Prestasi, Kroket dan Tiwikrama

kroket n risolesGARA-GARA tugas mondar-mandir, ngalor-ngidul, ngétan bali ngulon, terus bali ngalor-ngétan, terus bali bali ngidul-ngulon, sampai habis delapan penjuru angin saya jelajah sampai bosah-baséh, saya rasanya sudah lama sekali tidak bercanda sama dua ingon-ingon saya si Beni Prakosa, the incredible bêdhès dan si singa laut, the impossible Septian. Tahu-tahu begitu saja pada satu sore sang bêdhès nyêlonong mèpèt kursi saya. Saya tahu pasti ada targetnya. Di depan saya ada kroket dan risoles bikinan Sanitas, Semarang yang sêgêdhé-gêdhé granat.

“Kamu mau ini, to ?”

“Enggak.”

Dan dia masih terus meng-gubêl, mengitari kursi di depan saya.

“Kamu kêpingin yang lonjong-lonjong kayak granat itu, to ?”

“Eng-gak !”

Dan glibêtan-nya sêmangkin sêsêr.

“Kalau nggak mau ya sudah, out sana ! O-yu-ti, out !

Sang bêdhês lari ngiprit, tetapi saya tahu juga bahwa pasti sesampai di ambang pintu yang memisahkan dapur dan ruang dalam dia akan berhenti. Kepalanya di-tongol-kan.

“Pak Ageng, Pak Ageng !”

“Apa !”

“Saya sudah naik kelas nol besar, lho !”

“Aah, Pak Ageng sudah tahu. Kabar basi !”

Ning Pak Ageng rak belum tahu.”

Eh, tahu-tahu mak srêt anak itu sudah sampai di kursi saya lagi. Mulutnya di-pèpèt-kan ke telinga saya.

Dak beri tahu, ning yang lonjong-lonjong itu apa, sih ? Kuwéh, ya ?”

Saya pun ganti membisiki dia,

“Bu-kaan. Ra-cuunn !”

Kami pun tertawa terbahak bersama.

“Pak Ageng, mbok saya mintak sedikit saja. Kayaknya kok enak.”

“Memang enak. Ning prestasimu apa ? Enak saja mintak-mintak !”

“Saya ‘kan sudah naik kelas nol besar.”

Lha, kalau itu Pak Ageng sudah lama tahu. Kok kamu kayak priyagung-priyagung pusat saja, sih. Mengulang-ulang matur sama babé-nya kalau punya prestasi. Itu ‘kan kita semua sudah tahu semua. Yang baru dong, Ben. Ada prestasi yang baru nggak, yang sêgêr begitu, lho ?”

Waktu selesai bicara begitu, saya melongok ke belakang, ehh … di lincak sudah pada duduk Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem dan si singa laut Septian. Matanya tholo-tholo, ilêr-nya ngêcès, dlèwèran membasahi dadanya. Para pendukung Beni Prakosa ini kelihatan tegang mengikuti dialog kami. Kayak mengikuti lomba cerdas cermat antara SD Samas lawan SD Kadisobo saja. Dan betul saja, Mr. Rigen tidak sabar lagi melihat anaknya masih bengong. Ah, saya masih belum tahu, tapi dia sekolah di TK Indonesia Hebat itu. Sekolah calon jenius yang komplet itu.

“Ayo, . Ayo matur, matur. Ngomong sama Pak Ageng !”

Engko sik to, Pak. Tunggu dulu to, Pak. Aku ini lagi mikir.”

Jarinya diletakkan di bathuk-nya.

“Aku lagi mikir betul lho, Pak Ageng.”

“Ohh … dhapurmu ! Mikir, mikir. Apanya yang kamu pikir, Lé ?

“Itu lho, yang lonjong-lonjong coklat di meja itu, apa namanya ?”

“Oooo … itu to, yang kamu pikir. Dak kira kamu itu mikir prestasi. Tahunya sama saja dengan Bapaknya. Yang dipikir cuma makanan saja !”

Mr. Rigen meringis, Mrs. Nansiyem senyum-senyum tersipu.

Lha, wong namanya rakyat kecil lho, Pak. Kalau bukan makan apalagi yang dipikir to, Paakkk ?!”

Wis, ciloko tênan iki ! Dari dulu kok ya nggak maju-maju. Orang tidak makan roti alone. Orang itu ya mikir hiburan, ya mikir ekspansi ekonomi, ya ekspor non-migas, ya deregulasi, ya Pancasila, ya macam-macam gitu. Supaya kaya hidupnya.”

Mr. Rigen matanya kêtap-kêtip. Beni Prakosa masih mêndolo merenungi kroket dan risoles yang belum juga pindah ke tangannya.

“Lho, Pak. Yang makan roti itu siapa, lho ? Wong anak beranak makannya ya cuma nasi terus lho, Pak. Kok Bapak bilang roti êlun. Niku roti apa to, Pak. Roti kok bikin kaya ?”

Wéhh … sudah ! Sak rumah kok gêblêk semua. Apa enaknya dak istirahatkan dulu ke Praci kalian itu !”

Lalu Beni Prakosa meng-gêlibêt lagi.

“Pak Ageng, kelas nol besar itu angèl bangêt, lho ! Angèl bangêt. Sukar bangêt.”

Mosok ?

Eee … betul, Pak Ageng. Sekarang mana kuweh yang lonjong-lonjong itu !”
Elhoo … !

Ternyata bêdhès èlèk itu tahu juga makna prestasi. Ya lumayanlah. Maka sebagai pendidik yang konsekuen, saya pun memberi Beni satu kroket yang sêgêdhé granat. Dengan bangga kroket itu diperlihatkannya kepada bapak dan ibunya. Dan saya lihat dari kålåmênjing-nya, Mr. Rigen kêpingin juga. Tapi apa prestasinya ?

“Bapak mau kuwéh ‘kan ? Tidak sekolah kok mau kuwéh. Sekolah dulu, Pak.”
Huss … bocah cilik kurang ajar sama orangtua !”

Kami semua kaget mendengar bentakan Mr. Rigen sedahsyat itu. Ada apa dia ?

Lé, dak beri tahu, ya ! Kowé itu baru kelas nol besar. Ojo kêmênthus kowé ! Kalau kamu sudah kayak Pak Profésok Lemahamba, pintêr dan lêmahnya åmbå-åmbå, boleh kamu berlagak. Sekarang baru sak prêcil, pintêr-nya juga baru sak prêcil, sudah berani ngênyèk wongtuwå, ya !”

Wah, gawat ini, pikir saya. Mr. Rigen lagi tiwikråmå.

“Ayo, sini kroketnya ! Dibagi buat kita semua !”

Dan sekali renggut, kroket Sanitas itu sudah berpindah ke tangan Mr. Rigen. Edyan tenan ! Mr. Rigen jagoan Pracimantoro itu tiwikråmå tênan.

Yogyakarta, 8 Agustus 1989

*) gambar dari food.detik.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

akar rumput

tulisan ala kadarnya refleksi kehidupan dari akar rumput

My not–so–Secret Journal

thoughts, feelings, desires, passion, and some rambling!

PAUS ANTARTIKA

Kita akan bertahan!™

The BroNeo

cerita biasa dari orang biasa

Munajat Sang Pendamba

Tuhanku, gemintang langit-Mu telah tenggelam, Semua mata makhluk-Mu telah tertidur, tapi pintu-Mu terbuka lebar buat pemohon kasih-Mu. Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu, Kasihi daku . . . .

ZeDeen

Rumahku Katanya Sih Surgaku : tentang perjalanan hidup lelaki kecil dan bahteranya

jendelakusam

"Pendar mata Sebuah catatan tolol, tentang perjalanan kehidupan dan segala macam penghidupannya"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Counting Down

The journey of my life...

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: