Daftar Orang Kaya di Kompleks Kami

cover-forbes-april-2011-artikel-majalah-comGara-gara koran Kedaulatan Rakyat ikut memberitakan cerita majalah Forbes tentang daftar orang kaya sedunia, dan menempatkan Om Liem Sioe Liong menduduki peringkat ke-64, sedikit di bawah gembong kokain Pablo Escobar, P(ersatuan) J(ongos) J(ongos) di kompleks perumahan saya juga mengumumkan daftar ranking para majikan mereka.

Daftar itu rupanya dibuat menurut model urutan yang dibuat oleh majalah Forbes. Yaitu, dengan menempatkan orang terkaya yang mendapatkan kekayaan dari jual beli tanah dan membangun kompleks perumahan, seperti Tuan Taikichiro Mori dan Tuan Yoshiaki Tsutsumi yang mendapatkan kekayaannya dari menjadi kontraktor pembuatan jalan kereta api dan lapangan golf.

Dengan mengikuti model urutan seperti itu jadi lebih mudah ditebak siapa kiranya yang mereka tempatkan di ranking teratas. Yaitu, siapa lagi kalau bukan Prof. Dr. Lemahamba M.A, M.Sc, M.Ed, etc,etc. Beliau, meskipun juga mendapatkan kekayaan dari hasil konsultasi dengan berbagai perusahaan dan mendapat nafkah dari pemerintah RI sebagai professor sebuah universitas negeri, pendapatan dari jual beli tanah yang didapatnya sembari mengadakan penelitian ilmiah itulah yang dihitung orang sebagai pemasukan terbesarnya.

Sebagai orang kaya ranking kedua di kawasan kami tentulah Dr. Wismangrebda, yang meskipun kekayaannya tidak beliau dapatkan dari menjadi kontraktor pembuatan jalan-jalan kereta api, tetapi dari menjadi kontraktor perumahan-perumahan sak Jawa Tengah.

Dan yang ketiga adalah Dr. Ir. Raden Mas Kayakukilo, yang selain mendapatkan kekayaan dari menjadi konsultan berbagai perusahaan yang takut diancam LSM yang bergerak di bidang lingkungan, terutama mengumpulkan hartanya dari berdagang burung-burung langka yang dilindungi, seperti : burung Menco Nias, Cucak Rawa Sumatra dan burung Pok-Sai yang bisa menirukan segala bunyi binatang-binatang.

Daftar itu agaknya hanya untuk keperluan partai itu sendiri. Itu terbukti dari nomor seri yang dipasang di sudut-sudut daftar itu, lay-out daftar tersebut yang pating pléthot dan huruf-huruf ketikan yang diselimuti kabut saking tidak jelasnya huruf-huruf itu. Daftar itu jadi tampil lebih seperti selebaran gelap yang misterius ketimbang daftar yang bonafide dari satu partai buruh bonafide yang bernama P(ersatuan) J(ongos) J(ongos).

Karuan saja seluruh kompleks perumahan jadi geger bin horêg. Macam-macam tafsiran pun berloncatan dan berkeliaran. Buat apa para bêdindê itu membikin daftar kekayaan bêndoro-bêndoro-nya, lho! Kayak kurang kerjaan saja! Dan yang didaftar kok ya pegawai-pegawai negeri, Korpri, yang kesetiaan dan loyalitasnya kepada Republik ini sudah tidak bisa ditawar dan diragukan lagi. Mbok kalau bikin daftar kekayaan itu pedagang-pedagang sak Yukja begitu. Karuan! Mereka ‘kan pedagang yang targetnya memang cari uang dan jadi kaya. Tapi, kalau kita-kita ini rak bukan itu targetnya. Begitulah gerutu para bêndoro itu.

Prof. Dr. Lemahamba, seperti biasa, konsultasi dulu dengan saya.

“Geng, how about that! Imagine that!

“Lho, punåpå to, Prof?”

Ayaakk, don’t pretend not knowing apa-apa you! Ini batur-batur mulai berbahaya. Mulai mendaftari kita! Pasti ada PKI malam menyelundup di PJJ itu!”

“Tunggu dulu, Prof. Mbok jangan kêsusu. Don’t go to the milk, Prof!”

“Lho, ini … ini sudah krisis politik menjelang pemilu. Kekayaan kita didaftari wong cilik!

“Lho, panjênêngan ditaruh di nomor satu itu. Apa panjênêngan tidak bangga?”

Prof. Dr. Lemahamba tersenyum lebar sembari geleng-geleng kepala.

“Tahunya, lho, mereka itu! Gèk yang memberi tahu kekayaan kita itu siapa? Tapi, itu beside the point, Geng. Yang penting mereka mulai mendaftari! Dalam hati mereka pasti menyanyikan lagu PKI, … darah rakyat masih berjalan! Bahaya, bahaya, Geng! Kau jangan enak-enak, meskipun rankingmu di bawah sekali.”

Mosok to, Prof? Saya juga masuk daftar? Rasanya kok tidak.”

Saya lihat daftar yang ada di tangan saya. Cetakannya memang berkabut tebal sekali sehingga ranking bawah-bawah tidak terlihat. Saya lalu pinjam daftar punya Prof. Lemahamba. Waktu saya lihat kepunyaan beliau yang lebih jelas itu, saya jadi sêmrêpêt, kunang-kunang berkeliaran di mata saya. Di situ saya lihat nama saya tercantum dalam kategori kelas teri yang berpendapatan pas pegawai negeri dengan sedikit honorarium seminar ala kadarnya. Itu tidak apa-apa. Tapi penghinaan yang terbawa bersama ranking orang lain itu. Mosok saya ditaruh di bawah Slamet Gaplek dan Slamet Gundul. Mentang-mentang mereka mengikuti daftar model majalah Forbes yang menaruh Pablo Escobar di atas Om Liem, saya ditaruh di bawah nama maling-maling. Lagi pula Slamet Gaplek ‘kan sudah kena petrus? Sak enaknya saja memasukkan Slamet Gaplek sebagai kolega Pablo Escobar.

“Geeeeeennnn, Mister Rigennnnn!”

Doalêmm, Ngiiihh, Yesss!

“Ini daftar apa-apaan? Kowé sak konco-koncomu mau menghina majikan-majikan kalian, he?! Sudah bosan ikut kami, heh?!”

“Yaa, Bapak. Begitu saja kok dukå, lho! Pipo londo, ngono waé kok nêsu, lho!”

“Hussy, ini serius! Aku tidak peduli kalian mau main-main bikin daftar. Tapi, menaruh saya di bawah Slamet Gaplek itu penghinaan!”

Mr. Rigen nyêkikik lagi.

Tucé, tucé! Pak Ageng rak suka coro Perancis itu, to?”

“Oh, touche? Ini bukan soal touche (!), bêdhès! Ini soal martabatku sebagai Korpri!”

Saya lihat Prof. Lemahamba juga tertawa.

“Geeng, Geng. Wong kamu itu dimainin batur kok ya sewot, lho!”

“Elho, Prof. ini bagaimana? Iya panjênêngan di ranking paling atas. Lha, saya ini paling bawah, di bawah Slamet Gaplek dan Slamet Gundul lagi!”

Mr. Rigen lari ke belakang sambil bilang,

Tucé, tucé, tucé …..

Yogyakarta, 16 Juli 1991

*) gambar dari artikel-majalah. blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: