya dulu sebagai anak onderwijzer HIS alias guru SD model Hindia Belanda. Tetapi, dari sudut sosok kesenangannya sebagai anak kecil rak ya sama saja to?

Piyé, Lé? Kowé mau puasa nutug sampai sore?”

“Iya, Pak Ageng. Biar jadi orang Islam betul.”

“Bagus! Ning ya apa kamu akan kuat tênan?

“Kuat, Pak Ageng! Tadi pagi sahur saya tiga piring, Pak Ageng.”

“Tiga piring? Wah, … sahur sama apa saja? Jangan-jangan nanti malah ambrol semua di sekolah.”

Kami semua tertawa terkekeh-kekeh.

“Pak Ageng, kalau Beni bisa terus nutug sampai Lebaran, dapat hadiah apa, Pak Ageng?”

“Kamu dak kasih sarung baru, peci dan hèm baru. Piyé?

“Sama jas juga, Pak Ageng.”

Elhoo … kok mêrmên bin menjalar tuntutanmu. Pasti ini bisikan bapakmu.”

Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem pun secara koor menyangkal.

Mbotên, mbotên, Pak Ageng. Kami tidak kasih bisikan apa-apa lho, Pak Ageng.”

Yo, wis. Ning aku kadang-kadang rak belum percaya saja to kalau anakmu sudah besar. Oke, Ben, kalau kamu kuat nutug betul, hadiahmu tambah jas.”

“Hore …. Asyik, asyikk, asyiiikkkk ….!”

Jam di kamar makan sudah menunjuk hampir jam tujuh. Beni segera dibonceng bapaknya ke sekolah. Dan kami pun mulai dengan rutinitas kami masing-masing. Saya ke kantor, Mrs. Nansiyem mengurus Tholo-Tholo serta umbah-umbah, Mr. Rigen setelah ngantar Beni ke sekolah langsung belanja ke pasar untuk menyusun menu buka puasa.

Hari pertama puasa di kantor adalah hari pertama angop alias menguap berkali-kali. Tanpa digiring, percakapan selalu kembali nyêrèmpèt-nyêrèmpèt makanan. Kolak yang manis, es strup dengan cingcao dan kolang-kaling yang dingin, kemudian makan malam yang lengkap dan dahsyat. Tenggorokan terasa kering, haus dan waktu sudah agak siang sedikit mulai lapar. Semua lupa bahwa itu dalam rangka melaksanakan perintah Gusti Allah. Yang diingat bahwa itu semua adalah percobaan siksaan setahun sekali. Dan hari pertama puasa itu pun diperbolehkan oleh atasan hanya sampai tengah hari. Boleh pulang! Saya pun segera pulang dan sudah membayangkan kamar tidur yang teduh.

Di rumah saya melihat Mr. Rigen anak-beranak sedang ribut di belakang. Saya lihat dahi beni Prakosa mênyonyo, bengkak, membiru.

Elho, ada apa ini anakmu, Mister?”

Ha, ênggih niku.”

Enggih niku, apa?! Lapor dong, anakmu dapat bogem mentah dari siapa?”

“Ayo, cerita sendiri sama Pak Ageng, Lé!

“Saya berantem sama Husin, Pak Ageng. Dia bilang saya masih kapir.”

“Lho, kamu rak mulai hari ini puasa nutug to, Lé?

Beni Prakosa menggelengkan kepalanya. Kemudian saya lihat kok wajah Mrs. Nansiyem ikut clila-clili.

Elho, ada apa to, ini?”

“Begini lho, Pak. Mboknya tholé itu rak masih belum têgêl lihat anaknya mau puasa nutug. Wong masih kecil, katanya. Terus untuk jaga-jaga dia kasih anaknya uang seratus rupiah. Lha, anak dikasih sangu uang. Ya, jajan.”

Saya tertawa. Kok riwayat Beni sama dengan riwayatku dulu. Beni kemudian mendekati saya.

“Pak Ageng nggak mau kasih jas lagi, ya?”

“Hehehe … Besuk kamu coba puasa nutug. Nanti kita lihat.”

Ning, mBokné, kamu jangan kasih anakmu sangu. Coba nanti dilihat.”

Mrs. Nansiyem tersenyum malu-malu.

Dung … dung … dung. Allahu Akbar, Allahu Akbar ….

Saya gragapan bangun. Tidur saya keterlaluan pulasnya. Waktu akhirnya saya duduk berbuka puasa dengan es strup kolang-kaling, Beni mendekat lagi.

“Kalau mokah puasa tidak boleh ikut berbuka puasa, ya?”

“Kamu rak pingin es strup, to? Sana minta bapak dan ibumu. Boleh apa tidak.”

Dari kamar depan saya dengar Mr. Rigen galak berkata.

“Tidak boleh sekarang. Wong mokah puasa, kok mau buka. Nanti  kalau ada sisa Pak Ageng.”

Saya melihat strup saya masih sisa setengah rantang. Saya tersenyum.

“Benii!”

“Ya, Pak Ageng.”

“Ini strup bawa ke belakang. Terserah bapakmu mau dikasih atau tidak.”

“OK. Asyik … asyikk … asyiiikkk …”

Dan dengan cekatan dia lari ke belakang. Di teras depan sambil menghirup hawa, saya mendengar azan memanggil orang sembahyang Isya dan Tarawih. Suara itu lamat-lama mungkin dari masjid di seberang kali. Justru karena lamat-lamat itu kedengarannya begitu damai dan khusyuk.

Yogyakarta, 19 Maret 1991

*) gambar dari lecastle.net

Iklan

2 komentar

  1. Anis Fauzi · · Balas

    Terima kasih atas di uploadnya tulisan Umar Khayam ini, jadi terkenang jaman dulu selalu menunggu koran KR utk baca tulisan2 beliau. Maturnuwun

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      ma kasih juga dah berkunjung k sini …….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: