Biskuit

biskuitHARI Minggu sore yang lalu, saya pergi memenuhi undangan Prof. DR. Lemahamba M.Sc., M.Ed., etc, etc, untuk dolan rêriungan di rumahnya.

Why don’t you come to tea this Sunday ?” kata Bu Lemahamba dengan aksen British yang dikental-kentalkan. Terutama pada waktu mengatakan “tea”. Lidahnya digulung begitu rupa sehingga kata itu jadi kedengaran elok sekali “ttiiia”. Padahal coba kalau beliau mengatakan itu dalam bahasa Indonesia Yogya.

Ha, mbok njênêngan itu rawuh ngunjuk teh hari Minggu ini di rumah kami !”

Lha, … ‘kan lain efeknya di telinga Yogya ini. Tapi, ya sudah ! Wong the vast soils itu senangnya main british-britishan, kok. Mau diapakan lagi. Tur, demokrasi Pancasila, GBHN dan UUD ’45 itu menjamin kebebasan berbicara ! Mosok ngomong coro Inggris saja tidak boleh. Jênèh keterlaluan tênan !

Begitulah, saya datang sore itu dengan jip legendaris saya. Glodak-glodak, glodak-glodak … !

“Nahh, rak begitu ! You should come sering-sering here. After all njênêngan itu rak koleganya kåncå jalêr !

“Waahh … matur nuwun, Buu.”

Dan kami pun lantas duduk di teras sambil melihat lawn, halaman rumput mereka yang bagaikan padang golf mini. Begitu halus mulus rerumputan hijau itu.

“Enakan di sini. Udaranya fresh dan bisa lihat orang wira-wiri di jalan.”

Memang waktu duduk terasa udara yang fresh itu. Dan, eh, … betul juga orang memang wira-wiri di jalan. Kemudian sang pembantu datang membawa tea alias teh yang dijanjikan itu beserta uba rampé-nya yang lengkap. Ada assorted biscuits Verkade made in Holland, ada Jacobs crackers made in England dan ada lagi assorted biscuits Danish dari Denemarken.

Monggo, monggo, Pak Ageng. Dipun kêdapi sêdåyå. Kalau cara Betawi, mari sampèkan, sampèkan …

Saya mengangguk-angguk, masih takjub melihat hidangan biskuit yang tergelar di hadapan saya itu. Begitu wah ! Juga tehnya, … nyuuuss ! Pas betulnya sêpêt-sêpêtnya. Tidak kelewatan sêpêt, tidak kelewatan cuwèr. Mungkin karena masih clingak-clinguk tidak segera menyambar biskuit yang tergelar itu, nyonya rumah yang ramah itu segera menegur saya lagi,

Monggo to, Pak. Monggo. Jangan malu-malu, ahh … ! Atau, oohh … khawatir to kalau biskuit ini mengandung racun. Ditanggung bebas racun, Pak. Free from poisonta sudah ! Biskuit kami semua origineel, original, orisinil. Semuanya impor langsung dari toko-toko luar negeri. Monggo, monggo !

Saya tersenyum melihat dan mendengar keramahan nyonya rumah itu. Begitu canggih, begitu articulate, begitu micårå. Saya merasa bersalah sering meledek kecenderungan gaya priyayi. Wong ya kalau didengar dan dipandang juga begitu, begitu bolehnya pas, ngês, begitu priyayi, lho ! Dan ketika saya mulai me-ngrêmus salah satu biskuit itu mak krêpyêk, memang enak betul ! Saya lihat Bu Lemahamba melihat saya dengan penuh perhatian, sedang professor kita ikut senyum-senyum.

“Bagaimana, Pak Ageng ? Lain to dengan biskuit-biskuit bikinan sini. Bahkan yang asemblingan sini juga tidak seenak ini.”

“Wah, memang sungguh mak nyuuss, Bu. Hebat !”

Kami pun lantas omong ngalor-ngidul sembari ber-krêpyêk-krêpyêk me-ngrêmus biskuit luar negeri itu.

“Wah, Bu, while kita makan biskuit enak ini, I feel guilty, lho.”

“Lho, guilty bagaimana to, Pak Ageng ?”

Ha, ênggih to, Bu. Kita enak-enakan di sini makan biskuit, anak-anak kampung makan biskuit local pada mati.”

Pasangan suami-istri itu berpandangan, kemudian manthuk-manthuk, mengangguk-angguk. Kemudian mereka pun meraih satu, dua biskuit dari kaleng Verkade dan Danish. Nyuuusss … krêpyêk, krêpyêk, krêpyêk, krêpyêk. Akhirnya Prof. DR. Lemahamba M.Sc, etc, etc, yang sejak tadi cuma senyum-senyum saja mulai mêdhar sabdå.

“Geng, don’t be naive sentimental. Jangan kebangetan to bolehmu sentimental. Kamu ngomong begitu itu ‘kan takut dikatakan tidak membela rakyat kecil, to ? Onzin ! Kamu, saya, sudah memberikan share, urusan kita kepada rakyat kecil duluuu waktu revolusi. Salah-salah kita ‘kan dulu ya bisa mati semua ‘kan ? Orang mati itu nasib, Geng. Untung-untungan ! Kita beruntung bisa survive, bisa hidup. Lha, rakyat kecil yang kau tangisi itu banyak juga yang beruntung lho, Geng. Berbahagia.”

“Beruntung bagaimana, bahagia bagaimana, Prof ?”

“Ya beruntung bisa survive, bisa hidup. Bahagia masih bisa cari makan.”

Tiba-tiba saya jadi pusing. Kena vertigo kecil-kecilan mendengar fatwa Prof. itu. Sesudah agak tenang kembali saya lantas bicara.

“Tapi hidupnya itu bagaimana ? Bahagia bisa cari makan yang bagaimana ? Mereka ‘kan tetap taruhan terus hidupnya ?”

“Apa kamu dan saya tidak taruhan hidup ini ?”

“Mungkin. Tapi ‘kan kemungkinan untuk menang taruhan masih besar kita. Apalagi Prof. Tapi orang-orang itu ?”

“Ya, itu yang disebut untung-untungan itu, Geng ! Mereka sering kalah, yak arena mereka tidak beruntung sekolahnya tidak tinggi, tidak bisa dapat kerja dengan gaji cukup, rumahnya reyot, kampungnya kumuh. Ya, itu perjuangan hidup, Geng. Kasihan ? Ohh, ya kasihan. Tapi kita bisa apa ? Coba kau bisa apa kalau begini ? Mau demonstrasi di jalan ? Berani kamu ? Pakai dong taktik, strategi dan kepala dingin.”

Dan sekali lagi tangan Prof. kita itu mak tlolér, meraih biskuit, kali ini milih Jacobs crackers. Mak krêmus, mak krêpyêk ! Nyuuusss …. Nyuuusss …. !

“Ayo, Geng. Help yourself, help yourself !

Enggih lho, Pak Ageng. Monggo, Pak. Monggo … !

Saya tidak mendengar ajakan mereka lagi. Perutku mulês. Dan aneh sekali, Verkade, Danish dan Jacobs itu tidak berbau harum lagi, tidak terasa nyuusss lagi. Saya pun lantas pamit dengan dalih sudah malam dan harus koreksi makalah para mahasiswa.

Di rumah saya temukan Mr. Rigen and family sedang rêriungan di ruang belakang, di markas mereka. Saya selalu senang melihat kalau sedang rêriungan begitu. Itu yang saya pahami sebagai kebahagiaan kecil. Tetapi saya lihat Beni Prakosa sedang ngambek, mrêngut.

“Bosan, Pak. Jêlèh, Buk. Tiap hari kok nyamikan sorenya télå rebus, pisang rebus. Kok sudah lamaaa sekali tidak pernah beli biskuit !”

“Lho, ‘kan sudah dibilang di koran sama Pak Ageng, kalau biskuit itu ada racunnya. Bu gurumu bilang begitu juga ‘kan ? Mau mati apa kamu makan biskuit ?!”

Mrs. Nansiyem segera pula menyambung,

“Jadi anak itu sing nrimå ya, . Terima apa yang diparingi Gusti Allah. Nanti kalau biskuitnya bebas racun, dak belikan sak blèk …

Saya mengelus dada dan grêgêtan karena terbayang Verkade, Jacobs dan Danish di rumah Prof. DR. Lamahamba etc, etc, itu. Lantas terloncat begitu saja dari mulutku,

Wis, … wis, … wis, … jangan khawatir. Besok dak belikan Verkade, Jacobs dan Danish …

“Lho, apa itu, Pak ? Apa itu, Pak Ageng ?”

Saya tidak menjawab. Sambil masuk kamar kerja mulutku ternyata masih komat-kamit, Verkade, Jacobs, Danish, Verkade, Jacobs, Danish …..

Yogyakarta, 24 Oktober 1989

*) gambar dari portalcamilan.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: