Pemerataan

bmwSore-sore pada waktu saya sedang rêriungan di lincak depan rumah dengan Beni Prakosa dan Tholo-Tholo, mask srêt, masuk sebuah mobil BMW. Kami gragapan melihat mobil yang nyaris tanpa suara itu dengan ngêlênyêr-nya masuk. Teknologi mutakhir mobil-mobil dunia rupanya ingin mengembangkan suatu mobil yang nir-suara, yang pada satu ketika akan mengubah lalu lintas jalan raya menjadi lalu lintas yang ramai tetapi nir-suara. Akan bagaimana jalan-jalan raya itu nantinya. Ramai oleh clurat-clurut-nya mobil, tetapi sepi mamring karena tidak ada suara mesin mobil. Mungkin malah cuma suara thèk-thèk penjual tahu thèk yang akan terdengar mengisi jalan-jalan. Itu pun mungkin. Siapa tahu para penjual tahu thèk juga akan berhasil menemukan teknologi thèk-thèk tahu mereka tanpa suara juga?

Hi, Geng. Hi, kids.”

Saya gragapan lagi dikejutkan oleh suara Prof. Dr. Lemahamba, M.Sc, M.A, M.Ed, etc, etc …, yang untungnya suara beliau tidak ikutan nir.

“Wah, Prof. Monggo, monggo.”

“Kamu itu ngelamun apa?”

Ha, ya itu to, Prof. Mobil BMW panjênêngan itu!”

What’s wrong with my BMW?

“Tidak ada apa-apanya yang wrong. Hanya membayangkan kalau satu waktu nanti, semua mobil ngêlênyêr-nya sama dengan BMW Prof. itu, terus bagaimana?”

“Terus bagaimana? Ya bagus, dong. Pemerataan.”

Mr. Rigen yang pada waktu itu masuk dengan membawa minuman teh sore jadi mênthêlêng matanya mendengar kata “pemerataan” dari Prof. Lemahamba.

Pripun, Prof. Pemerataan?”

Wééh, kuping-mu itu lho, Gen. Kuping rakyat betu!”

Kuping rakyat itu bagaimana to, Prof?”

“Begitu mendengar pemerataan terus gugup.”

Lha, bagaiama tidak gugup to, kuping wong cilik itu. Macam-macam yang kudu didengarkan. Amanah penderitaan rakyat, Pancasila, pembangunan, keluarga berencana, PKK, posyandu, dan wah … apa lagi. Ini pemerataan.”

Saya jadi rada panik setiap menyaksikan direktur kitchen cabinet saya mulai rada slébor begitu. Buru-buru saya amankan dia dengan saya suruh beli tempe gêmbus goreng di Terban.

“Ha,ha,ha … Geng. Pembantumu itu, lho. Dari dulu sampai sekarang sama saja. Usil!”

“Lho, katanya kuping rakyat.”

“Ya, biasanya kuping saja, bukan mulutnya. Kalau mulut rakyat usil itu bisa bahaya, to? It could be dangerous!

“Lho, Prof. Rakyat itu tidak boleh usil, to?”

“Oh, boleh, dong. Ning semua ada salurannya.”

“Misalnya?”

“Di DPR. Itu anggota DPR, toh wakil rakyat usil itu. Anggota DPR yang harus menyampaikan usul rakyat yang usil itu.”

“Jadi, rakyat hanya bisa usil lewat DPR? Apa ya rakyat itu bisa usil sama anggota DPR to, Prof?”

“Harusnya ya bisa, to.”

Pripun?

Ha, êmbuh!”

Wah, Prof. Lemahamba mulai agak anyêl ini.

“Kamu itu bertanya atau apa? Di Amerika sana ‘kan begitu juga?”

“Iyaa, betul. Ning di samping ke DPR, rakyat itu boleh usil di mana-mana itu, Prof. Maksud saya di Amerika sana.”

“Misalnya bagaimana?”

“Ada bangunan sekolah atapnya melengkung hingga hampir jatuh. Orang tua murid marah, terus menuntut pemerintah kota. Pemerintah kota yang kalah terus langsung memperbaiki atap gedung sekolah itu. Rakyat mulai usil, Perang Teluk kok semangkin ganas. Mereka marah, usil, usil dan usil. Sampai demonstrasi besar-besaran. Pabrik kimia limbahnya mencemari kali, rakyatnya marah, usil, protes. Pabrik kimianya kalah, terus tutup.”

“Kamu kira di sini tidak boleh usil yang seperti itu apa? Boleh!”

Ning rakyatnya sering menang atau tidak, Prof?”

Ha, … kalau itu soal lain, Geng. Rakyat itu kalau mau usil harus tahu juga soalnya. Tahu ngelmu. Tahu cari pengacara yang pintêr.”

Lha, yang ngajari rakyat tahu seninya, tahu ngélmu-nya, tahu cari pengacara yang pintêr itu lho, Prof. Siapa yang mesti ngajari?”

“Ha,êmbuh!”

Wah, Prof. Lemahamba mulai anyêl lagi. Mosok to, Prof. yang dahsyat ini tidak tahu pertanyaan saya yang sederhana itu? Atau beliau sedang anyêl saja, hingga malas menjawab pertanyaan yang saya akui, memang men-anyêl-kan orang-orang pinter di negeri ini. Saya lihat beliau buru-buru meneguk habis tehnya. Kemudian berdiri minta pamit.

“Lho, Prof. Tidak tunggu tempe gêmbus Mr. Rigen?”

Prof. Lemahamba tertawa ngakak.

“Geeeng, Geng. Kamu itu, lho. Sudah di Amerika setahun. Sudah kemasukan croissant betulan, hamburger betulan, sandwich betulan, kok masih mau tempe gêmbus. Ndéso-mu itu benar-benar nggak ketulungan.”

Beliau saya antar ke BMW-nya yang mulus itu. Pintunya cuma bersuara “beup”. Distarter. Suaranya “seur”. Prof. Lemahamba meringis.

“Iya ya, Geng. Kalau semua mobil tidak bersuara kayak begini alangkah anehnya jalanan.”

“Tapi, menurut Prof. pemerataan?”

“Ssttt, jangan keras-keras. Itu Mister Rigen sudah datang bawa tempe gêmbus. Nanti dia mênthêlêng lagi dengar ‘pemerataan’.”

BMW itu terus berjalan.

Yogyakarta, 19 Februari 1991

*) gambar dari rajamobil.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: