Rap Ala Beni Prakosa

Gara-gara Beni Prakosa sering diundang ke rumah temannya yang memiliki parabola, Beni jadi lebih kritis melihat TVRI di rumah. Tiba-tiba dia berpendapat bahwa TVRI itu sangat membosankan siarannya. Gambarnya tidak jelas, sering bruwêt dan byar-byar-byar, acaranya omong melulu, siaran beritanya tidak menarik, si Unyil membosankan, Aneka Ria Safari musiknya dangdut melulu, gerutu Beni terus-menerus. Yang masih baik tinggal ketopraknya, akhir dari kesimpulannya.

Mbok Pak Ageng pasang parabola, to!

“Ala ola, Geung,” sambung Tholo-Tholo.

“Apa?”

“Parabola. Pa-ra-bo-la. Parabola.”

“Alaola. A-la-o-la. Alaola.”

“Oh, … parabola gundhulmu péyot! Menurut kalian berdua, parabola itu mahal atau murah? Yang bisa menjawab betul, dapat seratus!”

“Seratus rupiah, Pak Ageng?”

“Atus upiah, Geung?”

Edan! Bêdhès cilik baru kelas dua sudah komersil. Apa ini gara-gara sekolah di SD Indonesia Hebat, maka dari usia dini sudah tahu ekonomi uang?

Heisysy! Seratus rupiah monyongmu itu! Angka seratus, bukan seratus seratus rupiah, Bêdhès!

Ning nèk betul, Pak Ageng pasang parabola tidak?”

Elho! SD Indonesia Hebat juga mendidik siswanya untuk bisa bargaining alias ênyang-ênyangan alias tawar-menawar? Hebat! Selain baris berbaris, mereka juga diajari diplomasi dengan menanamkan prinsip ênyang-ênyangan pada usia yang sangat dini.

Heisysy! Ora ênyang-ênyangan! Bêdhès cilik mau nganyang wong tuwo, he?!

Beni tertawa menjengkelkan. Tholo-Tholo ikutan meringis. Ilêr-nya dlèwèran.

“Ya sudah. Kalau Pak Ageng nggak mau pasang parabola, saya akan dolan terus ke rumah teman. Terus saya mau sepeda-sepedaan sampai lapar. Terus baru pulang, makan, terus tidur sampai pagi.”

“Terus, nggak belajar?”

“Enggak!”

Wah, gawat ini! SD Indonesia Hebat ternyata sudah mengajari untuk mengancam alias mêdèni segala. Komplit sudah. Komersialisasi, diplomasi dan mêdèni. Tri tunggal unsur untuk menjadi negerawan ulung.

“Coba, kamu cerita sama Pak Ageng. Tivi parabola itu ada gambar apa saja?”

“Oh, macam-macam, Pak Ageng. Pokoknya bagus semua.”

“Misalnya?”

“Musik bulé-bulé, ayu-ayu, gagah-gagah. Sing itêm juga ada. Lagunya bagus, musiknya juga bagus, filemnya juga bagus. Jreng, jreng, jreng, jreng. Yes, yes, yes, yes. No, no, no, no …”

“Es, es, es. No, no, no, noo …”

Kedua bedhes itu lantas menggerak-gerakkan tubuhnya, meng-égal-égol-kan pantat mereka sembari masuk mencari bapak dan ibu mereka. Saya lantas ngunandikå, rasanya baru beberapa hari yang lalu saya menyaksikan Beni Prakosa masih ingusan dan ngompol, ngomongnya cléwa-cléwo. Eh, sekarang sudah kelas dua. Di SD Indonesia Hebat lagi! Dan sudah mulai pintar melancarkan intrik-intrik, meskipun sesungguhnya itu adalah bakat naluriah dari semua anak di seantero dunia. Dan bolehnya anak itu menyerap kesenian global itu. Jreng, jreng, jreng, yes, yes, yes, no, no, no.

Mungkin betul juga kata Marshall McLuhan tempo hari. Dunia semangkin mengglobal oleh media elektronik dan menyatukan keluarga menjadi puak-puak kembali sesudah dipisahkan oleh buku-buku dan media cetak.

Lha, kalau Beni Prakosa yang mengancam mau dolan terus, makan, tidur dan tidak mau belajar lagi tadi? Gejala apakah ini? Justru gejala mau lepas dari puak. Tetapi, bukankah alasan mau lepas dari keanggotaan puak itu karena di rumah tidak ada parabola? Media yang membawanya ke desa dunia alias global village itu? Saya pun mulai bingung untuk mempertimbangkan ikut menjadi anggota klub parabola di kawasan tempat tinggal saya. Agar sang Beni dan sang Tholo-Tholo tetap menjadi anggota puak kami, puak Ageng dan Mr. Rigen & family.

Baru saja saya teriak memanggil Mr. Rigen untuk saya ajak musyawarah perkara parabola itu, terdengar hingar-bingar di belakang. Suara Mrs. Nansiyem terdengar cêmprèng marah-marah.

“Bocah tidak tahu diuntung! Dikasih sarapan nasi kemarin tidak mau. Dikasih lawuh tempe sama sayur lodèh kemarin juga tidak mau. Memang kamu anak pangeran, ya. Iya …!”

Dan belum lagi saya mau teriak menanyakan what’s going on, tiba-tiba bedhes Beni Prakosa diikuti Tholo-Tholo, bagaikan Togog diiringi mBilung, berbaris masuk sambil menyanyi. Elho! Bukan nyanyi sembarang nyanyi. Itu lagu rap yang dia nyanyikan. Wah, MC Hammer sudah mengejawantah di dunia Bulaksumur. Cuma liriknya itu, lho. Itu lagu yang sering saya nyanyikan waktu masih kecil. Diubah sana-sini dan diberi warna rap!

 Ning, nong, ning, gung, Pak Bayan,

Sêgo jagung ora doyan,

Sêgo dèk wingi ora doyan,

Ning nèk digorèng iyo doyan,

Yèn nganggo iwak saya doyan,

Ning, nong, ning, gung, Pak Ageng,

Parabola, Pak Ageng …

“Husysy … husysy … !!”

Yogyakarta, 6 Agustus 1991

*) Gambar dari bisskey-parabola.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: