Beni Prakosa Menggugat Cekal

anak marah (balitapedia.com)Sesudah hari-hari lampau, tentang keputusan cekal -cegah dan tangkal- untuk Beni dicabut bapak dan ibunya, Beni boleh dolan lagi ke mana dia suka. Kami serumah melihat, di luar dugaan kami semua, Beni tidak tampak terlalu antusias dengan pencabutan larangan bepergian keluar pagar itu. Dia malah tetap patuh tinggal di rumah, nonton acara TPI di tivi dan sekali-kali mengganggu adiknya, si Tholo-Tholo.

“Kamu kok di rumah saja, Dèn Bagus?

“Iya, Pak Ageng.”

“Lho, kok tidak menjawab dengan ‘siap’ yang gagah, Dèn Bagus?

“Tidak, Pak Ageng.”

Dan saya melihat muka yang acuh tak acuh dari kader jenius SD Indonesia Hebat itu. Dibalik-baliknya majalah Tempo dan Editor yang sudah kadaluwarsa dan kumêl itu, diletakkan kembali, kemudian mengais-ngais makanan adiknya di piring kecil. Adiknya menangis karena makanannya diacak-acak. Beni yang puas melihat adiknya menangis terus berlari main di halaman, tetapi tidak terus mak brabat lari keluar pagar. Ini ajaib! Anak yang baru mendapatkan kebebasan, tetapi tidak menggunakan hak bebas dengan sepuas-puasnya.

“Gen, Mr. Rigen! Anakmu itu kok nganèh-anèhi!

Nganèh-anèhi pripun?

Wong dia sudah bebas dari cekalnya kok masih ngglibêt di dalam rumah saja. Ngaco lagi!”

“Oohh … itu, to. Saya dan ibunya juga heran itu, Pak. Waktu diberi tahu dia kena cekal, protes kerasnya sampai kedengaran di Malioboro. Eehh … sekarang sesudah cekalnya dicabut, kok malah diam saja di rumah.”

“Nafsu makannya gimana, Gen?”

“Naaah … itu juga nganèh-anèhi, Pak. Biasanya dia itu hanya sama sambêl terasi yang pedas, satu cobèk habis. Malah kalau tidak ada lawuh, dia suka meng-ulêg sendiri. Eeh … sekarang makannya sedikit sekali. Bahkan jadi tidak suka sambêl.”

Kami serumah jadi judêg, hilang akal, memikirkan perubahan sikap Beni Prakosa. Akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan rapat meja bundar. Pleno, termasuk sang Tholo-Tholo. Hari H pun kami tetapkan. Tempat, seperti biasa, di ruang tengah. Di ruang seni kerajinan rakyat, ruang yang penuh dengan kerajinan gerabah dan lukisan-lukisan kaca yang menempel di tembok. Duduk di bawah mengitari meja bundar yang sesungguhnya lebih pantas untuk main cêki.

Begitulah. Sidang dimulai. Saya sebagai sesepuh rumah mengetuai sidang. Sesudah Mr. Rigen melaporkan notulen rapat meja bundar yang lampau, saya segera menyilakan pertanyaan dan pengutaraan keliling. Mula-mula Mrs. Nansiyem memakai kesempatan itu.

“Bapak Ketua, Pak Ageng, sesepuh dan pengayom kami semua. Yang selama ini tanpå kêndhat, tidak hujan tidak panas, terus menerus memayungi kami. Semoga Bapak selalu diridhoi Gusti Allah dan semua nabi yang sudah pada sumaré ing suwargo, saya pun Nansiyem, asal Njatisrono tapi kêcanthol kalih satrio Pracimantoro …”

Hallaaah, Buné! Kowé itu mau bilang apa? Mbok sing ringkês, terus ke inti permasalahan begitu, lho!”

Yo wis bèn to, Pakné! Ini rak sêtil-sêtilku sendiri, kok dilarang!”

“Sudahlah, Gen. Mbok biar istrimu pidato menurut gayanya sendiri. Wong ini rapat demokrasi, kok.”

Ha, ênggih.”

Mulut Mrs. Nansiyem kelihatan méncos melihat suaminya pringisan saya tegur. Maka dia pun meneruskan pidatonya.

“… Pokoknya, Pak Ageng. Kalau tholé Beni masih tidak patuh menggunakan hak bebas cekalnya, dia harus kita hukum, dibuang ke Praci atau nJati selama satu bulan!”

Elho, êlho, êlhoo!

Elho, êlho, êlhoo!

Kami semua pun terheran-heran mendengar usul Mrs. Nansiyem yang sangat ekstrem bin radikal binti sadis itu. Mosok anaknya sendiri mau dibuang ke desa.

Buné, kamu itu ngawur atau priyé? Wong ngukum anak sendiri kok seperti ngukum anak rampok?!”

“Lho, itu rak cuma usul to, Pakné! Boleh setuju boleh tidak!”

Sekarang ganti Mr. Rigen yang angkat bicara.

“Sidang yang terhormat. Semua saja yang ada di seputar meja bundar ini. Nggih, nggih, nggih … !

Iyo, iyo, Pakné! Kok bolehnya nggih, nggih, nggih sampai mêcucu.”

“Lho, ini juga setilku sendiri, Buné. Nggih, nggih, nggih …?

Tiba-tiba Beni Prakosa berteriak.

Wis to, wong-wong tuwo. Gèk lêkas mau ngomong apa lagi, mbok yang thês-thês begitu, lho!”

Iyo, iyo, Lé! Saya usul, karena si bêdhès Beni ini sudah me-ngécé, menghina orang tuanya yang sudah dengan susah payah melahirkan dan membesarkan dia tetapi membangkang tidak mau menerima pembebasan cekalnya, kudu, harus justru seharusnya maka dari itu dicêkêl, cê-kêl, dikurung di kamarnya selama tiga hari tiga malam dan harus makan nasi sambêl. Kalau nasi sambêl itu masih utuh, maka sambêl-nya akan terus-menerus ditambah.”

Priyé to, Pakné? Kamu itu usul atau mau membunuh anakmu? Lha, ini rak lebih kêjêm dari hukum buang saya ke rumah êmbah-nya!”

Semua jadi diam. Saya thêngêr-thêngêr, menyaksikan teater absurd itu. Fantasi Jatisrono dibenturkan dengan fantasi Pracimantoro. Jadinya konsep hukuman yang lahir dari persepsi keadilan yang unik dan gila bin sadis. Mau diapakan anak mereka sesungguhnya?

Wis, wis. Sekarang kesempatan saya berikan kepada Beni untuk menjelaskan ke-ngambêk-annya tidak mau dolan ke mana-mana, meski hukuman cekal sudah dicabut. Silakan saudara Beni Prakosa. Héisssyy …… Tholo-Tholo jangan ikut-ikutan ngacung, ya! Mulutmu mblèwèh dan ilêr-nya ke mana-mana!”

Beni Prakosa memperbaiki duduknya. Tetap bersila ngêtêpês, tangannya sêdhakêp, disilang, diletakkan di atas meja.

“Kemarin saya tidak boleh dolan itu kenapa, sih, Bapak dan Ibu? Salah saya itu apa? Coba jelaskan!”

Kedua orang tuanya berpandangan, mungkin tidak mengira akan datangnya pertanyaan yang telak itu.

Elho …! Kamu itu kena cekal karena kamu harus belajar di rumah. Cekal itu supaya kamu bisa konsentrasi di rumah. Kalau kamu Bapak biarkan kluyuran di luar, ngobrol sama orang-orang di luar rumah, mau jadi apa testing-mu, Lé? Cekal itu buat kebaikan sekolahmu, Lé! Sekolahmu itu bukan sak baé-nya sekolah. SD Indonesia Hebat lho, Lé!

“Terus bagaimana?”

Elho, kok terus bagaimana! Kamu itu kalau diatur wong tuwo yang manut to, Lé! Wong tuwo itu tahunya cuma yang baik-baik saja buat anaknya.”

“Bagaimana wong tuwo selalu tahu yang baiknya saja? Apa tidak bisa salah?”

Elho, mau ngèyèl kamu, Lé? Mau ngèyèl? Ini yang diajarkan di sekolah? Ngèyèl sama wong tuwo, iya?”

Kembali saya dibuat thêngêr-thêngêr. Tidak habis mengerti melihat fenomena di hadapan saya. Tiba-tiba saja, Beni Prakosa yang masih ingusan itu sudah jadi anak yang pandai micårå, articulate, melontarkan pendapat dan haknya. Dari mana dia belajar semua itu? Dan juga tiba-tiba saya melihat bagaimana tidak siap bapak ibunya  melihat reaksi anaknya itu. Terus bisanya hanya mengancam dan memutuskan pendapat anaknya sebagai èyèlan belaka. Saya lihat Beni mulai mêmbik-mêmbik, mau menangis. Ah, … dia sudah kembali jadi anak-anak lagi. Dari mana kepintarannya yang micårå tadi? Ilham dari dewa-dewa yang nyêlonong sewaktu-waktu dalam tubuh kita?

“Tidak usah nangis. Ayo diam! Dak têmpiling pisan kamu nanti!”

Elho, … Mr. Rigen jadi galak bin butêng.

Hayoo … nangis tênan? Dak jèwèr lho, kamu!”

Elho, … Mrs. Nansiyem jadi ikutan butêng juga. Saya pun turun tangan.

Wis, wis, semua saja. Beni, coba kalau kamu dulu tidak dicekal, angka-angka rapormu tidak akan sebaik sekarang. Ya, to? Sekarang kamu bebas cekal. Cekal itu baik, lho. Kalau kamu tidak mau dicekal, nanti kamu dicekal betul, lho. Bahkan di-cêkêl! Siap, Ben?”

“Siap, Pak Ageng!”

“Sudah, dolan sana!”

“Siap, semuanya. Cekal atau tidak cekal, itulah persoalannya.”

Elho, … Beni Prakosa sekarang kesurupan Shakespeare. To be or not to be … Beni lari ke luar halaman diikuti Tholo-Tholo. Ibunya berteriak ikutan mengejar.

Yogyakarta, 21 Mei 1991

*) gambar dari balitapedia.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: