Buk – Ginebuk

mepe kasurMESKIPUN Mr. Rigen sudah berpangkat dirjen dan kedudukannya setaraf dengan chef dari kitchen cabinet, sekali-sekali dia bisa bego juga. Barangkali ini bukan monopoli Mr. Rigen saja. Agaknya hampir semua pembantu rumah tangga yang berpengalaman dan sudah memiliki keterampilan bertaraf internasional seperti Mr. Rigen pun kadang-kadang masih membutuhkan kebegoan itu. Kayaknya kebegoan itu berfungsi sebagai tonik, sebagai jamu untuk mengatasi kejenuhan menjadi pembantu rumah tangga yang pintar dan cakap.

Konon, pakar ngélmu yang paling canggih pun membutuhkan kebegoan itu. Katanya untuk mencegahnya dari kesempurnaan. Elok tênan. Orang yang kecakapannya hanya rata-rata seperti saya saja, sehari-hari mesti bersusah payah membebaskan diri dari kepungan kebegoan, ini kok malah membutuhkan kebegoan sebagai tonik. Elok tênan dunia ini.

Demikianlah, pada suatu hari saya mendapatkan ada bau pênguk bin sêngak di kamar tidur saya, waktu baru pulang dari Jakarta. Wah, gawat nih ! Dak cora-cari di seantero kamar dan di segenap penjuru, biang kerok dari bau tersebut. Eh, tahunya malah merata di seluruh kamar. Waktu saya lihat, baju yang bergelantungan itu pada jamuran. Sepatu-sepatu di rak juga demikian, menyandang penyakit panu di sol dan di pinggir-pinggirnya. Wah, gawat nih. Kemudian saya sibak seprei tempat tidur saya. Jrèèèng ! Jamur ada dimana-mana, hampir menutupi seluruh permukaan kasur.

“Mr. Rigen, ….. Mr. Rigennn …. !!!”

Yes, inggih, dalêm !

“Sini ! Cepaatt .. !!”

Inggih, dalêêmm, yess .. !

“Sini. Sini cah bagus ! Sini, masuk kamar tidur saya !”

Dan telinganya pun saya cêngkiwing. Saya tarik masuk ke dalam kamar tidur. Bêdhès cilik Beni Prakosa melihat telinga bapaknya saya cêngkiwing malah tertawa-tawa, mengikuti kami dari belakang sambil me-nyêngkiwing telinganya sendiri.

“Coba longokkan kepala … !”

“Kepala, Pak ?”

“Iya, cah bagus, masukkan muståkå panjênêngan ke dalam kloset lemari pakaian. Sudaahh ?”

Sampun, Pak.”

“Apa yang kau lihat, Mister ?”

Lha, nåpå to, Pak ? Wong cuma pakaian yang bergelantungan.”

“Betul ! Dapat seratus ! Coba lihat baik-baik yang melekat di baju-baju itu. Ayo, lihat !”

Mr. Rigen melihat baju-baju itu dengan seksama. Kemudian meringis.

“Wah, jamur. Lha, kok ada jamur begini banyak, pating tlêmok.”

“Nah, sekarang sama anakmu periksa sepatu dan seprei !”

“Wah, kok ya jamuran semua, lho. Gèk ya kapan jamur-jamur itu tumbuh ya ? Kayaknya kemarin itu …”

Hessyyy … tidak usah kayaknya-kayaknya. Wong aku pergi ke Jakarta seminggu, lho ! Kalau kamu tiap hari membersihkan dengan baik, pasti tidak ada jamur itu. Ayo, keluarkan semua ! Digodok, dilap dan kasur itu dijemur, digebuki. Kalau tidak beres kerjamu, dak gebuk kamu !”

Tiba-tiba si bêdhès cilik Beni ikutan nyelonong ngomong,

“Horeee … Bapak mau digebuk Pak Ageng ! Bapak mau di …… !“

Hussy ! Diam kamu ! Bocah cilik ikut-ikutan ! Dak gebuk pisan kamu … !”

Beni Prakosa pun langsung diam dibentak bapaknya. Sebab bentakan bapaknya kali ini adalah bentakan orang yang sedang kepepet, karena merasa bersalah terhadap boss-nya. Mereka pun, Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dengan menggendong Septian, mengeluarkan sepatu-sepatu, kasur, bantal dan guling yang ada di kamar tidur saya. Kemudian dijemur di bawah terik matahari.

Coba, to ! Itu semua ‘kan kebegoan yang tidak perlu terjadi, to ? Wong itu semua sudah menjadi bagian dari pekerjaan rutin mereka. Dan mereka dapat mengerjakan semua itu dengan tingkat kepakaran yang tinggi dan canggih. Menggebuk kasur itu bukan sembarangan gebuk, lho ! Bukan asal bak-buk, bak-buk saja, lho ! Toh, kebegoan itu terjadi. Jadi mungkin saja ‘kan kalau mereka membutuhkan kebegoan itu.

Mereka, bapak-beranak bekerja dengan tekun dan penuh dedikasi. Suara bak-buk, bak-buk, terdengar dengan sangat ritmis sekali. Suara Mr. Rigen terdengar berwibawa, ngêboss-i. Kalau sudah begitu seluruh anggota staf kitchen cabinet itu akan tunduk setunduk-tunduknya (terima kasih Pak Sutan Takdir Alisjahbana).

Kemudian suara itu hilang. Ah, … pastilah mereka sudah selesai bekerja. Saya pun lantas keluar untuk menginspeksi hasil kerja mereka. Jamur di baju, sepatu dan bantal-bantal itu masih tersisa di sana-sini. Dan yang di kasur, masya Allah, kok masih tebal jamur-jamur itu. Lantas, buat apa bak-buk, bak-buk tadi ? Bukankah mereka ahli dan pakar gebuk ? Eh, … kok hasilnya segitu saja. Ah, … itu bukan lagi kebegoan yang dibutuhkan.

Bukan lagi satu necessary kebegoan ! Ini kebegoan yang berbatasan dengan sabotase ! Ah … sabotase ! Sa-bo-ta-se ! Berani-beraninya mereka melancarkan sabotase. Ini sudah makar namanya. Mau merongrong kewibawaan konstitusi rumah saya. Sabotase ! Maka saya pun buru-buru pergi ke belakang, ke kamar mereka. Astaga ! Saya lihat mereka sedang rêriungan sembari mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh. Trèmbèlané tênan !

Haraa … to ya ! Kerja belum beres sudah pada klékaran !

Mereka pun terkejut, byayakan berdiri. Mrs. Nansiyem buru-buru mencabut sedotan anaknya. Beni loncat-loncat dan Mr. Rigen meloncat berdiri, kemudian clila-clili ngapurancang di depan saya.

“Kamu itu apa-apaan ? Kerjamu kok jadi sak enak wudêl bodong itu, bagaimana ?!”

“Kami sudah kerja keras nggêbuki semua lho, Pak.”

Nggêbuki ! Nggêbuki ! Yang penting itu hasilnya, monyong ! mBok ya kalian seribu kali gebuk bak-buk bak-buk, kalau tanpa metoda, mana bisa hasilnya baik ? Yang saya heran itu, kalian ‘kan sudah ahli to, dalam gebuk-menggebuk ini ?”

Kamar itu jadi hening, tidak ada suara belalang ngalisik. Semua menundukkan kepala.

“Saya kok curiga kalian mau sabotase. Iya, ya ? Mau nyabot saya, ya ? Ini sudah di luar aturan permainan rumah ini. Kalau kalian memang mau begitu, apa boleh buat, Mister. Tidak peduli kamu dari kerajaan Praci. Sudah ikut saya lebih dari sepuluh tahun. Tidak peduli istrimu perempuan, anak-anakmu masih bocah, sorry maar zeg, kalian terpaksa harus, mesti, dak gebuk !”

Saya pun mengayun-ayunkan gêblèk kasur di tangan. Mereka pun dengan suara koor, suara satu, dua, tiga, empat, memohon ampun.

“Ampun, ampun, ampun, … Pak.”

Maka mereka pun meneruskan pekerjaan gebuk-menggebuk lagi. Suara bak-buk, bak-buk terdengar lagi. Kali ini sudah dengan penuh gusto. Tapi, eh, … apa yang saya dengar ?

Kowé kalo tidak nurut sama saya, dak gebuk tênan lho, Bu. Wong kerja kok acak-acakan !”

Kowé kalo nakal terus, dak gebuk tênan lho, Ben. Dari tadi kok ngganggu saja !”

Wéé … lha, kok kerja gebuk-menggebuk jadi hierarkis begini. Jadinya terus buk-ginebuk.

Yogyakarta, 26 September 1989

*) gambar dari news.detik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: