Surat Dari Mr. Rigen

Mr. Rigen, dirjen kitchen cabinet saya yang setia itu, mengirim surat kepada saya di Canberra. Saya agak terkejut bercampur dengan kagum akan resourcefulness-nya. Dari mana dia mengetahui alamat saya? Saya belum pernah berkirim surat sêcuwil pun kepadanya. Pastilah atas inisiatif sendiri, dia mencari tahu alamat saya. Bertanya ke kantor, menginterogasi berbagai orang dan oknum, telpon kantor Garuda dan siapa tahu juga kantor Qantas, perusahaan penerbangan Australia itu. Semua serba mungkin. Wong Mr. Rigen, jé! Bahkan tidak menutup kemungkinan dia menghubungi dunia intel untuk mendapatkan alamat saya di Canberra. Pokoknya dia mendapatkan alamat saya dan berkirim suratlah dia.

Diyêr Pak Ageng,
Sarêng punikå ngaturi kabar wilujêng. Saya, pun Nansiyem, tholé-tholé Beni Prakosa lan Septian sami oke-oke saja. Pak Ageng rak inggih oke-oke saja, to? Kami sudah sangat kangên sama Pak Ageng. Tholé-tholé Beni lan Septian selalu menanyakan, Pak Ageng kok nggak pulang-pulang, to? Soalnya, Pak Ageng, kami sekeluarga sudah selama dua bulan ini tåpå prihatin. Makan kami cuma dengan kangkung, kangkung ên kangkung. Dan, oh iya ding, sambêl, sambêl, sambêl tuwin sambêl. Soalnya, Pak Ageng, uang tinggalan Bapak dulu sudah sangat tipis. Sudah saya jèrèng-jèrèng, saya tarik-tarik, sampai hampir sobek, tetap tidak cukup anggaran dari Pak Ageng itu. Lho, ini mbotên protes lho, Pak Ageng. Cuma sambat, cuma mengeluh. Memang waktu dulu Pak Ageng mau berangkat uang itu cukup. Ndilalah kêrsaning Allah, Pak Ageng, sepeninggal Pak Ageng itu harga di pasar-pasar, di toko-toko dan di mana-mana mak dhêl, naik semua! Sampè bingung saya dan ibuné tholé bolehnya membelanjakan uang. Jadinya sekarang ya begini ini, Pak Ageng. Makannya cuma sama kangkung dan sambêl.

Kalau nasi, masih cukup karena beras pembagian dari kantor datang terus dan supaya babar, kami tukar dengan beras jarandor yang kuning-kuning cokelat itu, Pak Ageng. Tholé Beni ngamuk terus, sebegitu juga adiknya pijêr menangis terus. Kasihanya, Pak Ageng? Padahal koran-koran juga sudah saya juali semua. Eh, kok ya tidak cukup-cukupnya, lho! Sudah ya, Pak Ageng. Mbok lêkas kundur, lêkas pulang. Sêlak répolusi keadaan dapur. Oleh-olehnya yang banyakya, Pak Ageng. Apa bisa oleh-oleh dhèndhèng kanguru? Kabarnya enak seperti dhèndhèng menjangan. Pak Joyoboyo juga sering mampir. Tapi, ya hanya mampir saja. Kita tidak kuat mau beli èyèm pènggèng-nya. Tholé-tholé yang kasihan. Glibat-glibêt di depan ténong, melirik sate usus. Ilêr mereka crocosan, mengalir deras. Ning ya tidak saya belikan. Lha, mau beli pake uang apa, Pak Ageng. Pak Joyoboyo kok ya tega-teganya tidak mau menawarkan kredit sate usus atau dhådhå mênthok. Sudah lagi ya, Pak Ageng. Enggal kundur.

Kulo pun,

Mister Rigen

Surat Mr. Rigen itu membuat hati saya trenyuh. Saking setianya dia menjaga rumah boss-nya, makan dengan kangkung dan sambêl setiap hari dia lakoni. Wéh, harga-harga di negeri kita ini kok ya naik-naik terus. Kalau Mr. Rigen yang tinggal di kota dan punya pekerjaan tetap sudah begitu mengeluhnya, bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di Pracimantoro yang tandus itu? Mana konon musim kering masih akan terus berlanjut. Dulu, pada jaman revolusi, bila penderitaan terasa seakan tiada habisnya, orang desa kadang bertanya, merdeka ini kapan selesainya? Sekarang? Apa yang akan mereka tanyakan? Apalagi yang mereka bayangkan mesti segera selesai? Masak akan bertanya, merdekanya kapan selesai. Mr. Rigen, merdeka itu tidak akan ada selesainya.

Lha, kalau tentang dhèndhèng kanguru itu, saya tidak akan janji. Beberapa waktu yang lalu saya ditraktir oleh staf kedutaan makan di satu restoran yang mewah di Canberra. Dalam menu makanan itu tercantum ‘kanguru steak’. Saya memutuskan untuk mencoba steak kanguru itu. Untuk pengalaman dan ada bahan pamer buat kawan-kawan dan, sudah tentu, Mr. Rigen. Pelayan yang ngganthêng itu sudah nyerocos menerangkan bagaimana dahsyatnya daging kanguru itu. Pokoknya nyuuuss, deh! Saya pun lantas sêmangkin terbujuk untuk memesannya. Mahal tidak apa, toh ada yang menraktir. Sang pelayan ngganthêng mulai menulis di notes-nya, kanguru steak. Eh, tiba-tiba terbayang dengan amat jelas di depan mata saya seekor kanguru kelabu meloncat-loncat sambil menggendong sang anak di kantongnya. Langsung hilang selera saya.

Mister pelayan, mister pelayan! No, no, no, noo! No kanguru steak!

Mr. Rigen, begitulah ceritanya kanguru itu. Sori ya, permintaan untuk oleh-oleh dhèndhèng kanguru tidak akan terpenuhi. Tapi, saya ada oleh-oleh bumerang buat Beni Prakosa dan Ade Septian. Bumerang itu, Mr. Rigen, adalah senjata orang Aborigin untuk berburu kanguru. Orang Aborigin itu, Mr. Rigen, adalah penduduk asli Australia yang dulu dikuyå-kuyå, dibêdhili, ditindas oleh bangsa kulit putih hingga sekarang tinggal 300 ribu orang saja. Lha, bumerang itu adalah kayu yang bléngkok dilemparkan ke arah sasarannya. Kalau luput bisa kembali ke tangan sang pelempar. Lho, tidak percaya? Nanti saya ajari tholé-tholé itu melempar dengan bumerang di lapangan.

Senja sudah datang. Langit senja itu apakah di Canberra, di Sidney, di Tokyo atau di Yogya kok ya sama saja, merah-oranye. Dari balik jendela di Sidney itu saya lihat Darling Harbour. Kapal-kapal kelihatan bersandar di dok. Besok saya akan diterbangkan Garuda ke Denpasar, pulang. Australia, selamat tinggal.

Sidney, 22 Oktober 1991

*) gambar dari pixabay.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: