Perang Dhadha Menthok pun Usai

AyamPanggangKlatenSeperti telah dikabarkan dalam tulisan sebelumnya, Mr. Rigen memaklumkan perang dhådhå mênthok kepada Pak Joyoboyo. Mereka menyambut Perang Teluk atau Operasi Badai Gurun itu dengan satu pertaruhan. Mr. Rigen pegang Saddam, Pak Joyoboyo pegang Bush. Adapun taruhannya dhådhå mênthok dalam ténong Pak Joyoboyo. Yang kalah mesti memborong dhådhå mênthok sak ténong itu.

Maka pada hari Minggu kemarin, dua pejudi kelas kakap itu berkonfrontasi di rumah saya untuk menyelesaikan urusan mereka.

Pripun, Mas Rigen. Sampéyan ngaku kalah, tidak? Sampéyan ngaku jago sampéyan têluk apa tidak?”

Têluk, têluk! Memangnya perang têluk, kok dibilang Saddam têluk. Perang Teluk nggih Perang Teluk, Mas Joyo. Tidak ada urusan Saddam têluk!

Wéé …lha. Sesudah kêpèpèt kok sampéyan terus ngèyèl, Mas Rigen. Saya bilangi, ya! Perang Teluk itu karena dimenangkan Sekutu membuat Saddam Hussein têluk. Têluk itu artinya, ya … têluk, kalah, angkat tangan! Sebabnya Perang Teluk itu disebut Perang Teluk karena mesti ada yang têluk. Lha, têluk itu miturut …..

Pun, puun, puuun, Mas Joyo. Saya tahu artinya têluk. Sampéyan tidak usah menjadi propesor têluk dalam urusan Perang Teluk. Wong têluk itu baru berarti têluk kalau yang kalah itu teriak ‘têluk aku, têluk aku’. Lha, … Saddam apa sudah teriak ‘têluk’ begitu?”

Dari dalam kamar, saya yang sejak permulaan sudah mengikuti dua diplomat itu adu argumen, ngglêgês dan manthuk-manthuk. Wéh, dua orang itu! Ternyata kemampuan mereka dalam berdiplomasi, berdebat alias saling ngèyèl tidak kalah seru dengan jenderal-jenderal yang berunding mau mengakhiri perang. Pastilah rundingan untuk gencatan senjata intinya ya untuk saling merumuskan artinya kalah, menyerah atau têluk itu. Wong intinya perang itu akhirnya bagaimana nanti bolehnya tawar-menawar antara yang menang dan yang kalah, tawar-menawar apa yang boleh diambil dan apa yang tidak.

Saya keluar dari kamar, mau ikut menjadi wasit sembari menikmati èyèl-èyèlan mereka.

“Lho, sampéyan rak ya sudah lihat di tivi to, Mas Joyo. Belum ada gambar yang memperlihatkan Saddam itu angkat tangan di depan Jenderal Suwarsekop. Jadi, ya belum têluk itu namanya!”

Saya jadi heran melihat kegigihan dirjen kitchen cabinet saya dalam hal tawar-menawar ini. Bahkan itu sudah bukan tawar-menawar lagi namanya. Sudah asal ngèyèl tingkat tinggi. Pastilah dia sedang dalam keadaan panik membayangkan bagaimana mesti membayar pampasan perang yang seharga dhådhå mênthok sak ténong itu. Meskipun ini sudah tanggal muda lagi.

“Oh, Mas Rigen, sampéyan mau terus ngotot, nggih? Nggih?

Mr. Rigen agak gragapan juga melihat suara Pak Joyoboyo yang mulai meninggi itu. Kemudian Mr. Rigen Nampak isin, malu, mundur.

“Elho, … Mas Joyo, niki taruhan apik-apikan, lho! Mbotên usah ngotot-ngototan begitu!”

Wéé, lha, yang tanya ngotot itu saya, jé! Kok sampéyan yang tanya ngotot sama saya.”

Mereka lantas diam, tapi saling memandang. Waktu akhirnya mereka saling memandang kepada saya, tahulah saya bahwa tugas saya sebagai Raja Harun Al-Rasyid menghadapi dua Abunawas harus segera saya lakukan.

Wis, wis. Sekarang damai dulu antara sampéyan berdua. Pak Joyoboyo betul kalau bilang Sekutu yang menang.”

“Lho, Bapak ki? Kok, wasitnya tidak netral?”

“Tunggu dulu, dong. Sekutu itu menang kalau dilihat sudah menduduki Kuwait. Ning, Mr. Rigen juga betul. Saddam belum têluk kalau belum kelihatan angkat tangan.”

“Lho, Pak?”

“Tunggu dulu, Pak Joyo. Saya usul begini saja. Kita kasih waktu satu malam lagi.”

“Buat apa, Pak?”

“Buat beri kesempatan kepada kalian melihat berita tivi sekali lagi. Kalau sudah jelas kekalahan Irak, ya kamu, Mr. Rigen yang harus membayar taruhanmu. Ya, to?”

Kedua orang itu pun menganggukkan kepala mereka. Dan pada malam harinya, sembari tiduran dan dipijit Mr. Rigen, kami melihat tivi. Kami lihat Kuwait yang penuh dengan reruntuhan. Kami lihat ratusan prajurit Irak dengan angkat tangan di kepala digiring pulang. Kemudian terlihat lagi reruntuhan dari kota Kuwait dan Baghdad. Rumah-rumah penduduk di dua kota itu yang hancur berantakan.

Wah, Gen. Kelihatannya taruhanmu kalah betulan. Tanpa harus melihat Saddam Hussein angkat tangan sendiri, sudah jelas dia kalah. Dan miturut berita itu, mereka juga sudah rundingan gencatan senjata. Wah, sori, Mister, kamu harus bayar dhådhå mênthok itu.”

“Wah, ha ênggih kalo begitu. Mau saya borong dhådhå mênthok sak ténong itu. Pun, mau blokèk-blokèkan dhådhå mênthok sak ténong saya. Pun satu minggu saya, mbok-é tholé dan bêdhès-bêdhès itu biar muntah dhådhå mênthok.”

Oh, kasihan Mr. Rigen. Sudah mau taruhan kok akhirnya cuma bisa mênglulu begitu. Apa ya begitu to, caranya wong cilik cari jalan keluar dari kesedihan kalah taruhan? Lha, SDSB itu, bagaimana? Apa ya begitu?

Esok harinya Pak Joyoboyo datang. Dari jauh suaranya yang cempreng itu sudah terdengar.

Pènggèng èyèm, pènggèng èyèm …!

Mr. Rigen dan Mrs. Nansiyem byayakan keluar dari kamar mereka. Di tangan Mr. Rigen tergenggam uang ribuan, umpêl-umpêlan. Mrs. Nansiyem dengan muka asêm sambil menggendong Tholo-Tholo, mengikuti suaminya. Di belakang mereka Beni Prakosa memegang cèlèngan jago yang sudah pecah. Terlihat wajahnya mêmbik-mêmbik, mau nangis.

Pun, Mas Joyo. Kulo ngaku kalah. Ini uangnya! Mana dhådhå mênthok-nya, mau saya lahap sak brayat, biar sampai jebol. Sini, Mas Joyo!”

“Lho, … sabar, sabar dulu, Mas Rigen. Tadi malam saya juga lihat tivi. Wah, perang itu kok nggêgirisi, ya? Rumah-rumah remuk, ajur. Terus keluarga-keluarga yang pada kehilangan rumah itu ….. Kalo itu kejadian di sini bagaimana? Apalagi kalo kita sendiri yang kena.”

Mr. Rigen diam. Begitu juga istri dan anak-anaknya. Saya mengikuti babaring lêlakon, akhir cerita, dari perang dhådhå mênthok ini.

“Mas Rigen, Jêng Rigen. Taruhan batal. Saya tidak tega menuntut bayaran taruhan. Wong perang kok dijadikan taruhan.”

“Wahh …. Matur nuwun, Mas Joyo!”

Tiba-tiba saja Mrs. Nansiyem dengan sekali sebat merebut uang umpêl-umpêlan dari tangan suaminya. Mak bêt! Mr. Rigen terlena. Uang itu sudah berpindah tangan ke tangan istrinya. Kami semua tertawa. Saya harus turun lagi jadi Raja Harun Al-Rasyid. Harus kasih unjuk raja besar yang murah hati.

“Pak Joyo, sampéyan rak belum sarapan, to? Saya mau beli dhådhå mênthok sampéyan sepuluh potong. Ayo kita sak rumah sarapan ramé-ramé!

Pagi itu di rumah Pak Ageng, di seputar meja makan sekelompok manusia pada lahap sarapan dhådhå mênthok dengan nasi hangat.

Perang dhådhå mênthok pun usai sudah …

Yogyakarta, 5 Maret 1991

*) gambar dari lestariweb.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: