Tentang Jangan Asem

Sayur asemYANG sudah agak lama sekali tidak datang mampir ke rumah adalah Mas Doktor Prasodjo Legowo bersama mbakyu. Kangen juga saya. Maka hari Minggu kemarin saya minta Mr. Rigen menyopiri jip butut saya ke selatan, ke rumah doktor cemerlang idola saya itu.

Karena saya seorang bachelor, saya tidak merasa berkewajiban untuk membawa oleh-oleh buat mereka. Salah-salah malah menjadi bulan-bulanan, ejekan mereka. Mereka, meskipun orang-orang yang maha sederhana dan bukan bangsanya snob alias suka sok, cita rasanya sangatlah caggih bila memang mereka perlukan. Kalau situasi dan kondisi menghendaki Mas dan mBakyu Prasodjo bisa saja tampil bagaikan Ronald Reagan dan Nancy Reagan waktu waktu menerima tamu-tamu pada resepsi kepresidenan di White House.

Seperti pada waktu Mas Prasodjo menerima award berupa medali di salah satu universitas di luar negeri itu. Wah, Mas Prasodjo memakai tuxedo after six, pantalon dan jas hitam putih, kelihatan sangatlah ngganthêng dan anggunnya seperti Gregory Peck pada waktu masih muda dulu. Lha, mBakyu juga tidak kurang anggun. Memakai kebaya brokat biru tua dengan kain batik serta selendang yang serasi sekali. Tentu saja saya hanya melihat semua itu di album foto mereka. Waktu saya nyatakan kekaguman saya, tanpa malu-malu dan polos sekali Mas Prasodjo mengatakan bahwa tuxedo itu cuma tuxedo sewaan yang gampang sekali disewa di sembarang tempat di luar negeri.

Ah, Mas Prasodjo yang tetap prasojo. Kok lain betul dengan tokoh lain yang juga saya kagumi, Prof. Dr. dsb-nya, dsb-nya Lemahamba dst, dst, … itu ! Di kamar pakaiannya, konon menurut cerita beliau sendiri, ada empat macam tuxedo tergantung; hitam, putih, merah dan biru. Wah, pikir saya, kapan saja beliau memakai tuxedo-tuxedo itu ?

Dan perkara membuat pesta, juga kalau memang situasi dan kondisi menghendaki, Mas dan mBakyu Prasodjo bisa canggih juga. Waktu pesta perkawinan anak mereka itu, misalnya, mereka sulap pendopo Hotel Ambarukmo sebagai pendopo yang anggun dengan sajian makanan yang tidak kurang canggihnya. Pesta itu tidak mewah, namun orang sampai berhari-hari berdecak kagum ngrasani cita rasa mereka yang ngetop itu.

Waktu jip butut saya masuk halaman saya lihat mereka sedang asyik di kebun. Mas Prasodjo kelihatan sedang asyik membenahi pagar, mBakyu sedang asyik ramban, memetik-metik sayuran dan terong. Mas Prasodjo memakai celana pendek kembang-kembang (mungkin oleh-oleh orang yang baru datang dari Kuta), sedang di bagian atas meng-gligå alias ber-oté-oté alias (lagi) tanpa baju. Keringatnya ber-dlèwèran. Tetapi harus saya akui, meskipun usianya sudah termasuk laruik sanjo, larut senja, Mas Prasodjo masih kelihatan gagah juga. mBakyu juga hanya berpakaian daster yang sudah lusuh. Rambutnya yang memutih di pinggirnya itu kelihatan tidak merusak mukanya yang manis. Harus diakui mBakyu masih kelihatan charming.

Wééé … lha, Bu ! Ada propésok dari utara mengejawantah. Pantêsan clèrèt gombèl, clèrèt tahun dan entah clèrèt apalagi berkeliaran sepanjang pagi.”

mBok kalau milih perlambang itu yang hebat begitu kenapa, sih ? Ini segala macam clèrèt disebut. Aku kangen, Mas. Sudah lama tidak ketemu.”

Kami masuk dan saya dipersilakan duduk di teras. Biar isis kena sapuan semilir angin, kata mereka. Waktu mereka keluar lagi dari kamar, mereka sudah kelihatan mandi, ganti baju yang bersih namun tetap sederhana. mBakyu membuka percakapan dengan undangan yang klasik.

“Makan di sini, ya ? Aku baru habis ramban terong, kacang panjang dan sedikit dedaunan. Nanti dak masakkan sayur asêm, dak bakarin pêté, dak sambêlin yang pêdhês dengan trasi Juwono, dak gorengin ikan mujair. Mau nggak ?”

“Wahh … sedaapp. Aku sudah ngilêr ini, mBakyu.”

Halaahh, rupamu Geeng, Geng ! Wong doyananmu nasi goreng Masih Sepuluh atau soto Pak Soleh, kok bilang sayur asêm mBakyumu sedap. Munafik ah, kamu !”

“Lho, sumpah, Mas ! Sayur asêm di sini itu top, deh. Beberapa kali aku makan sayur asêm mBakyu, rasanya nggak pernah nggak sedap. Sedap melulu !”

“Nah, sekarang kamu ngênyèk mBakyumu, to ! Kamu mung mau bilang kalau mBakyumu itu cuma bisa sedia menu sayur asêm melulu, to ?! Hayoo … ngaku !”

Kami pun tertawa berderai. Dan seperti biasa, makan siang dengan mereka berjalan seru dan lahapnya. Dessert alias cuci mulut berupa kopi tubruk Sidikalang kiriman temannya dari Medan dengan nyamikan mata-kêbo yang bergelimang arèh santên beberapa millimeter. Sedaaappp …!

Waktu sore kami pulang, di dalam jip, Mr. Rigen yang sejak tadi diam saja, mulai nyeletuk,

“Waktu Bapak tadi memuji-muji jangan asêm-nya Bu Prasodjo itu paling enak di dunia, apa menurut Bapak enak betul atau hanya basa-basi saja to, Pak ?”

Hussyy ! Ya enak betul, to. Kamu ‘kan juga ikut merasakan tadi. Wong keluarga Prasodjo itu tidak pernah memperlakukan pembantu lain betul dari majikannya.”

Mr. Rigen diam sebentar. Kemudian seperti meng-grêndêng, bergumam dengan dirinya sendiri,

Wong ya jangan asêm biasa saja gitu, lho. Kok paling enak sak ndonyå ?

“Eh, … apa Gen. Apa ?! Jangan asêm-nya bagaimana, Gen ?!”

“Heh … heh … heh… mBotên kok, Pak. Eheh … heh …heh …”

Dhapurmu ! Ayo bilang terus terang. Jangan asêm-nya Bu Prasodjo bagaimana ?!”

Ha … ênggih niku. Wong jangan asêm biasa saja lho, Pak. Sama saja ‘kan dengan jangan asêm kita ?”

“Jadi menurutmu sama dengan masakanmu, gitu ?!”

“Heh … heh … ha, ênggih.

Wooo … gundhulmu amoh !

Kami berdua diam. Jip itu sudah mulai masuk bagian utara kota. Sebentar lagi akan sampai di rumah. Saya perintahkan Mr. Rigen untuk mampir beli geplak dan yangko buat oleh-oleh Beni Prakosa.

Waktu kami masuk, Beni Prakosa sudah menunggu di teras bersama ibu dan adiknya yang dipangku. Beni melonjak-lonjak kegirangan. Geplak dan yangko itu di-krêmus dengan nikmatnya. Kayaknya kuwéh ndéso itu seperti kuwéh yang turun dari langit. Mr. Rigen melihat gembira wajah anaknya tersenyum.

“Pak Ageng, sekarang saya tahu kenapa jangan asêm Bu Prasodjo itu enak.”

“Kenapa, coba ?!”

Jangan asêm itu terasa enak buat Bapak karena yang masak Bu Prasodjo, nyonya doktor yang sudah kondang kawêntar sak ndonyå itu.”

“Hubungannya itu apa ?”

“Hubungannya ? Ya itu, Pak. Kalau jangan asêm-nya Rigen ‘kan hanya jangan asêm-nya bocah Pracimantoro. Kalau jangan asêm-nya Bu Prasodjo rak …..”

Wis, wis, wis. Sana ke belakang sama anak binimu sana. Kamu itu namanya minder inlander …”

Waktu saya rebahkan tubuh di sofa, lèyèh-lèyèh mau ngaso sebentar, saya masih ingat kesimpulan Mr. Rigen tentang sayur asêm-nya. Jangan-jangan dia benar. Jangan-jangan, … jangan asêm …..

Yogyakarta, 15 Agustus 1989

#) jangan (Jawa) = sayur masak pelengkap nasi

*) gambar dari en.wikipedia.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: