Menjelang Tahun Baru

Gara-gara manusia menciptakan hitungan waktu kalau satu tahun itu terdiri dari dua belas bulan, kemudian membayangkan hidup disekat-sekat dalam kamar-kamar tahunan, manungså menciptakan mitos akhir tahun. Pada tanggal terakhir bulan ke dua belas itu mereka perlu, misalnya, bikin perhitungan-perhitungan. Perhitungan tentang ketiban rejeki berapa kali dalam dua belas bulan terakhir, jêblok berapa kali makelarannya, ketemu pacar atau tidak, lulus EBTANAS, diterima di UGM atau di Janabadra dan entah hitungan-hitungan apa lagi.

Dan ke depan kita juga akan sama terkotak dan tersekatnya oleh konsep-konsep yang sama. Merajut harapan-harapan, juga dalam kamar-kamar harapan. Di kamar-kamar Januari dan Februari, perhitungan kemungkinan akan datangnya mirékêl-mirékêl dari langit untuk menambal luka-luka yang telah men-dhèdhèl dhuwèl-kan tubuh kita pada kamar-kamar kemarin, telah ditaruh harapan dan impian itu. Yah, sesungguhnya siapa suruh bikin dhèdhèl dhuwè tubuh itu? Bukankah tidak ada yang menyuruh menyekat kecelakaan-kecelakaan dalam tubuh kita? Kok bolehnya …..

“Mati aku!”

Saya pukul-pukul kepalaku yang terus membotak juga dalam sekatan waktu.

“Mati gimana?” tanya Bu Ageng.

“Bukan mati betulan, Bu. Aku ini cuma baru kena rudal flu dari si Gendut.”

“Lantas?”

“Aku lupa belum lagi bagi bonus, bagi insentif, tahun baru kantor dan the Rigen family. Aku mesti segera terbang ke Yogya lagi, nih.”

“Eh, kok lagakmu kayak general manager konglomerat saja. Memangnya kau dan kantormu ada anggaran bonus?”

Wé lha, Buné, jo ngécé wong ra nduwé. Jangan mênghainê man no nothing, yes?

Lho, tidak mêngécé nor mênghainê, Pakné. Cuma ngungun. Wong kantor yang begitu kondang kéré-nya kok berani-beraninya bagi-bagi bonus, lho!

“Memangnya yang boleh bagi-bagi bonus cuma kantor yang sugih kayak kantormu?”

Ha iya, dong. Bonus itu rak diambil dari keuntungan perusahaan. Dus, diyês, duit turahan. Kantormu punya duit turahan, to? Kau sendiri punya?”

Saya meringis. Menyadari bahwa kekondangan saya sebagai kepala kantor melarat sampai ke mana-mana. Saya meringis lagi. Kali ini bercampur dengan rosoclêng’ yang tiba-tiba menyambar karena pusingnya flu memang masih mengendon di kepala. Adapun flu tersebut adalah tembakan dari si Gendut yang sudah beberapa hari terkapar kena flu berat.

Saya mengelus dada. Memahami bagaimana bedanya dimensi dan persepsi orang memandang. Bu Ageng, karena sudah terbiasa menjadi manajer rasional dari satu konglomerat sukses yang memandang sekat-sekat waktu dengan segala isinya dalam bahasa one, two, three. Kalau hitungan itu tidak urut one, two, three, melainkan misalnya three, one, two atau two, three, one atau one, three, two, maka ya rencana-rencana itu tidak dilaksanakan. Semuanya harus jalan menurut hitungan eksak yang tidak boleh melesat. Seperti jam Seiko, kereta api peluru Sinkhasen atau komputer-komputer generasi terbaru.

Akan halnya saya, meskipun isinya cuma terus tanpa henti mengagumi kerasionalan Bu Ageng, tidak akan mungkin melaksanakannya. Bagaimana pun mungkin besar keinginan itu! Lha, wong étungan-nya sudah kadung lain. Hitungan itu tidak akan dimulai dengan one, two, three. Hitungan itu dimulai dengan tidak menghitung. Hitungan itu dimulai dengan kemungkinan hasil hitungan seandainya hitungan itu dijalankan. Lho, piyé iki? Bagaimana to ini?

Begini. Adalah satu kesenangan atau kebahagiaan seandainya orang seisi kantor atau seluruh anggota staf kitchen cabinet Mr. Rigen, pada tahun itu bisa naik sedikit gizinya dari tempe bacêm menjadi daging empal. Atau dari Indomie godhogan sendiri naik sebentar menjadi cap cay godhog rumah makan Masih Sepuluh. Atau ….. pokoknya suatu penggantangan asap kenikmatan yang kalau diriilkan hasil dari satu proses hitungan een, twee, drie, satu, dua, tiga juga.

Jadi, keputusan untuk membagi bonus tutup tahun ini saya mulai dengan suatu bayangan kenikmatan dulu. Baru kemudian mencoba menghitung kemungkinan pelaksanaannya. Adapun kalau kemungkinan pelaksanaannya itu nanti ternyata ruwet, ah … itu urusan nantilah! Atau persetanlah …!

Dalam pesawat, di kelas eksekutif, karena kehabisan tempat dan dibayar dengan meringis dari kantong sendiri, kepala saya sebentar-sebentar sêdhat-sêdhut karena virus flu tularan si Gendut masih saja angrêm di kepala saya. Saya harap-harap cemas mereka-reka pelaksanaan pembayaran bonus itu.

Garuda mendarat, jip butut legendaris dengan sigap mengangkut saya, meluncur ke kantor, rumah dinas nDalêm Kêagêngan dilewati, gabruss …. cièètt …. masuk kantor. Semua staf kantor legendaris itu sudah pada berdiri berjajar rapi di tangga, lengkap dengan seragam safari kelabu. Saya masuk bagaikan seorang konglomerat tiban. Angguk sana angguk sini, salut sana salut sini, kiyêr sana kiyêr sini. Begitu saya gagah-gagahkan penampilan saya. Wong mau membagi bonus akhir tahun, jé! Tiba-tiba saya ingat kerasionalan istri saya yang dengan polos ndlujur-nya menanyakan apa di kantor dan rumah saya ada cadangan, turahan, duit …. Aduhh, tegang sekaligus lêmês-lah saya. Tapi, eh … kok, sang sekretaris, manusia ajaib yang selalu bisa memecahkan persoalan dunia dan menaklukkan semua tokoh dunia, dengan tenangnya menyilakan saya membagi-bagikan amlop bonus. Lima puluh, lima puluh, lima puluh. Dan, byarr! Di depan saya apa yang saya bayangkan itu terjadilah. Tempe bacêm malih menjadi iwak empal, mandar Indomie ikut juga malih menjadi cap cay Masih Sepuluh.

Dan di rumah, keajaiban yang sama terjadi. Di laci lemari pakaian, di sela-sela kertas, bon penatu, kupon hadiah yang tidak kunjung diambil, eh, … terselip beberapa lembar uang. Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem meringis, sepuluh, sepuluh. Beni Prakosa & Tholo-Tholo, lima, lima. Imaji, harapan, impian manungsa dicampur dengan étungan ji-ro-lu bisa menciptakan keajaiban di dunia. Ah, tentu juga harus diramu dengan paringan rahmat Gusti Allah.

Adapun tentang bagaimana saya nanti akan melewati malam tahun baru, menyongsong fajar tahun baru dengan anak bojo sak ranggon di belantara Betawi, belum bisa saya laporkan di kolom ini. Meskipun mungkin tidak akan terlalu meleset dari tahun-tahun  sebelumnya, dengan ramé-ramé tiduran, klêkaran, di depan TV. Untung-untungan, siapa tahu acara TV-nya layak ditonton dengan kulit kacang bosah-basèh, gogrogan roti, tumpahan kuah mi godhog yang dibeli dari si Johni from Tegal. Ah, belum tentu juga! Akhirnya, Gusti Allah juga Maha Penulis Skenario, to. Ijinkah saya kirim persekot, Selamat Tahun Baru 1992.

Yogyakarta, 31 Desember 1991

*) gambar dari mybothsides.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: