Di Rumah Kami, Demokrasi Selalu Menjadi Prinsip, Namun Sulit Dilaksanakan, Soalnya …

NO DEMOCACY.SEBAGAI seorang yang sudah terlanjur kena apa yang disebut “racun pendidikan Barat”, tentu saja demokrasi dan keterbukaan adalah prinsip yang sudah menjadi ganyangan dan minuman saya sehari-hari. Setiap kali saya membaca di Koran ada pedagang informal diubêr-ubêr, tanah-tanah petani digusur, majalah atau Koran dibungkam atau ditutup, sedihlah hati saya. Kok ya tega-teganya mereka yang lulus P4 dan sudah ndrêmimil hafal jurus-jurus demokrasi Pancasila itu melakukan hal-hal seperti itu. Apakah kekuasaan itu begitu nikmat dan menyilaukan sehingga sanggup menutup jurus-jurus P4 yang sudah mereka hafalkan dan kuasai itu ?

Di rumah saya di Cipinang Indah, Jakarta, saya dorong tumbuhnya oposisi untuk menjaga agar jurus-jurus P4 (tempo hari saya lulus no.1 sak DIY, lho) yang sudah saya kuasai plus ‘racun-racun’ dari John Stuart Mill, Milton, Voltaire, Jefferson dan entah siapa lagi, tidak tertutup kabut kekuasaan yang sering kali memang rådå absolut di tangan saya. Oposisi itu tentu saja datang dari si Gendut yang sangat gigih mempertahankan hak jatah uang saku dan makan luar sekali sebulan.

Dan oposisi tunggal itu sering kali juga digabung dengan oposisi dari kubu-kubu si mBak dan Bu Ageng yang dengan ketat mengontrol hak budget rumah tangga kami serta extra kurikuler “activity” saya.

Sebagai seorang demokrat sejati, tentulah oposisi itu saya pupuk dengan gembira. Bahkan kalau sampai agak lama mereka adêm-ayêm saja, saya dorong-dorong untuk mengkritik, mengontrol dan menghantam saya. Ayo, oposisi, opisisi. Ayo, kritik, kritik. Ayo, hantam saja, hantam saja. Wong demokrasi, kok. Ayo, … mumpung punya bapak demokrat sejati bin konsekuen.

Sampai pada suatu hari,

“Eh, … Kap. Saudara Bokap.”

Saya yang baru setengah memejamkan mata, istirahat dan lèyèh-lèyèh di dipan mêngêluk gêgêr yang capek karena baru datang dari Yogya, rådå terkejut dipanggil Bokap oleh si Gendut.

“Ada apa, nDut ?

“Ada apa ?! Ini sudah tanggal berapa ?”

“Tanggal ? Tanggal delapan. Emangnya kenapa ?”

“Kok masih tanya kenapa, sih ? Katanya orang itu harus tahu kewajiban.”

“Wah, kewajiban ? Aku ada kewajiban apa sama kamu, nDut ? Capek-capek dituntut kewajiban. Sana, ah. Bapak mau tiduran dulu.”

Be, tanggal delapan, nih. Tanggal delapan, Be !

Heissyyyyhh … tanggal delapan ya tanggal delapan. Tapi nanti !”

Si Gendut kok jadi rådå mêngkêrêt juga mendengar suara saya yang penuh wibawa kêsêl itu. Saya pun lantas melanjutkan tiduran saya dan Gendut pun mundur teratur.

Pukul tujuh malam saya dibangunkan oleh Gendut. Kali ini saya lihat Gendut sudah rapi jali. Bahkan rada menor berbau wangi. Untuk ke sekian kalinya saya diingatkan bahwa anak wuragil saya itu sekarang sudah benar-benar dewasa. Sudah young lady yang benar-benar young lady. Setiap kali diingatkan begitu hati ini mak pang, jadi rådê anglês juga. Tetapi meski begitu suara ini kok keluarnya suara penguasa.

“Mau ke mana, elu ?

“Nah, itu. Kalau tadi saya diberi kesempatan cerita, sekarang ‘kan Bokap tahu aku mau ke mana !”

“Iyaa. Mau ke mana ?”

“Jalan. Ada birthday party, Be. Tanggal delapan, nih. Tanggal delapan.”

“Lho, kok itu lagi ?”

Lha, iya dong ! Bokap kalau diingêtin kewajiban mesti begitu, deh.”

“Wah, Non. Aku kalau diingat-ingatkan kewajiban biasanya malah jadi kagak ingêt. Apa sih ?”

“Tanggal delapan itu, Ayahanda, adalah tanggal gajian saya.”

“Oh … tanggal gajian. Lantas ?”

“Ya, bagi dong dokunya, cêpêtan ! Ini keburu disampêrin têmên-têmên, lho.”

Eh, bagi. Enak saja anak sekarang bilang bagi. Seperti uang yang capek-capek kita cari itu sudah masuk haknya untuk ikut memiliki. Bagi dong, katanya.

“Bilang dulu baik-baik. Baru nanti Bapak pertimbangkan.”

“Eh, kok kayak baru sekarang saya terima gaji dari Bokap. Baiklah minta baik-baik, nih. Be, bagi dong gaji saya bulan ini.”

Elho, kok masih bilang bagi ? Memangnya kau ikut susah-susah cari duit Bapak, Neng ?”

“Enggak. Tapi apa salahnya sih, minta pembagian dari Bapaknya ?”

“Salah. Kau tahu kau tidak ikut capek cari duit Bapak. Dus, kau tidak punya hak untuk menuntut pembagian.”

Elho … ? Lha, tiap bulan yang Bapak kasih itu apa kalau bukan pembagian ?”

“Itu pemberian dari Bapakmu, Non. Pem-be-ri-an. Jadi terserah dari Bapak, toh ?”

“Jadi Bapak nggak mau kasih, nih ?”

“Mau dong. Tapi separo dulu. Yang separo kapan-kapan.”

Saya paro jatahnya bulan ini. Saya sendiri tidak tahu mengapa saya jadi kêpingin godain dia malam itu. Gendut menerima uang itu dengan muka masam.

“Bapak kok sekarang jadi fasis begini ?”

“Hah ? Fasis ? Maksudmu apa ?”

“Nggak tahu ! Pokoknya Bapak sekarang jadi sok kuasa. Mentang-mentang Gendut nggak punya kekuasaan apa-apa, Bapak enak saja tentukan maunya.”

Gendut pun lantas lari menemui teman-temannya yang sudah tidak sabaran menunggu di mobil.

Bu Ageng, yang rupanya terus mengikuti percakapan kami dari kamar tidur, kemudian datang.

“Bapak itu kebangetan, sih. Masak begitu saja tidak dikasih.”

“Aah … sekali-sekali dia perlu juga diberi pelajaran.”

“Pelajaran ? Pelajaran apa ?”

“Ya, pelajaran supaya tahu bagaimana susahnya orang tua cari duit.”

“Paakk, Pak. Anak-anakmu itu sudah tahu soal itu. Kok sekarang mau didramatisir. Apa sih, untungnya ?”

Saya pun terdiam sebentar. Iya, ya. Apa sih, untungnya ? Tetapi, eh …, kok ibunya tiba-tiba jadi bergabung beroposisi terhadap saya ? Solidaritas kaum lemah ? Fasis, katanya. Edyann ! Mau mendidik malah dikatakan fasis ? Esok harinya, separo uang bulanan Gendut saya lunasi.

Beberapa hari kemudian saya pulang ke Yogya. Di Yogya, Beni Prakosa seperti biasa menyambut saya.

“Pak Ageng, Pak Ageng. Katanya …”

“Apa katanya ?”

“Katanya, katanya, … kalau Beni sudah klas nol besar, dibelikan mobil-mobilan yang besaaarr. Mana mobilnya, Pak Ageng ? Saya sudah nol besar, nih.”

“Aahh … kapan-kapan. Pak Ageng masih capek.”

“Horeee … Pak Ageng tukang bohong ! Pak Ageng tukang bohong !”

Heissyyy ! Diam kau, bedhes cilik ! Sana, sama Bapakmu, sana !”

Mr. Rigen, tahu kalau saya masih capek, buru-buru menggelandang anaknya masuk. Saya menggeletak di kamar tidur yang teduh itu. Menerawang langit-langit di atas. Ingat Gendut dan Beni Prakosa. Dua rakyat saya yang tergantung dengan kekuasaan saya. Kekuasaan yang maunya demokratis itu.

Saya menguap. Oahheeemmmm. Saya molèt. Demokrasi tergantung juga pada mood penguasanya, dong. Kalau penguasa lagi sir, lagi senang, ya demokrasi bisa jalan. Kalau sedang tidak sir, ….. oahheemmmm. Saya pun tertidur pulas.

Yogyakarta, 5 September 1989

*) gambar dari adnan-zaki.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: