Dan Kongres Bahasa Jawa pun Telah Usai

kaligrafi-jawaGara-gara dampak yang dahsyat dari Kongres Bahasa Jawa, sepulang dari Semarang saya menjadi Jawa kembali. Cara berjalan saya menjadi Jawa, sedikit merunduk-runduk dan kepala bergerak lentur maju mundur seperti burung bangau berjalan. Sebentar-sebentar tersenyum meringis sembari mengeluarkan suara pelan mengulum, héh-héh-héh-héh, seperti orang Jawa ketika mereka bereaksi terhadap apa dan siapa saja, baik negatif maupun positif.

Dan pada waktu berdiri mendengarkan pembicaraan orang sembari tersenyum itu, otomatis saya menelangkupkan kedua belah tangan saya, ngapurancang. Tata karma, unggah-ungguh, aturan main kesopanan dan aturan main protokoler, inti dari budaya halus Jawa, kembali masuk meresap menjalari otot-otot tubuh saya. Begitu pula dengan undhå-usuk, tata bahasa Jawa yang rumit itu kembali menuntun dan mengilhami cara bicara saya. Pendeknya, sepulang dari Semarang itu, saya menjadi halus dan beradab kembali.

Maka, dengan sedih dan berang saya melihat dunia Jawa di sekitar saya. Di rumah, di kantor, di fakultas, di jalan raya, saya melihat kaum barbar Jawa makin pêthakilan without exception. Di mana-mana barbar, barbar, barbar. Mereka tidak tahu lagi kapan mesti ngapurancang, kapan mesti malangkrik, berkacak pinggang. Mereka tidak tahu lagi kapan mesti tersenyum héh-héh-héh-héh, kapan mesti manthuk-manthuk saja. Mereka kacau menerapkan ngoko, kråmå, kråmå madyå dan kråmå inggil. Mereka bingung mesti bilang “kulo mangan”, kulo nêdhå” atau “kulo dhahar”. Pokoknya dunia Jawa makin bingung bin kacau.

“Mister Rigen! Den Bagus Rigen! Sêdhèrèk Rigen! Rigen! Riggeeennn!”

Dalêm! Nun inggih kulo nok noon. Wontên dhawuh, Ndoro, eh Bapak, eh sang Resi Ageng.”

Kêpriyé, he?”

“Lho, belum apa-apa kok kêpriyé?

Opo, he? Kêpriyé? Kêpriyé?! Kråmå-mu, Gen. Kråmå-mu!”

“Oh, oh, oh. Nuwun sèwu sang Resi Ageng, nuwun sèwu. Kêpripun, Pak Ageng, kêpripun. Belum-belum kok kêpripun?

Heiittt! Kêpripun, kêpripun! Di SD Pracimantoro apa tidak diajar boso kråmå halus, he?!”

Saya lihat keringat dingin mulai menetes di dahi Mr. Rigen. Dikeluarkannya handuk kecil kumêl yang seperti popok wéwé itu. Kemudian dia menoleh ke belakang. Di belakangnya duduk Mrs. Nansiyem, Beni Prakosa dan Tholo-Tholo. Saya dengar Mr. Rigen berbisik kepada istrinya.

Kêpriyé, Buné? Boso kråmå-nya kêpriyé, kêpriyé, Buné?

“Ya, kêpripun, Pakné. Kêpriyé waé, ya kêpripun, Pakné.

Heiittt! Ini juga begitu. Kêpripun, kêpripun! Apa di SD Jatisrono tidak diajar boso alus juga? Barbar! Kowé barbar kabèh! Jullie zijn allemal barbaren bij elkaar. Kalian semua barbar. Barbar!”

Tiba-tiba saya melihat Beni Prakosa berdiri diikuti adiknya, Tholo-Tholo.

“Bubar, bubar! Menurut Pak Ageng semua sudah bubar. Ke depan, yuk. Nunggu bakso lewat!”

“Bal! Bal! Bubal. Yuk, bakso, yuk.”

Kemudian saya putuskan bahwa sejak itu di rumah tangga yang beradab ini mesti digunakan bahasa Jawa dengan undhå-usuk yang benar dan tepat. Juga mesti ada unggah-ungguh protokol yang canggih.

Begitulah. Mr. Rigen yang selama ini saya biarkan tumbuh menjadi direktur jenderal satu kitchen cabinet yang modern dan egaliter, pelan-pelan berganti irama menjadi seorang pêngagêng tépas dapur umum keraton. Jalannya sêmangkin merunduk-runduk sopan. Bila melapor tangannya selalu ngapurancang. Bila menerangkan sesuatu, tangannya tidak lagi srawéyan, menggapai-gapai seperti dulu, melainkan lebih berirama tenang dengan jempol tangannya selalu diajukan ke depan. Rasa kråmå-nya nyaris lengkap bahkan sering memakai bahasa dalang wayang kulit. Misalnya, dia tidak lagi mengatakan “Bila saya pandang dari kejauhan”, melainkan “Yèn sun sawang saking mandråwå”.

Maka, ketika waktu sore itu Prof. Dr. Lemahamba, M.Sc, M.A, M.Ed, etc, etc datang, beliau disambut oleh Den Mas Ngabèhi Mister Rigen, pêngagêng tèpas dapur umum rumah saya, dengan sikap, bahasa dan unggah-ungguh yang sangat meyakinkan.

Wéh, kok Bapak Propésor rawuh dumarojog tanpå larapan membuat kagyatnyå yang pada duduk sinébå siniwåkå sini, kulo nuwun nok noon.”

“Kamu itu ngomong apa to, Gen? Pakai tanya sarapan segala.”

Woo, lha klèntu. Tanpå larapan itu bukan sarapan. Meskipun yèn sun sawang saking mandråwå mukå panjênêngan dalêm kelihatan kadyå macan luwé. Teh punåpå kopi, Prop?”

Dari balik pintu saya dengar Prof. Lemahamba berteriak.

“Geeeng, Ageng! What’s going on here. Somebody is going nuts, here!

Saya gurawalan lari keluar.

“Ada apa to, Prof?”

“Ini punakawanmu, lagi kumat main ketoprakan atau apa ini?”

Saya jadi malu bercampur tersinggung. Malu karena tamu saya merasa dipermalukan pembantu saya. Tersinggung karena bahasa Jawa literer yang saya ajarkan kepada staf saya dianggap bahasa ketoprakan.

Nyuwun gênging pangaksamå, Prof. Ampun beribu ampun, Prof. Kami di rumah tangga ini sedang mencoba kembali masuk ke peradaban dunia Jawa, Prof.”

“Ha … ha … ha … Geeng, Geng! Pantês kamu itu pancêt mandhêg di situ saja. Katanya kau tahu arti involusi. Involusi itu ya seperti kamu itu! Mandhêg, gerak tapi gerak di tempat terus. Nggak maju-maju. Ha … ha … ha … !”

Saya jadi tersinggung betul mendengar itu. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya usir professor cemerlang yang saya kagumi itu dari rumah saya. Tentu saja dengan cara Jawa. Dengan sopan, dengan unggah-ungguh sebagaimana mestinya, dengan bahasa Jawa yang literer dan lengkap dengan undhå-usuk-nya. Maka beliau tidak merasa saya usir dan saya kasari. Saya merasa puas dapat mengusir dan menghina beliau dengan kata-kata halus yang tidak dimengerti. Beliau pun pergi dan saya pun pergi ke kantor, karena ada rapat sore itu.

Di jalan saya teringat kata-kata Prof. Lemahamba, yang mengatakan bahwa saya kena involusi kebudayaan. Macet, mandhêg, bergerak tapi bergerak di tempat saja. Eh, apa iya, to?

Di kantor, rapat sore itu diinterupsi oleh telepon dari Jakarta. Dari ajudan seorang tokoh eselon satu di departemen yang maha penting di Jakarta.

Nuwun sèwu, Pak Ageng, mengganggu U di tengah rapat. Ada pesan dari Bapak. Pak Ageng ditimbali menghadap Bapak besok tengah hari. Penting! Pak Ageng juga didhawuhi ngasto oleh-oleh gêplak Bantul yang jambon dan ijo, barang satu kilo, bakpya Patuk seratus biji dan pèyèk bayêm Muntilan kira-kira seratus biji. Menurut Bapak itu pesanan Ibu. Ibu sudah kangên nyamikan Yukjå untuk di-dhahar sore-sore. Tapi kalau itu tidak merepotkan U, lho. Betul, lho, Pak Ageng, kalau tidak merepotkan. Kalau merepotkan yaaa …..”

Saya letakkan gagang telepon. Saya bayangkan seratus juta orang Jawa. Menteri-menterinya, jenderal-jenderalnya, profesor-profesornya, pemain ketopraknya, pemain ludruknya ……

Yogyakarta, 25 Juli 1991

*) gambar dari koleksi pribadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: