Cerita Biasa Dari Desa

Waktu saya pulang dari kunjungan rutin ke Jakarta sambil check kesehatan yang mulai mrèthèli pada usia laruik sanjo ini, saya temui Mr. Rigen juga baru pulang dari menengok orang-tuanya di desa. Seperti telah saya laporkan tempo hari, staf saya itu tidak pulang pada hari Lebaran karena kudu jaga pos di kerajaan saya.

“Ada kabar apa di desa, Gen?”

“Wah, ya biasa-biasa saja.”

“Jawabanmu kok klisê begitu, Mister? Mosok jawaban dirjen cuma klisê?”

Klisê itu apa to, Pak? Apa maksud Bapak klisê poto itu?”

“Ya mirip, Gen. Klisê di sini artinya ‘itu-itu saja’ atau ‘tiru-tiru’ alias ‘tidak orisinal’. Mbok kalau jawab pertanyaan bos itu yang baru, yang menarik. Jangan asal saja, Gen.”

Wéé …lha. Baru rawuh, UUU kok sudah paring oleh-oleh kritikan, lho.”

Saya tertawa karena melihat mulut Mr. Rigen bolehnya monyong maju beberapa senti waktu mengucapkan “UUU”, yang maksudnya U, kata Belanda untuk ganti “panjênêngan” itu.

“Gen, bolehmu mêcucu ‘UUU’ itu rådå overacting. Satu saja ‘U’-nya. Kamu tahu kata ‘U’ itu gèk dari siapa?”

Lha, ya dari Bapak to, kalau berbicara sama para priyagung sêpuh dari Jakarta itu. Cas-cis-cus, UUU, UUU begitu.”

Saya tertawa lagi. Dalam hati saya mengagumi daya tangkap dirjen saya itu. Juga keinginannya untuk selalu up to date dalam menambah kosa kata internasionalnya.

Yo wis, UUU! Nah, sekarang mana ceritamu dari desa?”

“Ya ada, Pak. Ning ya cuma cerita biasa saja, Pak.”

“Lho, biasa lagi? Yo wis, biasa. Coba apa cerita biasa itu?”

Mr. Rigen lantas duduk bersila seperti ingin menembang lagu-lagu måcåpat. Anak-anaknya, Beni Prakosa dan Tholo-Tholo, ikut duduk bersila ngêtêpês di belakang bapaknya.

Maka Mr. Rigen pun bercerita. Di desanya itu ada balé desa lama yang sudah hampir rubuh. Sudah tua, kusam, renta dan bobrok. Kalau hujan bocor di mana-mana karena atapnya sudah bolong-bolong semua. Tapi, kalau tidak ada hujan pada musim kemarau, apalagi jika rembulannya sedang gêdhé, anak-anak, pemuda-pemudi desa suka main di situ. Anak-anak bermain dan menyanyikan lagu-lagu dolanan. Pemuda-pemudi sering mementaskan ketoprak dan sandiwara kecil-kecilan. Kalau anak-anak desa yang bersekolah di kota sedang musim liburan, mereka kadang-kadang juga membacakan sajak-sajak atau main sandiwara kota. Pokoknya meskipun bangunan bekas balé desa itu sudah tidak mèmpêr gedung biasa, tapi masih berfungsi dengan baik buat warga desa.

Tetapi, tan kocapå! Tidak terperikan dahsyatnya kedatangan berita pengumuman tiba-tiba dari Pak Kepala Desa. Balé desa lama yang dekil dan kumêl, kusam bin renta, itu akan dirobohkan. Demi pembangunan, demi peremajaan, demi keindahan desa.

Balé desa ini sudah reyot,” kata Pak Jogoboyo.

“Bikin malu desa saja,” kata Pak Carik.

Dan Pak Kepala Desa yang pada hari itu mengenakan hèm Korpri baru, grès, berpeci bêludru hitam mengkilap, rambut agak kegondrong-gondrongan, tetapi sudah memutih di sana-sini cambangnya, mengangguk-anggukkan kepalanya memperkuat pendapat stafnya.

Tiba-tiba seorang pemuda maju,

“Tapi, Pak Desa ‘kan tahu, balé desa yang reyot ini dulu pernah jadi dapur umum buat para gerilya. Pak Desa masih ingat, ‘kan?”

Iya, iya, ingat. Wong waktu itu saya ikut bantu-bantu bawa kayu bakar, kok. Ingat saya. Kamu di mana? Oohh … kamu masih jadi têngu.”

Têngu bukan têngu, saya ikut memiliki balé ini, Pak. Ini bale ‘historis’, Pak Desa, Pak Carik dan Pak Jogoboyo.

Pemuda itu rupanya seorang intelektual lokal. Buktinya dia sudah bisa bilang ‘historis’. Dan berdirinya pun sudah tegak. Tidak merunduk dan ngapurancang tangannya.

Wéh, … anak desa yang sudah sekolah di kota. Bisa ngomong ‘historis’ segala. Bisa cerita bekas dapur umum segala. Dhapurmu itu ora umum!”

Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya, kukur-kukur rambutnya yang tidak gatal. Ia pun mundur sesudah mendengar hardikan Pak Carik yang merangkap kepala pembangunan desa.

“Ayo, siapa lagi yang mau protes?” tantang  Pak Jogoboyo.

Seorang pemuda yang rambutnya gondrong betul, karena rambutnya panjang sampai di pundak, berombak indah karena disisir rapi, maju. Ia didampingi seorang pemudi yang bahenol, tinggi dan gagah. Pokoknya, penampilan sepasang pemuda-pemudi itu nyêniwan-nyêniwati. Mereka berdiri, tetapi kemudian menata berdiri mereka berhadapan di antara para priyagung lokal desa itu. Mungkin sepasang pemuda-pemudi itu pemain drama. Buktinya mereka menata penampilannya dengan teknik blocking yang mantap. Waktu mereka meyampaikan protesnya, mereka melantunkan suaranya secara koor.

“Bapak-bapak pemimpin kami, yang berdiri di sini. Pada hari ini, kami mewakili dunia seni, jangan robohkan balé desa ini. Sebab nanti di mana kami harus berseni, seni, seni dan seni …”

Semua yang hadir bertepuk tangan dengan gemuruh, termasuk para pemimpin desa. Semua setuju bahwa penampilan pemuda-pemudi itu mengesankan. Lagi pula protes yang bersajak itu, yang i-i-i itu, sangat indah dan mengena. Pastilah mereka tidak cuma sekadar Teater Jawa di Solo yang dulu mementaskan ‘Leng’ itu, bukan Teater Gandrik atau Teater Alam di Yogya itu. Mr. Rigen curiga mereka pasti punya pengalaman setidaknya jadi seksi cuap pada ‘Ladystrata’ Bengkel Teater Rendra. Setidak-tidaknya sèrêp, cadangan seksi cuap koor itu. Begitu kompak dan begitu berseni.

Tapi, tiba-tiba Pak Jogoboyo menghardik dengan suara yang menggelegar.

Hééitt! Babo, babo, babo! Siapa yang kêbêlêt mau kencing? Sini, ke sini, keluarkan air senimu! Ayo sini, bersenilah! Macêm-macêm!

Semua mak cêp! Klakêp, diam semua. Dan dua pemain drama, yang dicurigai Mr. Rigen sebagai veteran seksi cuap Bengkel Teater itu, dengan tetap memelihara ritme panggung, mereka mundur selangkah, dua langkah, pacak gulu, lantas menyelinap duduk bersila di tengah kawan-kawan yang lain.

Kemudian tampil seorang yang dibandingkan dengan para pemrotes sebelumnya, lebih tua usianya. Orangnya ngganthêng, rambutnya agak gondrong, penampilannya artistik juga dan berjanggut lancip.

“Bapak-bapak, balé ini tidak hanya historis dan penting buat pementasan seni. Balé desa ini wajib dipertahankan. Jelek-jelek, butut-butut begini, bangunan ini dari sudut arsitektur penting dan indah. Apalagi kalau dilihat pada temaram senja dari sawah sana dan bolehnya melihat dengan mata agak mêrêm-mêlèk, dipicingkan begitu. Indah sekali! Dari sudut usianya yang kuno itu, arsitekturnya unik sekali.”

Sekarang Pak Carik, yang merangkap kepala pembangunan, yang gantian sewot.

Héiiissy, … sampéyan kok ikut-ikutan to, Mas Ndrono! Wong kita sama-sama jebolan sekolah pertukangan dan jebolan perusahaan pemborong bangunan, kok bolehnya mêcucu arsitektuuurrr! Arsitektuuurrr apa?! Wong bangunan kumuh, mau ambruk begini kok indah! Indah êmbahmu!

Yang dipanggil Mas Ndrono itu dengan halus juga lantas mundur. Thêkluk, thêkluk, thêkluk. Sekarang Pak Kepala Desa maju.

Sadhèrèk-sadhèrèk sêdåyå. Merdeka!”

Khalayak menjawab lirih.

“Merdeka.”

“Yang lebih keras sadhèrèk. Monggo. Merdeka!”

“Mer-de-ka.”

“Kurang keras! Merdeka!”

“Merdeka!”

“Merdeka atau mati!”

“Matii!”

Pak Jogoboyo segera membentak.

Huss! Edan kabèh!

Pak Kepala Desa segera menenteramkan.

Wis, wis, wis pårå sadhèrèk. Ini begini. Bangunan ini memang akan dirobohkan. Nanti di sini akan dibangun taman yang indah dan bangunan-bangunan toko yang lengkap. Supaya desa kita ini lebih menarik buat para wisman. Siapa tahu artinya wisman?”

Seorang pemuda yang tangannya penuh dengan panu, mengacung-acungkan tangannya.

Kulo Pak Desa. Wisman niku artiné ‘wis mangan’. Rak lêrês, to?”

Semua tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu terkejut ditertawakan. Sekali lagi, Pak Jogoboyo mengembalikan ketertiban.

“Hééiitt!!!”

Semua diam. Pak Kepala Desa melanjutkan pidatonya.

“Wisman itu wisatawan manca Negara. Kemarin sudah datang ke kantor desa. Meskipun mereka itu kêblasuk, mau ke Tawangmangu keliru ambil bis ke Wonogiri. Tapi, lumayan ‘kan? Mereka membayar lima dollar ke desa untuk iuran pembangunan. Bayangkan kalau ratusan wisman yang datang! Jadi kaya desa kita! Enggih mbotên sêdhèrèk?

Mbotêên!

Héiitt! Pokoknya bangunan ini akan dirobohkan. Jangan khawatir, akan diganti!”

“Naaah, begitu Pak Desa. Di mana? Di mana?”

“Di pojok pasar desa lama, di ujung desa sana. Kami sediakan dua los pasar untuk kalian main ketoprak dan sandiwara. Puaskanlah kalian main ketoprak, main sandiwara, menyanyi, membaca sajak dan pameran lukisan di depan para bakul. Seni itu rak buat rakyat to, nggih?

Khalayak terdiam. Satu demi satu mereka pulang ke kandang masing-masing. Seminggu kemudian mereka menghadap Pak Bupati. Mereka diminta menunggu di ruangan Sekwilda. Satu, dua jam kemudian Pak Sekwilda keluar.

“Bagaimana, bagaimana, Pak? Bagaimana reaksi Pak Bupati?”

Pak Sekwilda yang ngganthêng, matanya selalu berkedip jatmikå itu, menjawab dengan tenang.

“Pak Bupati ngêndikå, terus bocah-bocah itu gèk mau disuruh ketoprakan di mana, kalau balé desa itu dirobohkan.”

“Terus, Pak? Terus bagaimana?”

“Yah, sementara begitu dulu. Sekarang kalian pulang dulu, ya!”

Pak Sekwilda berkedip-kedip dengan jatmikå-nya.

Mr. Rigen menarik nafas panjang.

“Naah, begitu, Pak. Cerita saya dari desa. Biasa saja ‘kan?”

Saya mengelus dada. Wong cerita hebat begitu, kok dibilang biasa saja.

“Pak Ageng, UUU mau dhahar siang pakai apa?”

Kedua bêdhès cilik itu pun ikut-ikutan mêcucu mulut mereka.

“Pak Ageng, UUU … UUU … UUU ….

Héiiittt!!!

Yogyakarta, 30 April 1991

*) gambar dari pagaralampos.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: