Dr. Prasodjo Legowo Prihatin dan Sarius

ruang kerjaSenin sore kemarin, idola saya Mas Doktor Prasodjo Legowo mampir ke rumah, sehabis lembur di kantornya. Sering saya tidak habis pikir, apa saja sih yang dilemburkan oleh seorang matematikus ulung seperti beliau. Dalam bayangan saya, seorang matematikus jenius seperti Mas Doktor Prasodjo Legowo itu akan memecahkan problem-problem matematika dengan begitu saja tanpa harus berkeringat dan mengerutkan jidat. Maka, mestinya waktu bukan menjadi soal baginya. Sepenuhnya akan dikuasainya. Jadi, membayangkan lembur untuk seorang Prasodjo Legowo adalah sesuatu yang rådå sulit.

“Mas, sampéyan itu kok masih butuh lembur segala?”

Elhoo, memangnya saya harus lain dari barisan Korpri yang lain?”

“Iya, dong. Sampéyan ‘kan jenius. Semua pekerjaan akan beres dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Lembur itu akan merupakan pekerjaan yang mubazir buatmu.”

“Heh..heh..heh. Rupamu! Kayak kamu tahu saja apa yang aku kerjakan di kantor. Banyak, lho!”

“Iya, banyak. Itu saya percaya. Tapi, pekerjaan banyak itu rak bisa kau lalap begitu saja, to?

“Heh..heh..heh. Ya tidak! Pekerjaan administrasi itu tidak ada hubungannya dengan matematika. Apalagi administrasi kantoran kayak di Republik ini. Lebih sulit dari matematika. Problemnya bukan lebih sulit, tapi lebih makan hati.”

Wéh, … apa iya?”

Elho, iya! Bagaimana tidak? Kwitansi saja mesti rangkap tujuh. Kadang-kadang lebih. Belum lagi lain-lain yang menumpuk, yang membutuhkan renungan-renungan bijaksana.”

Elho, … administrasi itu butuh renungan segala, to?

Rupamu! Apa kamu kira yang butuh renungan itu hanya cerpen dan sajak saja?”

“Renungan administrasi itu misalnya bagaimana?”

“Misalnya administrasi para rekan dan pegawai yang harus naik pangkat atau harus dilorod. Itu membutuhkan renungan dan refleksi yang dalam, lho!”

Lha, kalau matematika?”

“Heh..heh..heh. Renungan matematika itu tidak kalah bengongnya dari kalau kamu menyiapkan novel, lho. Bengongnya lama sekali, baru bisa lahir rumus. Baru bisa memecahkan problem yang sulit.”

Saya masih saja kesulitan membayangkan doktor jenius ini harus merenungkan administrasi kenaikan atau mêlorot-kan pangkat saja kok jadi lama sekali. Dalam bayangan saya, beliau itu hanya tinggal duduk di meja tulisnya menghadapi setumpuk kertas-kertas berisi konduite rekan-rekan dan stafnya. Beliau akan merefleksikan serius dan lamanya itu apabila beliau melahirkan satu rumus atau dalil matematika.

Wah, apa ya kêlakon beliau akan merenungkan lama sekali kenaikan pangkat seorang pesuruh atau seorang spesialis pembuat teh di kantor? Apa juga harus dipertimbangkan surat-surat kaleng tentang pembuat itu yang diduga korupsi gula pasir dan teh? Wah, apa iya beliau harus merenungkan satu surat kaleng? Apalagi bila surat kaleng itu, misalnya, memfitnah dengan kreatif sekali tentang cara sang spesialis pembuat teh itu mengakumulasikan teh. Sesendok demi sesendok teh di dalam kaleng. Belum surat kaleng lainnya yang lebih sophisticated, yang mungkin ditulis dengan gaya Budi Darma atau Danarto, tentang berbagai skandal baik yang seks maupun yang keuangan! Alangkah akan lebih mendalam dan kompleks bentuk renungan doktor matematika kita ini.

Saya kemukakan bayangan saya itu kepada Mas Prasodjo Legowo. Beliau pun langsung tertawa terkekeh-kekeh.

“Heh..heh..heh. Geeeng, Geng! Fantasimu itu, lho! Semua kau bayangkan seperti jalannya cerita pendek. Meskipun kadang-kadang saya akui, hidup di negeri kita ini sering mirip kisah-kisah absurd Kafka, teater Ionesco dan Beckett. Atau juga seperti kisah-kisah Budi Darma. Tapi, kau benar dalam satu hal saat membayangkan agony, roso tidak enak dan sakit saya setiap harus mempertimbangkan kenaikan pangkat seorang rekan atau staf. Surat kaleng jelas tidak saya perhatikan! Surat-surat yang tanpa nama dan alamat yang jelas, langsung saya buang ke keranjang sampah!”

Wéh, … kok kayak kebijakan Lee Kuan Yew, Mas?”

“Iya, memang saya mengikuti dia. Itu yang paling praktis, tidak makan waktu lama dan juga adil. Tapi, surat keluhan dan protes yang jelas dan obyektif saya pertimbangkan dengan sungguh-sungguh dan lama. Naah, … itu yang sering makan hati.”

“Sebabnya?”

“Jelas sulit, to, menilai rekan. Apalagi kita ini orang Jawa yang terkenal têpo sliro. Mempertimbangkan dengan bijaksana ning ya rådå subyektif dan kalau bisa sedikit memihak dan hasil akhirnya memuaskan semua pihak. Têpo sliro itu ‘kan cuma itu to, dasarnya?”

Saya manggut-manggut meskipun di dalam hati rådå shock berat juga. Baru setahun saya berpisah dengan beliau sejak saya bertapa di New Haven. Eh, kok jadi agak sinis matematikus ulung ini melihat keadaan tanah air dan kebudayaan bangsanya. Beliau yang biasanya optimis, penuh pangêrtèn terhadap situasi dan kondisi tanah airnya beserta isi manusia dan para stafnya. Sekarang ucapan dan pandangannya mengandung kegetiran dan, kalau saya tidak salah tangkap, juga sedikit pesimisme.

Saya kemukakan ini kepada beliau karena saya tidak tega membiarkan diri saya tersiksa. Beliau terkekeh lagi.

“Geeeng, Geng. Wis to, jangan macam-macam menilai saya. Saya rak manungså biasa juga. Bisa dan boleh capek, anyêl dan sedikit frustrasi. Sekarang lebih baik kau perintahkan saja Mr. Rigenmu itu untuk sedikit kreatif menyervis saya dengan nyamikan atau minuman apa to apa begitu. Wong dari tadi ngocèh terus dibiarkan kering kerontang, lho.”

Saya jadi blingsatan mendengar kritikan service itu. Mas Prasodjo Legowo saya biarkan klèlèran tidak mendapat suguhan. Tiba-tiba dari dalam Mr. Rigen keluar membawa teh panas dan pisang goreng, balok goreng plus tempe gêmbus goreng yang masih hangat. Saya terkejut juga melihat kesigapan dirjen saya itu. Mas Prasodjo Legowo pun dengan gembira menyambutnya.

Lha, rak ya begitu to, Mister. Ini baru service!

“Kamu kok tahu saja kalau Pak Prasodjo sudah mendambakan suguhanmu?”

Mr. Rigen meringis.

“Saya itu rak dari tadi nguping dan memperhatikan Bapak-bapak begitu sarius-nya berbicara tentang macêm-macêm.”

Mas Prasodjo Legowo tersenyum.

Wéh, jadi kamu mendengar semua yang kami gunjingkan, to, Mister? Terus komentarmu bagaimana, Mister?”

Mr. Rigen meringis lagi (kadang-kadang saya ngunandikå apakah refleks seorang bawahan itu harus meringis setiap ditanya oleh atasannya).

“Oh, … kalau saya itu sederhana saja kok, Pak. Bapak-bapak itu memang sudah seharusnya sering melihat kehidupan negeri ini. Boleh anyêl, boleh jengkel, boleh ngécé, malah boleh menghina apa. Ning …”

Ning apa?”

“Asal kita wong cilik ini kecipratan rejeki dari ke-sarius-an Bapak-bapak bolehnya mikir Negara dengan segala ke-ngécé-an dan ke-prustrasi-an itu. Itu yang penting buat saya. Wong kalau kita ikut-ikut sarius dan coba-coba ngécé, ya terus dapat bogem mentah lho, Pak. Lha, kalau Bapak-bapak bolehnya ngêndika sampai ber-dhakik-dhakik tidak ngrêjêkèni, tidak membawa rejeki, buat wong cilik terus bagaimana panjênêngan sêdåyå itu?”

Kami berdua mendengar analisa filsafati dari dirjen merangkap filsuf itu sembari mengganyang tempe gêmbus dan nyêplus cabe rawit. Touche! Kena lagi, lu! Mr. Rigen sebagai wakil wong cilik telah memberi fatwanya kepada kami. Touche! Cuus, ha-huah-huaah. Cabe rawitnya pedas bukan main.

Mas Prasodjo Legowo pamit. Mr. Rigen diberi persen lima ribu rupiah.

Thank you, Mister.”

Tèng yu bèk, Pak Doktor, sudah diparingi persen.”

Dan kepada saya Mas Prasodjo Legowo mengumumkan,

“Saya akan segera minta mundur jadi kepala urusan. Saya mau meneliti, menulis dan kadang-kadang membaca novel lagi.”

Honda bebek di-starter. Waktu beliau menjauh saya membayangkan Sir Isaac Newton, bengong-bengong di bawah pohon waktu malam menatap alam semesta …

Yogyakarta, 7 Mei 1991

*) gambar dari keepo.me

Iklan

5 komentar

  1. wahyu · · Balas

    Wah yg ini baru baca saya. Di buku mangan ra mangan kumpul ndak ada kan ya??

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      mulai bulan april 2016 masuk k buku jilid 2, mas wahyu ….. sugih tanpa banda
      ma kasih atensinya …

      Suka

  2. bener-bener memotret kehidupan yang dekat dengan saya ini ^^

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      wah … slamat merenung, nek ngono 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: