Jer Lebaran Mawa Bea

lebaran (gambarkata.co)Waktu saya pulang dari Jakarta untuk lebaran dengan keluarga saya, saya dapati Mr. Rigen & family sudah pada siap berderet di teras menyambut kedatangan saya. Mereka berderet bagaikan sederet pejabat berbagai eselon yang dipacak baris di lapangan terbang Adi Sucipto untuk menyambut kedatangan seorang menteri.

“Selamat datang, Pak Ageng. Minal aidzin wal faizin.”

Yo, yo. Podho-podho, yo. Sama-sama, ya. Sudah makan?”

“Siap, Pak Ageng!”

“Selamat datang, Pak Ageng. Sugeng lebaran. Sêdoyo kalêpatan mugi linêbur ing dintên puniko. Semua kesalahan saya semoga dilebur pada hari ini.”

Yo, yo, Nansiyem. Sama-sama, ya. Sudah makan?”

“Siap, Pak Ageng!”

“Selamat datang, Pak Ageng. Selamat lebaran. Merdeka!”

Yo, yo, Beni. Terima kasih. Sudah makan?”

“Siap, Pak Ageng!”

“Pakai apa?”

“Siap, pakai êndhog, Pak Ageng!”

“Pake dok, ak Geng.”

Heisyy … barisan bubar!”

Mereka pun berbaris urut kacang bagaikan bebek yang di-angon di pinggir sawah. Mr. Rigen di depan sebagai komandan upacara, Tholo-Tholo, sang singa laut, paling belakang sebagai prajurit krocuk. Bahkan statusnya masih cakro, calon krocuk. Berlainan dengan kakaknya, yang sekarang sudah sekolah di SD Indonesia Hebat, sudah memiliki status caper, calon perwira, strip paling bawah.

Untuk ke sekian kali saya merasa terharu akan kesetiaan staf lengkap kitchen cabinet saya. Mereka tetap tegar bagaikan batu karang yang tidak rontok oleh hempasan waktu. Perubahan, pergantian suasana, pergeseran kekuasaan di rumah saya, rupanya tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Keabadian kekuasaan saya barangkali mereka terima sebagai sesuatu yang memang semestinya. Syukurlah kalau begitu.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya berlebaran di Jakarta. Pusat persembahan jaringan keluarga saya, yaitu ibu saya, sekarang pindah ke Jakarta. Maka dengan sendirinya pusêring jagad saya pun bergeser ke ibukota republik ini. Maka juga dengan sendirinya pergeseran pusêring jagad lebaran itu memberi dampak yang mendalam pada Mr. Rigen & family. Mereka harus siap siaga di istana Yogya saya selama hari-hari Lebaran. Dengan perkataa lain, mitos “mudik Lebaran” akan tidak berlaku buat mereka. Hah, perubahan fundamental mana lagi yang dapat melebihi kekejamannya daripada keputusan saya ini?

“Mr. Rigen, karena tahun ini dan selanjutnya, Lebaran saya pindah ke Jakarta, kamu sekeluarga mesti menyesuaikan diri dengan pergeseran ini.”

Elho, … kêrso Bapak itu bagaimana? Pergeseran kok Lebaran?”

Lha, iya. Mulai tahun ini kalian tidak boleh berlebaran di Praci atau Njati.”

Elho lagi, Pak. Wong Lebaran di udik-udiknya sendiri kok tidak boleh to, Pak? Ini rak hak asasi saya to, Pak?”

Wéé, lha! Mr. Rigen mulai mau unjuk gigi dengan menyebut hak asasi. Bulu kuduk saya mulai merinding. Mak sêngkring!

“Lho, Mister. Kalian ‘kan sering juga to tidak Lebaran di desa? Malah kalian sendiri yang minta. Katamu dulu di desa malah sedih, ngênês-ngênêsi ati! Lebih senang kalau di Yogya saja.”

“Lho, lain dong, Pak, para porsinya.”

“Para porsi itu apa? Berapa piring begitu apa?”

Ayak, Bapak. Wong saya juga cuma ikut-ikut Bapak kalau bicara, lho. Para porsi, para porsi. Pa-ra-por-si. Para porsi!”

Saya tertawa. Rupanya yang dimaksud adalah proporsi. Elok! Perbendaharaan jargonnya sêmangkin dahsyat saja.

“Proporsi to, Gen?”

Ha, ênggih. Para porsi.”

“Ya sudah. Terus yang lain itu para porsi yang bagaimana?”

“Begini. Kalau saya dan istri saya nyuwun tetap tinggal di sini untuk Lebaran, itu rak karêp inisatip saya sendiri.”

“Inisiatif to, maksudmu?”

Ha, ênggih. Inisatip.”

Yo, wis. Teruskan!”

“Jadi ada perhitungan saya sendiri.”

“Misalnya?”

Mr. Rigen kemudian tertawa ngglêgês.

“Heh-heh-heh … Kalau di sini dan saya perhitungkan ada Bu Ageng dan putri-putri. Apalagi kalau sepupu, adik dan kemenakan Bapak pada ikut berlebaran di sini, ‘kan lumayan tambahan honor saya.”

“Oooh, dhapurmu! Etunganmu ternyata njlimêt tênan ya, Gen?”

“Biasa to, Pak. Etungan-nya wong cilik. Wong cilik itu kalau tidak pintêr étung-étungan, terus bagaimana hidupnya. Lha, kalau Bapak, Prof. Lemahamba itu tidak boleh njlimêt étungan-nya.”

“Tidak boleh, Mister?”

No, Pak, no! Tidak boleh! Soalnya bapak-bapak itu rak priyagung, priyayi agung. Propesor-propesor itu rak priyayi agung to, Pak? Kalau para priyagung ikut-ikutan njlimêt itu namanya saru! Bikin malu!”

Elho? Wong étung-étungan rejekinya sendiri kok saru?

Saru, Pak. Karena itu menunjukkan, nuwun sèwu lho, kalau para priyagung itu juga srakah!

Wee … lhadalah! Ini wong cilik sudah memperlihatkan siung-nya, taringnya! Harus saya hadapi dengan hati-hati. Salah-salah bisa jadi revolusi!

“Begini, Mister. Yang jadi persoalan di sini ‘kan itu, to?”

“Itu apa to, Pak?”

Fulus, to?”

“Wah, mbotên ngêrtos cårå Arab, Pak.”

“Ooh, somprèt tênan kowé! Duit. Duit, to? Iya apa nggak?”

“E-ehm. Ya sudah. Boleh diartikan begitu. Duwit.”

Héisyy, rupamu! Itu apa bukan, persoalannya?”

Enggih, ênggih! Honor, honor!”

Lha, rak begitu. Sekarang jelas bahasa kita!”

Maka bagaikan tawar-menawar antara Presiden Bush dan Saddam Husein, kami pun melakukan tawar-menawar itu dengan sengitnya. Akhirnya dicapai juga persetujuan itu. Mr. Rigen & family setuju untuk jaga rumah Yogya selama Lebaran. Transaksi honor pun langsung saja dilaksanakan. Jumlahnya memuaskan kedua belah pihak. Mr. Rigen sak brayat menerima, di samping tambahan satu bulan gaji, dus gaji ke-13 yang pemerintah tidak sanggup beri itu, juga honor tambahan untuk jaga rumah, untuk entertainment tamu-tamu, untuk entertainment mereka sendiri, honor penderitaan dan honor kangên. Pokoknya semua honor yang sangat basic elementer, mendasar dan penuh pangêrtèn semangat Pancasila diterjemahkan dengan rinci dan tuntas.

Jadi, waktu saya pulang dari Lebaran di Jakarta, disambut oleh deretan kesetiaan staf kitchen cabinet, itu ada hubungannya dengan pepatah Jawa lama, jêr basuki måwå béå. Untuk bahagia dan selamat dibutuhkan biaya. Jêr sêtiå måwå béå. Untuk mendapatkan kesetiaan dan loyalitas dibutuhkan biaya. Jêr Lebaran pun måwå béå.

Ayak ….

Yogyakarta, 23 April 1991

*) gambar dari gambarkata.co

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: