Tentang Roso Kangen Itu

klepon (eastjavatravel.com)Pagi pertama saya berada kembali di Yogya, Mr. Rigen menyediakan di meja, makan jajan pasar lengkap. Klêpon, thiwul, gatot, kêtan bubuk, gêthuk baik merah maupun putih. Dan di atas itu semua, kêpyuran kelapa yang sangat generous. Kopi tubruk hitam dan air putih dingin.

“Wah, kok bolehnya kamu unjuk gigi alias show of force, Mister.”

Mr. Rigen mringis. Mringis-nya seorang chef restoran yang sudah memendam dendam untuk menghajar pelanggannya.

Ha, ênggih. Ini tahap pertama untuk ucapan selamat kembali di pangkuan Ngayogyakarta Hadiningrat.”

Elho, tahap pertama? Masih ada tahapan lainnya? Lha, makanan sebegini banyak belum tentu habis, masih mau kamu jogi makanan apa lagi?”

Mr. Rigen melempar pringisan chef-nya lagi.

“Lhoo, … Bapak ini bagaimana?! Kalo saya bikin ucapan selamat datang itu ya harus lengkap begitu. ‘Kan seperti di restoran londo itu, kalo makan ya bertahap-tahap. Sop dulu, bestik daging sak kentang goreng dan ubå rampé sayurannya, pudding, es krim, buah dan kopi.”

“Wah, élok. Dak tinggal satu tahun kok kamu sudah meningkat ngélmu menumu, Gen. Jadi kebarat-baratan.”

“Lho, saya ini ‘kan ingin menyesuaikan dengan bos, to. Bapak tindak Ngamerika, dhahar-nya dhaharan londo-londo Ngamerika. Saya rak harus belajar juga urutan makanan mereka.”

“Heemmm …. Begitu, to. Lha, lantas kalau pagi ini urutan breakfast dimulai dengan klêpon, thiwul dan gêthuk ini miturut menu yang bagaimana, Gen?”

“Lhoo, … Bapak ini pripun, to? Bapak itu rak selalu mengajari saya; Gen, jadi orang itu sing kreatip. Sing pintêr menyesuaikan dengan bahan-bahan yang ada. Lho, pripun? Saya ini kurang kreatip apa to, Pak ?”

Dhapurmu, Geen, Gen. Kêmpus-mu itu lho, Gen, yang bikin saya kangen sama kamu.”

Direktur jenderal kitchen cabinet saya itu pun lantas pergi ke belakang, mungkin untuk menyiapkan tahapan makan pagi saya yang berikutnya. Saya sendiri lantas melahap jajan pasar yang, kata Mr. Rigen, merupakan tahap pertama sarapan saya.

Sesudah setahun absen dari revolusi, jajanan ndèsit itu terasa nikmat betul. Gatot, yang kalau dinilai dari sudut tampang lahiriah paling pol hanya bisa disejajarkan dengan kombinasi warna lukisan abstrak, dus tidak menarik, pagi itu jadi melambai-lambai minta disantap. Dan waktu saya gigit, kok ya, maknyuss!. Sedikit kecut, sedikit nggêdabêl, tapi ya biar. Begitu juga yang lain-lainnya.

Sembari makan itu saya ngunandikå tentang roso. Roso enaknya makanan dan roso kangen. Tentang makanan enak. Bagaimana kita bisa mengatakan makanan yang satu itu enak, sedang makanan yang lain tidak. Ternyata tidak selalu gampang. Ambillah contoh gatot itu. Sebelum berangkat ke Amerika, gatot itu masuk prioritas yang paling bawah dalam urutan menu jajan pasar saya. Dalam keadaan obyektif makanan itu agak kecut, agak ngilêr dan sedikit sekali gurihnya ketela terasa. Tetapi, waktu dihidangkan setelah setahun pergi, lhooo … kok jadi maknyuss! Semua atribut roso yang menjengkelkan itu jadi hilang. Subyektivitas apakah itu? Subyektivitasnya orang yang kangen kepada negeri leluhurnya. Negeri yang menyandang segala atribut lårå-låpå-nya dunia ketiga. Atau subyektivitasnya orang yang nggragas saja? Atau mungkin kedua-duanya!

Di Amerika, tidak seperti jaman saya dulu masih kuliah. Saya banyak masak masakan Indonesia karena semua bahan yang diperlukan hampir bisa didapat di toko-toko Cina atau Korea. Toh, waktu baru datang di Cipinang Indah, ibunya anak-anak memerintahkan madam Belgeduwelbeh masak lodèh, sayur asêm, sambel goreng (masakan yang juga saya masak bersama si Gendut di Amerika), rasanya kok maknyuss juga. Subyektivitas apakah ini? Subyektivitasnya orang kangen atau subyektivitasnya orang yang fanatik atau supernasionalis? Semua yang dimasak di rumah sendiri pasti enaknya. Waduhh, kok bertumpuk-tumpuk roso subyektivitas itu! Gatot yang secara obyektif kecut bin nggêdabêl binti ngiler, jadi enak. Masakan rumah yang secara obyektif biasa-biasa saja, jadi seenak masakan restaurant berbintang. Apa roso kangen, kapang, sono, rindu, itu yang jadi penentu? Lha, … terus yang dikangeni itu apa, lho?! Wong pergi juga cuma setahun. Dan negeri yang ditinggal setahun itu, ya masih begini-begini saja, lho. Saya tidak kunjung bisa memutuskan.

Mr. Rigen masuk diiringi oleh dua ekor cindhil-nya, Beni Prakosa dan Tholo-Tholo. Saya kaget saya melihat Beni Prakosa yang sekarang sudah bongsor seperti ABRI betulan dan Tholo-Tholo tahu-tahu juga sudah dua tahun.

Gut morning, Pak Ageng.”

Ning, Dêng.”

Yo, little bêdhès-bêdhès. Gud morning.”

Mr. Rigen dengan ketrampilan seorang chef merangkap jongos menata sarapan saya tahap kedua. Sêt,sêt,sêt. Prêk,prêk,prêk. Ting,ting,ting. Glodhak. Saya longokkan kepala saya. Eh, gudhêg Selokan Mataram. Eh, pêcêl SGPC. Dan waktu saya mulai melahapnya, eh … enak, maknyuss semua. Oh … subyektivitas roso kangen, rinduku kepada negeri penghasil gatot ini.

Di belakang saya dengar Beni Prakosa dan Tholo-Tholo pada menyanyi …”gêthuk asalé såkå télåå”. Saya tidak membayangkan mereka makan gêthuk sisa tahap pertama sarapan saya. Tapi, saya membayangkan Nur Afni yang gêndhès, kèwès, genitnya menyanyikan lagu ‘Gêthuk’ itu di tivi.

Gêthuk, asalé såkå télå. Sêdhut-sênut, jênthat-jênthit, sêdhut-sênut, jênthat-jênthit …. Itu pasti subyektivitas roso juga!

Yogyakarta, 29 Januari 1991

*) gambar dari eastjavatraveler.com

Iklan

One comment

  1. Pak Umar Kayam pancen marem. Kalimat-kalimatnya khas, sederhana, ndak bertele-tele

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: