Menyongsong Jumenengan dan Kirab

Kirab Kraton YogyaGARA-GARA saya mendapat undangan untuk menghadiri upacara penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X, sudah lima hari terakhir ini rumah saya ikut sibuk bin rèbyèk. Mr. Rigen mengerahkan Mrs. Nansiyem dan Beni Prakosa untuk membersihkan seluruh isi rumah dan pekarangan. Halaman rumput di depan sekali lagi dipangkas rata seperti menyiapkan satu lapangan golf atau cricket. Gorden, taplak meja serta seprei-seprei, tidak ketinggalan dicuci bersih-bersih. Mrs. Nansiyem nyaris setiap hari keramas mencuci rambutnya. Mr. Rigen setiap malam mêlèk, tirakat, sampai satu atau dua jam sesudah jam menunjukkan pukul dua belas malam. Beni Prakosa dikurangi jatah makannya sampai dia nangis-nangis protes karena perutnya lapar terus.

“Wah … wah, Gen, kamu kok bolehnya bersih-bersih rumah melebihi bersih desa sibuk dan seriusnya. Memang ada apa ?”

Elho, Bapak itu bagaimana ? Wong raja kita mau jumênêngan begini, ya sak semestinya to, Pak, kalau kita semua mesti ikut bersih-bersih dari luar dalam. Bapak ‘kan dapat undangan untuk ikut menyaksikan jumênêngan yang keramat itu ?”

Lha, iya. Tapi, kalau kamu terus mengurangi jatah makan kita sekeluarga, termasuk saya dan tholé Beni, apa itu tidak overacting namanya ?”

mBotên, mbotên opêr ….. apa tadi, Pak ? Ini cuma bagian dari bersih-bersih dan tirakat, Pak. Semua kudu ikut supaya semua slamêt. Wong cuma sebentar saja lho, Pak.”

Yo wis, manut. Terus rencanamu sak keluarga mau apa ? Mau lihat kirab, to ?”

Ha, ênggih. Kalau itu boleh nggak boleh, saya sagotrah nyuwun permisi mau lihat. Bapak besok sore, habis jumênêngan, ‘kan tindak Jakarta to ?”

“Lho, justru karena saya harus pergi ke Jakarta itu saya tanya rencanamu. Kalau rumah kosong-blong kalian tinggal, terus piyé ?

“Oh … jangan khawatir, Pak. Saya sudah atur dengan pembantu sebelah. Dia bersedia ikut bantu lihat-lihat rumah.”

Elho, apa dia tidak kepingin nonton kirab ?”

“Katanya tidak itu, Pak. Memang aneh sesungguhnya. Wong Jawa kok tidak tertarik lihat rajanya kirab. Katanya dia tidak pernah rumångså punya raja. Wong katanya dia itu Jawa pesisiran. Ya malah kêbênêran, dia bisa bantu jaga rumah.”

Lha, kamu wong Pracimantoro, apa punya raja ?”

Whalah, Paakk ! Meskipun Pracimantoro itu desa sederhana, tapi ‘kan masih mengaku jajahan Mataram to, Pak.”

“Mataram mana ?”

Whalahh ! Ya Solo, ya Yogya itu ‘kan Mataram semua to, Pak Ageng. Sekarang tidak penting lagi yang mana yang Mataram. Semua Jowo itu ya Mataram.”

Lha, kalau Indonesia masuk jajahan mana, Gen ?”

Naaa … Pak Ageng mulai propakasi. Propakasi !

Pro-vo-ka-si, Gen. Provokasi.”

Ha ênggih, propakasi. Pro-pa-ka-si. Itu artinya Bapak, nuwun sèwu, mau ngaco dan ngênyèk saya. Saya ‘kan tahu to, Pak, kalo Indonesia itu republik yang membawahi kita semua. Termasuk Ngayogyakarta Hadiningrat.”

Lha, Mataram ?”

“Lho, Mataram itu kebudayaannya, Pak. Jowo Mataram.”

Saya pun manthuk-manthuk. Kali ini Mr. Rigen tampil sebagai sejarawan sekaligus budayawan yang canggih. Sekali lagi, manungso tan kêno kiniro. Lebih-lebih wong Jowo. Lebih-lebih lagi wong Jowo Pracimantoro …

“Terus kira-kira kalau kamu nanti bisa lihat kirab itu jelas bagaimana kesanmu, Gen ?”

“Wah, ya sumlêngêran, Pak. Silau melihat keelokan itu.”

Hayakk … kok kayak kamu sudah pernah lihat saja.”

Ha enggih to, Pak. Kira-kira ‘kan ya tidak jauh dari yang digambarkan ki dalang dalam wayang-wayang itu to, Pak.”

“Terus kalau itu semua sudah selesai ? Kamu terus saja sumlêngêran, terkagum-kagum, dan lupa semuanya ?”

“Ya tidak to, Paakkk, Pak. Mosok orang disuruh sumlêngêran terus. Habis itu ya kembali ke alam ndonyå sekarang, kok. Kembali jadi rakyat republik. Kembali mikir anak-bojo, sekolahnya tholé, hari depan tholé juga hari depan saya. Hari sekarang saya ya tetap setia jadi kawula Pak Ageng.”

Tiba-tiba saya jadi trenyuh. Inilah Rigen sak anak istrinya asal Pracimantoro dan Jatisrono. Anak-anak yang desanya pernah keterjang revolusi dan telah sedikit banyak ikut menyumbang revolusi. Dan embah-embah mereka ? Pastilah juga telah keterjang ontran-ontran, gegeran ini dan itu. Dan pasti sedikit banyak sumbangan mereka buat desa mereka, buat anak keturunan mereka. Dan ini yang di depan saya ? Satu keluarga muda desa Jawa, jebolan SD, kariernya macet menjadi pembantu rumah tangga guru yang serba pas-pasan saja ekonominya. Toh mereka dengan gembira bisa bercerita, dengan penuh micara, tentang Mataram, tentang Ngayogyakarta Hadiningrat, tentang Republik Indonesia dan tentang yang lain-lain. Dengan kata lain mereka mampu bercerita tentang satu benang merah riwayat kebudayaan bangsanya. Dan sekaligus sadar tempat duduknya dalam sejarah yang penuh duka cita itu.

Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, Beni Prakosa dan si orok Septian, selamat menyaksikan kirab yang spektakuler itu. Larutlah dalam kegembiraan dan kebanggaan.

Yogyakarta, 7 Maret 1989

*) gambar dari id.wikipedia.org

Iklan

One comment

  1. Mencintai Yogya yang apa adanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: