Oleh-Oleh Prof. Dr. Lemahamba, etc, etc …

kaossingaporeblinkputihSore itu Prof. Dr. Lemahamba, etc, etc, … datang ke rumah. Di tangannya ada sebuah bungkusan.

“Mana Mr. Rigen ?” tanyanya kepada saya yang khusus menyambut beliau di teras.

“Lho, kok yang ditanya Mr. Rigen ? Yang punya rumah hambêgêgêg di sini lho, Prof !“

“Aah, … kamu tidak penting, Geng. Rakyat dulu, baru pemimpin.”

Wah élok. Anda sekarang mikirin rakyat dulu.”

“Lho, dari dulu, dari dulu to, Geng. Sejak jaman gerilya sama TP ‘kan sudah mikir rakyat. Tiap tahun ikut anjangsana dan rêriungan bersama rakyat desa tempat kita dulu bergerilya dengan bingkisan-bingkisan ‘kan itu juga mikirin rakyat to, Geng ?”

Saya pun menganguk-angguk tanda akur. Maka saya pun berteriak memanggil Mr. Rigen yang sedang sibuk di belakang.

Inggih, nun, kulå. Eh, … ada tamu to ini. Sugêng, Prof ?”

Iyo, iyo, Mister. Ini ada oleh-oleh buat kamu sak anak istrimu.”

Dan Prof. Dr. Lemahamba pun melemparkan bungkusan yang ada di tangannya. Dengan gaya kiper Van Bruekelen, Mr. Rigen menangkap bungkusan itu dengan manisnya.

“Ini oleh-oleh dari Singapur lho, Mister.”

Wéh, … oleh-oleh bèntêlan to niki ?”

Bèntêlan, bèntêlan. Bui-ten-land. Piyé ?

Ha, ênggih. Bèn-tên-lan.”

Prof. Dr. Lemahamba tertawa cêkakakan. Mr. Rigen mundur ke belakang.

“Kok, nggak sari-sari-nya membawa oleh-oleh buat Mr. Rigen, Prof ?”

“Ya itu, Geng. Di tengah comfort-nya Hotel Mandarin di Singapur itu, di tengah aku asyik ber-cha-cha-cha dengan mbakyumu, di nite club Casbah di puncak hotel itu, saya kok ingat saja dengan orang-orang di tanah air.”

“Lho, … siapa saja yang you ingat, Prof ?”

Yaah … terutama ya wong cilik, dong.”

Lha wong sedang enak-enak rileks di Singapur, di hotel mewah, di nite club Casbah, kok lantas ingat wong cilik itu bagaimana to, Prof ? Rileks itu ya rileks saja, Prof. Kalau mau ingat wong cilik mbok ya di Indonesia saja.”

“Ya justru itu, Geng. Waktu aku sedang lèyèh-lèyèh di kamarku yang adêm nyaman itu sembari makan anggur hijau yang tidak boleh diimpor di Indonesia, saya ingat wong cilik yang tidak pernah punya kesempatan buat hidup yang rådå senang. I feel terrible, you know … “

Dan Prof. Dr. Lemahamba etc, etc, … terus menceritakan pada saya bagaimana tidak adilnya rezeki itu dibagi-bagi di dunia ini. Kok selalu harus lebih banyak yang menerima sedikit ketimbang mereka yang menerima banyak. Bahkan antara mereka yang mendapat pendidikan sama kok ya rezeki itu ngawur jalannya.

Take us, Geng. Coba lihat kita, Geng. Kau mencicipi pendidikan luar negeri, aku pun demikian. Tapi perkara rezeki …. “

“Ya, Anda toh yang lebih nomplok rezekinya. Sudah sepantasnya, Prof. Anda dinamis, agresif, cemerlang, persuasif. Sudah sepantasnya toh, kalau rezeki itu memilih nomplok di tubuh Anda.”

“Nah, itu yang saya katakan tidak fair. Saya itu biasa-biasa saja, Geng.”

“Waduuuhh … !”

“Tunggu dulu, Geng. Sungguh ! Saya tidak seperti banyak dibayangkan orang. Lha, kok rezeki itu, lho …. “

Ménclok-nya kepada Anda. Barangkali Anda dulu tirakatnya besar.”

“Nggak itu.”

“Barangkali orang tua Anda ?”

“Nggak juga.”

“Barangkali kakek dan nenek Anda gêntur tåpå-né, bertapa begitu dahsyat di gunung, di gua, di pertemuan aliran sungai, di ….. “

Hussyy ! Tidak ! Saya pikir rezeki itu from now on must be regulated. Harus diatur pakai sistem.”

Elhoo, … jamannya deregulasi kok, Prof, jadi nganèh-anèhi to ! Rezeki kok must be deregulated, Prof.”

Aneh bin ajaib. Tiba-tiba kok Prof. Dr. Lemahamba, M.Sc, M.A, M.Ed, dsb-dsb-nya itu lantas terdiam, tercenung. Saya jadi khawatir. Jangan-jangan ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan beliau.

“Begini, Geng. Kau ternyata telah melemparkan sesuatu yang penting.”

“Yang mana itu, Prof ?”

“Bahwa rezeki itu must be deregulated. Kalau saya pikir-pikir, betul bangêt itu. Rezeki itu sekarang memang sudah jauh regulated, terlalu amat jauh diatur. Cuma anehnya, kok aku kecipratan rezeki nomplok, sedang kamu tidak !”

“Wah, … saya tidak pernah memikir sejauh itu, Prof. Tahu saya itu rezeki ya rezeki. Suka kluyuran sak enaknya. Rezeki ‘kan tidak pernah rasionil to, Prof.”

“Lho, katamu rezeki must be deregulated. Itu artinya sudah deregulate to, rezeki itu. Logically there must be something concrete dengan rezeki itu. Rezeki itu mestinya sudah diatur.”

“Wah, … êmbuh, Prof. Wong saya tadi itu ngomong deregulate atau regulate untuk memberi bumbu pada percakapan kita, kok.”

“Wah, … cilåkå kamu. Ini barang serius kok kamu nggak serius. Pokoknya bantu aku mikir, ya. Bagaimana caranya sistem pembagian rezeki itu mesti diatur. Lha, nanti kalau sudah ketemu baru dipikir untuk menderegulasi lagi sistem pengaturan itu. OK ? Aku ini selama old and new di Casbah Hotel Mandarin, Singapur, itu gelisah betul mikir timpangnya rezeki itu. Wong cilik itu …”

mBok sudah to, Prof. Untuk sementara wong cilik dibiarin dulu, deh. Wong mereka ya hapy-happy saja, lho. Apalagi waktu old and new kemarin itu. Mikir saja tidak lho, mereka.”

Iyo. Ning kamu tetap harus bantu saya mikir yang tadi, ya ! Kamu ‘kan intelektual, to ? Katanya intellectual must ….. “

“Iya, iya, Prof.”

Tiba-tiba pintu yang memisahkan ruang duduk dengan bagian belakang terbuka. Mr. Rigen & family lengkap muncul di ambang pintu. Wajah mereka cerah. Tersenyum bahagia. Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan Beni Prakosa memakai kaos oblong bergambar singa Singapura dengan tulisan “Visit Singapore”. Sedang si kecil Septian melambaikan bendera segitiga bergambar barongsai Singapura dengan tulisan “Visit Singapore” juga.

“Wah, Prof. Matur nuwun sangêt, Prof. Ini namanya rejeki nomplok buat kami sekeluarga, Prof. Ayo Lé, matur, Lé. Ayo bilang.”

Tèng yu, Pak Profesor. Tèng yu, tèng yu.”

Prof. Dr. Lemahamba, M.Sc, M.A, M.Ed, etc, etc, itu tertawa terkekeh-kekeh.

Thank you, Beni. Ayo ilat-nya ditekuk. Thank you.”

Beni Prakosa melipat lidahnya kemudian mencoba mengucapkan.

Tèng yu, tèng yu.”

Dan dia pun lari ke belakang mengikuti orang tuanya.

“Wah, Geng. Saya happy karena mereka happy.

“Saya bilang apa to, Prof. Wong cilik itu happy-happy saja kok.”

“Kalau begitu saya bisa pulang dengan hati tenang. Oh, … by the way, minggu depan mesti menghadiri seminar di Bellagio, di pinggir Danau Como, Italia. Kamu mau oleh-oleh apa ?”

Saya lupa saya menjawab apa. Mungkin saya menggumam saja salah satu barang atau salah satu buku. Waktu BMW-nya yang mulus itu pergi meninggalkan rumah saya, tiba-tiba saya ingat kaos-kaos staf kitchen cabinet saya, oleh-oleh dari Singapura. Ah, … ya ! Bukankah kaos-kaos itu sama persis dengan kaos promosi yang pernah saya terima gratis dari kantor promosi pariwisata Singapura ? Ah, … édan tênan ! Prof. Dr. Lemahamba, M.Sc, M.A, M.Ed, etc, etc, yang kondang itu, yang ber-old and new di nite club Casbah Hotel Mandarin di Singapura, dengan hati gundah karena memikirkan ketimpangan pembagian rezeki di dunia, memberi oleh-oleh kaos …..

Ah, … bukankah yang penting Mr. Rigen sak brayat tetap happy-happy saja ?

Yogyakarta, 16 Januari 1990

*) gambar dari meameyshop.com

Iklan

6 komentar

  1. matur thank you, Mas he he he semoga tambah sehat panjenengan.

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      wahhh … matur sembah nuwun pandungane, mas harits.

      Suka

  2. Alhamdulilah sudah update kembali :). Terima kasih, ditunggu tulisan2 berikutnya.

    Suka

    1. masteddy · · Balas

      iyo, mas …. habis semedi hampir setahun
      ma ksih dah sabar menunggu … 🙂

      Suka

      1. iya saya selalu menunggu update, seperti menunggu sang kekasih

        Suka

        1. masteddy · · Balas

          wkwkwkwk ….. suwun, cak 😀

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: