Mas Prasodjo Legowo Duko

Minggu siang kemarin, tokoh idola saya Dr. Prasodjo Legowo bersama mBakyu, begitu saja nyêlonong masuk ke halaman rumah saya. Suara èbrèk èwèr-èwèr, èbrèk èwèr-èwèr dari Honda bebek mereka yang khas itu tidak bisa dicolong lagi. Bagaimana bisa?! Di jaman di mana para dosen dan propésok sudah memiliki Super Kijang, Toyota Twin Cam, bahkan orang seperti Prof. Dr. Lemahamba, M.A., M.Sc., etc, etc itu sudah memiliki sebuah BMW yang super dahsyat. Seorang Dr. Prasodjo Legowo masih naik seekor Honda bebek antik dengan suara yang khas pula, antiknya.

Akan tetapi, justru suara bebek itulah yang selalu membuat hati mereka yang mendengarnya berdebar-debar. Suara Honda bebek itu, meskipun menyejukkan juga me-mrinding-kan tengkuk. Menyejukkan jika dinaiki seorang yang ngganthêng-nya merupakan gabungan Gary Cooper dan Robert Redford. Me-mrinding-kan jika dinaiki seorang yang wajahnya gabungan Harya Wrekudara dengan Sultan Harun Al-Rasyid. Honda bebek itu juga lambang keanggunan yang lêmpêng. Lha, lantas siapa yang tidak mrinding, di jaman yang serba luwes bin bengkok dalam melipat-lipat nalar kita, melihat wajah yang seperti itu.

Kami serumah; saya, Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, Beni Prakosa dan Tholo-Tholo, jadi gurawalan menyambut kedatangan sang Resi. Waktu mereka turun dari Honda, kelihatan bagaimana seperti biasa mBakyu Prasodjo Legowo tangannya nggêntéyong, keberatan beban yang bergelantungan. Dua tas besar yang kemudian ternyata berisi macam-macam. Bungkusan-bungkusan itu berisi lauk-pauk dan jajan pasar buat bêdhès-bêdhès cilik, Beni dan Tholo-Tholo.

Saya tahu, mereka datang mau nglurug makan siang di rumah saya. Saya juga tahu, mereka masih saja begitu têpå slirå bercampur murah hati, bercampur patronizing, bercampur rada ambil enteng kemampuan saya dalam meng-entertain tamu-tamu saya. Untunglah, karena saya memandang dunia dari sudut untung belaka, saya tidak apa-apa.

Wéh, Mas, mBakyu, kok bolehnya bikin kaget tapi gembira dan mongkok hati orang! Begitu saja rawuh tanpa memberi tahu.”

Rupamu! Mentang-mentang orang sastra, menyambut tamu seperti cara wayang wong Sriwedari. Memangnya saya ini Btara Kresna dan kamu Prabu Yudhistira apa?”

Lha ya, to. Pantês-nya khan begitu, to? Kangmas yang Btara Kresna dan saya yang Yudhistira.”

Wong Yudhistira kok kakinya napak tanah. Yudhistira apa itu? Yudhistira yang napak tanah itu Yudhistira yang mulai tahu bohong, seperti waktu dia ditanya panditå Durna di Perang Baratayuda itu.”

“Kalau begitu saya pantês dong jadi Yudhistira yang begitu. Kerja saya bohong melulu, to?

Kami semua tertawa sembari masuk, duduk di seputar meja makan mengawasi mBakyu Prasodjo membongkar bungkusan-bungkusan itu. Saya agak surprised dengan isi bungkusan-bungkusan itu, produk pasar belaka. Biasanya mereka membawa rantang isinya lawuh produk mereka sendiri. Kali ini kok begitu. Gudangan, sayuran urap yang di-kêpyuri kacang tholo, tempe dan tahu bacêm, empal yang dagingnya ber-gajih dan berotot, gatot, thiwul dan gêthuk, baik yang putih maupun yang coklat.

Saya ngglêgês bercampur ngungun di dalam hati. Belum sampai sebulan yang lalu, saya melihat gambar Mas Prasodjo di Jakarta Post sedang duduk di meja banquet Academy of Sciences, di Hotel Waldorf Astoria, New York, ber-andrawina bersama para jumhur internasional. Mestinya yang dihadapi di meja banquet itu apês-nya ya filet mignon, daging steak yang empuk dan mak nyuss. Desert-nya es krim yang di-grujuk likeur, dibakar sebentar sampai apinya berbunti mak bull! Dan siang itu segala lawuh dan jajanan pasar Kranggan. Wah, alangkah kontrasnya!

“Apa? Mulutmu kok kêcêmat-kêcêmut lihat lawuh jajan pasar? Jijik, ya? Ndéso, ya?”

“He, he, he … Lucu dan menarik, Mas.”

“Apanya yang lucu dan menarik?”

Mas Prasodjo bilang begitu sambil mulai makan dengan lahap. Melahap semua makanan yang dibawanya. Apalagi semua lauk pauk itu masih ditambah lagi oleh Mr. Rigen dengan sambêl trasi pêdhês yang bisa bikin orang ho-ha, ho-hah. Saya pun lantas menceritakan kesan bandingan saya antara lawuh rumah itu dengan yang di Waldorf Astoria.

Tiba-tiba di tengah kelahapan yang ho-ha, ho-hah itu saya lihat mata Mas Prasodjo mênthêlêng, seperti mênthêlêng-nya Arya Bima. Wah, gawat, pikir saya.

“Nah, itu, itu!”

Elho, yang itu-itu apa to, Mas?”

Saya terputus omong karena seuntai pendek otot empal pasar itu me-nylêmpit di sela gigi saya. Rasanya nggêdabêl. Itulah situasi slilitên yang benar-benar crucial, kritis, gawat.

“Ya itu, Geng. Kau itu mentang-mentang sudah bankable, punya credit card silver dari Citibank, jadi kena culture shock, gunjangan budaya. Kau jadi pusing. Tidak bisa tahu proporsi yang nasional dan yang internasional. You got dizzy, Man!

Menurut Mas Prasodjo jadi orang Indonesia itu mesti wajar, yang biasa-biasa saja tanpa rasa kurang harga diri. Di tengah dunia internasional, biasa. Di negeri sendiri, biasa. Lihat filet mignon ya diuntal biasa saja. Mak legender, begitu. Lha, lihat masakan rakyat bangsa sendiri, ya biasa juga. Dihadapi dengan mak lêgêndêr juga. Tidak usah bingung, tidak usah bimbang.

“Coba lihat laporan balans kreditmu dari kartu silver-mu itu!”

Saya kaget mendapat permintaan seperti itu. Tapi, saya menurut juga. Saya keluarkan dari tas dan kemudian saya serahkan. Mas Prasodjo langsung melihat deretan angka-angka rupiah itu.

“Ha, ha, ha, Geeng, Geng! Wong credit card kok cuma dipakai makan di restoran hotel berbintang! Tidak produktif, tidak invest apa-apa! Kau ini betul-betul inlander sejati, Geng!”

Saya jadi pringisan.

“Kalau kartu kredit itu tidak dipakai di hotel berbintang, di mana lagi? Apa di warung Yu Sum, di Congot?”

Sorry ya, Geng. Dak kritik yang keras yo kamu?”

Ha, monggo, monggo.”

Hati saya jadi miris. Slilit di sela gigi belum juga terbebaskan.

“Kamu ini ngapain, sih? Jempol dan jari masuk mulut sekaligus?”

Slilitên.”

“Kamu ini inlander yang sliliten makan empal bangsamu sendiri. Dan kamu inlander yang mindêr sama hotel-hotel berbintang. Kamu terlalu suka ‘wah’! Sing prasojo ….

“Legowo.”

Dhapurmu! Credit card itu ya dipakai untuk yang darurat saja, bego!”

Saya terkesima. Tidak sari-sarinya tokoh idola saya ini jadi begitu séwot dan berkobar semangat nasionalismenya.

Waktu mereka sudah pergi dengan Honda bebek yang èbrèk èwèr-èwèr itu, saya memang bersumpah untuk menjadi nasionalis sejati lagi. Di kamar tidur, tiba-tiba saya ingat, week-end minggu depan saya janji mengajak anak cucu untuk jalan-jalan ke Sogo. Wah, credit card, ho-ha-hêêmm, cre ….. Saya pun tertidur.

Yogyakarta, 28 Januari 1992

*) gambar dari ycreditcard.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: