Tentang Keluarga Bahagia

keluarga-bahagiaDALAM seminar di Banjarmasin saya harus berbicara tentang konsep keluarga bahagia dalam kebudayaan kita. Saya begitu saja menyetujui permintaan panitia tanpa berpikir lebih panjang apakah saya mengerti benar makna keluarga bahagia itu. Apalagi konsep tentang itu dalam kebudayaan kita. Dan apakah keluarga saya sendiri bahagia ?

Saya pun lantas teringat percakapan Mr. Rigen dengan Pak Joyoboyo tempo hari tentang kebahagiaan mereka. Sembari menertawakan diri mereka sendiri, mereka berkesimpulan bahwa masalah begitu adalah masalah orang-orang gêdhé. Buat mereka wong-wong cilik, keluarga bahagia itu tidak pernah dipertanyakan. Wong bahagia kok dipertanyakan, kesimpulan mereka. Wong bisa makan cukup saja sudah sênêng, kok masih kobêr tanya tentang kebahagiaan.

Sebelum berangkat ke Banjarmasin, saya cek sekali lagi dengan direktur kitchen cabinet saya itu.

“Gen, apa kamu sama Nansiyem, Beni dan singa laut itu bahagia ?”

Pripun, Pak ? Bahagia ?”

“Iya, bahagia.”

“Bahagia ?”

“Iya, bahagia. Monyong !

“He … he … he … Bahagia. Wong bahagia kok ditanyakan to, Pak ?”

Lha, saya ingin tahu saja. Kelihatannya kalian sekeluarga itu kok bolehnya rukun bin seronok begitu hidupnya. Mestinya ya bahagia to uripmu itu.”

“Ya, jelas sênêng to, Pak. Hidup disanding anak-bojo.”

“Jadi, kalau tidak disanding anak-bojo itu tidak bahagia ya, Gen ? Tidak senang ya, Gen ?”

“Lho … lho … lho … Pak. Saya itu tidak nyindir Bapak. Saya itu hanya cerita tentang diri saya sendiri, bukan Bapak. Kalau Bapak sama Ibu dan putrå-wayah ya semestinya sênêng-sênêng saja meski tidak kumpul. Lha, wong Bapak sama Ibu itu serba cukup. Mestinya ya sênêng. Lha, kalau saya yang serba mèpèt ini tidak kumpul anak-bojo jênèh ngênês.”

Yo, wis. Lha, kalau resepmu untuk senang itu apa, Gen ?”

“Resep ? Wong urip kok pakai resep. Kok kados penyakit saja. Ya, kalau buat saya hidup senang itu, ya kumpul anak-bojo itu, Pak. Ah … Bapak kii. Wong begitu kok ditanyakan, lho ?”

“Lho, ini penting, Gen.”

Yak, penting ya penting. Ning kalau perkara hidup itu ya dilakoni saja. Tidak usah ditanyakan resepnya.”

Saya manggut-manggut saja. Menghadapi ‘filsuf’ alam ndéso sedahsyat Mr. Rigen, mau apa kita selain berdecak kagum ? Dan nyatanya, sore-sore kalau saya lihat mereka duduk berjejer di lincak yang sudah hampir reyot, menikmati semilirnya angin sore dan menunggu matahari yang hampir terbenam, eh, kok ya kelihatan hangat dan senang begitu.

Pada malam harinya saya diundang Prof. dsb-nya, dsb-nya, Lemahamba dst, dst, dst. Beliau merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh tujuh.

“Datanglah,” katanya.

Ning sederhana saja kok, kali ini. Hanya mengundang teman-teman dekat dan sedikit sanak keluarga,” katanya lagi.

Eh, ternyata yang dinamakan sederhana itu, di halaman depan rumah beliau ada terop dan kursi berderet. Dan waktu tamu-tamu pada datang, ada kira-kira lima puluh orang berdatangan. Sederhana. Kemudian waktu suguhan datang mbanyu mili, mbanyu mbludak malahan. Sederhana. Kemudian, waktu kuwéh tart sebesar meja dengan lima puluh tujuh buah lilin didorong ke ruang tengah diiringi nyanyian happy birthday to you, para tamu berkerumun mendekati meja untuk mendapatkan potongan kuwéh tart. Ibu Lemahamba memotong kuwéh itu dan diberikannya kepada sang suami. Sang suami menerima sambil mendapat ciuman mak séngok dari sang istri. Semuanya lantas bertepuk tangan. Saya, dari jarak agak jauh, bisa melihat semua itu dengan sangat jelas. Air muka suami-istri Lemahamba tampak berseri-seri. Rumah dan ruang dalam yang begitu mewah seperti set serial Dynasty di teve.

Saya kemudian membayangkan tanah-tanah miliknya. Lêmah yang åmbå-åmbå. Ah, … mestinya mereka keluarga bahagia juga, to. Wong begitu mbludak rezekinya. Tidak mungkin tidak bahagia. Ah, perkara beliau mendapat tanahnya yang åmbå itu dengan mencatut bersama pak lurah pada waktu survey penelitian, ah ….

Di dalam jip reyot, dalam perjalanan pulang, saya lantas ingat juga Dr. Legowo Prasodjo atau Prasodjo Legowo yang jenius dan super sederhana itu. Orang yang sudah kondang kalokå di seluruh dunia, rumahnya kecil sederhana. Kendaraannya Honda bebek. Makannya jangan asêm plus ikan asin dan sambal terasi. Eh, … kok kelihatannya ya ayêm-têntrêm, tidak blingsatan, tidak ngåyå. Mestinya mereka juga sênêng hidupnya. Wong saya tidak pernah mendengar mereka mengeluh. Juga tidak pernah menggerutu sama keadaan, apalagi ngrasani jelek teman-temannya. Ah, … mestinya mereka bahagia juga.

Sampai di rumah saya dapati Mr. Rigen anak-beranak ketiduran di tikar depan teve sehabis menonton film akhir pecan. Mereka kelihatan nglêpus tidur bersama, kaki-kaki mereka saling menimpa. Ilêr Beni Prakosa men-dlèwèr kira-kira lima belas senti. Kelihatannya adêm-ayêm juga. Ah, … mestinya mereka bahagia juga. Mungkin betul juga kata Mr. Rigen, hidup itu dilakoni saja …..

Yogyakarta, 22 Agustus 1989

*) gambar dari fm.gontor.co.id

Iklan

One comment

  1. Bagus sekali dan sangat menginspirasi.
    Adakah kelanjutannya ya?
    Thanks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: