Fanatisme

Ayam-Goreng-Ny.-Suharti01Sebelum berangkat ke lapangan terbang, saya memerintahkan Mr. Rigen singgah dulu di Nyonya Suharti untuk menyambar beberapa ekor ayam goreng beserta ati rêmpêlo dua porsi. Sesudah dapat, di dalam jip Mr. Rigen meng-grêndêng,

“Mbak Gendut itu, lho. Wong di Jakarta sudah ada beberapa Nyonya Suharti, belum lagi têdhak-turun-nya Mbok Berek dan lain-lain, kok ya masih saja minta dikirimi yang dari Yogya. Itu kenapa, nggih, Pak?”

Ha, êmbuh.”

Niku panatik Yogya atau apa, Pak?”

Ha, êmbuh.”

Yak, Bapak ki. Sejak kondur dari Ngamerika sering banget lho, Bapak menjawab pertanyaan dengan ‘êmbuh’. Kok seperti pejabat-pejabat saja.”

Husyy…! Mosok pejabat-pejabat kita bisanya cuma bilang ‘êmbuh’.”

Lha, di koran-koran itu, Pak. Kalo memberi keterangan pintêr dan mutêr-mutêr. Tapi kalo ditanya, jawabnya ya itu ‘êmbuh’. Bapak mungkin baru menyesuaikan diri dengan suasana Indonesia, nggih?

Saya tidak menjawab. Mr. Rigen sedang syur mengoceh pagi itu. Mungkin Mrs. Nansiyem agak kelewat banyak bolehnya memberi sambêl pada sarapan suaminya. Buktinya dia terus nyerocos tanpa êmpan papan, êmpan waktu. Pagi-pagi sudah ngritik pejabat. Tanpa pejabat, mau jadi apa negeri ini.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Bau ayamnya enak. Enakk banget!”

Wéé, lhadalah! Saya lupa kalau dua bêdhès cilik itu juga ikut mengantar ke aér-porêt. Dan baunya memang memenuhi jip kanvas yang sudah butut itu. Bercampur dengan bau oli dan bau keringat kanvas yang sudah berabad-abad dihajar hujan dan panas. Bau ayam Nyonya Suharti itu tetap bisa menembus ke mana-mana. Saya merasa bersalah tidak menyuruh bapaké bêdhès-bêdhès itu membeli satu atau dua paha buat mereka.

Lha, gudeg juga begitu, Pak. Mbak Gendut itu apa tidak pernah ketemu gudeg to, di Jakarta itu! Kok masih saja minta dibawakan gudeg Selokan Mataram Bu Ahmad atau gudeg Juminten. Kalau bukan panatik apa lagi itu, Pak?”

Heisysysy …. panatik, panatik! Ini sudah sampai di lapangan.”

Saya turun. Bêdhès-bêdhès cilik itu hidungnya masih mêlar-mingkup, mengendus-endus bau ayam goreng di dalam dus.

“Teh kotak, Pak Ageng. Teh kotak.”

“Teh kotak, Geng. Kotak, Geng.”

Saya rogoh dua lembar ribuan, saya berikan pada mereka.

“Nih, buat teh kotak. Dari kecil sampai sekarang kok ya belum bosan sama teh kotak  to, Ben? Ini yang kecil juga ngikut saja ! Teh kotak.”

“Mari Regal, Pak Ageng. Ma …..”

Heisysy ….. mari regal gundhulmu! Itu duit, cukup ora cukup buat semuanya!”

Saya lantas, mak brabat, lari ke counter. Khawatir pesawatnya sêlak berangkat.

Di dalam pesawat, untuk menghindari hawa bau mulut alias abab bule tua ompong yang duduk di samping saya, saya mulai merenungkan kembali pengamatan Mr. Rigen tentang kebiasaan Gendut pesan-pesan makanan dari Yogya. Mr. Rigen tidak tahu saja, kalau Gendut sudah sejak setahun di New Haven bersama saya sehari-hari selain mengabsen segala makanan dan lawuh ndesit lokal , tidak banyak lagi yang bisa dikerjakan. Begitu kangen dia sama yang segala lokal. Tetapi, Mr. Rigen benar juga. Itu fanatisme semata! Panatik, kalau menurut Mr. Rigen. Dan dari pernyataan Gendut sendiri, pernyataan Mr. Rigen itu memang beralasan.

“Lain dong, Bé. Nyonya Suharti di sini dengan di Yogya. Lebih gurih yang di Yogya.”

Lha, gudegnya? Gudeg ada di mana-mana. Malah Madam Belgeduwelbeh juga bisa bikin gudeg.”

Gendut tertawa ngakak.

“Hua..ha…ha.. Gudeg Jakarta itu meski yang bikin asalnya dari Yogya, tetep saja tidak pas, Be. Kurang sêdhêp, kurang gurih, kurang mlêkoh. Akan gudeg Madam Belgeduwelbeh, hua … ha … ha …, itu mah sayur nangka doang, Bé.”

Nah, kalau bukan fanatisme Yogya apalagi namanya itu? Tetapi, berapa kali dalam setahun Gendut dan si Mbak datang ke Yogya? Hingga bisa cukup membangun roso kangen dengan kota yang ajaib ini? Apalagi kemudian roso fanatik? Bukankah untuk memiliki roso fanatik itu dibutuhkan berbagai macam unsur lain? Apa bisa kefanatikan itu dibangun di atas unsur-unsur kontekstual (terima kasih untuk Arief Budiman dan konco-konconya yang fanatik) saja? Toh mesti ada satu keutuhan. Mesti ada roso total (terima kasih lagi untuk Emha Ainun Nadjib dengan totalitasmu yang total), to? Yah, mungkin seperti pernah saya katakan, Gendut itu pesan makanan ya sekadar mau pesan saja. Mau asal memerintah bapaknya, karena kesempatan itu jarang didapatnya. Wong anak wuragil, wingko kêncono, pecahan genting yang berkilau bagaikan emas itu, kapan lagi bisa menancapkan aura wibawanya pada orang tuanya.

Di rumah, Gendut langsung menyambut saya.

“Wah, Bé. MacDonald sudah buka di sini. Di Sarinah.”

“Ya, benar.”

“Eh, iya. Kemarin gué, Mbak, Kenyung dan Ibunda sudah nyicipin di sana. Lebih enak dari MacDonald yang di New Haven. Hamburgernya lebih mak nyuss!

Elho? Ini fanatisme apa lagi?

Saya lantas sebuah restaurant di Yogya yang hamburgernya seperti tahu bacêm.

Yogyakarta, 26 Februari 1991

*) gambar dari transsurabaya.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: