Swarga Yang Hilang

villa-indonesiaSuara gamelan terdengar nglangut merdu dari kamar tamu di bawah. Di luar pepohonan yang rimbun daun-daunnya itu terdengar suara perkutut dan dêrkuku, ganti berganti di pagi yang belum panas. Suara burung-burung yang menyelinap lewat jendela kamar itu menggelitik telinga saya dengan enaknya. Dan suara gamelan itu menyerempet bulu-bulu mata saya yang masih setengah terpejam, hampir terbuka. Damai, laras, adêm ayêm terasa pagi itu. Memang jagat Jawa itu sempurna kenikmatan dan mat-nya. Konsep kesimbangan dan keselarasan dijabarkan di setiap lekuk kehidupan. Gamelan, perkutut, dêrkuku, dedaunan pohon. Wééhh …. Jawa itu ….. Eiitt ! Mak jênggirat saya melompat dari tempat tidur. Mata saya ucêk-ucêk, lensanya saya adjust maju dan mundur.

Haur-kêtêk-kuuung, dêrku-kuuu-ning-nung-ning-nung glêndêr ….

Eh, memang kombinasi keselarasan itu riil adanya. Dedaunan pohon yang hijau dan latar belakang gunung yang biru, awan pagi yang tipis berarak. Semua itu memang hadir belaka di depan mata dan telinga saya. Cuma ternyata saya tidak berada di jagat Jawa! Jagat yang sedang saya reguk pagi itu adalah jagat Hawaii. Tepatnya di kawasan Manoa, Honolulu, di Pulau Oahu. Saya kembali menggeletak, bermalas-malasan, nglaras suasana pagi yang tenteram itu.

Sudah dua hari saya menginap di rumah Dimas Hardjosoesilo, profesor musik di Universitas Hawaii. Maka memang pantas jika ada suara gamelan berdengung di rumah itu. Lha, wong yang kagungan rumah adalah priyayi Yogya, meski sudah puluhan tahun tinggal di pulau kecil Hawaii. Konon Hawaii itu berarti Jawa ‘yang’ kecil (tentu saja itu pêngotakatiking orang Jawa). Yang kemudian saya tidak mudhêng adalah roso laras dari alam yang menyangga rumah Dimas Hardjosoesilo itu. Yaitu jagat Hawaii yang mengemban jagat Jawa yang menjadi rumah musikolog Yogya itu. Kenapa sesudah saya tinggalkan sejak tahun 1973 pulau itu masih dapat mempertahankan ketenteraman dan keselarasannya? Tentu maksud saya bagian Hawaii yang di Manoa itu, bukan yang di tepi pantai Waikiki yang dijajah turis itu.

Pepohonannya masih rimbun, pohon trembesi di pinggir-pinggir jalan yang meneduhi jalan-jalan, segala macam pohon di halaman rumah, burung-burung perkutut dan dêrkuku yang sangat jinak pada jalan-jalan di halaman rumah dan pinggir jalan, tidak ada suara knalpot sepeda motor yang ber-jêdhèr-jêdhèr dan suara musik yang kelewat kerasnya keluar dari kamar-kamar rumah penduduk. Dan semua itu  masih ditambah dengan sekali-sekali hadir satu atau dua bianglala yang untuk beberapa mêlèrèt di langit. Pulau kecil di Lautan Teduh itu memang biasa mêlèrèt-kan pelangi di langit dalam jumlah dua atau tiga sekaligus. Seorang kawan lama, dosen di Universitas Hawaii, seorang happa haole atau setengah bule alias Indo, dengan penuh emosi mengatakan bahwa pulau tempat tinggalnya itu adalah salah satu surga kecil yang dianugerahkan Tuhan.

“Kami ingin mensyukuri karunia itu. Kami akan mati-matian mempertahankan surga ini tetap menjadi surga,” katanya.

Saya lantas jadi ingat Jawa, Bali, Sumatra dan pulau-pulau lain yang menurut saya juga surga-surga dunia yang dianugerahkan Gusti Allah kepada kita. Ning kita kok susah bangêt mempertahankan status surga itu di negeri kita? Pepohonan pada brindhil, tan ana suara burung-burung di halaman, apalagi untuk ménclok dan jalan-jalan di halaman rumah. Jalan-jalan panas menyengat, kotor oleh sampah, knalpot sepeda motor yang tanpå kêndhat membisingi kuping kita. Jagat Jawa yang total keheningan dan kedamaiannya terasa sudah berjalan amat jauh meninggalkan kita. Saya pulang ke Jawa dengan penuh roso cemburu dengan Hawaii, Jawa ‘yang’ kecil itu …

Di rumah, saya ceritakan perkara Hawaii itu kepada Mister Rigen sak gotrah dengan tujuan untuk menanamkan roso handarbèni suatu pulau surga.

Mr. Rigen manthuk-manthuk, Mrs. Nansiyem geleng-geleng kepala. Keduanya bermakna sama, kagum.

To, Lé, Buné, élok apa enggak Pulo Hawaii itu. Wong manuk kutut sama dêruk, kok dibiarkan jalan-jalan tidak ada yang nyêkêl, lho.”

Wong Hawaii bodho yo, Pak. Wong kutut karo dêruk kok enggak dicêkêl, dipiara, ditaruh kurungan.”

Lha, manuk kutut itu kalo dijual rak ya bisa laku banyak to, Pakné? Tur, kalo dimakan daging dêruk itu rak ya enak to, Pakné?

“Oh, lha iyo, Buné. Dulu di Praci saya suka mlinthêng dêruk. Dagingé énaké ora jamak. Tholo-Tholo, , kamu tahu bunyi kutut dan dêruk?

Tholo-Tholo yang bermata tholo-tholo menggelengkan kepalanya. Karena belum pernah mendengar suara perkutut dan dêrkuku. Mungkin kalau ditanya suara knalpot yang kêmrosak dan mak nguuuuung itu akan manthuk-manthuk.

“Suara kutut itu huur-kêtêk-kuuuung, huur-kêtêk-kuuuung, begitu. Lha, kalo dêruk, dêr-kukuuuu, dêr-kukuuu, begitu. Ayo, , tirukan. Ayo, bunyi!”

Mr. Rigen lantas memainkan jari-jarinya, nyêthèti anaknya. Cêthèt, cêthèt.

Huul-kêtêk-kuung, huul-kêtêk-kuung. Dêl-kukuuu, dêl-kukuuuu ….

Mr. Rigen anak beranak pada ketawa cêkakakan. Sinar bahagia memancar dari muka mereka. Bangga akan kejeniusan anaknya.

Saya hanya bisa mengusap dada sendiri. Ngunandikå, eh, kok suara perkutut dan menangkap dêruk yang lebih menarik mereka ketimbang suasana surga yang ada di pulau itu. Membayangkan makan burung-burung itu lagi!. Apakah bayangan untuk satu surga dunia di Jawa sudah tidak bisa terbayangkan lagi? Satu jagat utuh yang tenang, tenteram, damai dengan suara ning-nung-ning-gung dan huur-kêtêk-kuuung di kejauhan?

“Daging dêrkuku itu digoreng sama di-koprok sama enaknya, lho, Buné.

“Sama burung dara di Moro Sênêng itu enak mana, yo, Pakné?

Huul-kêtêk-kuuung, huul-kêtêk-kuuung …..

Sambil mengelus dada sendiri lagi, pelan-pelan saya masuk ke kamar tidur.

Yogyakarta, 9 Juli 1991

*) gambar dari indonesia.tripcanvas.co

Iklan

One comment

  1. wisnu999 · · Balas

    (alm) umar kayam memang yop, tulisan penuh satire tentang orang jawa yg lupa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: