Kaos Oblong Berkeley

tshirt berkeleyKali ini, pulang dari San Francisco, Mr. Rigen saya bawakan oleh-oleh satu helai t-shirt atau oblong-shirt dengan tulisan University of California, Berkeley. Saya tidak tahu kenapa justru kaos itu yang saya pilihkan buat dia. Padahal banyak t-shirt dengan gambar San Francisco yang lucu-lucu, yang mungkin akan lebih disenangi ketimbang kaos yang hanya bertuliskan ‘Berkeley’ yang menyolok itu. Bawah sadar manusia memang sering tan kênå kinirå, tidak dapat diduga.

Tentang memilih kaos itu, misalnya. Rencana apa yang bergerak di bawah sadar saya untuk akhirnya memutuskan pilihan atas kaos itu. Apakah karena waktu saya jalan-jalan di Telegraph Avenue di Berkeley itu, tiba-tiba saya ingat akan Mafia Berkeley, para doktor ekonomi keluaran sekolah itu yang sekarang pada jadi menteri di negara kita. Tapi, apa hubungannya ingatan akan Mafia Berkeley dengan pilihan kaos buat Mr. Rigen itu? Yang meskipun seorang tokoh dunia, dirjen kitchen cabinet saya yang serba mumpuni dengan segala ngélmu, hanya jebolan SD Pracimantoro saja? Mungkinkah justru karena sebab daripada itu, yaitu kejeniusan Mr. Rigen tidak jauh jeniusnya dengan para anggota Mafia Berkeley, saya pilih kaos itu buat dia?

Begitulah, kaos itu langsung saya berikan kepada Mr. Rigen, begitu saya bongkar kopor saya. Kaos itu dibawanya ke belakang untuk kemudian langsung dipakainya dan diperagakan kepada saya. Bagaikan seorang peragawan professional, Mr. Rigen memutar-mutar badannya di depan saya. Harus saya akui penampilannya cukup mengesankan dan meyakinkan. Bahkan menurut pandangan saya, dengan kaos itu Mr. Rigen tidak ubahnya seperti seorang  graduate student Berkeley. Begitu meyakinkan ekspresi keintelektualannya. Saya percaya kalau waktu itu dia berjalan sepanjang Telegraph Avenue yang langsung menuju kampus Berkeley, pasti orang akan menganggapnya sebagai salah seorang warga Berkeley.

Tiba-tiba ……

“Sore! Sore! Hello, good people …!

Wah, Prof. Dr. Lemahamba, Ph.D, M.Sc, M.Ed, etc, etc … begitu saja datang dan langsung memasuki ruang duduk saya. Sudah agak lama juga kami tidak bertemu.

Monggo, Prof, monggo.”

Just want to drop in, Geng. I just want to check kondisi gulamu. Kabarnya you sudah berani kluyuran lagi ke State, ya? Nekat!”

“Ah, cuma tugas sebentar kok, Prof.”

“Iya, tapi perjalanannya yang begitu jauh itu, lho. Reckless kamu!”

Mr. Rigen masuk membawakan teh dan nyamikan tradisional rumah saya. Nyamikan sederhana rumah tangga di bawah garis kemiskinan, yaitu tempe gêmbus, tahu susur èn balok alias singkong goreng.

Tiba-tiba saya melihat mata Prof. Lemahamba melotot mengawasi Mr. Rigen tetapi tangan kanannya sambil menyambar satu biji tahu susur. Srêêt! Terus, plung, tahu itu masuk ke mulut beliau.

Oh, m-my G-G-Godd …!

Mulut beliau masih terus me-nyamuk-nyamuk, mengunyah tahu susur itu. Waktu akhirnya habis tahu itu, beliau meneruskan lagi, berteriak.

My God! Mr. Rigen sini, sini! Coba lihat kaosmu!”

Mr. Rigen meringis, maju memamerkan kaosnya.

Edyaaan! Kamu kok berani-beraninya pakai kaos Berkeley, apa kamu sudah diterima masuk anggota Mafia Berkeley, hèh?!

Mr. Rigen cuma bisa meringis èn meringis.

Lho, saya ini rak sak dêrmå menerima saja to, Pak Propesor. Wong diparingi oleh-oleh sama bos nggih dipakai to, Pak Propesor. Jadi wong cilik itu susah. Maju kena mundur kena, kata Warkop. Kalau kaos ini tidak saya pakai nanti gèk dikira tidak menghargai. Pripun? Lha, kaos ini saya pakai seperti sekarang ini dikira mbagusi, jual tampang. Pripun lagi?

Kami berdua tertawa mengagumi kecekatan Mr. Rigen memberi respons kepada Prof. Lemahamba. Kemudian dia masuk ke kamarnya di belakang.

“Kamu itu juga aneh, Geng.”

“Aneh bagaimana to, Prof?”

“Kasih oleh-oleh saja kok ya kaos Berkeley.”

Lho, memangnya kenapa to, Prof?”

Lho, kok kenapa?! Berkeley itu bukan sembarang university, to? Masuk ranking tinggi di sepuluh universitas terbaik di Amerika Serikat.”

Lajêng, lantas?”

Lho, kok lajêng, lantas?! Kamu itu yang keterlaluan, meremehkan universitas yang terkenal sak dunia dengan membiarkan batur-mu memakai t-shirt itu. You and I ‘kan sekolah di universitas-universitas yang terbaik di negeri sono, to? Mbok kamu itu agak sensitif sedikit, to! Nanti kalau Pak Widjojo dan Pak Ali Wardhana tersinggung berat dan keberatan karena kaos almamater beliau-beliau dipakai Mr. Rigen, êmbuh lho, Geng. OK-lah, I have to run …

Setelah Prof. Lemahamba pergi, saya duduk dhêlêg-dhêlêg, termangu-mangu. Wèh, apa iya to, para priyagung Mafia Berkeley itu akan tersinggung kalau melihat Mr. Rigen memakai kaos oblong Berkeley? Apakah di tengah-tengah kesibukan beliau-beliau menyusun strategi untuk menyusun angka-angka yang akan diajukan ke IGGI di Amsterdam, mengatur bahasa silat lidah dengan Mr. Pronk dan para partner mereka, para jamhur dari Berkeley itu masih kobêr tersinggung karena perkara kaos oblong bekas sekolah mereka dipakai oleh seorang jebolan SD Pracimantoro? Ayak, kok ya kebangetan! Tetapi, kemudian saya membayangkan kemungkinan seandainya para jamhur Mafia Berkeley itu serius dengan kaos oblong Berkeley itu.

Saya membayangkan prosesnya itu sebagai berikut. Mula-mula Prof. Lemahamba akan menyebarkan isyu bahwa kaos oblong Berkeley itu sudah dipakai oleh seorang batur di kawasan Gadjah Mada. Para anggota Mafia Berkeley cabang Yogya akan segera mengadakan rapat kilat membahas kabar tersebut. Kemudian mereka dengan bulat sepakat mengangkat itu sebagai isyu nasional. Mereka pun melaporkan fenomena itu ke mafia Berkeley di Jakarta. Pengurus Mafia Berkeley di Jakarta pun terkejut menerima laporan dari cabang Yogya itu. Suatu rapat pleno lengkap dari seluruh pengurus Mafia Berkeley pun diadakan. Rapat itu juga mengundang, sebagai pendengar, para utusan mafia-mafia lain. Mafia Rotterdam, Mafia Wisconsin, Mafia Pittsburg,  Mafia UI dan sudah tentu Mafia Gadjah Mada. Undangan kepada mafia-mafia itu dengan sendirinya dianggap penting karena dalam pekerjaan sehari-hari dalam mengatur strategi pembangunan ekonomi republik terbesar di Asia Tenggara ini, mafia-mafia tersebut adalah affiliate members yang penting juga dari Mafia Berkeley. Maka undangan kilat DHL pun segera diedarkan. Acara tunggal dicetak dengan sangat jelas di undangan itu, yaitu : kaos oblong Berkeley yang sudah disalah pakaikan oleh warga sembarangan dari Pracimantoro. Karena lengkapnya rapat tersebut sudah mirip rapat kabinet bidang Ekuin tanpa Presiden dan Wakil Presiden. Di samping Presiden bukan alumni Berkeley atau mana saja, Presiden pun sedang menjalankan ibadah haji. Rapat pun berjalan dengan sangat serius, hangat dan sengit.

Akhirnya diambil keputusan sebagai berikut. Kaos oblong Berkeley hanya boleh dipakai oleh mereka yang pernah kuliah di Berkeley dan lulus minimal pada tingkat B.A. Itu pun harus dengan ijin khusus berupa surat tanda sah memakai kaos oblong Berkeley. Dan karena mafia-mafia yang lain itu adalah affiliate members, maka mereka pun segera menyesuaikan diri dengan membuat peraturan yang sama.

Saya terbangun dari tidur. Rupanya sepeninggal Prof. Lemahamba saya tertidur. Masya Allah! Bayangkan kalau isyu kaos oblong itu bukan terjadi dalam mimpi! Alangkah cilåkå-nya nasib wong cilik di republik ini. Saya lantas teringat, bertahun lalu saya pernah melihat seorang penarik becak tua dengan loyo menggenjot becaknya, memakai kaos oblong bertuliskan : sex generation ……

Yogyakarta, 25 Juni 1991

*) gambar dari etsy.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: