Tapa

terapi pasir panasHARI Minggu kemarin Pak Joyoboyo saya panggil ke rumah. Dengan gesit dan gembira dia pun melangkah masuk ke halaman, dielu-elukan oleh Beni Prakosa dan adiknya, Ade Septian, yang sekarang sudah satu tahun dan mulai belajar jalan di-tétah bapaknya. Sudah amat lama beliau tidak saya singgahkan, karena di samping saya terlalu sering ke luar kota, juga akhir-akhir ini rada bosên ikan ayam.

Pasal dia saya panggil Minggu pagi ini karena ibu saya di Pogung sedang kena serbu menantu dan kawan-kawannya sehingga saya anggap baik juga kalau saya bisa sedikit membantu logistik ibu saya. Maklum logistik pensiunan. Lha, buat Beni kedatangan Pak Joyo tentunya itu obat kangen yang menyenangkan karena sudah sekian lama tidak menikmati sate usus Klaten.

Kulo nuwun, Pak Ageng. Bapak itu jiaaan têgêl-nya mbotên kintên-kintên, lho !”

Saya sudah memperhitungkan salam keluhan yang bernada khas Joyoboyo itu.

“Lho, têgêl bagaimana ?”

“Ha, ênggih to. Sudah sejak tahun Dal Bapak me-njothak saya. Nggak pernah panggil-panggil saya lagi !”

“Ya, begitu saja kok têgêl to, Pak. Yang penting hubungan batin itu tetap ada, toh ?”

“Hubungan priyagung sama wong cilik niku tidak cukup hubungan batin to, Pak Ageng. Hubungan itu mesti agak materil juga.”

“Nåpå ? Apa, Pak Joyo ?”

Matêril. Matril.”

Wééh … materiil to, maksudnya ?”

Ha, ênggih to, Pak. Materiil itu jan-jan-nya rak ya arto, uang to, Pak ?”

“Eeee … tahunya kok ya cuma itu.”

Lha, arto jé, Pak. Buat kami wong cilik ‘kan ya penting sekali.”

“Ya sudah. Kali ini dak beli yang banyak. Dhådhå mênthok lima, tépong lima. Lha, sate ususnya dua saja buat bedhes Beni itu.”

Saya tidak perlu berlama-lama menunggu. Seperti biasa, sambil mengobrol, Pak Joyoboyo sudah mengatur konfigurasi perang Garudå Nglayang dengan dhådhå mênthok, tépong dan paha-paha ayamnya. Dan Beni Prakosa dengan sebat sudah menyambar sate usus jatahnya.

Sehabis itu seperti biasa saya lèyèh-lèyèh di tikar sembari membuka-buka koran edisi Minggu dan sekali-sekali memalingkan muka ke layar teve. Dan seperti biasa pula kalau berjumpa begitu terjadilah dialog filsafat tinggi antara Pak Joyoboyo dengan Mr. Rigen. Saya pun lantas setengah memasang telinga.

Wééh … Mas Rigen, sudah lama ya kita tidak jagongan. Majikan sampeyan men-jothak saya begitu lama, sih.”

“Ya mbotên to, kalau men-jothak. Wong Pak Ageng niku jan-jané trêsno kok sama sampéyan. Sekarang ini ada kabar nåpå yang hangat, Mas Joyo ? Sampéyan yang keliling ke antero negeri menjunjung ténong ayam panggang, mestinya tahu kabar yang hangat.”

“Kabar hangat ? Ya cuma perkara orang tåpå pêndhêm itu lho, Mas. Wong jaman sudah seperti sekarang kok ya masih ada yang tåpå pêndhêm, lho ?”

Woo, … lha kalau itu saya ya sudah baca di koran. Ning apa ya kabar itu jadi sumrambah ke mana-mana, Mas ?”

Woo, … lha iya. Di bis, di kol, di warung orang ramé membicarakan, jéé !”
“Terus, yang diherani itu apanya, Mas ? Pêndhêm-nya, niatnya atau apanya ?”

“Ya semuanya, Mas. Orang-orang itu tertarik karena tidak umum lagi to, tåpå yang seperti itu. Orang-orang itu kagum karena orang berani nekat dan me-mêndhêm-kan dirinya ke dalam tanah. Padahal mereka itu ‘kan ya sudah tåpå to, Mas Rigen ?”

Tåpå pripun ? Apa mereka berani me-mêndhêm-kan diri mereka ?”

“Lhoo, … ya tidak mêndhêm diri begitu. Ning semua wong cilik yang hidup susah itu ya sudah tåpå to, Mas Rigen.”

Mr. Rigen diam sebentar. Mungkin kena tembakan falsafat Pak Joyoboyo itu lantas terdiam. Mungkin juga ditambahkan dengan manggut-manggut apa.

“Iya, ya. Ning tåpå terus-terusan itu hasilnya apa, Mas Joyoboyo ?”

“Ya, untung-untungan. Ada yang kabul kajaté, terkabul apa yang diinginkan. Ning ya banyak yang beginiii saja. Seperti saya ini tåpå abadi namanya.”

Mr. Rigen terdiam lagi. Mungkin filsafat Pak Joyoboyo kali ini terdengar sinis betul. Bahkan tidak memberi peluang untuk berharap-harap.

“Wah, kayaknya kalau tåpå-nya wong cilik itu sedikit ya kabul kajaté. Lha, wong lahir procot sudah disuruh prihatin, tåpå to kita ini. Lha, sampèk tuwå begini kok ya nggak ada maju-majunya.”
Mpun, mpun, Mas Rigen. Jangan sedih-sedih. Wong itu nasib kok disedihi. Yang tåpå pêndhêm itu jiaan orang aneh betul. Kalau seperti kita ini tåpå ning sekali-sekali beli SDSB siapa tahu dapat narik. Lha, … jebol nasib kéré kita. Sudah ah, … saya mau jalan lagi. Ayamnya masih pating ngglundhung dalam ténong.”

Lantas tidak lama kemudian, sesudah terdengar pintu samping berderit ditutup, Pak Joyoboyo berkoar-koar,

“Pènggèng èyèm, … pènggèng èyèm … !“

Di kamar, seperti biasa sehabis mendengar dialog filsafat kerakyatan begitu, saya tercenung sebentar. Kok begitu ya, mereka memandang hidup mereka ? Kadang-kadang pasrah dengan penuh optimism dan kegairahan. Kali ini pasrah tetapi dengan sentuhan sinisme, tidak terlalu optimis dan tidak terlalu bergairah.

Saya pun lantas ingat sahabat yang saya kagumi, Prof. Dr.Lemahamba dsb, dst, dll-nya itu. Satu kali dia juga pernah mendiskusikan soal prihatin dan tåpå dengan saya.

You know something, Gen ?”

What, … what … ada apa, Mas ?”

“Begini-begini kita juga prihatin bahkan tåpa, lho.”

“Wah, … élok. Lha, what do you mean exactly by that, to, Mas Prof. Lemahamba ?”

Elhoo, … you don’t know, toh ?! Kita ini manusia kerja keras. Itulah tåpå kita yang menghasilkan rezeki kita.”

Lha, itu you. Lha saya, kerja keras kok ya begini-begini saja ?”

Lha, you kurang keras kerjanya.”

Elho, … kurang keras bagaimana ? Saya blêbar-blêbêr jual hawa di mana-mana itu apa ?”

“Lhoo, … bukan keras macam itu. Itu kerja kerasnya kuli atau paling kerja kerasnya Mr. Rigen-mu itu. Yang saya maksud tåpå itu kerja keras pakai otak kreatif dan lihai. Itu tåpå modern, Geng.”

“Waahh, … kalau begitu menteri-menteri, baik sipil atau bukan, itu tåpå semua. Gêntur lagi !”

“Persis, Gen. Persis. Now you are talking ! Yak ! Mereka itulah pertapa-pertapa ulung kita. Kalau saya, tåpå saya tåpå ngèli, tåpå menghanyutkan menurut arus sungai. Ikutilah kalau mau sukses dan slamêt, ngèli … ngèli … ngèli …..”

Ngèli, ngèli, ngèli … ! Eh, kok saya malah terbayang Kang Mas Prasodjo Legowo atau Legowo Prasodjo …..

Yogyakarta, 19 September 1989

*) gambar dari republika.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: