Sang Pemimpin

HB IXsore-sore pulang dari cari angin, saya dapati rumah saya sepi mamring. Biasanya pada waktu begitu Mr. Rigen anak-beranak suka reiungan nglésot di depan teve, menikmati acara baik yang karuan maupun yang tidak karuan mutunya. Bagi mereka, sering kali bagi saya juga ding, teve adalah kotak ajaib yang mampu mengeluarkan macam-macam tontonan yang warna-warni, yang memang harus ditatap terus-menerus. Tidak terlalu penting apakah tontonan itu bagus atau tidak.

Bagi mereka yang punya selera pilih-pilih, yang discriminating, seperti seorang intelektual dahsyat macam Prof. Dr. Lemahamba, teve itu tentu saja hanya beliau tatap kala ada acara yang menarik beliau. Dunia Dalam Berita, wawancara dengan pakar-pakar, dialog dengan menteri, Aneka Ria Safari, Berpacu Dalam Melodi dan film seri Dynasty, adalah acara-acara pilihan beliau yang sangat discriminating itu. Selebihnya teve itu tidak beliau tatap, tetapi ya dibiarkan terus menyala sampai acara usai. Teve memang harus hadir “di situ”, ditatap atau tidak.

Keluarga Rigen ternyata sedang berkumpul di kamar mereka, di belakang. Saya pergoki Mr. Rigen duduk jigang sembari makan kolak pisang. Mrs. Nansiyem memangku anak oroknya, sedang Beni Prakosa duduk di lantai di bawah singgasana Mr. Rigen. Tampaknya mereka menunggu Mr. Rigen menyelesaikan makan kolak pisangnya. Waktu mereka sadar bahwa diam-diam saya mengamati mereka dari jendela, Mr. Rigen gêlagêpan turun dari singgasananya.

Weh … sang prabu, apa sudah selesai menyantap kolak pisangnya ?”

Yakk … Bapak kii. Orang cuma nglaras sama anak istri kok disindir jadi ratu, lho !”

“Lha, saya amati kok bolehnya mulyo kamu duduk jigang di hadapan anak istrimu.”

Mr. Rigen tertawa ngglêgês. Tertawa yang tidak bersuara.

Ning jadi raja itu kelihatannya kok ya mulyo betul nggih, Pak ?”

Ha êmbuh. Wong saya belum pernah jadi raja.”

Lha, Ngarsådalêm yang baru sedå itu buktinya, Pak. Begitu dilmuliakan, begitu dihormati, begitu dicintai rakyat.”

“Dimuliakan, Gen ! Jadi, bukan beliau mau mulyo, dalam arti mau enak-enakan sendiri. Beliau mulyo karena rakyat dengan iklhas memberi kemuliaan itu kepadanya.”

“Wah, tapi kelihatannya yang mesti dapat kemuliaan dari rakyat itu raja ya, Pak ?”

Lha, ya belum tentu, Gen. Meskipun raja kalau tidak punya wibawa, tidak kerja buat kawulo, tidak trêsnå sama kawulo-nya, mana bisa dimuliakan, Gen !?”

Lha, kalau pemimpin rakyat itu, Pak ? Itu kan ya raja kecil-kecilan to, Pak. Bisa dapat kêmulyan juga dari rakyat nggih, Pak ?”

Saya tertawa ngglêgês mendengar persepsinya tentang pemimpin rakyat sebagai raja kecil-kecilan.

“Kamu itu ! Pemimpin rakyat, ya pemimpin rakyat. Tidak usah dibayangkan sebagai raja baik yang besar atau yang kecil, Gen. Pemimpin yang punya wibawa, yang cinta sama rakyat, yang mau kerja buat rakyat, yang tidak nyolong duit dan tanah rakyat, ya pasti dimuliakan rakyat juga to, Gen. Pemimpin yang begitu itu yang mulyo tênan, Gen.”

“Wah … apa ya banyak pemimpin seperti itu, Pak ?”

Lha, ya kamu étung sendiri, Gen. Kira-kira banyak apa tidak ?”

Mr. Rigen tertawa nyêkikik, klêjingan.

Sajaké, kayaknya, kok sedikit sekali nggih, Pak.”

Sekarang ganti saya yang tertawa mendengar kesimpulan dia.

“Kok tahu, Gen. Apa kamu sudah bikin cacah jiwa ?”

Yakk, Bapak kii. Wong cêthå wålå-wålå, jelas sekali kelihatan di sekitar kita pemimpin sing apik tênan itu semangkin langka, lho. Jadi, Ngarsådalêm itu benar-benar istimewa nggih, Pak.”

“Ya, jelas to, Gen. Mana ada raja dan pemimpin yang ikhlas memberikan banyak dari miliknya kepada republik ? Memberi lho, Gen ! Dan itu semua diberikan dengan ikhlas. Dan amat sedikit pemimpin yang berani dan ikhlas pula tampil pada waktu keadaan amat, amat gawat. Ngarsådalêm berani dan ikhlas.”

“Tapi, itu juga karena Ngarsådalêm kagungan Kiai Plèrèd nggih, Pak ?”

“Ya, bukan itu saja, Mister. Yang penting itu keberanian dan kebersihan. Wong punya kiai rudal, kiai pistol, kiai granat, kalau nyalinya sak têngu bayi, hatinya kotor dan jorok kayak comberan ya tidak berani dan tidak ikhlas mencintai rakyat.”

Wèh … jadi untuk mencintai wong cilik itu ternyata perlu keberanian dan keikhlasan nggih, Pak ?”

Wéélha priyé to kamu itu ! Wong cilik itu mlarat dan sengsara. Karena itu, memusingkan kepala dan menakutkan pemimpin. Yang tidak mau pusing kepalanya dan takut, ya terus ngapusi, ngibuli rakyat.”

Tahu-tahu hari sudah senja betul. Saya longok hari mulai gelap. Mr. Rigen tanggap ing sasmitå segera bersiap untuk menyediakan makan malam saya.

Di ambang malam itu, tiba-tiba mak srêêêtt, di ambang pintu kamar depan, berdiri seorang tinggi besar dengan baju surjan lurik biru, ikat kepala biru dan berkain batik Yogya. Wah, upacara pemakaman di Imogiri sudah selesai 24 jam yang lalu, kok ini baru sampai di sini. Tidak mungkin dia berjalan kaki dari Imogiri. Di luar saya lihat sebuah Baby Benz diparkir dengan indah dan mulusnya. Tapi, siapa tamu misterius ini ?

Pangling, to ? Pangling, to ?

“Terus terang, iya. Siapa ya ? Astaga, Mas Mulyo to ini ?”

“Ha … ha … ha … ! Akhirnya kamu mengenali saya juga.”

“Ini tadi dari mana, Mas ? Kok masih pakai baju layat Imogiri ?”

“Aku sudah beberapa hari yang lalu berangkat dari Jakarta. Dapat tugas memantau daerah. Maklum sebentar lagi kongres. Eh, sampai sini kok pas pemakaman Ngarsådalêm. Jadi ya sekalian saja layat. Sekalian nyuwun berkah yang pada sumaré, yang dimakamkan, di sana.”

“Wah .. wah .. memantau daerah, menyiapkan kongres, nglayat terus sambil ngalap bêrkah. Jann élok tênan.”

“Lho, ini mematuhi dhawuh guru, Geng. Kau kira aku belum lepas baju layat kenapa ? Ya, karena mematuhi dhawuh romo guru, to ! Semua slamêt-slamêt saja, to ? mBok kamu itu kalau sedang di Jakarta rame-rame sama anak istrimu datang ke rumahku, to ! istriku sekarang pinter bikin sabu-sabu dan sukiyaki, lho. Wis, yo ! Aku mau terus.”

“Eh, mbok ya makan dulu seadanya, Mas. Menu bachelor, gå ji pé ro, sêgå siji témpé loro, ya ? Mister Rigeenn … !”

Eit .. eit .. ! Nggak … nggak .. ! Aku harus berangkat lagi. Thanks anyway. Aku cuma menengok kamu saja, kok. Eh, kamu mau saya calonkan di kongres ? Itu baru langkah pertama. Berikutnya bisa kita garap macam-macam nanti. Gimana ?”

Saya menolak. Saya katakan kalau saya sudah cukup senang jadi guru dan setiap Selasa boleh ngoceh ngalor-ngidul di koran lokal. Dia memberiku kartu namanya. Waduh ! Namanya sekarang, Mulyo Reksoartonegoro, S.H, S.E. Dulu kayaknya cuma Mulyo saja. Dia berjalan seperti dulu juga, dengan gagah keluar. Kemudian ditelan Baby Benz itu, hanya kedengaran ‘mak bêpp’. Kemudian mobil itu berjalan nyaris tak bersuara …..

Yogyakarta, 11 Oktober 1988

*)gambar dari id.wikipedia.org

**) edisi terlambat posting 😦

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: