Mr. Rigen Mengerling Kenaikan Gaji

naik gajiMr. RIGEN, seperti sering saya laporkan di kolom ini, adalah seorang pengamat sosial yang baik. Kalau dulu dia mendapat kesempatan pendidikan yang baik serta hoki secukupnya, saya berani bertaruh dia akan bisa menjadi seorang ilmuwan sosial yang cemerlang. Atau kalau dia tidak tertarik dengan olah ilmu konvensional itu dan senang melatih keterampilan menulis atau mendapat kesempatan belajar memotret, aahh … dia pasti bisa menjadi jurnalis unggul. Dan kalau itu dia juga tidak tertarik, dengan mengandalkan pada insting tajamnya dan mau menulis saja, aah … dia pasti bisa menjadi penulis fiksi yang baik. Arswendo Atmowiloto, sahabat baik saya yang suka eksibionis pamer body meng-gligå di lobi Hotel Hilton itu tapi juga penulis fiksi yang sukses, bukankah pernah bila kalau menulis itu gampang ?

Begitulah, sore itu sambil memijit-mijit kaki saya yang mrongkol atos bin kêncêng, tiba-tiba saja pertanyaannya nyelonong begitu saja,

“Gaji Bapak itu kira-kira berapa nggih, besarnya ?”

Saya menggeliat. Wéh, ini dia. Pembantu rumah sudah berani-beraninya tanya gaji majikan ! Tapi, ah … dia bukannya sak baé-nya, sembarang, pembantu ! Dia batur, pembantu, yang mendapat rank direktur jenderal yang mengepalai satu kitchen cabinet dengan full staff, sênajan, meski itu anak istrinya sendiri. Nepotisme ? Ah, … mbok biar. Wong dia juga masih langsung datang dari dinasti keluarga petani tradisional di Pracimantoro. Yang penting ‘kan efektif, to ? Efisien juga ? Ah, … itu jargon jahat dari kamus hidup modern. Efisien itu mungkin tidak berapa perlu buat budaya petani. Yang penting itu efektif muråkabi, mratani, efektif berguna dan merata. Jadi kalau dia bertanya itu tentulah dalam kapasitas beliau sebagai dirjen.

“Gaji, Gen ?” jawab saya sambil menggeliat lagi.

Enggih, gaji Bapak itu lho, pintên ?

Lha, kamu tahu sendiri saya tidak pernah tahu dengan tepat. Sabên bulan tahuku tahumu juga, to. Saya terima amplop coklat yang panjang itu, bagi sana bagi sini, buat pos ini pos itu, anggaran kitchen cabinet, gajimu dan sebagainya. Tahu-tahu amblas semua.”

Ha, ênggih. Itu semua rak sagêd dikira-kira to, Pak ?”

Saya lantas begitu saja membuat perkiraan kasar dengan menyebut angka yang untuk telinga saya pun kedengaran fantastis. Fantastis merananya !

Wééhh, buuanyak dong, Pak !” teriak Mr. Rigen.

Saya terkejut ! Direktur jenderal saya yang menguasai anggaran rumah saya menganggap gaji saya buanyak !

Lha, sepuluh persen dari itu ya lumayan dong, Pak !”

Oh, itu rupanya ! Mr. Rigen, dengan insting observasi sosialnya yang dahsyat itu, rupanya mengikuti pidato Presiden dengan cermat juga.

Wooo … jêbul-nya itu to, Mister !”

Jêbul-nya bagaimana ?”

Lha, tahunya kamu cuma ingin tahu yang sepuluh persen itu, to ? Lantas kamu mau apa terusnya, hayo ?”

Mr. Rigen tersenyum. Kemudian dia melepaskan pijitannya. Saya pun lantas duduk menghadapi dia. Mr. Rigen lantas duduk bersila dengan sopannya.

Nuninggih, nuninggih, Sang Begawan. Nuninggih, nuninggih …

Mr. Rigen menghentikan kalimatnya. Saya masih diam mengamati dia.

Nuninggih, nuninggih, Sang Begawan. Nuninggih, nuninggih, nun …

“Oohh … nuninggih, nuninggih dhapurmu itu ! Kamu itu mau ngomong apa ?!”

Mr. Rigen klêcam-klêcêm, senyum-senyum. Ah … saya tahu ! Biangané tênan ! Rupanya dia sedang memainkan peran sebagai Petruk pada waktu menghadap Begawan Abiyasa. Pada akhir adegan, Petruk masih duduk nglésot di hadapan sang Begawan untuk minta sangu duit ! Caranya ya dengan nuninggih, nuninggih itu ! Sontoloyo tênan !

“Nggak lucu ! Petruk picisan !”

Mr. Rigen tertawa cêkakakan. Tiba-tiba dari belakang Beni Prakosa ikut-ikutan.

Nuninggih, nuninggih, Sang Begawan ….”

Dan tahu-tahu bêdhès cilik itu juga ikut-ikutan duduk bersila di belakang bapaknya. Di belakang, di pintu dapur saya lihat Mrs. Nansiyem yang pemalu itu, tersipu-sipu sembari menggendong anak oroknya.

Yo wis, yo wis. Memang saya ini juragan wayang-wong Sriwedari. Kalian mau kenaikan gaji juga, to ?”

“Lho, siapa yang bicara soal kenaikan gaji to, Pak ?”

“Ooh … dhapurmu ! Yang nuninggih-nuninggih itu tadi siapa ?”

Lha, ya … saya sama tholé itu.”

Nuninggih itu ‘kan artinya kamu minta duit to, seperti Petruk minta duit sama Begawan Abiyasa ?”

Lha, itu ‘kan Petruk Sriwedari. Nuninggih dia sama nuninggih saya ‘kan lain, Pak.”

Yo wis, kalau begitu. Kebetulan tidak ada kenaikan gajimu sak brayat.”

“Lho, Pak. Pripun ? Tidak ada kenaikan gaji meski hanya sepuluh persen ?”

“Lho, katanya nuninggih-mu itu tidak berarti duit ?”

Mr. Rigen klêcam-klêcêm lagi. Beni Prakosa, bêdhès cilik itu, juga mau ikut–ikutan klêcam-klêcêm bapaknya. Tetapi karena dia baru berumur lima tahun lebih sedikit, belum tahu teknik akting Stanislavski, Elia Kazan atau Elia Khadam. Klêcam-klêcêm-nya pun rådå kikuk. Bukan over acting, tetapi under acting. Kemudian Mr. Rigen memperbaiki duduknya. Begitu pula si Beni.

Nuninggih, nuninggih Sang Begawan. Nuninggih, nuninggih Sang Begawan …”

Saya tidak sabar lagi

Yo wis, yo wis. Mulai bulan depan gaji kalian juga naik sepuluh persen !”

Naaahh, rak ya begitu to Paak, Pak. Karuan lebih bêkti saya mengabdi. Merdeka, merdeka !”

Dan mereka pun lenyap di balik pintu dapur. Wééh, élok. Mau tetap jadi batur saja meneriakkan “merdeka” memenuhi kampung. Saya melamun. Kalau di sidang kabinet para menteri itu juga suka bilang, “nuninggih ……. nuninggih ……..” bagaimana ya ?

Yogyakarta, 9 Januari 1015

*) gambar dari mobavatar.com

Iklan

7 komentar

  1. Aku juga penggemar Pak Ageng aka Prof. Umar Kayam. Aku mesti ngguyu ngakak dewe lek moco artikel Almarhum. semoga Allah menjadikan tulisan-tulisan beliau ini menjadi amal jariyah untuk Pak Prof. Umar Kayam disana dan untuk Mas Teddy yang punya website ini. Aamiin

    Suka

  2. Dulu punya bukunya … hilang dipinjam … cari lagi susah …

    Suka

  3. Ngangeni … glenyengannya … monggo terus ditunggu berikutnya … Nuwun

    Suka

  4. Masya Allah, tampilannya jadi baru nih. Apik! Terusin, Mas. Saya pantengin terus nih. 🙂

    Suka

  5. salam kenal..
    sy penggemar berat umar kayam yang koleksi buku umar kayamnya lenyap bersama banjir bandang bengawan madiun tahun 2007.
    senang ada blog ini. sy baru tahu blog ini lho dari wwcrnya gus mul..
    terimakasih y..

    Suka

  6. masteddy · · Balas

    hehehe …. gak papa, mbak …
    nyasar ke sini ditanggung aman …. 😀
    ma kasih atas do’a kesehatannya ….

    Suka

  7. findleilla · · Balas

    pak teeeeee.. lha kok malah nyasar di sini ya saya ^^
    sy penggemar umar kayam juga loh.. dan buku ‘mangan ora mangan kumpul’ itu sempet bikin udan tangis gegara ilang dan gak bisa kebeli lagi.. hiks..
    semoga selalu sehat ya, pak teddy..
    salim..
    *find leilla*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: