Terpilih Santap Siang Bersama Pangeran Charles

pangeran charlesENTAH bagaimana mulanya, hari Sabtu yang lalu saya kêtiban pulung, kagêm dipun kêrsakakên, terpilih sebagai salah seorang yang yang ikut makan siang bersama Pangeran Charles, putra mahkota Kerajaan Britania Raya serta Pengeran dari Wales. Sebagai priyayi cilik di pinggiran Kerajaan Mentaram, Ngayogyakarta Hadiningrat, yang menjadi bagian dari Rekiplik Ngindonesia, tentunya saya gragapan jatuh bangun waktu mendapat pemberitahuan dari Kedutaan Inggris di Jakarta.

Katanya, Sang Pangeran ingin ketemu dengan sepuluh cendikiawan dari berbagai bidang yang usianya sebaya dengan beliau. Wéé … lha, sebaya ?! Wong usia saya itu paling tidak sama dengan Putri Margaret Rose, bulik-nya Pangeran Charles, jé ! Sebaya ?! Apa tidak keliru, nih ? Lagi pula, kenapa mesti saya ? Menurut saya, orang seperti sahabat-sahabat saya, Prof. Dr. Lemahamba, M.Ed, M.Sc, M.A, etc, etc … dan Kangmas Dr. Legowo Prasodjo jauh lebih pantas mewakili Yogya daripada saya.

Tetapi, toh akhirnya saya dan kolega saya yang memang masih sangat muda, seorang pakar kependudukan, yang kebetulan juga seorang pangeran ratu sebrang dari Pulau Bangka, yang terundang dengan tujuh orang lainnya makan siang di restoran Toba Rotiseri di Hotel Borobudur, Jakarta.

Mati aku ! Kok ya di situ, lho. Itulah salah satu restoran hotel di Jakarta yang sering saya rasani, saya gunjingkan, di kolom ini kalau keluarga saya sedang kumat keinginannya untuk berstatus-status sosial hingga suara makanan yang kita kunyah berbunyi “status, status, status …” itu.

Begitulah, datanglah hari Sabtu itu. Seluruh keluarga saya di Cipinang Indah ikut ribut menyiapkan bapaknya berbusana kebesaran. Adapun baju kebesaran itu dari ujung kepala hingga ke bawah adalah assembling, kolase, bagian dari berbagai sumbangan beberapa teman dermawan. Pakaian kebesaran itu adalah satu stel dark suit jahitan penjahit Djie Fen, langganan para menteri. Hèm-nya berwarna biru muda yang sangat soft, merk Polo, bergambar kuda (yang kakinya empat pertanda Polo asli, bukan Polo palsu yang berkaki dua atau tiga). Terus dasinya merah darah yang soft, made in Jim Thompson, industrialis sutera Bangkok yang hilang itu. Dan sepatunya, sepatu Sioux hitam bikinan Jerman (Barat, dong !). Kaos kaki navy blue merk Bally.

Di depan kaca, saya ingat waktu anak saya si Gendut kecil suka berkaca, mematut-matut diri sambil bilang,

Jailahh, kita ini …..”

Pokoknya siang itu saya kelihatan “jailahh” betul. Saya merasa paling tahu mengikuti protokol yang berharap tamunya memakai dark suit. Lha, wong jelek-jelek begini orang yang bernama Ageng ini ‘kan ya pernah kecipratan dunia internasional, to ! Cuma nasib saja yang ……

Di lobby Hotel Borobudur, saya ketemu dengan calon-calon tamu lain para cendikiawan muda kecuali Pak Fuad, Pak Bud – bekas boss di Deppen dan saya sendiri. Dua dari cendikiawan muda itu, Bung Tides, mantan redaktur almarhum Sinar Harapan dan Mas Jaya Suprana, boss jamu cap jago. Lho, mereka kok tampil dalam lounge suit versi mereka sendiri. Hèm batik, celana bukan wool dan Bung Tides bahkan pakai sepatu sandal (baru). Yah, … buat beliau-beliau itulah lounge suit itu. Pak Bud meledek saya,

Dak kirå Pak Ageng itu sudah seniman kelas berat habis-habisan. Eehh … ternyata masih kalah sama dua cendikiawan muda itu … “

Di meja dhahar yang oval itu kami duduk dan mulai dengan percakapan. Sang Pangeran ternyata tidak hanya cerdas, melainkan juga mendalam pengetahuannya dan luas perhatiannya terhadap berbagai bidang. Perubahan kebudayaan, rusaknya bahasa, kacaunya konsep arsitektur, menipisnya hutan tropis, menakutkannya masalah kependudukan. Dengan penuh perhatian beliau mendengarkan usaha kami menjelaskan dalam bahasa Inggris kromo hinggil Ngayogyakarta. Dan beliau menanggapinya dengan tangkas dan mendalam, pertanda bukan hanya pendidikan formal beliau yang bagus, tetapi juga penghayatan yang peka terhadap masalah tersebut. Agaknya beliau memang sedang disiapkan betul untuk menjadi raja.

Sebelum santapan dihidangkan, saya lirik menu yang dicetak indah di depan kami. Silakan dibayangkan ! Wine dari Rhine Riesling 1987 dan Cabernet Souvignon 1986. Jangan ditanya, lho, mana yang anggur merah mana yang anggur putih. Pokoknya, mak glêgêk, diminum semua. Lantas mak pyur kepala jadi berputar sedikit. Ning dengan begitu bahasa Inggris saya kok jadi lebih lunyu, licin dan lancar. Tênan !

Lha, santapannya ! Pertama, marinated salmon and shrimps on a bed of diced vegetables with mango and avocado. Ikan salmon dan udang di atas sayuran dan cuwilan mangga serta apukat. Lha, gèk bagaimana rasanya ? Terus sup. Red sweet pepper soup topped with snow egg and chives. Sop lombok merah dengan kublukan êndog putih dan batang sawi putih. Lumayan agak pedas.

Tetapi, eh … baru habis separuh sudah di-saut pelayan. Lha, wong saya sambil menerangkan sesuatu sama Pangeran. Tempo bahasa Inggris yang pelan bin nggêdhagêl itu tidak seirama dengan lajunya sendok sup. Mak syuutt … begitu saja diambil pelayan, dikira saya tidak doyan. Lha, puncak dari semua hidangan itu adalah main course, hidangan pokok. Roast duck breast flavoured with orange and ginger sauce seasonal vegetables served with tarragon butter hazelnut potatoes. Lha ini, pikir saya, dhådhå mênthok bebek panggang !

Tetapi waktu mas pelayan membuka hidangan yang ditutup tudung saji dari perak yang mewah itu, mak jrèèènggg … !!! Saya berharap akan menemui potongan dhådhå mênthok bebek panggang. Wéé … lha, jêbul hanya enam (ya, enam) irisan daging sak kelingking-kelingking tergeletak. Mati aku ! Pangeran dari Bangka yang biasa melahap daging rendang atau êmpal, cepat berbisik sama pelayan,

“Mas, mas … diganti daging êmpal boleh tidak ?”

Mas pelayan mêléngos.

Dan penutupnya ?! Buah-buahan yang ditaruh di nanas yang dipotong separuh badan. Itu belum semua. Sang nanas bersama buah-buahan itu ditaruh di atas angsa-angsaan dari es batu. Saya lantas ingat si Kenyung, cucu saya di rumah. Saya panggil juga mas pelayan,

“Mas, mas … kalau angsa es ini saya bawa pulang, boleh tidak ?”

Dengan mas pelayan berdikusi dengan koleganya, berbisik-bisik. Kemudian kembali berbisik kepada saya dalam bahasa Jawa,

mBotên sagêd, Pak. Lèdêr es-nya …”

Pada akhir santap siang yang canggih bin royal Kerajaan Britania itu, perut masih keroncongan karena lapar. Habis tidak ada sêgå, tidak ada nasi. Pangeran Bangka sudah memutuskan untuk menyambung di Warung Padang.

Di rumah, di Cipinang, saya lihat Bu Ageng menyambut dengan makan siang karena tahu suaminya pasti masih lapar. Menunya ; osèng-osèng kangkung, ikan bandeng presto, sayur asêm dan sambêl terasi Juwånå. Sedaappp …. !!!

Di rumah saya, di Yogya, saya Tanya Mr. Rigen apa menunya.

Jangan bobor bayêm, tempe bacêm, sambêl tempe bakar, bothok pêté bakar.”

Lebih sedaapp lagi. Saya tahu saya sudah kembali di haribaan bumi Mentaram.

Yogyakarta, 7 Nopember 1989

*) gambar dari detik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: