Happy New Year

liburan-tahun-baruDALAM rangka mengelola bludrêg saya yang naik turun (pernah mencapai di atas 190 dan di bawah 110), minggu-minggu akhir Desember 1989 ini saya banyak istirahat di Jakarta. Juga karena biasanya tutup tahun saya tutup di tengah rêriungan keluarga. Kenyung, cucu saya, sekarang sudah berumur dua tahun, sudah biasa tåtå-jalmå sebagai layaknya keluarga homo sapiens.

Mutu pengacauannya serta penguasaan ngélmu ngobrak-abrik sudah semakin tinggi dan canggih sehingga semakin banyak barang-barang di rumah êmbah-nya yang harus diselamatkan. Lha, wong ya anak keturunan homo faber ! Terang saja suka kotak-katik tangan dan kakinya. Dan jangan dikira kalau kebisingan ocehannya serta gêlodhak-krompyang ulahnya akan menaikkan bludrêg saya. Oh, malah menurunkan !

Justru kalau bêdhès itu tidak dibawa êmbok dan bapaknya ke rumah kami dan keheningan mutlak menguasai ruang-ruang rumah kami, nyaris nir-swara, kami jadi senewen. Suara cucu memang obat ajaib …

Begitulah. Saya lebih banyak di Jakarta, akhir-akhir ini. Di sela-sela perjalanan jual kecap ke kota sana dan ke kota sini, di antara seminar ini dan itu, saya rileks mengelola bludrêg yang (biangané tênan !), kok ya, bandelnya setengah mati. Main sama cucu, jalan-jalan sama cucu, duduk rileks dan mencoba untuk tidak memikirkan Rumania-Panama, tidur.

Tetapi, toh kemarin ada juga kerjaan juga. Untung agak menyenangkan. Yaitu breakfast di Peacock Room di Hilton dengan seorang kawan konglomerat media massa. Dia ingin mendiskusikan sesuatu dengan saya.

Wééh, … élok. Untuk diskusi saja harus breakfast di Hotel Hilton, to ! Tetapi, ya sudah. Itulah gaya hidup modern barangkali. Di lobi hotel yang besar dan lumayan canggih interiornya itu, saya duduk di sofa Madura yang besar dan empuk. Bule berbisnis di sana-sini, Jepang bisnis juga berkedudukan di sana-sini dan satu dua orang yang berbaju safari kelabu ada juga yang duduk mengepit map di sofa-sofa Madura itu. Berani-beraninya ! AC lobi terasa sangatlah dinginnya di pagi hari itu.

Ada counter kopi di pojokan lobi. Bau uapnya harum. Bule bisnis, Jepang bisnis, mondar-mandir minta kopi. Saya ragu-ragu. Ingin sekali ikut-ikutan me-nyêruput kopi. Wah, … takut jangan-jangan disuruh mbayar.

Akhirnya saya putuskan tidak usah ikut nyêruput. Bukan karena minder harus mbayar seperti bule dan Jepang itu, kata hati saya. Bukan ! Tetapi karena bludrêg saya yang melarang minum kopi, kata otak saya. Ya toh, ya toh ?

Akhirnya sang teman yang mau nraktir breakfast itu datang juga. Somprèt ! Sejak dia melangkah menaiki tangga lobi suaranya sudah terdengar.

Sorry, sorry. I am late, I am late.”

“Nggak pa-pa, nggak pa-pa. Ayo makan. Sudah lapar, nih. Mana kedinginan.”

Sorry, sorry, …

Yes, you’re late, you’re late. Wis to, ayo mangan. Mana sih, Peacockmu ?”

Maka kami memasuki Peacock Room dan langsung memesan sarapan. Saya sih, maunya yang enak dan warêg, mengenyangkan. Nasi goreng. Eh, teman saya sang konglomerat mendhêlik-kan matanya.

“Ini breakfast di Hilton, tahu !”

“Lantas ?”

“Yaa … nasi goreng kalau di rumah saja. Di sini lainnya, dong !”

Lha, itu … bule-bule pada makan nasi goreng. Kok, saya tidak boleh ?”

“Biar bule atau Jepang itu. Kamu ti-dak bo-leh ! Ini saja dengan maple syrup. Nanti sirupnya dak grujug-kan !”

Wah, cilåkå. Guided breakfast menu ! Dak kira cuma demokrasi saja yang di-guided. Tahunya sarapan juga, lho ! Akhirnya kami pun sarapan menurut menu tersebut.

Tiba-tiba, bahu saya terasa digebuk tangan orang yang kuat. Buk ! Saya menoleh. Astaga ! Prof. Dr. Lemahamba, M.Ed., M.Sc., etc, etc.

Ha, … got you ! Ketahuan kamu. Kalau di Jakarta you lead a good life, heh ?!”

Saya akui, saya tersipu-sipu malu juga konangan Prof. Lemahamba. Bahkan sedikit panik juga, jangan-jangan dia mengira saya biasa breakfast di Hilton, jangan-jangan dia mengira hidup saya yang kéré di Yogya itu untuk menutupi kehidupan saya yang main tinggi di Jakarta, jangan-jangan …..

Aah … prèk ! Itu’kan gé-èr namanya. Kau ‘kan tahu, di mana-mana kau ‘kan tetap kéré, kata hati saya mengoreksi. Kau ‘kan malu bin panik karena kamu suka ngécé-ngécé gaya hidup Prof. Dr. Lemahamba di kolom KR ‘kan, koreksi kata hati saya selanjutnya. Dan sekarang kau ketangkap basah sedang makan di hotel. Lahap juga to, makan pancake yang di-grujug maple syrup, ejek hati saya.

Prof. Dr. Lemahamba, M.Ed, etc, etc, pun segera saya perkenalkan dengan teman saya, sang konglomerat media massa itu. Segera saja diskusi yang seharusnya terjadi antara saya dengan sang konglomerat, dia ambil alih. Saya jadi pendengar dan penonton yang baik. Artinya, kadang tersenyum, kadang manggut-manggut.

“Di mana Anda sekeluarga akan ber-old and new ?” tanya sang konglomerat.

This time ? Well, di Singapura saja, penyederhanaan, penghematan. Tahun lalu kami ke Hong Kong.”

“Aahh … kalau begitu cocok dengan prinsip saya. Penyederhanaan dan penghematan. Saya juga di Singapura saja this time. Lebih murah daripada ke Bali, lho. Tahun lalu kami sekeluarga di Phuket Island.”

“Aahh, Phuket. That’s a beauty ! Kami juga pernah ke sana.”

Dan dua orang itu menghela nafas sebentar, kayaknya membayangkan Phuket Island di Thailand itu. Saya juga ikut mencoba membayangkan pulau itu. Sia-sia, karena saya belum pernah didamparkan orang ke sana.

“Seharusnya satu kali kita harus tutup tahun di Maldives Island. Itu baru syuurr !”

“Aah, yaa … Maldives. Tahu, apa kata promosi pariwisata mereka ? Datanglah ke Maldives Island ! Nanti kami ajari Anda bagaimana caranya untuk tidak berbuat apa-apa. Tidak kerja apa saja. Asyiikk. Great, just great !

Dan kedua orang itu pun menghela nafas panjang lagi, mungkin membayangkan Maldives Island itu. Saya pun ikut membayangkan juga. Wah … lho kok yang terbayang malah buku pelajaran sejarah sekolah dulu. Maldives atau Maladewa sejak dulu sudah ada hubungan dagang dengan Kerajaan Aceh. Lha, dagang apa ? Gambir, pinang dan ikan asin. Masya Allah, lha sekarang yang mereka jajakan kok hanya pantai nan sepi untuk bisa dipakai gêlethakan dan tidak berbuat apa saja. Just rileks, menggeletak only.

“Tapi kalau mau ke Maldives, mulai tahun ini sudah harus book untuk tahun depan, lho. Pulau-pulau itu lakunya bukan main ! Untuk tidak melakukan apa-apa, orang sekarang bersedia membayar berapa saja, lho,” kata sang konglomerat.

Kedua orang itu pun kemudian saling pamit. Prof. Dr.Lemahamba, M.Ed, etc, etc sudah ditunggu keluarganya di lobi. Saya pun ikut pamit.

Well, buddy. Belum bisa diskusi kita hari ini. Some other time-lah. Temanmu is a great guy, lho. Cita rasanya maut. Ing ngatasé orang Gadjah Mada …”

Hessyy … jangan menghina almamaterku, lu ! Orang kayak gitu ombyokan di Yogya !”

“Aahh, yang benar ? Kasih saya barang lima biji saja !”

“Nanti dak carikan betul, glagapan, lu !”

Saya pun pelan-pelan turun tangga Hilton. Perutku terasa kenyang banget. Saya mengucapkan syukur kepada Sang Maha Pemurah.

“Ya, Tuhan. Saya mengucapkan syukur akan rizki yang Kau limpahkan kepadaku hari ini. Pancake dengan maple syrup dengan orange juice large …

Di dalam taksi Blue Bird, saya membayangkan malam tutup tahun di rumahku, di Cipinang Indah. Rêriungan di depan TV di tikar, untêl-untêlan gléthakan nonton TV. Tidak berbuat apa saja. Datanglah ke rumah kami, nanti kami ajari bagaimana caranya untuk tidak berbuat apa saja pada malam tahun baru …

Yogyakarta, 2 Januari 1990

*) gambar dari alexmahardika.blogdetik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: