Menegakkan Disiplin Sendiri

Sesudah jelas status penyakit saya yaitu kena diabetes alias penyakit gula, dokter menasihati agar saya melaksanakan diet ketat dan rutin jalan-jalan pagi dalam tempo yang cepat. Hati saya langsung anglês mendengarnya. Diet ketat; tanpa gula, tanpa permen, tanpa sêtrup, tanpa kue, sedikit nasi, sedikit bakmi. Ooh … Allah! Selama tinggal bakmi Masih Sepuluh, gudeg Bu Amat, es krim Tip Top, Holland Bakery dengan segala kue dan tart Black Forrest-mu. Apa boleh buat.

“Sudahlah, Pak Ageng. Ditrimo mawon. Diterima saja dengan ikhlas. Wong itu kêrsaning lan paringan Gusti Allah. Pasti Gusti Allah ada maksudnya itu.”

“Kamu sudah konsultasi sama Gusti Allah apa? Kok kayak kamu tahu saja.”

Lhoo, Bapak. Saya ingatkan, nggih! Gusti Allah itu yang Maha Kuasa. Semuanya rak beliau yang mengatur dan menciptakan. Mencipta buat sak isinya, mencipta manungså dengan segala kêkarêpan-nya. Lhaa … kalau sekedar mencipta sakit gula saja nggih barang sipil, to, buat Gusti Allah. Pun, diterima saja. Sabar, ikhlas. Sing gembira saja, Pak.”

Wééh, Mr. Rigen baru kumat lagi bakat religiositas dan filsafatnya. Tetapi, bukankah itu menunjukkan juga keprihatinannya terhadap nasib saya? Dan juga menunjukkan kesetiaan yang tanpa reserve kepada pemimpinnya? Dan nadanya juga begitu optimis. Bukankah dokter saya juga menghibur bahwa kena sakit gula bukan berarti akhir dari segalanya. Waah, tapi kalau diingat begitu banyak yang harus saya akhiri itu? Ayakk, yå rådå banyak yang harus berakhir dalam hidup saya. Tapi, buru-buru sang hati kecil mengingatkan saya bahwa dalam usia yang merambat mendekati 60 tahun ini, bukankah sudah sangat terlalu banyak yang sudah pernah saya nikmati? Kalau pada usia tua ini kuitansi mulai disodorkan untuk dibayar dengan diabetes, bukankah itu sudah lumayan?

Begitulah. Dalam tulisan sebelumnya saya melaporkan pergulatan batin saya menerima kenyataan baru ini. Pak Joyoboyo sebagai penggoda yang formidable dengan pènggèng èyèm-nya yang anggêdabêl itu telah mampu membujuk saya menuruti kemauannya untuk membeli pènggèng èyèm-nya. Meskipun akhirnya semua pènggèng èyèm itu saya sumbangkan kepada staf dirjen kitchen cabinet saya, toh saya harus mengakui bahwa saya sudah tergelincir terhadap godaan syaiton yang kali ini tampil sebagai Pak Joyoboyo.

Tetapi, mosok saya sudah tergelincir? Rasa-rasanya saya menuruti kemauan Pak Joyoboyo itu karena runtuh hati saya mendengar keluhan serta tertarik dengan aktingnya. Jadi, dus, bukan karena saya tergelincir, tergoda atau apa pun namanya itu. Lagi pula membayangkan Pak Joyoboyo yang simpatik itu sebagai jelmaan syaiton, alangkah kejamnya.

Begitulah lagi. Saya sudah berketetapan hati untuk main disiplin tinggi terhadap diri saya sendiri. Tiap pagi Mr. Rigen kudu membangunkan saya, kalau perlu dengan mendobrak dan meng-grobyak pintu kamar tidur saya. Sepatu jogging, kaos sport yang mbois, celana pendek yang tidak kalah pula sêtil-nya, harus sudah tersedia di sampiran. Begitu grobyak pintu digedor, begitu saya sêt-sêt-sêt, pakai segala aksesoris pagi itu. Setidaknya begitulah skenarionya. Tahu-tahu bangun uthuk-uthuk in the morning itu susahnya bukan main. Mana boyok yang masih pêgêl-lah, mana leher masih tèngèng, mana kaki masih pada kaku. Pokoknya bangun pagi itu tantangan yang maha berat buat saya.

“Paak, Pak! Bangun, Pak! Monggo, Pak. Diniati, Pak!”

Yoo, mêngko dhisik.”

Dan, blêg! Saya tertidur lagi. Keesokan harinya, esok harinya lagi Mr. Rigen mencoba kembali tanpa kenal capek.

“Paak, Pak! Wungu to, Pak! Sebentar lagi kesiangan, lho. Lari pagi, Pak!”

Yoo, mêngko siik.”

Dan, blêg lagi! Tertidur lagi. Tetapi, di salah satu pagi, waktu saya mau tidur lagi, saya dengar si bêdhès Beni Prakosa memberi teka-teki kepada adiknya yang masih sebesar prêcil itu.

Hayoo, Yan. Biru supåyå dadi wungu dikapakné, Yan?”

Kurang ajar, bêdhès cilik itu sudah bisa ikut ngécé bos besar rupanya.

“Nggak tahu, Mas.”

“Biru itu babi turu. Wungu itu tangi. Jadi, babi turu supåyå iso tangi, ya … digebuki! Hoa…ha…ha…!”

Heissyy, bêdhès-bêdhès! Tholo-Tholo mata mêndolo! Awas kamu, ya!”

Mereka berlarian keluar.

Wêdi, wêdi! Wêdi, Pak Ageng!”

Saya terpaksa bangun. Tetapi, dengan begitu saya jadi bangun betulan dan jadi jalan-jalan pagi. Disiplin berhasil saya tegakkan sendiri. Eh, … apakah disiplin diri sendiri itu harus dirangsang dengan ejekan dan hinaan? Awas para pemimpin! Tunggu ejekan dan hinaan dari rakyat ……

Yogyakarta, 11 Juni 1991

*) gambar dari damaisubimawanto.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: