OKB

okbWaktu saya pulang ke Betawi, saya sak gotrah sempat pergi menonton OKB-nya Riantiarno. OKB seperti kita semua tahu, berarti Orang Kaya Baru, istilah yang sesungguhnya sudah lama jadi istilah di Negara kita. Seingat saya, sudah sejak saya masih sekolah di tahun lima puluhan, istilah OKB itu berfungsi di masyarakat kita.

Waktu itu, seingat saya, mobil bagus belum terlalu banyak ber-sêliwêran di jalan-jalan. Di kota seperti Yogya ini misalnya, di tahun lima puluhan, adalah becak dan sepeda yang menjadi raja jalanan. Andong memang sudah kelihatan tanda-tandanya akan kena gusur oleh sepeda dan becak. Sepeda, anehnya tampil sebagai wakil kaum elite, karena yang mengayuh sepeda itu adalah pelajar dan mahasiswa. Titipan sepeda di Malioboro, di bioskop, di depan toko, di depan restoran merupakan bisnis yang sedang ramai. Juga di Pagelaran, bagian depan dari keraton yang pada waktu itu berfungsi sebagai kampus Gajah Mada. Titipan sepeda itu merupakan bagian vital dari dunia akademis waktu itu.

Pada waktu itu mulai muncul satu dua sepeda motor atau sepeda kumbang yang dinaiki mahasiswa. Orang mulai bergunjing tentang hadirnya OKB di dunia kampus yang bersepeda. Mahasiswa yang membeli sepeda motor atau sepeda kumbang kami beri predikat sebagai seorang OKB dan mulai kami curigai, minimal kami pertanyakan dalam pergunjingan, cara dia mendapatkan rejeki bisa membeli kendaraan yang begitu mewah. Dan di luar dunia kampus, pada waktu pelan-pelan sêmangkin banyak juga mobil roda empat mondar-mandir di Malioboro, masyarakat juga semangkin banyak yang bicara tentang OKB.

Orang Kaya Baru waktu itu masih menjadi milik dunia swasta, bukan atau belum menjadi milik elite birokrasi. Tentu mobil dinas para pejabat dan satu dua professor ada juga, tetapi mobil merk Chevrolet, Buick, Plymouth atau mobil Eropa seperti Fiat, Moris dan Peugeot adalah mainannya orang-orang swasta. Dan swastanya pun swasta yang kita gunjingkan adalah swasta “tiban”, pengusaha-pengusaha alias orang-orang dagang baru yang sebelumnya belum pernah ketahuan såråsilah-nya sebagai seorang pedagang. Pedagang yang benar-benar pedagang, yang memulai kariernya dengan berjualan ini dan itu, yang kemudian kalau mujur bisa menjadi kaya. Tidak!

Pedagang baru yang dimaksud di sini adalah samênbudêling, persatuan, perserikatan dari campur baurnya bermacam-macam orang. Pemuka partai, jebolan sarjana yang kuliahnya betul-betul jebol, bekas pejuang apa pun artinya ‘bekas’ di situ dan entah bekas-bekas apa lagi. Mereka itu adalah samênbudêling dari orang-orang yang entah bagaimana, pada suatu ketika mendapat rejeki nomplok menjadi kaya tiba-tiba.

Salah satu pergunjingan yang populer di tengah mesyarakat dalam ngrasani rejeki nomplok itu adalah perdagangan lisensi untuk impor atau ekspor ini dan itu. Mereka dibayangkan sebagai orang-orang yang berpakaian perlente dengan hanya nyangking tas atau kadang-kadang malah hanya map, keluar masuk ruang-ruang di kantor kementerian perdagangan. Kalau jaman saya masih kecil dulu, jika ada orang ketahuan tiba-tiba menjadi kaya, orang akan bergunjing bahwa tuan anu itu memelihara tuyul. Pada permulaan tahun lima puluhan itu, tuyul itu sudah malih menjadi perdagangan lisensi.

Dan penampilan para OKB itu memang sangatlah mencoloknya. Baju yang mereka pakai anak-beranak itu sangatlah mewahnya untuk ukuran waktu itu. Wol cap kambing, made in England, untuk celana-celana sang bapak dan hèm putih Arrow. Buat sang ibu, bahan-bahan chiffon dan brokat untuk kebaya mereka. Karena di Yogya hanya ada satu Malioboro (waktu itu jalan Solo masih jalan Balapan yang sepi), maka ya hanya di jalan itulah tempat mèjèng para OKB itu.

Bila keluarga OKB itu capek hilir mudik di Malioboro, tempat mereka makan dan minum adalah Restoran Oen dan Restoran Malang, restoran-restoran yang langsung menghadap ke jalan raya. Kami, para mahasiswa yang hidup dari uang ikatan dinas Rp 250,- sebulan, yang harus me-ngonthèl sepeda cicilan, yang terlempar dari tentamen satu ke tentamen lain (waktu itu istilah ‘ujian’ tidak dipakai karena ‘tentamen’ lebih ngintêlèk), hanya bisa nraktir pacar-pacar kami di kelas II bioskop Seni Sono atau Indra dan es krim Tip Top, memandang keluarga para OKB itu dengan cemburu dan penuh rasa dendam kelas.

Dalam hati kami bersumpah, bila suatu ketika kita bisa selamat lulus jadi sarjana dan bisa mengobrak-abrik Jakarta seperti mereka, kami akan mampu juga jadi OKB yang tidak kalah jayanya dari OKB-OKB cèkèrèmès seperti yang sedang mèjèng di Malioboro dan Restoran Oen itu. Dan, masa dan jaman pun berlalu. Kebanyakan dari kami memang selamat bisa lulus juga. Tetapi, target untuk mengobrak-abrik Jakarta dan berjaya jadi OKB-OKB yang pêthènthèngan ke sana ke mari, kok ya tidak tercapai juga. Dengan segala kemewahan kecil yang akhirnya bisa kami capai juga, kalau di-koers dengan romantika ikatan dinas yang Rp 250,- setiap bulan itu, kok hitung punya hitung tidak terlalu besar kaot-nya …

Begitulah, waktu saya sak gotrah duduk ketawa cêkakakan menyaksikan OKB-nya Teater Koma yang diadaptasi dari karya Moliere, sekilas-kilas saya teringat OKB-OKB jaman mahasiswa saya. Ternyata sindrom OKB jaman Moliere sekian abad yang lalu hingga OKB jaman sekarang, kok ya sama saja. Yaitu, inginnya manusia yang jadi kaya itu hidup tidak hanya dari kekayaannya itu, tetapi juga menikmati kekayaannya dengan gaya hidup dua kelas di atas mereka. Mèjèng kekayaan dengan segala aksesorisnya yang pating krêmbyah itu! Di rumah sepulang dari nonton dan singgah makan malam di Hotel Aryaduta, malam meskipun sudah semangkin larut, saya dan Bu Ageng masih tertawa cêkikikan mengenang lakon sang OKB itu. Si Gendut curiga mendengar ketawa kami yang bagi telinga tajamnya itu sangat kontekstual kedengarannya.

“Kok sodara Bokap dan Nyokap bolehnya ketawa begitu overacting buat teater yang hanya segitu saja?”

Elho, Ndhut. Kamu itu nggak ngerti sih makna OKB buat Bokap dan Nyokapmu. OKB itu buat generasi kami ada makna historis-nya sendiri.”

“Maksudnya? Ilustrasi historis itu apa, coba?”

Wéé, lha ini. Generasi muda mulai menuntut ilustrasi dari kesejarahan milik dunia kami. Bukankah mereka minta terlalu banyak itu? Bukankah kami orang-orang tua menikmati dunia prive masa lampau kami? Mosok semua mesti dibagi sama generasi muda. Tak u-uk, ya!

“Ayo dong, Bé! Cerita! Hari, eh malam sudah sangat la rose!

Yah, wong namanya anak. Mosok tidak kita ajak berbagi dengan masa lampau kita. Dan saya pun, di malam yang menurut Gendut sudah sangat la rose itu, bercerita tentang dendam kelas generasi bapak dan ibunya. Gendut, si Mbak, sembari meneteki adiknya Kenyung dan merangkul Kenyung yang lagi nglilir malam itu, dan tentu juga Mister Kebumen, sang menantu, mendengarkan dengan penuh perhatian. Waktu saya selesai mendongeng, saya berharap mendapat anggukan kepala-kepala yang penuh ketakjuban, setidaknya penuh apresiasi. Eh, malah si Gendut dengan tertawa sarkatis memuntahkan komentarnya.

Bokap, Bokap. Cerita Bokap tentang dendam kelas generasi kalian itu mengharukan sekaligus lucu.”

“Maksudmu? Ilustrasinya?”

Lha, ya itu. Bokap bilang dendam kelas yang kagak kesampaian. Kayaknya kita ini hidup dalam kesengsaraan proletar. Kok waktu kita sambat lapar sehabis nonton, Bokap dan Nyokap malah ngajak kita makan di Aryaduta. Kurang mèjèng gaya OKB apa itu, Be?

Touche! Kena lagi, lu! Saya tidak menjawab tusukan pedang si Gendut. Saya hanya menjawab tusukan itu dengan angop yang keras. Hoo-a-hêêêmmm. Ternyata saya, sama seperti anggota generasi tua yang mapan bin establish di bagian dunia mana pun, bisanya ya hanya menjawab tusukan pedang generasi muda dengan angop keras-keras. Hoo-aa-hêêmmmm, hoo-aa-hêêmmmm, hoo-aa-hêêêmmmm ….

Yogyakarta, 30 Juli 1991

*) gambar dari seasiaposters

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: