Mr. Rigen dan Api PON

kirab api PONWAKTU api PON lewat Yogya, Mr. Rigen dan Beni Prakosa pergi menonton juga di pinggir jalan. Saya senang dengan partisipasi mereka dengan peristiwa nasional yang penting dan besar itu. Setidaknya itu menandakan adanya kesadaran mereka sebagai warga negara yang baik. Padahal saya tidak pernah menyuruh direktur kitchen cabinet saya itu untuk begitu-begitu. Mungkin dampak penataran P4 dari Prof. Lemahamba M.Sc., M.A., M.Ed. untuk para pembantu rumah di kompleks kami tempo hari sudah mulai kelihatan hasilnya yang positif. Bahwa pada Mr. Rigen sudah merasuk kesadarannya menjadi warga Negara dan ber-Pancasila …..

Waktu mereka pulang, saya lihat bapak dan anak itu kelihatan capek, keringatnya dlèwèran di leher mereka. Beni Prakosa kelihatan antusias sekali.

“Apik, , api PON-nya ?”

“Wuaahh, … bagus sekali, Pak Ageng. Obornya besar menyala terus. Dan yang lari itu gagah-gagah, Pak Ageng. Saya juga dibelikan es tung-tung dan krupuk chiki sama Bapak. Enaakkk. Sésuk lihat api PON lagi ya, Pak ? Terus beli es dan chiki lagi ?”

Hessyy …. sak énak-nya saja. Memangnya duit bapakmu kayak air di sumur apa ? Sana , mandi dan ganti baju !”

Saya agak heran melihat Mr. Rigen agak sêngak begitu kepada anaknya. Biasanya dia akan tertawa-tawa saja mendengar tuntutan anaknya yang seperti itu. Dan saya juga melihat mukanya kelihatan tidak seantusias anaknya sehabis melihat api PON itu. Sehabis mengatur anaknya di belakang, Mr. Rigen menemani saya di ruang duduk.

“Pak, uang satu miliar rupiah itu banyaknya seperti apa, Pak ?”

“Wah, kok tiba-tiba tanya uang sak miliar. Habis menang lotre apa kamu ?”

Enggih mbotên, Pak. Saya hanya kepingin tahu, gèk banyaknya seperti apa uang sebanyak itu.”

“Wah, … ya okèh bangêt, Gen. Sak pêthuthuk besaarr sekali. Lha, uang sak juta-juta, ‘kan ya banyak itu namanya. Ada apa to, Gen ? Kok bolehnya getol nanya ?”

Niku lho, Pak. Menurut berita di koran, ongkos membawa lari-lari api PON itu kok sampai sak miliar lebih. Wong cuma bawa lari api begitu saja, lho. Gèk yang bikin mahal itu apanya, Pak ?”

Wah, lha ini. Rakyat mulai bertanya, mungkin setengah menggugat.

“Begini lho, Gen. Semua itu pakai ongkos di jaman modern ini.”

“Ya, apa betul, Pak ?”

“Lho iya, Gen. Orang begitu banyak lari-lari, para priyagung diundang, kursi-kursi yang mesti disewa, tenda-tenda yang mesti dibangun, dan lain-lainnya itu. Semua mesti bayar.”

Wah, mbotên mudhêng kulå. Lari-lari kok dibayar itu apanya yang dibayar ?”

“Lho, ya kaosnya, sepatunya, kolornya … “

“Iya. Tapi apa ya sampai sak miliar to, Pak ? Wong cuman kathok kolor, kaos sporet, sepatu putih begitu saja, lho ?”

Husyy … ya tidak cuma itu, Gen. Buanyaakk sekali yang mesti diongkosi. Malah yang lari-lari itu mungkin tidak dibayar. Ning uba-rampé peristiwa itu rak ya mahal to, Gen.”

Kulå têtêp mbotên mudhêng, Pak. Sak miliar jéé … ”

Ning kamu rak sênêng to lihat ramai-ramai begitu ? Ombyaking uwong, raméné suårå, lihat para priyagung bagus-bagus, ayu-ayu, mobilnya serba mengkilap. Bangga to, kamu sebagai warga Indonesia ?”

Saya lihat Mr. Rigen diam saja. Mukanya kelihatan nglangut, menerawang ke atas.

“Wah, … kalau duit sak pêthuthuk itu buat bikin sumur-sumur air di Praci sana, gèk dapat berapa ratus atau ribu sumur ya, Pak ? Wong desa saya itu dari dulu kok tidak pernah kenal air … “

Saya tidak mendengarkan lebih lanjut ngunandikå yang menerawang itu. Saya takut akan ikut larut hanyut. Saya batalkan rencana untuk menjelaskan kepadanya tentang pentingnya suatu pecan olahraga yang kolosal buat seluruh negeri ini. Saya merasa akan sia-sia saja menjelaskan itu.

Yogyakarta, 17 Oktober 1989

*) gambar dari beritadaerah.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: