Persiapan Tujuh Belasan Mr. Rigen

Tujuh belasan sudah di ambang pintu lagi. Itu berarti Mr. Rigen & family akan banyak terlibat dalam ritual tahunan tersebut. Menjadi panitia perayaan tujuh belasan kampung merangkap jadi wasit lomba adu cepat makan bubur katul panas ditaburi kacang goreng setengah matang yang masih panas juga.

Kemudian masih juga merangkap jadi macan bola kesebelasan P(ersatuan) J(ongos) J(ongos) Bulaksumur versus kesebelasan musuh bebuyutan PJJ dari Sekip. Meskipun PJJ Sekip baru saja muncul sebagai finalis Lemahamba Cup tahun lalu, mereka segera diberi predikat musuh bebuyutan oleh PJJ Bulaksumur karena di bidang lain PJJ-PJJ dua kawasan yang paling elite di Yogya itu sudah saling menjadi rival. Di bidang jongos-menjongos mereka bersaing dalam memenangkan tender pengadaan pelayan-pocokan dari beberapa perusahaan catering yang sangat sengit pula persaingannya di dunia kampus.

Waktu musim wisuda, musim pengangkatan doktor, musim pengukuhan professor, musim kenaikan pangkat jadi priyagung di Pusat, musim mantu, belum lagi musim jarig-jarig, yahrer-yahrer, ultah-ultah dari putra-putri keluarga yang berkiblat pada life style Jakarta, kedua PJJ tersebut terlibat langsung dalam pasaran pengadaan pelayan-pocokan.

Dengan sendirinya, itu juga merembetkan kepentingan P(ersatuan) B(abu) B(abu), P(ersatuan) T(holé) T(holé) dan P(ersatuan) G(êndhuk) G(êndhuk). Bagaimana tidak! Pada setiap pesta itu, turahan alias kelebihan dari makanan yang lezat dan bergizi itu adalah bonus yang sangat penting bagi keluarga PJJ.

Turahan itu tentulah ada alamiah dan ada pula yang naluriah. Yang alamiah adalah turahan yang terjadi karena pesanan makanan pesta dari sononya memang sudah sangatlah generous-nya. Meskipun kadang-kadang ada juga keluarga-keluarga elite yang super ekonomis perhitungan pesanan per kepalanya sehingga hidangan itu juga jadi super pas-pasan betul, sampai tidak ada seorang pun anggota PJJ yang kecipratan. Sedang yang naluriah adalah turahan yang memang sudah masuk dalam planning PJJ. Sebelum hidangan itu diatur pembagiannya untuk dipindah ke meja-meja besar di ruang pesta, beberapa oknum PJJ sudah akan diberi tugas untuk menyisihkan  makanan itu untuk di-bêrkat. Makanan yang berkuah, meminjam istilah Mr. Oberlin, akan di-tawu, lantas dipindah ke plastik-plastik yang sudah tersedia.

Menurut jargon administrasi modern tentulah itu yang disebut dengan korupsi. Tetapi, menurut jargon antropologi pambangunan, itulah yang disebut functional equilibrium, keseimbangan fungsional. Untuk kelangsungan hidup satu spesies kadang-kadang memang dibutuhkan kanibalisme, saling makan-memakan di antara spesies. Maka bila ada satu PJJ otomatis me-nawu hidangan, itu dalam rangka menjaga kelangsungan spesies mereka itulah. Dalam konteks itulah, maka kepentingan PBB, PTT dan PGG jadi tersangkut.

Begitulah. Dalam rangka persiapan tujuh belasan tahun ini, pada satu sore Prof. Dr. Lemahamba, M.Sc. M.A., M.Ed, etc, etc datang ke rumah untuk bermusyawarah dengan Mr. Rigen sebagai ketua panitia. Meskipun saya tidak terlibat langsung, tentulah saya mesti hadir juga.

“Mr. Rigen, apa dikau sudah siap mental menghadapi kerja tahunan yang mulai ini?”

Nun inggih, nun inggih, kulo nok noon, Sang Propesor.”

Kowé kalo mau bikin kongsres båså Jawa lagi dak gibêng, lho! Kongres kok nggak selesai-selesai.”

Yes, yes, yes. Mental sudah siap, Prop. Finansial yang belum.”

Of course financially I am in charge, Mister.”

“Lho, sing kongres båså Inggris siapa sekarang?”

“Begini, Mister. Tahun ini juara Lemahamba Cup akan ditambah hadiahnya.”

Lha, rak ya begitu to, Prop.”

“Eh, belum tentu kesebelasanmu to yang menang?”

“Pasti, Prop, pasti. Setriker Sekip, Jalio sudah ditansper ke nDeresan ndèrèk propesor IKIP. Lha kipernya, Samingan, ditransper ke mBanteng ndèrèk mahasiswa luar Jawa. Pun, PJJ Sekip mau minta berapa gol tahun ini?”

“Sombongmu itu lho, Gen. Hadiah tahun ini selain bèkêr yang bertambah besar, baju seragam berwarna metalik, gilap menyala, ditambah sepeda Federal satu.”

“Sepeda pederal satu? Cuma satu, Prop? Gèk terus baginya bagaimana?”

“Ya, satu itu buat gantian kalian se-PJJ. Semacam sepeda dinas begitu.”

Woo, ciloko ini. Dak kirå propesor sebagai konglomerat akan memberi mobil balap. Ini hanya sepeda setengah balap, itu pun cuma satu.”

“Nanti kalau kamu sudah berprestasi seperti Yayuk, you will get one.”

Lhoo, rak coro Inggris lagi, to. Pemimpin itu kalau mau membingungkan wong cilik kok terus coro Inggris, lho.”

Wah, saya pikir dirjen saya itu mulai nekat, nrunyak pegang kepala orang penting ini. Maka saya pun lantas cepat-cepat menegurnya.

“He, Mister Rigen. Hati-hati kalau ngomong! Ini Pak Professor Lemahamba ‘kan sudah mau bermurah hati mau membantu memeriahkan tujuh belasan kalian. Jangan ngomel, dong!”

“Mohon maaf seribu maaf, Prop. Saya lupa kalau wong cilik itu harus sak drêmo nrimå ing pandum. Orang kecil sudah selayaknya menerima apa saja yang diberikan, nggih?

Eh, orang ini masih juga nekat mengritik, lho. Tapi saya tidak mau menegurnya lagi. Bukankah daya kritik rakyat tidak boleh dimatikan, betapun pun itu sering menjengkelkan? Lagi pula kritik mereka bukankah juga paling banyak cuma sampai tingkat menyindir? Belum akan merawankan kondisi keamanan wilayah?

Profesor Lemahamba pun mohon pamit sesudah memberi budget cukup untuk panitia. Saya lihat Mr. Rigen menghitung uang itu sembari komat-kamit. Kemudian saya dengar dia meng-grêndêng sendiri.

“Wah, mana cukup uang segini. Mana semua harga naik. Wong uang buat beli beras, katul sama kacang saja, lho. Kok enggak ditambah. Terus yang buat sêtrup dan es cendol dari mana uang tambahan itu …”

Uwis to, Gen. Jangan meng-grundêl terus. Kami para pemimpin itu tidak cuma mikir balapan makan bubur katulmu saja. Banyak banget yang kita pikir, Gen. Wis, cukup ora cukup sak begitu saja, ya? Do’akan tahun depan lebih banyak anggarannya.”

Saya sendiri jadi kagum mampu memberi petuah begitu kepada Mr. Rigen. Mudah-mudahan akan dapat menenteramkan hatinya. Tapi belum sampai lima menit Mr. Rigen ke belakang, saya sudah mendengar dia membentaki anak-anaknya, Beni dan Tholo-Tholo. Saya lari ke belakang melihat apa yang terjadi. Saya lihat di halaman belakang Beni dan Tholo-Tholo main pasir dan batu menggunakan bèkêr juara Lemahamba Cup tahun lalu sebagai alat menakar pasir dan batu itu. Bahkan kemudian, astaga … Tholo-Tholo kencing, membasahi bèkêr itu …

Yogyakarta, 13 Agustus 1991

*) gambar dari banaran2.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: