Saya Mengaku …

Sumpah-PemudaKOK kebetulan, lho, kemarin sore ada dua tamu yang terdampar di rumah saya. Yang satu adalah kakanda Dr. Legowo Prasodjo yang selalu jatmiko itu, dan yang seorang lagi adalah Pak Joyoboyo yang penjaja ayam panggang Klaten. Saya katakan “terdampar” karena mereka datang pada jam yang paling impossible buat orang bertamu, yaitu pada pukul 15.30. Waktu hari masih panas dan pada sebagian besar para priyayi di wilayah kami sedang enak ber-siesta alias tidur siang. Dan yang paling penting, pada waktu persediaan makan siang habis dan pada waktu orang sedang malas-malasnya membeli jajan makanan. Lantas, apa hubungan antara dua tamu “impossible” saya itu ? Begini !

“He, priyayi ! Bangun !”

Saya pun lantas gragapan bangun. Saya segera mengenali suara tokoh idola saya itu. Tokoh langka yang mungkin hanya satu di antara satu juta manusia.Tokoh yang tidak bingung melihat rekan-rekannya mulai mengganti mobil mereka menjadi BMW, Mercy Bulldog dan tanpa kêdêr terus menaiki Honda bebeknya dengan irama dangdut.

“Wah, Mas. Sampai gragapan lho, saya. Ada apa, ada apa, Mas ?”

“Oh, Allah … kamu itu bagaimana. Aku ini mengalami hari sial. Mana aku harus lembur di lab sampai jam segini. Eh, … rantang makan siang dari mBakyu-mu ketinggalan. Mana mau jajan, eh … mBakyu-mu lupa ngisi duit ke dalam dompetku yang sudah kosong. Mau minta traktir atau ngutang sama siapa ? Mosok sama pesuruh atau satpam ? Yang bênêr saja ! Dus …

Dus ?

Dus-mu itu ! Ya lapar, dong, aku ! Ayo … cepetan, Mr. Rigen-mu suruh menyiapkan makan siang, eh … sore, ding.”

Mati aku ! Orang yang tidak pernah menuntut dalam hidup ini sekarang dalam keadaan desperate, hilang akal, karena kelaparan. Dan mati aku, persediaan makan siangku habis lagi ! Nah, pada saat krisis itulah datang sang dewa penyelamat.

Pènggèng èyèm, pènggèng èyèm …. !

Wah, aneh betul ? Pak Joyoboyo datang pada jam segitu sore. Apa tidak keliru dia ?

“Wah, Pak Ageng. Kêtiwasan, … kêtiwasan ….

Saya lihat keringatnya dlèwèran, meleleh bah seantero leher.

“Tenang, … tenang, Mas Joyo. Kêtiwasan pripun ? Gen, ambilkan dulu minum banyu putih sobat kita ini !”

Pak Joyo segera membuka ténong-nya dan tampak jelaslah bahwa masih banyak dhådhå mênthok, tépong dan sate usus masih menumpuk dengan rapinya. Kalau Pak Joyoboyo gelap gulita pandangannya, saya malah jadi terang benderang. Saya menemukan jalan keluar buat makan siang Dr. Legowo Prasodjo yang terlambat dan sekaligus jalan keluar buat kemacetan jualan Pak Joyo.

“Geen, Mr. Rigen !”

Yess, inggih !

“Cepetan pindahkan glundhungan dhådhå mênthok dan tépong ini ke piring, lantas atur di meja. Di-tåtå dhahar-nya !”

Dengan sekali sebat Mr. Rigen melaksanakan perintah saya dengan efisien. Waktu saya duduk menemani Mas Prasodjo, dia tidak segera mulai makan. Saya agak heran mengingat sambat-nya yang sampai merintih. Kemudian dia angkat bicara.

“Ada yang kurang di sini, Geng.”

“Lho, apa yang kurang, Mas ?”

“Teman makan.”

Lha, saya ‘kan sudah duduk di sini to, Mas.”

“Tapi kamu sudah tidak kuat makan lagi, to ? Maksud saya teman yang ikut makan betulan sama saya di sini.”

Wah, cilåkå ini ! Lha, saya mesti cari teman makan itu di mana ? Saya lihat mata Mas Prasodjo yang legowo itu memandang Pak Joyo dengan ramah.

“Mas Joyo !”

Pak Joyo yang sedang ngukuti dagangannya terkejut dipanggil Dr. Legowo Prasodjo, nggak sari-sarinya

Nun, kulo, Pak Doktor.”

“Saya berani taruhan sama sampéyan. Sampéyan rak belum makan siang, to ?”

“Su – sudah, Pak Doktor.”

Mbèl ! Paling cuma wédang kopi dan nyamikan saja. Ya, to ?!”

Lha, iya, Pak Doktor. Wong hari ini hari prihatin. Tapi sebentar lagi saya jajan segå jangan di ujung jalan itu, wong sudah diborong sama Pak Ageng.”

“Daripada dipakai jalan ke sana, mbok makan di sini saja, nemani saya. Monggo, … monggo, Pak Joyo. Awas lho, Geng. Kalau kamu nggak mengijinkan ! Dak gibêng, kamu !”

Saya gêlagapan. Mungkin lebih dari terkejut daripada tidak setuju.

“Oh, … oh … oh … boleh, boleh saja. Monggo. Geen … piringnya satu lagi buat Mas Joyooo !”

Mr. Rigen datang dengan wajah terheran-heran. Begitu juga Beni Prakosa yang baru bangun tidur siang. Mengucek-ucek matanya.

Kagêm sintên, Pak ?”

“Buat Mas Joyo. Ayo, cepetan !”

Mr. Rigen dengan sedikit melongo menyiapkan piring dan sebagainya buat Mas Joyo yang dengan malu-malu duduk di depan Dr. Legowo Prasodjo.

Monggo, Mas Joyo. Dimulai makannya. Sing rahap, nggih !

Begitulah, Dr. Legowo Prasodjo mulai memberi aba-aba kepada partner late-late lunch-nya itu. Setiap kali Mas Joyo kurang agresif mencuil ayam, dengan ramah dan penuh gusto doktor kita merobek-robek dhådhå mênthok dan memindahkannya ke piring Mas Joyo.

Adegan lunch yang unik itu pun selesai. Pak Joyo, mungkin untuk menghindari kerepotan-kerepotan lain, segera mohon diri. Dan tidak lama kemudian, sesudah minum kopi dan bersendawa ‘hoèèkk’ yang agak melodius, Dr. Legowo Prasodjo pun minta diri pula. Ditepuk perutnya, kemudian juga bahuku.

“Terima kasih, ya. Good lunch !

Dan Honda bebek yang legendaris itu pun distarter beberapa kali, èjlèk-èjlèk-èjlèk dan howèr-howèr-howèr, mulai menjauh ke rumahnya di bagian selatan kota. Untuk ke sekian kali saya merasa diajari oleh Kangmas Legowo Prasodjo itu. Pasti adegan lunch itu bukan adegan untuk aksi-aksian dia yang sok merakyat. Kalau itu terjadi dengan Prof. Lemahamba mungkin aka nada perhitungan-perhitungan tertentu. Untuk jadi sekjen Golkar, misalnya. Tetapi, doktor nyentrik yang bernama Legowo Prasodjo itu nyentriknya, nyentrik yang wajar saja.

Mungkin dia hanya mau mengingatkan saya pada hari-hari kita ingat Sumpah Pemuda itu, kita masih terus solider sama rakyat kecil. Rakyat kecil yang sering kali terlambat, bahkan kelupaan, makan siang atau makan malam atau bahkan makan sepanjang hari.

Tetapi, ah … apa saya yang jadi bombastis bin keliwat sentimental, nih ? Rakyat kecil ? Siapa mereka ? Saya tidak tahu. Dalam perjalanan ke tempat tidur, untuk meneruskan tidur sore saya yang terputus itu. Di tempat tidur, waktu menerawang ke langit-langit, kok tidak kunjung muncul profil rakyat kecil itu. Sebaliknya muncul segepok, sederet wong ayu-ayu yang memegang gaun temanten dari kain satin halus, indah, sepanjang 200 meter …..

Saya mengaku berbangsa satu, saya mengaku bertanah air satu, saya mengaku berbahasa satu, saya mengaku, saya mengaku, saya menga …..

Yogyakarta, 31 Oktober 1989

*) gambar dari sidomi.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: