Beni Prakoso Coro Inggris

belajar bhs inggrisSuatu siang, pulang dari menjemput anaknya sekolah, Mr. Rigen dengan wajah berseri melapor kepada saya.

“Pak, Beni sekarang sudah pinter coro Inggris.”

“Wah, bênêr opo ? Kayaknya dia cuma tahu yes sama no saja.”

“Oh … sekarang sudah lebih banyak dari itu. Wong di sekolah diajari kok, Pak.”

“Di Taman Kanak-Kanak sudah diajar coro Inggris ? Elok tênan kalau begitu, Mister.”

Lha ênggih. Wong sekolah Taman Kanak-Kanak Indonesia Hebat, . Kabarnya nanti terusannya di SD, SMP dan SMA mau jadi satu. Namanya juga Indonesia Hebat. Tur sekolahnya tidak usah bayar. Pelajarannya hebat-hebat.”

Wéh, gèk apa saja, Gen ?”

“Ya, … apêsapês nya coro Inggris ya mangkin nggêgirisi to, Pak. Wong di TK saja sudah diajar coro Inggris. Mestinya di atas-atasnya ya sêmangkin canggih to, Pak. Belum lagi pelajaran baris-berbaris seperti tentara. Matematika sing angèl-angèl. Sejarah, ilmu bumi, Pancasila dan lain-lainnya lagi. Kabarnya semua angèl-angèl lho, Pak.”

Lha untuk apa semua pelajaran yang angèl-angèl itu, Gen. Wong yang gampang-gampang saja banyak yang tidak lulus begitu lho, Gen.”

“Lho, sekolah itu nantinya nyétak pemimpin-pemimpin kok, Pak. Ya, pelajarannya mestinya ya yang angèl-angèl gitu, Pak. Kalau gampang-gampang ‘kan tidak bisa jadi pemimpin.”

Saya mengangguk-angguk kepala. Dalam hati saya kagum juga mendengar kelengkapan informasi yang didapatnya tentang sekolah itu. Rupanya sudah cukup jauh juga ia memikirkan hari depan anaknya.

“Jadi pemimpin itu kayak apa sih, Gen ?”

“Lho, mosok Bapak tidak tahu to pemimpin itu seperti apa. Pemimpin itu ya pemimpin, Pak.”

“Ohh … rupamu ! Pemimpin ya pemimpin. Bakimi ya bakmi. Kue mangkok ya kue mangkok. Semua ya bisa begitu, Geeennn, Genn !”

“Pemimpin itu ya, Pak. Yang memimpin nêgoro. Para mantri, para jenderal, para direktur, para propésor dan lain-lainnya. Semua itu pemimpin. Jadi panjênêngan itu ya pemimpin.”

“Wahh … thank you, Mister. Saya ini ternyata pemimpin to !”

Ayakk, Bapak kii kok terus merendah, lho. Panjênêngan itu jelas pemimpin !”

“Taruhlah begitu, Gen. Saya ini pemimpin. Ning saya sekolahnya biasa-biasa saja. Guru-guru saya tidak pernah bilang sekolahnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin. Kami cuma disuruh belajar baik-baik. Itu saja. Kata guru saya kalau sekolahnya rajin, nanti saya bisa jadi orang.”

“Terus … teman-teman Bapak pada jadi apa ?”

“Ya … macam-macam, Gen. Ada yang jadi jenderal, ada yang jadi mantri. Tapi ada juga yang jadi seniman, juru tulis, pedagang. Tapi jadi apa pun, kami semua jadi ‘orang’ seperti yang dijanjikan dan diharapkan guru kami.”

Mr. Rigen diam. Kelihatannya sedang berpikir keras.

“Jadi pemimpin itu lain sama jadi ‘orang’ ya, Pak ?”

“Saya kira lain, Gen. Tidak semua pemimpin itu jadi ‘orang’ lho, Gen.”

Wéélha terus pripun, Pak. Kalau bukan orang lantas apa lho pemimpin itu ?”

“Begini lho, Gen. Orang yang sudah jadi ‘orang’ itu, ‘orang’ yang sudah siap hidup bersama orang.”

“Waduhhh … waduhh … Paakkk, Pak. Kok bolehnya banyak sekali ‘orang’-nya. Orang jadi orang, orang yang sudah siap hidup sama orang. Enggak mudhêng, Pak !”

“Orang yang sudah cukup terdidik itu orang yang sudah mumpuni. Mumpuni untuk jadi orang yang berguna di masyarakat.”

Elhoo, Pak. Apa ada pemimpin yang tidak berguna di masyarakat ? Yang tidak cukup terdidik ?”

“Banyak, Gen. Pemimpin yang korupsi ‘kan tidak berguna di masyarakat. Pemimpin yang sewenang-wenang sama wong cilik, apa ada gunanya di masyarakat ? Pemimpin yang tidak cukup terdidik itu banyak juga lho, Gen. Mungkin sekolahnya cukup tinggi, ning ora cukup terdidik. Wataknya tidak berkembang baik, pekertinya tidak halus dan peka terhadap hidup bersama. Itu karena mereka tidak cukup terdidik kepribadiannya, baik di sekolah maupun di rumah.”

“Wah, iya … ya. Pak Propesor Lemahamba dan Pak Doktor Prasodjo Legowo itu …. “

“Ada apa dengan beliau-beliau itu, Gen ?”

“Lho, saya ‘kan cuma ngunandikå to, Pak. Cuma membanding-bandingkan. Bapak memberi penjelasan, saya mencoba nebak orangnya. Hi … hik … hiiikkk …. !”

Tiba-tiba, Beni Prakosa masuk dari belakang. Mulutnya masih nyamuk-nyamuk manghabiskan sisa-sisa makanannya.

“Nah …. mênikå bintang pelajar Taman Kanak-Kanak Indonesia Hebat, Pak Ageng. Boleh dites bahasa Inggrisnya.”

Beni Prakosa cepat-cepat menelan makanannya. Tangannya yang masih berminyak diusap-usapkan di perutnya yang buncit. Kemudian dia mengambil sikap tegap seperti kadet West Point.

“Saya sudah bisa coro Inggris, Pak Ageng. Siap !”

“Betul ? Coba. Kalau pintu apa coro Inggrisnya, Lé ?

“Ah … tahu saya. Wedoo, to, Pak Ageng ?”

Saya tertawa. Mr. Rigen kelihatan manthuk-manthuk.

“Bukan, . Kamu tadi bilang apa ?”

Wedoo. We-doo. Kata Bu Guru itu pintu, Pak Ageng.”

“Bukan wedoo. Tapi windoouuw. Windoouuw. Coba !”

Wedoouuw. Pintu !”

“Wahh … ciloko ! Bukan wedouw tapi windoo. Kalau wedoouw itu lain lagi urusannya, Lé ! Dan windoouw itu bukan pintu, tapi jendela. Coba kalau pintu apa ?”

Beni berpikir sebentar. Bapak dan ibunya, yang mengendong bayinya, mengintip dari pintu dapur, melihat anaknya dengan harap-harap cemas.

“Ahh … saya tahu, saya tahu, Pak Ageng. Pintu itu dor. Dor … dor … dor …!

Jari telunjuk Beni ditujukan ke dada saya. Dor … dor … dor ... Mr. Rigen dan nyonya kelihatan lega betul anaknya menebak dengan betul.

“Boleh juga coro Inggrismu, Lé. Lha ning, orang-orang itu ‘kan ya untung-untungan, Gen. Kalau umpamanya karena satu dan lain hal anakmu itu tidak bisa masuk sekolah pemimpin itu, atau mandhêg di tengah jalan. Terus apa rencanamu ? Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Tapi, eh, sak umpanane kêpêkso, bagaimana ?”

Di luar dugaan saya, Mr. Rigen dengan cekatan dan trêngginas menjawab,

“Kalo tholé Beni sampai jebol di tengah jalan ? Ya … saya suruh jadi pênginthil turis saja, Pak Ageng. Dia ‘kan sudah bisa coro Inggris. Anak paman saya, si Gimin, sekarang jadi pênginthil turis. Duitnya untêl-untêlan di dompetnya. Tempo hari nyonya turis bulé itu malah ikut ke Praci. Malah kabarnya Gimin mau dibawa nyonya bulé itu ke Amerika lho, Pak. Itu ‘kan jadi orang juga to, Pak ?”

Saya cuma bisa manthuk-manthuk sambil mlithêsi jerawat ….

Yogyakarta, 14 Februari 1989

*) gambar dari cicendekia.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: