Brambang Asem, Aset Nasional

brambang-asem-kulinerdapursolo-comDalam perjalanan antara San Fransisco dan Honolulu dengan United Airlines saya terkejut waktu disodori menu lunch. Dalam menu itu ditawarkan tiga macam dressing untuk salad pendamping makanan pokok. Kami boleh pilih Italian dressing, French dressing atau Javanese dressing. Sambal Italia atau sambal Perancis, itu sudah sering saya jumpai dalam penerbangan internasional. Tapi sambal salad yang Javanese? Wah, élok. Mosok ada to, dressing alias sambal Jawa disajikan dalam pesawat Amerika? Pasti salah cetak, pikir saya. Pasti yang dimaksud adalah Japanese dressing bukan Javanese dressing.

“Are you sure, this is Javanese dressing, Miss?”

Pramugari United yang blêngah-blêngèh berambut pirang itu tersenyum.

Yes, we are, Sir. This is Javanese, all right.

Saking coriuos-nya, saya pun segera menjatuhkan pilihan pada Javanese dressing itu. Itu pasti pilihan yang tidak hanya didasari perasaan pingin tahu saja, tetapi pasti juga semacam kebanggan nasional. Apa tidak hebat lho, dalam penerbangan internasional, maskapai penerbangan Amerika lagi, disajikan Javanese dressing. Indonesia, Jawa, sudah masuk dalam peta bumi menu internasional, lho. Åpå ora hebat? Maka penumpang Jepang di samping saya mengatakan,

“Japaneses dressing, please!”

Langsung saya plototi dia.

“I’m sorry, Sir. Ja-va-nese, not Japanese.”

Waktu mengatakan itu, otomatis mulut saya jadi méncos.

Hidangan lantas disajikan. Dengan harap-harap cemas saya awasi pramugari menuangkan dressing itu di atas gundukan sayur-sayuran mentah itu. Air liur saya sudah kudu menetes saja. Cuma waktu saya amati dressing itu kental kecoklatan, saya jadi curiga juga. Gèk dressing atau sambal macam apa ini? Dan benar saja, waktu saya mulai menggigit ke garpu sayur yang berbunyi mak kriuk dan mak krêmês itu, waduh (!) … rasanya kok persis sambal brambang asêm yang dulu waktu masih kecil, sering saya makan di Solo.

(Adapun yang disebut dengan brambang asêm itu adalah daun ubi jalar yang direbus kemudian diosèri dengan sambal yang dibikin dari gula Jawa dengan bumbu brambang dan asêm. Meskipun itu makanan di bawah garis kemiskinan, bila dimakan pada siang hari yang gerah, rasanya segar juga. Orang Solo yang bangga sekali dengan segala apa yang dimiliki, tentu bangga juga dengan makanan di bawah garis kemiskinan itu …)

Dalam pesawat, meskipun saya shock berat dengan sambal brambang asêm yang diberi label Javanese dressing, toh bangga juga salah satu repertoire Javanese cuisine sudah masuk kawasan internasional. Kawasan udara lagi. Barangkali bagi United Airlines tidak terlalu penting apakah dressing itu dari sononya makanan di bawah garis kemiskinan atau bukan. Barangkali pertimbangan utamanya kata “Java” itulah. Mungkin asosiasi orang bule setiap mendengar kata “Java” itu adalah Jawa yang pakai kain, pakai blangkon tapi tidak pakai baju alias meng-gligo. Perempuan Jawa yang behidung pèsèk, berbibir tebal tetapi aduhai seksinya. Itulah yang mungkin dianggap sebagai eksotisme Jawa.

Saya lantas ingat akan Garuda Indonesia kita tercinta. Apakah Garuda kita pernah mempertimbangkan menjual eksotisme Indonesia lewat makanan kita? Saya tahu dalam repertoire yang pas-pasan antara Yogya dan Jakarta, penumpang Garuda disuguhi lemper yang dibungkus dengan daun pisang. Orang-orang asing yang naik Garuda sering curiga daun pisang tersebut steril atau tidak (makanya Japan Airlines dalam menyajikan lemper Jepang, mereka sajikan dengan daun plastik)? Tetapi, sepanjang pengetahuan saya dalam penerbangan internasional, Garuda belum pernah menyajikan repertoire yang khas Indonesia itu. Brambang asêm atau bukan, barangkali eksotisme itu tetap perlu dijual. Bukankah itu bagian yang penting juga dari kampanye Visit Indonesia Year 1991?

Waktu kembali di Yogya, pada ritual pagi saya yang pertama, yaitu tawar-menawar menu dengan Mr. Rigen, langsung saya tanyakan tentang Javanese dressing itu.

“Gen, coba saya jajal kesaktianmu.”

“Kesaktian apa to, Pak? Pagi-pagi begini kok kesaktian mau dites? Apa kesaktian saya sudah bangun to, Pak?”

Rupamu! Kesaktian mana yang butuh tidur? Coba untuk siang ini kau masak brambang asêm!

Brambang asêm? Gèk masakan apa itu, Pak?”

Elho, … kamu itu orang Pracimantoro, Solo, belum tahu yang disebut brambang asêm?

“Belum itu, Pak. Solo itu Solo mana dan jaman apa, Pak, brambang asêm itu dikenal?”

Elho, … jaman saya masih nyèkèr, tidak pakai sepatu. Jajan saya antara lain ya itu, Mister!”

Mister Rigen tertawa yang otomatis diikuti oleh kedua pengikut yang kesetiaannya tanpa reserve, bernama Beni Prakosa dan Tholo-Tholo itu.

Hoa-haak, Bapak.”

Hoa-haak, Bapak.”

“Hussy! … Ora bêdhès gêdhé, ora bêdhès cilik! Shut up you all!”

Lho, ampun coro Inggris to, Pak. Kita bangsa Jawa mbotên ngêrtos.

“Artinya, diam kalian semua! Kenapa kalian tertawa, he?!”

Ha, ênggih to, Pak. Jaman Bapak masih nyèkèr itu apês-nya rak ya sudah lima puluh tahun sak dèrèngipun Gusti Yesus to, Pak? Makanan mana yang akan bisa bertahan?”

“Wah, ciloko tênan kowé! Pokoké aku mau brambang asêm. Titik!”

Ha, ênggih, titik nggih titik, ning bumbu dan yang dimasak itu apa?”

Dan bagaikan seorang chef restoran hotel berbintang tujuh, saya jelaskan semua kepada Mr. Rigen, chef terkenal sesudah saya.

Pada waktu makan siang dihidangkan, penampilan brambang asêm itu sudah tidak memenuhi syarat. Dedaunan ubi jalar itu nyonyot bin ngilêr, sehingga perimbangan brambang dan asêm serta gulanya tidak mencapai tingkat equilibrium yang seharusnya. Saya kecewa sekali.

Saya lantas ingat United Airlines yang sudah dengan beraninya memperkenalkan sambal brambang asêm jadi cuisine internasional. Wéh, élok tênan research dan intel menu makanan mereka. Apakah ini juga termasuk intelligence internasional yang tugasnya membajak berbagai rumus, formula iptek internasional? Kalau betul begitu, gawat, dong! Saya lantas curiga, pasti mereka menyuap satu atau dua orang Indonesia untuk mendapatkan resep brambang asêm itu. Wéé …, lha, sudah kecolongan aset nasional lagi kita. Maka saya akan usul begini. Satu, kudu ditingkatkan kewaspadaan nasional menjaga kelestarian brambang asêm. Dua, Garuda Indonesia harus melindungi brambang asêm dari pembajakan internasional. Pak Soeparno yang menjadi ketua IATA wajib kita beri tugas khusus. Tiga, Bakin dan Bais harus mem-back up ini dengan kode BRAS-007, artinya Brambang Asêm with license to kill …..

Yogyakarta, 2 Juli 1991

*) gambar dari kulinerdapursolo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: