Spring in Canberra, Sengak in Yogya

Canberra yang tempo hari saya laporkan selalu dalam suasana ‘bagaikan dikalahkan garuda’ saking sepinya, juga suatu ibukota negara yang mengerikan bersihnya. Nyaris tidak ada kertas, daun atau ranting yang tercecer di jalan, apalagi gundukan sampah di sana-sini. Tidak ada. Jalan-jalan yang rata aspalnya, halus anti benjolan, memberi kesan tiap 3 menit disapu dengan sapu lidi. Begitu mengerikan datar dan kosongnya. Lalu-lintas, seperti telah saya laporkan, hanya sekali-sekali mak kliwêr, satu atau dua mobil lewat.

Udara musim semi yang masih dingin itu juga bersih kayak terus menerus di-filter. Cuma karena musim semi adalah musimnya kuncup dan putik-putik mulai bersembulan keluar, bunga daffodil yang kuning itu mulai mencuat dari tanah. Musim semi itu juga musimnya orang bersin-bersin, hoa-hiing, huur-syah, srot-srot-srot, gêbrès-gêbrès-gêbrès. Itulah musim spring fever, meriang musim semi. Istilah itu juga berarti mulai hangatnya suhu badan anak-anak muda pada naik. Dari panas badan itu pun lantas disalurkan di taman-taman, padang-padang rumput, pinggir kali dan tentu juga di asrama-asrama seperti Ursula College tempat saya mondok.

Pada waktu menyalurkan dan pelampiasan begitu, nampaklah pemandangan yang aduhai romantisnya atau seperti yang digambarkan oleh Gabriel Marques, “bagaikan anjing-anjing yang bergumul di bawah pohon dan di padang-padang rumput …” Maka tahulah saya, hari memang sudah senja buat seorang manula seperti saya. Melihat pemandangan begitu, selain ingat kepada Gabriel Marques, juga ingat kepada Kawabata yang dalam salah satu novelnya menceritakan perkumpulan manula-manula yang tidak mampu apa-apa lagi. Tetapi, sewaktu-waktu berkumpul memanggil perempuan-perempuan muda yang cantik, dibayar untuk bugil di hadapan mereka, tidak diapa-apakan selain hanya untuk dinikmati pemandangan keindahan tubuh-tubuh mereka yang lagi bugil itu. Lha, saya tidak punya perkumpulan manula seperti itu di Canberra. Juga tidak punya klangenan untuk mendatangkan bulé-bulé muda untuk pating dlondèng bugil di depan saya. Astagfirullah, jabang bayi, Gusti Allah paringånå éling …

Selain menjadi ibukota Negara, Canberra adalah satu kerajaan. Maksud saya kerajaan burung. Burung bukan main banyaknya, ber-sliwêran di halaman-halaman, taman-taman dan di pohon-pohon kampus. Mereka dilindungi dan dimanjakan. Mereka adalah warga elite yang boleh hidup sak énak mereka. Di rumah-rumah, adalah pemandangan yang biasa bila kita lihat tersedia tempat-tempat makanan burung yang digantung di pohon-pohon. Dan burung-burung itu pun seperti tahu hak mereka yang terjamin oleh undang-undang, sewaktu-waktu mereka lapar atau membutuhkan snack akan turun dengan angkuhnya me-nothol makanan mereka sembari bercanda.

Gosip alias rêrasan mestinya dikenal juga dalam dunia burung. Adapun burung Australia yang menakjubkan bagi saya adalah Nuri dan Kakatua Putih. Burung-burung Nuri itu besar-besar dan warnanya pun begitu indah menyala. Biru bercampur merah darah, hijau dan hitam. Sepertinya tubuh mereka itu, sebelum mereka mengangkasa, mampir dulu pada seorang pelukis untuk dicat dengan warna-warna cerah itu. Dan Kakatua Putih yang besar itu adalah raja dari burung-burung itu. Di kepalanya ada mahkota kuning yang cerah sekali. Bila mereka berkumpul dan bercanda, mahkota itu akan mekar, menunjukkan bahwa merekalah peminpin burung-burung itu. Sayang suara mereka tidak merdu. Tat-tèt, tat-tèt. Kadang-kadang melengking tuiitt-tuiitt-tuiitt. Dan seperti tahu menduga jam-jam bengong saya di kamar atau di kantor, mereka akan mengetuk-ngetuk jendela menegor saya jangan lama-lama bengongnya.

Ada lagi satu macam burung, namanya Magpie. Burung ini seperti burung Jalak Uren di sawah-sawah kita dulu. Warnanya juga hitam dan putih. Pada musim semi seperti sekarang ini, burung-burung Magpie ini, sang betina pada mulai mengerami telur-telurnya. Sang Magpie jantan akan dengan penuh awas dan cemburu menjaga sarang betinanya. Pada saat-saat begitu dia bisa sangat berbahaya. Bila dilihatnya ada orang berjalan di bawah pohon mereka, mereka akan menyambar kepala orang itu. Celakanya serangan mereka yang bagaikan pesawat F-16, dilakukan tiba-tiba dan dari arah belakang. Yang sial kena sambar bisa berdarah kepalanya karena paruh burung Magpie memang terkenal tajam.

Maka, pada musim semi seperti ini banyak orang memakai topi untuk melindungi gundhul mereka, yang kalau tidak waspada bisa kena sambar Magpie. Saya tidak punya topi. Satu kali saya dan seorang kawan yang mau berangkat lunch nyaris kena sambar burung Magpie. Untunglah ngélmu roso memahami getaran dari belakang masih hidup dalam tubuh saya. Persis waktu saya menoleh, burung itu sudah berputar-putar mau menyambar. Untungnya (untung lagi, to) saya membawa payung. Payung saya obat-abit-kan untuk mengusirnya.

Menurut kawan saya itu, pernah ada seorang mahasiswa yang kena sambar burung Magpie sampai sobek beberapa centi kulit kepalanya sampai terpaksa dijahit di rumah sakit. Tentu saja dia tidak bisa meng-sue, menuntut burung Magpie itu. Pertama, kitab KUHP dalam bahasa burung belum terbit. Kedua, belum ada dalan sejarah Australia ada lawyer yang bersedia membela manusia yang jadi korban Magpie. Dan ketiga, Australia di samping anggota commonwealth Inggris, adalah satu kerajaan burung. Burung apa saja can do no wrong here, you know!

Lha, Indonesiaku yang tercinta itu sudah punya Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Lingkungan Hidup, gubernur-gubernur dan walikota-walikota, kok kota kita masih bergunduk sampahnya dan burung-burungnya sêmangkin habis. Di sawah leluhur saya di Ngawi itu sudah tidak pernah terdengar lagi burung Betet bertet-tet-tet menyerang jagung-jagung petani. Apalagi burung Jalak Uren yang hinggap di pungung-punggung kerbau. Hadiah-hadiah Adipura (atau apa lagi itu) belum juga mampu meng-gusah sêngak-nya bau sampah di pinggir jalan. Sampai-sampai kita jadi terbiasa aroma gudêg itu harus ada bau sêngak-nya sampah untuk bisa dibilang sêdhêp. Lha, coba saja Anda lesehan di Malioboro mênggudêg di malam hari. Malah kalau pada satu ketika PU kotamadya agak efisien sedikit bolehnya menyemprot Malioboro dan menghilangkan bau sengak sampah, sempat diprotes penjual gudêg.

Ampun rêsik-rêsik, Mas. Nanti hilang sedapnya sêngak sampah di gudêg.”

Edyann …

Yogyakarta, 29 Oktober 1991

*) gambar dari cyclelifehq.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: