Mbak Titiek Yang Awet Muda

titiek_puspaDalam usianya yang 54 tahun serta cucu yang berjumlah 7 orang, dia masih tampil segar dan semarak. Dengan penuh percaya diri dia melangkah mantap menuju panggung. Wireless di tangan ditentengnya dengan ringan, senyumnya yang ceria dan genit dilemparnya kepada hadirin. Kemudian waktu kakinya mulai menyentuh panggung, seketika wireless itu didekatkan ke mulutnya, tubuhnya dibalikkannya ke arah penonton. Maka mengalunlah lagu “Welcome to My World” yang serta merta disambut dengan tepuk tangan yang gempita.

Saya yang duduk dekat panggung merasa beruntung dapat mengamati detail yang menempel pada tubuhnya. Aksesori yang gemerlapan, berbinar-binar cahayanya menyilaukan mata para penonton. Blus kuning emas yang berumbai-umbai dan rok panjang hitam yang simpêl.

Kemudian muka (dan juga tubuh) yang pada usia 54 tahun itu masih begitu menakjubkan sintal dan kêncêng-nya. Wajahnya masih tetap cantik dan dengan pangkasan rambut yang agak pendek dan agak lurus ke bawah itu, mengingatkan saya akan wajah cantik dari perempuan-perempuan Jepang jaman Edo. Tetapi, waktu dengan penuh gusto dan gairah yang menyala dia menyampaikan lagu-lagunya, hilanglah kesan wajah perempuan Jepang berbaju kimono dari jaman Edo itu.

Penonton pun duduk terpukau, berdecak kagum akan suaranya yang masih tetap bagus dan mantap, gerakan-gerakan tubuhnya yang masih sangat enerjik, humornya yang nakal dan kêmayu. Dengan sak enak perutnya, dia plonco Sri Sultan untuk naik panggung dan mengajak beliau untuk menyanyikan lagu “Kemesraan” dengan penuh kemesraan (Untunglah saya tidak kêtiban sampur malam itu. Harus menyanyi apa lagi saya? Mosok “Burung Kakatua” lagi?). Untunglah Sri Sultan adalah seorang crooner yang tersembunyi. Dengan gaya dan suara Frank Sinatra, jebakan penyanyi cantik itu dapat dikuasai.

Tetapi, waktu akhirnya sang penyanyi cantik itu menyanyikan “Kupu-Kupu Malam”, seluruh ruangan itu menjadi senyap. Begitu syahdu, begitu penuh perasaan dia menyampaikan itu. Dia mendesah, dia meratap, dia bertanya, dia protes. Dan waktu dia mengakhiri lagu itu dan membungkukkan badannya dalam-dalam kepada penonton, tepukan penonton pun membahana.

Itulah Mbak Titik, penyanyi asal Temanggung, yang pernah sekolah SGTK PIRI Yogya sekian tahun silam. Pada malam peresmian Hotel Santika Yogya pada Sabtu malam lalu telah merebut hati khalayak Yogya. Itulah Titik Puspa, the grand dame of ladysingers yang selalu evergreen, selalu ijo royo-royo tanpa mengenal layu.

Di kamar hotel dan di rumah, saya dan Bu Ageng yang saya impor khusus dari Jakarta untuk undangan itu, tidak habis-habisnya ngrasani, menggunjing keawetan muda Mbak Titik.

Lha, ya to, Bune. Titik Puspa itu, lho ….”

“Kenapa? Awet muda? Cantik?”

Lha, iya to. Dia itu ‘kan hanya terpaut beberapa tahun dengan kita. Kok ya …..”

“Dia bisa tetap awet muda, sedang kita awet tua. Dia tetap sintêl, kêncêng, kita tetap kendur dan gombyor-gombyor. Rak begitu to, yang mau kau katakan?”

“Kamu itu, lo … Kok, ya tahu-tahunya mencegat omongan orang?”

Wong mencegat omonganmu saja lho, Pak. Paling gampang! Mbak Titik itu, Pak, tirakatnya gêdhé. Terus nglakoni.”

Wéh, nglakoni? Tahu saya, dia itu cuma sênêng-sênêng terus?”

Sênêng-sênêng? Maksud Bapak dengan sênêng-sênêng rak karena dia terus menyanyi itu, to?”

“He…he…he….. iya!”

“Enaknya. Mbak Titik menyanyi itu ‘kan kerja keras to, Pak. Banting tulang. Itu ‘kan prihatin dan tirakat juga to, Pak.”

Wéh, … élok. Menyanyi itu nglakoni, prihatin dan tirakat. Terus hasilnya awet muda. Elok. Besok aku dak latihan menyanyi lagi, Bune. Di kamar mandi.”

Dan saya pun lantas pasang aksi, nêbak dhådhå seperti Tarsan, mengempiskan perut, terus mengeluarkan hawa keluar, “kemesraan iniii …, janganlah cepat berla-lu. Kemesraan-an-an iniii ….”

Stop, Pak! Stop! Wong suara kayak londo mêndêm begitu, lho, kok mau diumbar! Bapak kira Bapak itu mau nyaingi Ngarso Dalem, to? Oalaahhh, Paaak, Pak! Bapak itu belum apa-apanya beliau. Beliau itu Frank Sinatra-nya Ngayogyakarta. Sudah, ah. Aku mau mandi. Nanti bisa ketinggalan plin pulang.”

Sementara Bu Ageng jêbar-jêbur mandi, Mr. Rigen dengan berjingkat jalan thimik-thimik mendekati saya.

“Pak Ageng!”

“Apa?? Bikin kaget saja kamu, Geen. Ada apa?”

“Ini, lho. Saya baru baca di koran. Jujuk Srimulat itu awet muda dan ayu karena sabên hari minum kopi wayu alias basi.”

“Ah, kamu ada-ada saja! Sana, siapin handuk saya! Saya harus ikut ibumu pulang ke Betawi.”

“Lho, èstu lho, Pak. Mbak Jujuk itu ….”

Hesyy …. Handuk, han-duk!”

Mr. Rigen mengkeret kena wibawa gertakan saya. Dengan cepat dia mengambil handuk terus dihaturkan pada saya. Saya pun segera mandi, terus bersiap-siap berangkat ke airport. Di dalam pesawat, waktu melongok keluar jendela, seperti mega-mega berkejaran mengejek saya. Cuma kali ini ejekannya agak keterlaluan. Mosok di sela-sela mega itu bergantian muncul dengan cantiknya Titik Puspa dan Jujuk. Edan tênan! Saya duduk termangu hingga membuat Bu Ageng keheranan.

“Ada apa to, Pak?”

“Nggak apa-apa. Mega-mega itu, lho.”

“Mega?”

Saya mengangguk.

Malam hari menjelang tidur, saya perintahkan Madam Belgeduwelbeh menyediakan secangkir kopi hitam. Besok pagi-pagi betul kopi wayu itu …..

Yogyakarta, 12 Maret 1991

*) gambar dari wowkeren.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: