Tyrone Power, Taruna Pawiro alias Mas Tairun

Tyrone PowerSALAH seorang sisa-sisa laskar Betawi yang masih sliwar-sliwêr di Yogya sehabis rentetan perayaan jumenengan adalah sepupu misan saya Tyrone Power. Dinamakan Tyrone Power oleh kawan-kawannya karena dia adalah anak dari Paklik Taruna Pawiro dan kebetulan sekali tampang gantengnya tidak ketulungan lagi. Persis Tyrone Power, bintang film yang pada masa jayanya dulu seiktar tahun 1940-1950, sempat membuat cewek-cewek dan ibu-ibu nibå-nangi, jatuh bangun, kasmaran berat kepadanya. Tentu saja itu membuat para cewek dan suami pada cemburu dan penasaran. Kok ada lho, bintang film Hollywood kayak begitu saja bisa bikin heboh begitu.

Nah, sepupu misan saya itu karena kemiripannya dengan Tyrone Power mengalami nasib yang sama. Para cewek pada nibå-nangi, para cowok pada iri. Para cewek pada memanggilnya Mas Tairun, Mas Tairun. Para cowok, karena tahu nama ayahnya, memanggilnya Ro-Pawiro, Ro-Pawiro.

Untunglah sepupu saya itu orangnya lêmbah manah, sabar, tidak gampang marah. Malah murah senyum dan murah hati. Suka nraktir, baik cowok maupun cewek. Maklum uang sakunya tebal dan sumber penyandang dananya, yaitu ayahnya, seorang dongkol lurah desa yang bêngkok sawahnya merupakan sumber yang tak pernah kering.

Saya termasuk groupie alias pênginthil beliau pada saat beliau mengorganisir safari jajan dari warung ke warung. Peta warung di Yogya sangat dikuasainya sehingga nyaris semua ibu-ibu pemilik warung itu dikenalnya. Juga karena sering dan ajêg-nya dia mentraktir teman-temannya di tempat-tempat jajan itu dalam jumlah yang besar dan anggaran yang sangat gemuk. Mas Tairun juga tampil sebagai orang yang sangat bonafide di dunia jajan-menjajan dan warung-mewarung. Bahkan juga krediet waardig alias sangat terpercaya dalam hal utang-mengutang. Kalau kebetulan dia lupa membawa uang cukup, sang pemilik warung hanya tersenyum saja sambil mengatakan,

“Ahh … gampang dèn Bagus. Kapan-kapan saja mbayar-nya.”

Dan gerombolan jajan itu akan dengan rileks dan bangganya menghabiskan makanan yang ada di piring-piring depan mereka. Kadang-kadang saya tidak habis pikir mengapa saya mesti ikut bangga dengan status terpercaya hutang dari sepupu saya itu. Wong numpang dengan orang yang boleh ngutang kok bangga, lho.

Pada waktu kami tamat SMA kami terpaksa berpisah. Saya tetap di Yogya kuliah di universitas yang nomor satu di Asia Tenggara itu. Sedang Mas Tairun, karena penyandang dananya cukup kuat, kuliah di UI, universitas yang hanya nomor satu di Indonesia itu. Sesekali pada waktu libur, kami reuni, jalan dari warung ke warung. Kadang-kadang sekali, kalau saya sedang beruntung dapat tambahan uang saku dan tabungan cukup, saya berlibur juga ke Jakarta. Di Jakarta, kami juga reuni. Beliau memperkenalkan saya ke tempat-tempat nongkrongnya. Bakmi di gang Kelinci, bubur ayam di Glodok, gado-gado dan asinan di jalan Cemara. Semua sudah diperkenalkan kepada saya.

Kemudian waktu pun berlalu dan berlalu dengan cepatnya. Entah karena kesibukan atau karena kejenuhan atau karena apa, kami berjalan sendiri-sendiri dimakan cakra manggilingané sang waktu. Tahu-tahu kami sudah sama-sama tua di tempat kami sekarang. Mas Tairun, entah karena apa, tidak selesai kuliahnya. Sekarang menjadi pemilik bengkel motor yang tidak seberapa besar, beranak-pinak di Jakarta dan kelihatannya oke-oke saja. Orang tuanya sudah lama meninggal. Dan saya, meski termasuk anak, tidak terlalu banyak tahu tentang nasib warisan bêngkok sawah dari orang tuanya. Mungkin kami adalah korban dari dinamika transformasi budaya dari tradisi ke modern itu. Yaitu, tidak seberapa merasa harus terlibat lagi dengan urusan jaringan keluarga. Yang penting urusan keluarga inti saja. Asal anak-bojo mangan ora mangan masih kumpul sudah cukup. Wong mau jadi modern, jé !

Karena itu, agak terkejut bercampur senang juga waktu pada satu sore mak jêdhul, Mas Tairun muncul di depan ambang pintu ruang tamu rumah saya.

Elho … êlho …! Wéé … lha, tamu agung tênan iki.”

Kami berpelukan dan saling ber-gaplek dengan serunya. Mas Tairun tampak sudah dimakan usia. Rambutnya menipis, kepalanya mulai botak, gigi-giginya mulai ompong di sana-sini. Tetapi raut mukanya, menurut pendapat saya, masih terlihat ngganthêng. Setidaknya sisa-sisa ke-ngganthêngan-nya itu masih tampak nyata. Sisa-sisa Tyrone Power setidaknya masih lebih lumayan ‘kan daripada sisa Tan Tjeng Bok ? Namun begitu, saya akan maklum juga bila di antara cewek-cewek dan ibu-ibu yang tiga puluh tahun yang lalu pada nibå-tangi, sekarang kalau bertemu beliau pasti akan membatin, ‘kok dulu kita bisa mabuk kepayang sama orang yang jeleknya begitu ….’

“Wah, Mas … saya merasa kêtiban pulung tênan. Kok sendirian njêdhul seperti spion yang muncul dari persembuyian. Lha, mBakyu sama anak-anak di mana ?”

Mbakyumu dan anak-anak dak parkir di ndéso. Biar rêriungan sama pêrmili ndéso. Biar tahu rasanya tinggal di ndéso. Malam ini saya sama rêriungan sendiri sama kamu. Aku kepingin bernostalgia dengan warung-warung Yogya. Kamu masih cukup muda, toh, kalau saya ajak menjelajah tiga atau empat warung ? Atau kamu harus jaga gengsi mentang-mentang sudah jadi propésok ?

Saya tertawa. Pasti undangan begitu tak akan saya tolak. Kalau ada sedikit kegamangan cuma karena ingat kondisi jantung yang membengkak dan bludrêg tinggi yang menurut kedua dokter saya harus take it easy kalau makan.

Halahh, Maass, Mas. Wong urusan propésok kok dibawa-bawa dalam urusan nongkrong. Jadi propésok ya tinggal jadi propésok. Nongkrong ya tinggal nongkrong. Ayolah ! Tapi, janji ya ? Kali ini aku yang traktir. Selama ini kamu terus yang nraktir. Sekarang gantian, dong !”

Wualaahh, Geeng, Geng ! Rupanya jadi propésok itu jadi beban kultur yang berat, ya ? Mau nraktir saya ! Memangnya kamu tidak tahu apa kalau tugas nraktir itu bukan tugasmu, meski kau sudah jadi propésok. Mentang-mentang aku cuma seorang tukang bengkel motor, kamu kira aku tidak kuat apa menraktir seorang propésok ? Anggêpmu itu, lho ! Peranan guru itu tidak untuk nraktir tapi untuk ditraktir. Paling bantêr kamu hanya boleh nraktir guru yang lebih mlarat dari dirimu. Misalnya, guru-guru SD yang gajinya sering terlambat datang dan dipotong untuk ini dan itu, untuk pembangunan ini pembangunan itu.”

Segera kami kunjungi tempat-tempat yang dulu sering kami kunjungi. Segera pula kami kecewa karena tempat-tempat lama itu sudah banyak yang tutup, dibongkar atau berubah wajah menjadi toko atau salon bertaraf internasional. Dan ketika kami ketemu dengan satu warung yang masih buka, pemiliknya sudah lain. Jualannya pun sudah ganti bakso.

Uwahh … rêpiblik ini sudah menjadi rêpiblik bakso. Dari Sabang sampa Merauke kok kelihatannya orang cuma bisa jualan bakso.”

Sembari menggerutu, saya digelandang keluar warung bakso itu. Akhirnya kami memutuskan untuk lesehan saja di gudeg Malioboro.

“Kalau yang ini kita harus bangga, Mas. Sudah masuk majalah luar negeri. Sudah dapat predikat sebagai ‘the longest restaurant in the world’. Sebentar lagi masuk Guiness Book. Terus berjuta turis akan menyerbu Yogya. Berjuta dolar mak kropyok di-grujuk ke Malioboro ini.”

Mas Tairun terus tertawa ngakak.

“Yang saya masih terus kagum itu cara orang Yogya menghitung dan ngimpi itu, lho. Apa itu ajarannya Nyai Loro Kidul atau apa, Geng ?”

Kami terus nglésot dan pesan nasi gudeg lengkap dengan dhådhå mêntok, rêmpêlo ati, sambal goreng krècèk dan gudeg nangka yang disembur sreet santan yang kental mlêkoh. Sebelum makan saya pun ngucap,

Bismillah, goodbye kolesterol.”

Dalam sekejap gudeg di piring itu pun ludes. Tetapi, saya lihat Mas Tairun tidak habis makannya. Masih separo piring. Cêngar – cêngir melihat saya makan dengan lahap.

“Wahh, heran saya. Sehari-hari kamu itu ‘kan sudah sering makan gudeg. Lha, kok ekspresi wajahmu itu, lho, kayak masih waktu pertama kali makan gudeg dulu. Kayaknya yang kamu makan itu makanan dari surga begitu. Edan tênan !

Saya kaget mendengar ucapannya itu. Dia yang orang Yogya lebih Yogya dari saya, bisa bilang begitu?

“Gudeg ini, Geng, tidak lulus dari penilaian saya. Gudeg yang saya kenal tidak begini. Ini ayamnya ayam broiler rasanya kayak karet amis. Endhog-nya êndhog-êndhogan, bukan êndhog ayam kampung yang êndhog betulan. Santên-nya kurang murni lintrêk-lintrêk. Gori-nya tidak coklat tua. Berarti tidak cukup lama bersemayam di kuali. Jangan-jangan dicampur coloring. Manisnya manis gula pasir bukan gula Jawa. Wah, tidak lulus !”

Saya digelandang Mas Tairun lagi. Diajak mencoba gudeg lain di Malioboro. Ngumpat lagi. Saya digelandang lagi. Diajak mencoba makan bakmi godhog khas Jawa Yogya. Misuh-misuh lagi.

“Bakmi kok dipenuhi ajinomoto. Bolehnya nggodhok terlalu mblêkotrok. Bawangnya kurang berani. Daging ayamnya di-suwir suwir terlalu mondo-mondo alias terlalu sporadis. Tidak di-kêpyuri brambang goreng lagi. Cêthil bin kikir bakul mi Yogya. Tidak lulus !”

Dan sekali saya diseret ke becak. Duduk kami juga sudah mulai mlorod karena kekenyangan. Akhirnya, kami pun berpisah untuk berjanji akan lebih sering lagi bertemu. Di Yogya, di Jakarta, mungkin di Singapura, Paris atau mana lagi begitu. Kami tahu masih akan lama lagi kita akan bertemu. Sang waktu, sang duit, sang anak bojo, sang … tahu sendiri, deh, akan terus menyekat-nyekat dalam penjara-penjara kecil. Toh, kemudian saya menggerundel juga.

“Keranjingan tênan, Mas Tairun, Mas Tairun ! Anggêpanmu itu apa ? Wong baru jadi pemilik bengkel di Jakarta saja kok bolehnya mbagusi ! Semua makanan Yogya dikritik, dicacat, nyaris semua kamu hujat seperti Salman Rushdie. mBok éling asal-usulmu yang Yogya. Padahal nanti begitu di Jakarta kamu pasti akan cerita ke orang-orang sana bagaimana nikmatnya lesehan di Malioboro yang bau pesing itu. Untuk apa sih hujat menghujat begitu ? Apa kêlakon dak jatuhi hukuman mati kamu …”

Nasionalisme Yogya saya menggelegak. Kemudian menjelang tidur agak tenteram sedikit ingat besok pagi akan ceramah di satu seminar lagi. Satu honorarium akan temurun lagi …

Yogyakarta, 21 Maret 1989

*) gambar dari en.wikipedia.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: