Beni Prakosa Kena Cekal

anak dijewer (ummi-online)Meskipun sudah duduk di SD, bersekolah rupanya masih merupakan suatu avonturir tersendiri bagi Beni Prakosa. Sama seperti waktu masih duduk di TK, Beni melihat sekolah seperti sebuah taman bermain yang mengasyikkan bersama teman-temannya. Di kelas dia masih berjalan-jalan menginspeksi kawan-kawannya yang duduk di bangku. Memeriksa buku-buku pelajaran temannya, ikut membacanya, meng-ithik-ithik ketiak teman lelakinya serta mencubit lengan teman perempuannya.

Dulu waktu masih duduk di TK dia pernah mendapat hukuman gurunya karena tidak muncul kembali di kelas, meski lonceng tanda habis ngaso sudah dibunyikan. Ternyata waktu itu Beni bersama dua orang temannya bersembunyi di taman untuk bergosip tentang berbagai hal. Mungkin tentang layangan, tentang lauk makan siang yang akan mereka hadapi, tentang guru mereka yang manis tapi galak, tentang uang jajan dari ibu mereka yang hanya cukup untuk beli sebungkus kecil bihun goreng. Rupanya keasyikan mereka berdiskusi tentang berbagai hal yang serius telah membuat mereka tidak mendengar bel sudah berbunyi lagi tanda waktu ngaso sudah selesai.

Di SD kebiasaan menginspeksi sembari jalan-jalan di kelas sudah mulai ditinggalkan, diganti dengan main sambêr-sambêran burung dan pesawat dari kertas. Di halaman sekolah, karena tubuhnya yang di luar rencana orang tuanya telah tumbuh menjadi bongsor besar, Beni sering menjadi jagoan yang diandalkan oleh teman-temannya. Dalam setiap pertengkaran yang menjurus ke arah perkelahian, dia akan diangkat menjadi pelerai. Tetapi kalau perlu juga menjadi pelerai yang memihak dengan menunjukkan kekuatan otot-otot tangannya. Biasanya anak-anak yang dilerai dan diwasiti akan mêngkêrêt untuk kemudian cepat-cepat mengakomodasikan diri mereka kepada kekuatan Beni. Barangkali fungsi Beni di sekolahnya sekarang mirip fungsi ABRI di masyarakat kita. Sebagai stabilisator, dinamisator, akselerator dan tor, tor, tor lainnya.

Dari sudut fungsi itu, kami serumah bangga melihat perkembangannya. Bagaimana tidak?! Sekolahnya itu sejak TK dan sekarang SD dan nantinya SLTP dan SLTA adalah masuk rumpun sekolah-sekolah Indonesia Hebat, itu konsep sekolah dahsyat yang akan menggembleng siswa-siswanya menjadi warga Negara yang patriot komplit. Komplit kecerdasannya, komplit disiplinnya, komplit kecintaannya kepada bangsa dan Negara. Sudah tentu komplit juga kemenyerahannya kepada Republik dan pemerintahannya. Pokoknya komplit!

Lha, Beni Prakosa, lewat koneksi-koneksi saya di berbagai eselon baik yang di pemda maupun pusat, beruntung bisa tersaring masuk dalam sekolah elite yang komplit itu. Dari sudut kebongsoran tubuhnya, cukuran rambutnya, ketegapan berdirinya dan jawabannya yang selalu dimulai dengan kata ‘siap’ untuk setiap pertanyaan, memang tampak tanda-tanda dan segala sasmito untuk menjadi siswa yang sukses dalam naungan sekolah Indonesia Hebat itu.

“Kamu sudah sarapan, Ben?”

“Siap, sudah Pak Ageng!”

“Pakai apa?”

“Siap, Pak Ageng. Pakai sambal jlantah, tempe sama krupuk, Pak Ageng!”

“Lho, jlantah-nya jlantah apa? Tempe dan krupuknya yang mana?”

“Siap, Pak Ageng. Jlantah-nya jlantah blênyik, tempenya tempe goreng kemarin dan krupuknya krupuk karak yang kemarin dulu juga, Pak Ageng!”

“Lho, apa tidak mlêmpêm krupuknya, Ben?”

“Siap, Pak Ageng. Mlêmpêm, Pak Ageng. Tapi tidak apa-apa, Pak Ageng!”

“Bagus! Pokoknya enak dan nrimo ing pandum ya, Ben?”

“Siap, Pak Ageng. Nrimo ing pandum, Pak Ageng. Semua diterima, Pak Ageng!”

“Bagus! Sana, berangkat sekolah!”

“Siap, Pak Ageng. Saya berangkat, Pak Ageng!”

Dan Beni pun lari ke sekolah diikuti bapaknya naik sepeda sambil memboncengi Tholo-Tholo, sang singa laut, sang kacang ijo. Adapun  fungsi pengikutan dengan sepeda itu untuk menghadang lalu lintas di perempatan jalan agar Beni Prakosa dapat menyeberang dengan aman. Saya berdecak kagum akan konsep Mr. Rigen itu, sembari ngunandikå akan kehebatan pandangannya yang jauh ke depan. Yaitu sudah bersiap untuk melihat anaknya jika suatu ketika jadi priyagung hebat, naik mobil hitam hebat dengan barisan sepeda motor ngoèng-ngoèng di depan menyisihkan segala lalu lintas jalanan.

Tetapi ya itu! Meski disiplin menjawab “siap” itu sudah membanggakan hati, Beni tetaplah Beni. Ingredients alias bumbu-bumbu ramuan dalamnya masih tetap ramuan Pracimantoro dan juga masih anak-anak. Pulang dari sekolah tasnya dilempar. Buku-bukunya berantakan. Buku-buku tulisnya penuh dengan usêk-usêkan tangan. Blépotan di mana-mana. Pojok-pojok buku tulis itu kadang-kadang kena srèmpètan sambal, wong kesukaannya sambal terasi.

Dia tidak mau tidur siang, tapi dolan ke mana-mana. Ke bong Cina, ke pinggir selokan, nginthil atau mengikuti penjual bakso dengan harapan mendapat lemparan bakso barang satu atau dua gelinding. Maklum penjual bakso itu masih lik-nya dari Pracimantoro.

Ketika hari-hari testing (THB) sudah sangat dekat, Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem  sangat ketar-ketir melihat irama persiapan anaknya. Dari sudut berteriak “siap” memang sudah hebat. Tapi kesiapan akademisnya bagaimana? Padahal target sekolah Indonesia Hebat itu komplit semuanya.

“Beni!”

“Siap, Pak. Siap, Bu!”

“Kamu minggu depan rak testing, to?

“Siap, Pak. Siap, Bu!”

Mbok bilang iyo ngono to, Lé!

“Siap, Bu. Tidak boleh, Bu!”

“Siapa yang bilang tidak boleh?”

“Siap, sekolah, Bu!”

Halahwong karo ibuné dhéwé waé, lo?

“Siap, Bu. Tetap tidak boleh, Bu!”

Wis to, Buné. Mbok biar dia bilang siap, siap, siap. Lé, karena sebentar lagi kamu testing, dolanan dan kluyuran-nya dikurangi, ya?”

“Siap, Pak. Tidak mau, Pak. Wong dolan kok tidak boleh?”

Elho, siap tapi kok tidak mau? Harus mau!”

“Siap, Pak. Tidak mau, Pak. Besok siang saya ada janji adu jangkrik sama konco-konco, Pak.”

“Tidak boleh! Ini perintah Bapak dan Ibu!”

Beni Prakosa mêmbik-mêmbik, menangis. Tholo-Tholo ikutan menangis. Tapi, keesokan harinya toh Beni sudah hilang lagi dari peredaran. Dolan memenuhi janjinya dengan konco-konco-nya untuk adu jangkrik di pinggir kali. Anak itu segera dijewer telinganya, sepulang dari dolan.

Athoo, athoo, Pak!”

“Sakit, Lé?

“Sakit, Pak. Suaakiiit!”

“Nah begitu! Mulai besok siang pulang dari sekolah kamu di rumah saja, tidak boleh keluar halaman. Belajar!”

“Siap, Pak. Tapii …”

“Tidak ada tapi-tapian. Pokoké kamu kena cekal. Dicegah dan ditangkal!”

Dari dalam kamar saya mendengar peraturan cekal itu diterapkan dengan tegasnya kepada Beni. Saya ngglêgês, tapi juga manthuk-manthuk kagum akan kecepatan dirjen saya itu menerapkan peraturan yang dahsyat dan kreatif itu.

“Tahu tidak, Ben. Mulai besok siang kamu kena cekal!”

“Siap, Pak. Cekal itu apa, Pak?”

Pokoké cekal!”

Tiba-tiba Mrs. Nansiyem jerit-jerit melihat Tholo-Tholo main ke jalan. Bis-bis pada ber-sliwêran di depan rumah.

“Itu lho, Paaakk! Tholo-Tholo ucul ke jalan!”

Bapak dan ibu pada lari ke jalan, sambil beteriak …

“Cekal! … Cekal!!! Bocahé dicekal!”

Yogyakarta, 14 Mei 1991

Catt : THB = Tes Hasil Belajar

*) gambar dari ummi-online.com

Iklan

4 komentar

  1. erwin · · Balas

    Lhoo njenengan jangan keburu menjudge penulisnya songong, nrimo ing pandum itu karakter orang jawa, bersyukur atas karunia yang diterima, tidak meminta lebih dari yang sepantasnya didapatkan. itu karakter rendah hati lho mas

    Suka

  2. kerikil · · Balas

    Tulisannya emang enak dibaca tapi songongnya si penulis sangat terasa. Nyuruh-nyuruh orang nrimo ing pandum, bikin seorang anak tumbuh tanpa karakter.

    Suka

    1. Hardman · · Balas

      Nrimo ing pandum itu maksudnya bersyukur atas pemberian dari Tuhan. Berusaha sebaik mungkin, diimbangi dengan berdoa, kemudian bersyukur bagaimanapun hasilnya. Bukannya apatis bin pesimis. Songong lu ah

      Suka

      1. kerikil · · Balas

        yah, itu kan arti sebenarnya. Yang sekarang kan sudah mengalami pembelokkan ke arah negatif. Jangan pura-pura ga tau ah! Saya ga songong, cuma logis

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: