Jimmy Mampir Ngombe

Minggu sore kemarin, menjelang senja, tiba-tiba begitu saja ada seorang laki-laki, tinggi besar, hènsêm, rambut panjang diikat gaya kadal-mènèk abad ke-19, celana jeans bluwêk baggy, kaos hèm merk Polo, berdiri di ambang pintu. Hujan memang sedang turun rintik-rintik, tetapi meski mendung, sinar matahari bisa menembusnya hingga suasana candikålå. Saya kaget dan agak mrinding. Kok begitu saja ada orang nyêlonong sampai saya tidak dengar. Senja candikålå lagi. Tetapi, laki-laki itu berdiri begitu rileks. Senyumnya menawan lagi.

Salam lékum.”

Wa alaikum salam.”

“Kenalkan,  kulo Jimmy.”

“Jimmy siapa, ya? Apa putra salah satu teman Bapak?”

Laki-laki yang bernama Jimmy itu tersenyum lagi. Masih menawan.

“Bukan, bukan. Saya bukan anak teman Bapak. Juga bukan anak siapa-siapa.”

Monggo nak, monggo. Masuk saja. Silakan duduk.”

Saya sendiri tidak tahu kenapa begitu saja menyilakan masuk orang asing, yang tidak saya kenal. Padahal akhir-akhir ini banyak cerita dan laporan di surat kabar tentang penipu-penipu profesional yang suka mengaku-aku anak teman datang minta sumbangan. Dan bukankah saya juga pernah bercerita tentang Raden Soemantio yang mengibuli saya dan berhasil menggaet uang saya beberapa puluh ribu rupiah? Tapi, Jimmy ini malah mengaku bukan anak siapa-siapa dan setidaknya sampai dia duduk itu, tidak minta apapun juga.

Jimmy pun duduk di kursi bambu ruang depan. Waktu kakinya di-sêlonjor-kan kok rasanya mak tlolor begitu panjang sekali, sampai ujung sepatunya menggamit kaki kursi saya. Elho, aneh. Dan bagian atas tubuhnya, waktu duduk itu juga nampak modot ke atas, jadi tinggi sekali. Mak duut. Dia tersenyum lagi. Masih terus menawan. Sampai akhirnya keheranan saya akan mulur-modot-nya tubuh dan kakinya jadi ternetralisir.

“Ada perlu apa ya, Nak Jimmy?”

“Ah, tidak perlu apa-apa. Hanya ….. hanya mau menyampaikan salam silaturahim dari Gus Dur. Bapak sahabat Gus Dur, kan?”

“Ya, betul. Tapi, bukankah beliau sedang …?”

“Ya, sedang di Jakarta, mengurus ini dan itu sesudah Rapat Akbar NU di lapangan parkir Senayan.”

Lho, kok nggak sari-sarinya Gus Dur kirim salam khusus?”

“Iya, itu. Kata beliau, kalau kamu ke Yogya mampirlah ke rumah Pak Ageng. Sampaikan salam saya. Dan kalau kamu haus atau lapar, singgahlah ke rumah itu. Urip hanya untuk mampir ngombé dan makan. Lha ini, Pak Ageng, saya mampir.”

Sialan. Ini sama saja. Orang ini hanya mau minta minum dan mungkin juga makan, pikir saya.

“Nak Jimmy mau minum apa? Teh, kopi atau apa?”

Dia menggelengkan kepalanya.

“Kalau boleh, Aqua.”

Wééh, ini anak muda mahal cita rasanya. Untung saya ada persediaan Aqua. Eh, idhêp-idhêp meng-entertain utusan Gus Dur. Mr. Rigen saya minta memenuhi permintaannya. Tiba-tiba saya lihat Beni Prakosa dan Tholo-Tholo, dua bêdhès yang biasanya berani dan ramah pada tamu-tamu saya, kali itu jadi kelihatan pucat, terus mak brabat lari ke belakang sambil berteriak,

Wêdi tamuné, wêdi tamuné …!

Sedang bapaknya dengan penuh curiga mengawasi Jimmy. Dengan tersenyum lagi, Jimmy menerima Aqua dari Mr. Rigen. Lho, dengan sekali jênthik kukunya, mak pluk, tutup Aqua yang dibalut plastik di pinggirnya itu terlempar keluar. Padahal begitu kukuh seal plastik itu. Dan, dan dengan sekali sedot air dalam botol itu disedotnya sampai habis. Wééh, élok tênan! Dan, dan waktu saya awasi dia minum tadi hanya satu jari, itu pun jênthik-nya lagi, yang menyangga botol Aqua itu. Itu pun nampaknya hanya secara anggang-anggang dipegangnya.

“Pak Ageng, nyuwun malih Aqua-nya!”

Wèlèh, ada tamu kok supel sekali.

“Sesudah itu, kalau boleh, nyuwun makan. Saya lapar sekali. Kata Gus Dur semboyan Pak Ageng …”

“Hidup hanya mampir ngombé dan makan, to?”

“He-he-he-heh …”

Saya lihat dia memang kelihatan capek betul. Beberapa kancing atas bajunya dibuka, nampak dadanya. Waduhh, kulit dada itu halus sekali, mrusuh, keringatnya berlelehan banyak sekali. Tapi, éh … kenapa kok tidak bau kecut atau sêngak seperti laki-laki muda biasanya. Maksud saya bau maskulin itu. Itu malah, édyan tênan, bau minyak wangi Coco Channel no.5. Wangi. Haruumm.

“Ini tadi Nak Jimmy dari mana?”

“Ya dari Senayan.”

“Oh, naik plane yang jam berapa?”

Jimmy tertawa, menggelengkan kepalanya.

“He-he-he-heh …”

Mr. Rigen datang membawa Aqua bersama nasi yang sudah dia rames dengan lauk-pauk. Sruutt … Aqua itu disedot, tinggal separo. Syuuutt, syuuuttt, syuuuttt … nasi sepiring itu dilahapnya cepat sekali. Mungkin hanya beberapa detik. Ini mulut atau waduk, pikir saya. Mr. Rigen matanya melolo.

Kemudian saya ingat ucapannya bahwa dia tidak naik plane. Padahal Rapat Akbar itu baru diadakan pagi hari Minggu itu. Ah, saya jadi curiga. Apa benar dia dari sana?

“Nak Jimmy ini betul datang dari Senayan?”

Elho, betul Pak Ageng. Saya itu ditugasi untuk ikut barisan pengamanan. Lha, kalau Pak Ageng tidak percaya, saya minta kertas nanti saya gambarkan situasinya.”

Mr. Rigen saya peritah untuk ambilkan selembar kertas. Dengan cekatan Jimmy menggambar orang-orang yang duduk. Astaga, saya kenal wajah orang-orang yang digambar itu. Ada Pak Wahono, ada Pak Rudini, ada Gus Dur, ada Pak Idham Khalid, elho … ada juga Rendra dan tokoh-tokoh Forum Demokrasi. Kertas itu ditunjukkan kepada saya.

Lha, ini semua yang rawuh.”

Saya mengangguk-anggukkan kepala. Mr. Rigen mulutnya komat-kamit. Jimmy tersenyum, menepuk bahu Mr. Rigen.

“Mas, sampéyan tidak usah ngucap Al-Fatihah. Wong saya tidak apa-apa, kok. Sampéyan kira saya ini syaiton apa?”

Saya dan Mr. Rigen kaget, shock berat bukan main. Bagaimana dia dengar kalau Mr. Rigen mengucap Al-Fatihah, wong saya saja tidak dengar, lho. Tiba-tiba Jimmy berdiri. Elho, kok tidak sebesar dan sepanjang kalau dia duduk? Tubuhnya kok biasa saja? Malah cenderung agak menyusut sedikit. Tapi, tetap kelihatan hènsêm, senyumnya menawan dan baunya itu lho, Coco Channel no.5!

“Saya nyuwun pamit, Pak Ageng. Matur nuwun buat semuanya.”

Lho, Nak Jimmy mau ke mana?”

Dia tersenyum, lantas tertawa terkekeh.

“He-he-heh. Pulang ke Kajiman.”

“Kajiman? Kota mana itu, Nak Jimmy?”

Dia tertawa lagi.

“He-he-heh. Bukan kota, bukan desa. Di sana, jauh di Jawa Timur.”

Tiba-tiba mak brabat, dia keluar. Saya mau mengantarnya ke pintu. Elho, dia sudah tidak ada. Sudah raib.

Di dalam, Mr. Rigen menunjuk koran beberapa hari sebelumnya. Di situ diberitakan bahwa beberapa kyai Jawa Timur akan mengirim pasukan jin atau jim ke Rapat Akbar, untuk membantu pasukan keamanan Ibukota. Astaga, jadi Nak Jimmy itu, … Kajiman, …. ah mosok, ….. Astaghfirullah, Allahu Akbar, Allahu Akbar ….

Yogyakarta, 3 Maret 1992

*) gambar dari indonesiadimataku.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: